PUTRI DARI DUNIA LAIN

PUTRI DARI DUNIA LAIN
*"Dimana Rasa Kemanusiaan"


__ADS_3

Boy segera memapah Arya menuju mobilnya, sempat Arya menolak untuk dipapah karena merasa malu dan merasa dia baik baik saja setelah Wangi memberikan pertolongan pertama padanya tadi.


Tapi tiba-tiba Arya merasa limbung dan kesadarannya sedikit demi sedikit mulai menghilang.


Boy segera membawa Arya kemobilnya dan setelah meletakkan Arya di bangku penumpang, Boy mulai mengemudikan LS500 milik Arya dengan kecepatan tinggi.


Boy takut Arya kehabisan darah, karena saat ini dia sudah tak sadarkan diri.


Dan tanpa diketahui oleh Boy jika Wangi saat ini sedang memangku kepala Arya yang sedang tertidur tak sadarkan diri efek dari pil yang diberikan oleh Wangi tadi.


LS500 melaju dengan kencang menuju Rumah Sakit yang sangat disayangkan jarak yang harus mereka tempuh cukup jauh.


Saat ini mereka ada di dusun yang tak ada fasilitas Rumah Sakitnya dan mereka harus segera kembali ke kota untuk segera mengantarkan Arya ke Rumah Sakit.


Setelah satu jam lebih perjalanan, akhirnya mereka mulai memasuki perkotaan dan masih harus lanjut menuju Rumah Sakit.


Dan yang menjadi kendala bagi Boy dia tak bisa melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi bila di jalan kota.


Apalagi saat jam lalu lintas sedang padat padatnya, Boy yang merasa khawatir dengan kondisi Arya yang terluka sebisa mungkin mencari celah agar mobil bisa melaju menuju rumah sakit tanpa terjebak macet.


Akhirnya setelah cukup lama diperjalanan sampai juga mereka di Rumah Sakit, Boy buru buru miminta bantuan pada petugas untuk membawakan brankar dan memindahkan Arya dari dalam mobil ke atas brankar.


Arya lalu didorong masuk keruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk segera mendapatkan pertolongan, sementara Boy lebih dulu mengurus administrasinya.


Setelah menyelesaikan semua administrasinya, Boy segera kembali ketempat Arya dan dilihatnya belum ada upaya tindakan apapun yang dilakukan oleh para tenaga medis pada diri Arya yang jelas jelas terluka dan itu terlihat dari pakaiannya yang merah penuh darah.


Boy menjadi emosi, melihat betapa pelayanan medis di Rumah Sakit ini lebih mengutamakan uang dari pada nyawa manusia.


"Apa apan kalian ini Dokter seperti apa kalian ini, apa kalian gak liat ini pasien sudah kehabisan darah dan kalian tidak melakukan pertolongan apapun, dimana rasa kemanusiaan kalian? apa yang kalian tunggu? ini yang kalian tunggu ha?!."


Boy yang emosi melihat para Dokter dan perawat cuma sibuk ngobrol tanpa perduli dengan pasien yang mungkin sedang meregang nyawa hanya karena belum menerima bukti pembayaran awal pendaftaran langsung melempar berkas dan kwitansi bukti pembayaran ke meja di depan para tenaga medis itu.

__ADS_1


Mungkin sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dimana keluarga pasien yang mengamuk gara gara melihat yang sakit tidak langsung mendapatkan tindakan sebelum adanya bukti pembayaran, atau hati yang telah mati jadi para tenaga medis itu hanya menanggapinya dengan minta maaf dan baru membawa Arya keruang operasi untuk dilakukan beberapa jahitan dan tindakan medis lainnya.


"Maaf Tuan, tapi memang begini prosedur di Rumah Sakit ini baru boleh melakukan tindakan medis setelah keluarga pasien menyelesaikan biaya administrasinya."


Kata salah satu dari tenaga medis itu.


Boy yang lebih mengutamakan keselamatan Arya tak ingin memperpanjang masalah sehingga dia hanya memijat keningnya dan mengabaikan masalah itu.


"Sudah sudah saya cuma ingin kalian buru buru menolong teman saya."


Ucap Boy dengan menggerakkan tangannya agar mereka segera bertindak.


Untunglah sebelumnya Wangi sudah lebih dulu menghentikan pendarahan pada luka sobek dipunggung Arya pada awal Arya terkena tusukan.


Seandainya tidak ada Wangi yang telah memberikan pertolongan pertama sudah bisa dipastikan Arya mungkin sudah mati karena kehabisan darah selama perjalanan dan tindakan medis yang terbilang lambat itu.


Boy yang gelisah ternyata masih bisa berfikir jernih sehingga dia tidak menuruti emosinya atas tindakan para petugas medis yang bisa dibilang tidak mengutamakan nyawa pasien dan lebih mengutamakan peraturan yang bisa dibilang tidak berprikemanusiaan dan mengabaikan nyawa orang yang membutuhkan pertolongan.


Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Papi-nya.


"Hallo Pap... Papi buruan kemari, ini Arya terluka Pap, punggungnya tadi sobek dan mengeluarkan banyak darah, entahlah tadi dia sudah kehilangan kesadarannya setelah menyelasaikan semua kekacauan di lapangan, Papi buruan datang kemari."


Boy segera mengakhiri telponnya setelah meminta Papi-nya untuk segera datang ke Rumah Sakit.


Seandainya Papi-nya Boy tahu atau Oma-nya Arya tahu bagaimana Arya sempat di telantarkan oleh para petugas medis di Rumah Sakit ini tadi, sudah bisa dipastikan Rumah Sakit ini tidak akan biasa beroperasi lagi setelah ini.


Tak butuh waktu lama untuk Papi-nya Boy sampai di Rumah Sakit tempat Arya sedang diobati.


Boy yang gelisah menjadi sedikit tenang saat Papi-nya sudah tiba.


"Bagaimana keadaannya Arya Boy?"

__ADS_1


Tanya Papi-nya Boy.


"Entahlah Pap, dari tadi belum ada kabar sejak Arya dibawa masuk keruang operasi itu."


Jawab Boy yang sudah tampak kacau dengan rambut yang sudah sangat berantakan karena berulangkali dia ngacak rambutnya.


"Ok tunggulah disini, biar Papi menemui Dakter yang bertanggung jawab disini."


Papi-nya Boy segera menuju bagian pendaftaran dan meminta dipertemukan dengan Dokter kepala ataupun Direk dari Rumah Sakit ini.


"Saya ingin anda menghubungi Dokter kepala ataupun Direktur Rumah Sakit ini, bilang saya Marco Presdir dari WHA Group ingin bertemu."


Ucap Marco Papi-nya Boy kepada bagian administrasi, karena tak tahu harus kemana untuk bertemu dengan orang nomor satu di Rumah Sakit ini.


Pihak Administrasi yang mendengar Marco memperkenalkan dirinya sebagai Presdir WHA Group segera menelphone Manager-nya.


"Maaf Tuan saya sudah memberitahukan Manager tentang Tuan yang ingin bertemu Direktur dan Dokter kepala"


Ucap petugas administrasi itu seramah mungkin.


"Saya tidak bisa menunggu lama, keponakan saya sedang bertaruh nyawa dan kalian hanya sibuk menghitung uang, jika terjadi hal buruk dengan keponakan saya, saya pastikan Rumah Sakit ini tidak akan pernah beroperasi lagi."


"Maaf Tuan tunggulah sebentar lagi, Manager akan segera datang."


Ucap petugas administrasi itu mulai panik.


Taklama tampaklah seorang dengan setelan jas datang menghampiri dan segera di antar oleh petugas administrasi tadi kepada Marco Papi-nya Boy.


*Maaf ya para Readers, lama Outhor absen gak update dan Alhamdulillah akhirnya hari ini outhor bisa juga update ya gaes, walau hanya bisa up 1 bab setelah ngetik seharian hari ini. Do'a kan semoga outhor tetap sehat dan bisa rutin up setiap harinya ya gaes. Ikuti terus ceritaku dan jangan lupa untuk tetap dukung author dengan vote like koment dan rate 😘👍*


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2