
Keesokan harinya Arya membawa Wangi untuk melakukan pemeriksaan secara medis ke Rumah Sakit, Arya berharap Wangi dapat mengingat walau hanya sedikit memory yang ada dalam ingatan tubuh itu.
Sebelumnya Fariz sang asisten pribadinya sudah lebih dulu mendaftarkan Wangi sebagai pasien dan melakukan janji temu dengan Dokter kepala dari Rumah Sakit yang mereka datangi.
Begitu sampai di Rumah Sakit Arya lebih dulu menemui Dokter kepala dan menceritakan secara garis besar keadaan Wangi, setelahnya tak terlalu lama bagi mereka menanti antrian, terdengar dari pengeras suara nama Wangi sudah terdengar dipanggil untuk bertemu dan konsultasi ke Dokter seputar penyakit yang mungkin di idap oleh tubuh Wangi dan ingatannya.
Tanpa diduga saat itulah ada seorang Dokter muda yang menemani Dokter seniornya di ruang praktek Dokter itu ternyata mengenali sosok Wangi karena sebelumnya mereka adalah teman seperjuangan dalam mengenyam pendidikan di fakultas universitas yang sama.
"Aleya !... Al syukur alhamdulilah Al kalo ternyata kamu sehat dan selamat."
Dokter muda itu langsung berseru menyebutkan nama Wangi dengan nama Aleya, Dokter muda itu juga langsung memeluknya dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan, namun hanya di tanggapi oleh Wangi dengan ekspresi dan pandangan mata yang tampak bingung.
Arya yang mendapati Dokter muda ini mengenali sosok Wangi sebagai Aleya itupun merasa surprise, seolah takdir mempermudah jalannya untuk mendapatkan riwayat hidup pemilik tubuh yang menjadi wadaq Wangi saat ini.
"Emmmm Dokter maaf, apakah anda mengenali tunangan saya ini?"
Arya segera melemparkan pertanyaan kepada Dokter muda itu.
Bagaimanapun Arya perlu mengetahui riwayat hidup sosok pemilik tubuh yang menjadi wafaq Wangi saat ini.
Dokter muda itu segera mengurai melepaskan pelukannya dari Aleya dan melihat bagaimana ekspresi bingung ada di wajah Wangi yang dikenalnya sebagai Aleya, Dokter muda itupun ikut merasakan kebingungan setelahnya.
"Iya saya mengenalnya, kami adalah teman satu fakultas dulu, dan maaf boleh saya tau apa yang terjadi dengan Aleya?"
"Ehemmm.... silahkan tuan Arya, tampaknya Dokter Chichi akan sangat membantu pada kasus yang di alami tunangan anda ini."
Dokter senior itupun tersenyum mempersilahkan Arya untuk melanjutkan percakapannya dengan Dokter muda itu.
"Terimakasih Dokter Sukma, atas pengertiannya."
"Jangan terlalu sungkan tuan, Dokter Chichi silahkan bawa tuan Arya dan tunangannya ke ruangan anda, saya akan melanjutkan dengan pasien selanjutnya."
__ADS_1
"Baiklah Dokter terimakasih, mari tuan ikuti saya, ayo Al kita ke ruanganku."
Dokter muda itupun membawa Arya dan Wangi untuk mengikutinya ke ruang prakteknya.
Arya dan Wangi hanya patuh mengikuti Dokter muda yang tertulis Arsih di tagname seragam putihnya itu tapi entah kenapa Dokter senior tadi memanggilnya Dokter Chichi bukan Dokter Arsih.
"Silahkan tuan, Aleya duduklah agar kita bisa bicara lebih nyaman."
"Perkenalkan nama saya Arsih, saya dan Aleya dulunya adalah teman satu fakultas, hanya saja setelah mendapat gelar Dokter dan ijin praktek Aleya memilih menjalankan darmanya untuk menjadi Dokter di tanah rantau, Aleya mencoba peruntungannya di kepulauan Riau."
Dokter muda itu mulai memperkenalkan dirinya dan masa pertemanannya dengan Wangi yang dipanggilnya Aleya secara garis besarnya.
"Lalu apa yang terjadi dengan Aleya sebenarnya? karena beberapa bulan ini tersiar kabar jika Aleya menjadi korban yang hilang terbawa ombak disana, tapi saat ini Aleya justru ada disini."
Tak memberikan Arya untuk mengatakan satu katapun, Dokter itu sudah kembali berkata kata dan memberondong Arya dengan pertanyaan yang justru baru Arya ketahui faktanya.
"Ehemmm... maaf saya bahkan baru tahu kalau tunangan saya ini sebelumnya menjadi korban yang hilang terbawa ombak."
"Jadi begini, saya dan teman anda ini sebelumnya memang sudah saling mengenal tapi saya tidak pernah tahu jika dia menjadi korban hilang seperti yang anda ceritakan tadi."
"Lalu apa yang terjadi dengan Aleya setelah itu? kenapa dia tidak mengabari keadaannya kepada keluarga dan juga instansi tempatnya bekerja?"
Tanya Dokter muda itu yang sebenarnya sangat kepo ingin tahu ada apa sebenarnya dengan Aleya.
"Saya sendiri juga sempat kehilangan kontak dengan dirinya, tapi tanpa sengaja saya menemukan kembali dirinya karena hati saya merasa yakin bisa menemukannya, tapi seperti yang saya katakan tadi saya tidak pernah tahu jika Aleya menjadi korban yang hilang terbawa ombak."
"Baikla sekarang coba anda ceritakan ada apa dengan Aleya? kenapa dia seolah kosong blank?"
Tanya Dokter muda itu yang sejak awal merasa bingung dengan ekspresi yang ditampilkan di wajah Aleya
"Itulah alasannya kenapa saya membawa Aleya ke Rumah Sakit ini, untuk memulihkan ingatannya juga melakukan universal check up seputar kesehatannya."
__ADS_1
"Apa maksud anda Aleya kehilangan ingatannya? apakah itu karena tragedi yang dialaminya?"
Tanya Dokter muda itu dengan prihatin dan menggenggam tangan sahabat lamanya itu dengan rasa empati.
"Begitulah,dia bahkan tak mengenali dirinya, saya, ataupun keluarganya, oh iya apa anda mengenali siapa orang tuanya? karena selama saya mengenalnya saya bahkan belum pernah mengenal orang tuanya."
Sebenarnya apa yang dikatakan Arya akan membuat siapapun bingung, bagaimana seseorang yang mengaku sebagai tunangan tapi tak pernah tau orang tua dari pasangannya.
Tapi Dokter Chichi seolah tak begitu ingin menganggap rumit, dan berpikir wajar jika Arya tidak mengenal orang tua Aleya jika selama ini mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Dengan sabar Dokter Chichi menceritakan tentang orang tua Aleya, mulai dari nama ayahnya yang bernama Dandi Achmad dan ibunya bernama Merita, tempat tinggal orang tuanya di Samarinda.
Dokter Chichi juga menceritakan kedua orang tua Aleya merupakan pedagang yang cukup menyambung hidup mereka dari penghasilan toko dirumahnya.
Setelah memberikan keterangan tentang Aleya dan keluarganya, Dokter Chichi mulai melakukan pemeriksaan fisik universal check up terhadap Wangi yang dikenalnya sebagai Aleya, lalu memberikan resep beberapa obat yang sebenarnya hanyalah vitamin untuk otak dan syarafnya dengan harapan agar sedikit demi sedikit Aleya dapat kembali mengingat dirinya.
Selama percakapan dan pemeriksaan itu Aleya sama sekali tidak mengatakan satu katapun, dia hanya mendengarkan tanpa dapat mengingat apapun walau Dokter Chichi sudah menceritakan siapa sosok Aleya dahulunya.
Melihat sahabatnya benar benar hanya diam dan seperti kertas kosong itu membuat Dokter Chichi semakin ber-empati dan sedih walaupun setelah lama mereka berpisah karena profesi mereka, tapi Dokter Chichi mendapatkan cukup banyak kenangan bersama Aleya, dia adalah sosok teman yang baik dulunya.
"Baiklah Dokter terimakasih banyak untuk semuanya, kita bisa bertemu tampaknya memang sudah jalannya untuk bisa menolong tunangan saya ini, ini kartu nama saya bisa anda gunakan saat anda membutuhkan bantuan saya."
Sebelum berpisah Arya memberikan kartu namanya kepada Dokter Chichi.
*Hai gaes maaf ya karena outhor lama gak update, satu kata selamat membaca para readers setia-ku. Alhamdulillah akhirnya hari ini othor bisa up walau hanya 1 bab ya gaes dan jangan bosan bosan untuk memberikan dukungan terbaik dari kalian tentunya gaes.
Dan semoga outhor bisa up 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*,
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1