Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Senja Tanpa Embun


__ADS_3

Sebuah gedung bertingkat dengan cat putih dipadu hijau muda berdiri megah di depanku. Inilah asrama yang akan aku tempati selama menuntut ilmu.


Dengan ragu, aku melangkahkan kakiku masuk ke area penjara suci ini. Suasana di koridor terasa lengang, aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


Pukul 16.oo waktu setempat, mungkin para penghuninya sedang belajar keras. Aku teringat tujuan yang membawa diriku ke negeri Uwais Al-qarni ini.


Namun, gigih tekad yang menguat itu diguncang bayangan kebersamaan dengan Syams yang tiba-tiba terlintas di pelupuk mata. Tanpa bisa kutahan, air mata luruh membasahi pipi. Mungkin memang beginilah takdirnya.


'Ya Allah, baru beberapa jam saja aku berpisah darinya tapi rasanya sangat menyakitkan' desahku lemah.


Aku menatap lantai dengan tujuan menyembunyikan semua kesedihan ini.


"Assalamualaikum, ukhti. Ahlan wasahlan."


Seorang gadis menyambutku dengan sebuah senyuman.


"Ustazah Shofia?"


Aku hampir terperanjat menemukan gadis berpipi tembam dengan lesung pipit itu tersenyum di depanku. Aku segera menghambur ke pelukannya sebagai tanda rindu.


Dia adalah ustazah kebanggaan pondok pesantrenku. Hapalan kitabnya sangat bagus. Dan setahun yang lalu dia tiba-tiba menghilang dari pondok.


Tidak ada yang tahu dia ini pergi kemana. Aku masih belum percaya bisa bertemu dengan qori terbaik se-Jawa Timur ini.


"Ana senang sekali bisa bertemu anti," ungkap ustazah Shofia.


"Ana juga, anti menghilang dari pondok secara misterius, tak tahunya anti berada di sini," balasku mencubit lengannya halus. Kami berdua masih menuntaskan rindu sampai kami berdua berjalan menuju kamar asrama tempatku. Dalam diam, aku teringat kalimat Syams ketika berada di pesawat menuju Yaman.


"Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi. Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir. Mereka pun datang silih berganti. Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.. Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati. Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.. Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya. Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru."


Mungkin ustazah Shofia inilah yang akan mengisi hari-hariku kini. Entah bagaimana, pertemuan dengan ustazah Shofia ini seperti angin segar untukku yang masih teringat bagaimana sakitnya berpisah dengan suami.


"Ustazah Afin kok ngelamun? Ada yang mengganggu pikiran ustazah?" tanya ustazah Shofia saat kami berdua sedang beberes di kamar asramaku yang terletak tidak jauh dari kamar ustazah Shofia.

__ADS_1


Aku menggeleng, berusaha menyamarkan pikiranku dengan senyum. Tapi ustazah Shofia menangkap hal lain dari ekspresiku ini.


"Jangan ngapusi diri sendiri, ustazah."


Ustazah Shofia meraih kedua telapak tanganku. Gadis yang seusia denganku itu membenarkan duduknya di depanku lalu menatapku penuh selidik.


"Ada apa ustazah?" Aku berusaha menghindar dari tatapan tajam ustazah Shofia.


"Siapa lelaki yang mengganggu pikiran ustazah?" Aku menggigit bibir saat mendengar pertanyaan dari ustazah Shofia. Bagaimana bisa dia membaca pikiranku?


"Apa dia telah meminangmu?" Ustazah Shofia memburuku dengan pertanyaannya.


Mendengar pertanyaan itu, walau aku berusaha biasa tapi senyumku tidak mampu menyembunyikan bayangan yang kini menjadi raja di hatiku.


"Ustazah, jangan terbawa perasaan, ah. Tujuan ustazah ke sini kan untuk belajar," perempuan bertubuh mungil ini berhasil menyadarkanku yang mulai terbawa perasaan.


Astagfirullahaladzim, benar kata ustazah Shofia. Aku menunduk, berusaha menyeka air mata yang kini mengumpul di sudut mata.


Aku membenarkan setiap kata-kata ustazah Shofia. Bagaimana aku bisa selemah ini?


"Kalau masalah jodoh, nanti juga datang sendiri," katanya ustazah Shofia masih terlihat bersemangat membakar semangat belajarku.


"Syukron katsiron, ustazah, ana akan ingat kata-kata ustazah," komentarku akhirnya.


"Ana akan memperbaiki niat ana di sini," kataku berjanji akan berusaha.


Untuk berada di titik ini saja, aku telah mengorbankan banyak hal. Maka aku harus sukses, harus bisa menggeser gunung ilmu itu ke negeriku tercinta.


Wajah abi, umi, dan Syams melintas sekali lagi di pelupuk mataku. Aku telah meninggalkan mereka demi ilmu, apakah aku akan menyia-nyiakan pengorbanan ini?


Tidak, aku harus bisa membawa gunung pengetahuan kepada umat. Begitu banyak pengharapan mereka padaku, mungkinkah aku harus mengecewakan mereka?


****

__ADS_1


Aku menjalani hari dengan ikhlas dan pasrah. Sering aku menangis di atas sajadah karena merasa belum mampu menghadapi ujianNya, tapi nyatanya, waktu bergulir terus dan tiada mampu aku hentikan.


Aku hanya bisa mengikuti alur cerita dariNya. Dan disinilah aku kini, di depan jendela kamar yang menampakkan bias merah sang senja. Diam-diam, ada yang menggerogoti keheningan ini.


Ialah memori bersama Syams yang terus membuaiku. Tubuhku seperti meranggas tanpa embun kasih sayang darinya.


Perlahan namun pasti, kesedihan ini mengundang air mata. Tak terasa, sudah beberapa bulan aku tidak mendnegar lantunannya mengaji, aku tidak bisa memeluk ataupun bersandar di pangkuannya. Aku memang lemah.


Tapi siapa yang bisa tahan tidak berjumpa dengan belahan jiwanya? Apalagi di asrama ini, alat komunikasi dilarang digunakan. Laptop dan handphone juga telah disimpan di ruang sekertariat. Yang ada kini hanya aku yang diam-diam merindukan segala hal tentang Syams.


"Jika kamu rindu, bacalah Ar-rahman, insyaallah saat itu aku juga tengah merindukanmu dan sellau membawa namamu dalam setiap sujudku," suara Syams kembali mengganggu pendengaranku. Seolah dia benar-benar ada di sampingku.


A'udzu billahi minas syaithanir rajim


"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk."


Bismillahirrahmaanirrahiim(i)


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang


Ar-rahmaan(u)


"(Tuhan) Yang Maha Pemurah,"


Dengan khusyu aku mengaji surah kesukaan itu. Semua rasa sedihku perlahan lenyap. Memang benar jika Alquran adalah penyembuh.


Aku mulai bisa tersenyum. Menikmati janji kasih sayang Allah di surah Arrahman. Mungkin aku terlalu mencintai manusia, hingga merasakan sakit yang dikarenakan perpisahan.


Jika aku mencintai yang memiliki hati manusia, aku tidak akan pernah merasakan sakit.


Aku mengembuskan napas lega. Semakin mentadabburi setiap ayat, semakin rasa tenang merasuk ke dalam hati dan jiwa. Jika semesta yang tidak berbatas mampu Allah genggam, apalah dayaku yang hanya seonggok daging tanpa Kun fayakunNya?


Semakin mendalami makna Arrahman, aku semakin yakin bahwa semua yang dari Allah adalah yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2