
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Sepanjang perjalanan dari salon ke rumah, Fatimah hanya diam. Terlalu banyak yang ia pikirkan saat ini. Tentu saja karena kejadian di salon tadi.
Mega tiba-tiba datang dan mengetahui kalau Fatimah akan fitting baju pengantin. Fatimah menyangka ini adalah akhir dari kebohongannya. Tapi sampai Mega hilang dari pandangannya, ia tidak mampu membuka suara untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apalagi kehadiran Haikal yang membuat Mega pasti semakin yakin kalau calon suami Fatimah adalah Haikal. Dan kacaunya lagi, Fatimah tidak punya keberanian untuk mengatakan kebenaran. Secara tidak langsung ia mengiyakan dugaan Mega.
Lima belas menit, keduanya sampai di depan rumah. Gus Ali tak menyadari terlalu memperhatikan istrinya. Ia hanya sibuk dengan kebahagiaan yang sebentar lagi akan datang padanya.
"Ah, ana sangat bahagia bisa sampai hari ini, Tim." Gus Ali mengalihkan pandangan pada wajah Fatimah yang terus menunduk. Bahkan tidak ada raut bahagia sama sekali.
"Ada apa dengan anti, Tim?" tanya Gus Ali khawatir. Ada yang berkecamuk tidak jelas di dadanya. Mungkinkah Fatimah sebenarnya tidak bahagia sudah menikah dengannya?
"Ti, tidak, Mas. Fatimah mungkin hanya capek." Tidak ingin membuat Gus Ali khawatir atau berpikir yang aneh-aneh, Fatimah bergegas undur diri dari hadapan suaminya. Ia masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri.
Gus Ali masih tertegun di atas motornya. Ia tidak bisa menahan kecurigaan atas perubahan wajah Fatimah. Apa mungkin tadi ada sesuatu yang terjadi di salon?
Daripada Gus Ali berpikir semakin jauh, ia segera menyusul Fatimah ke dalam rumah. Barangkali nanti saat Fatimah sudah sedikit lebih tenang, Gus Ali akan memintanya bercerita.
Memendam masalah sendirian, tak ubahnya menimbun petasan di dalam hati. Jika nanti tersulut sedikit saja, masalah itu akan meledak dan membuat hati semakin hancur.
Siang ini, Fatimah dan Gus Ali sama-sama ada jadwal di kampus. Sebelum mereka berangkat, Gus Ali mendatangi Fatimah yang sibuk dengan laptopnya. Entah mengapa Gus Ali merasa Fatimah sedang menghadapi kesulitan.
"Tim, ayo berangkat."
"Mas duluan saja. A, ana masih belum menyelesaikan tugas." Fatimah bahkan tidak menoleh pada suaminya yang memajukan tangannya.
Gus Ali tak bisa menahan penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya. Ia melongok ke laptop Fatimah dan wajahnya berubah saat melihat tugas yang dibuat oleh Fatimah.
"Oh, tugas dari Mas ya." Gus Ali mengomentari. Membuat Fatimah sadar kalau Gus Ali memperhatikannya. Fatimah segera menutup laptopnya.
"Maaf ya Mas, Fatimah cuekin Mas." Fatimah langsung menatap suaminya. Merasa tidak seharusnya ia bersikap seperti itu kepada sang suami. Bagaimanapun juga suami adalah imamnya.
"Em, tidak apa-apa. Belum selesai ya tugasnya? Apa perlu Mas kasih tambahan waktu?" tanya Gus Ali hatinya merasa kasihan kepada Fatimah.
"E, e, nggak apa-apa sih kalau Mas mau ngasih tambahan waktu." Meski sedikit malu, Fatimah tidak ingin menolak keinginan suaminya itu. Bukan memanfaatkan kesempatan mumpung suaminya itu sedang baik hatinya, hanya saja ia memang kualahan.
"Nggak jadi deh, Tim. Nggak adil dong sama Mega. Nanti imej Mas sebagai dosen ganteng dan killer bisa pudar," ujar Gus Ali mengangkat sebelah alisnya.
Alih-alih tergelak dengan candaan suaminya, Fatimah malah terdiam. Saat nama Mega disebut, otomatis ia teringat kejadian di salon. Wajah Fatimah langsung terlihat kaku.
"Mikir apa lagi kok tegang?" tanya Gus Ali setelah mendekatkan wajahnya ke dekat Fatimah.
"Gini, Mas, tadi, ...."
"Maaf sayang, Mas sebenarnya ingin sekali tahu apa yang sedang anti pikirkan begitu dalam. Tapi sudah waktunya ke kampus. Anti kan nggak mau ketahuan kalo berangkat sama Mas." Gus Ali memotong ucapan Fatimah setelah melihat jam di tangannya yang hampir menunjukkan waktu masuk ke kelasnya.
Fatimah sebenarnya kesal karena tidak bisa mengatakan apa yang tadi terjadi di salon. Entah apa yang akan ia katakan nanti pada Mega.
"Iya, Mas," balas Fatimah lalu memasukkan laptopnya ke tas dan bersiap pergi.
Keduanya berangkat bersama. Tapi seperti biasa, Gus Ali menurunkan Fatimah sedikit jauh dari kampus. Walau hati Gus Ali sebenarnya kasihan melihat istrinya itu berjalan apalagi dengan cuaca Surabaya yang panas.
"Sebenarnya Mas nggak tega anti jalan ke kampus, tapi ya gimana lagi. Ini keinginan anti."
"Iya, Mas. Nggak apa-apa." Fatimah menjawab singkat. Ia masih terpikir masalah Mega.
"Nanti kalau sudah beres ngampus, ke ruangan Mas ya."
Fatimah mengangguk, lalu ia mencium tangan sang suami. Dengan tatapan datar Fatimah memandang sang suami dengan motornya yang semakin menjauh.
__ADS_1
Fatimah membuang napas kasar. Ia harus mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan Mega. Sudah pasti sahabatnya itu akan banyak bertanya soal fitting baju pengantin.
Fatimah jadi teringat kejadian kemarin di salon. Mega berkali-kali merajuk, tapi Fatimah berhasil menenangkan amarah sahabatnya itu. Dan berjanji pasti akan menceritakan semua nanti di saat yang tepat. Meski Fatimah ragu kalau Mega mampu menerima kenyataan bahwa Fatimah menikah dengan Gus Ali.
Karena terus melamun, Fatimah tak sadar jika ada motor yang oleng ke arahnya karena bannya meletus. Fatimah menoleh ke belakang saat suara motor itu sudah sangat dekat dan takdir sudah tergaris. Fatimah terserempet motor yang mengakibatkannya jatuh ke aspal dan hilang kesadarannya.
Insiden terserempet itu terjadi sudah di dalam kampus. Fatimah langsung dibawa ke klinik di dekat kampus. Tentu saja hal ini tidak diketahui Gus Ali.
Hingga jam berakhir, Gus Ali tak menemukan Fatimah di sana. Sudah pasti Gus Ali khawatir tentang keadaan istrinya. Ada yang terjadi, dan Gus Ali tidak tahu apa.
Barulah setelah jamnya selesai, Gus Ali melangkah ke luar kelas. Ia berusaha menghubungi nomor Fatimah, tapi tak ada jawaban.
Gus Ali semakin kelimpungan. Ia tak bisa hidup begini. Kehilangan kontak tentang Fatimah membuat kepala Gus Ali sedikit pusing.
Sejak tadi fokus dengan handphonenya, Gus Ali tak menyadari jika tatapan mata orang di sekitarnya mencemooh. Baru ketika Gus Ali tak sengaja melihat beberapa mahasiswi yang duduk di seberangnya yang saling berbisik.
"Lihat deh, dosen itu yang di mading kan?" bisik salah satunya lalu diiyakan oleh temannya.
Mula-mula Gus Ali tidak mengerti, tapi rasa penasarannya membuatnya ingin beranjak dari sana dan mengecek apa yang dibicarakan mahasiswi itu.
Benar saja di depan Mading banyak berjubel mahasiswa yang melihat di sana, lalu saat mengetahui Gus Ali ada di sana, tatapan mereka langsung tertuju pada Gus Ali.
"Ada apa ini?" tanya Gus Ali dalam hati.
Ia sampai harus berteriak agar mendapat ruang untuk melihat apa yang ada di majalah dinding kampus.
Mata Gus Ali terbelalak tidak percaya melihat sebuah foto yang terselip di antara karya mahasiswa. Rahang Gus Ali menegang. Ia merasakan dadanya penuh dengan amarah.
Gus Ali tidak bisa bersabar atas gunjingan mahasiswa karena foto dirinya memeluk Fatimah di depan ruangannya. Gus Ali dengan sigap meraih foto itu dan menyelipkannya di antara buku pelajaran.
Allaahumma innii a'uudzubika minfitnatinnaari wa a'dzaabinnaar. Wafitnatilqabri waadzaabil qobri. Allahumma innii a'uuzubika min syarri fitnatilmasiihiddajjaal. Allahummaghsil qolbii bimaaitslji wal barod. Wa naqqiqolbii minal khothooyaa. Kamaa naqqoitatsaubalabyadho minaddanasi. Wa baa 'idbaitanii wa baina khothooyaaya kamaa baa 'adta bainalmasyriqi wal maghribi. Allaahumma innii a'udzubika minal kaisal wal maaktsami wal maghrom.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daru fitnah dan adzab neraka, fitnah dan adzab kubur, keburukan fitnah, kekayaan dan keburukan fitnah kefakiran. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan fitnah Dajjal. Ya Allah bersihkanlah hatiku dengan salju dan air es, serta sucikanlah hatiku dari tiap kesalahan sebagaimana Engkau menyucikan pakaian putih dari kotoran. Dan jauhkanlah antara diriku kesalahan-kesalahanku itu sebagaimana Engkau menjauhkan timur dan barat. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, perbuatan dosa, dan utang.
Mata Gus Ali sedikit memerah. Ia berjalan dengan cepat menuju ke ruangannya. Buku yang tidak bersalah sedikit ia banting ke meja. Gus Ali hanya tidak mengerti siapa yang melakukan pencemaran nama baik di kampus?
Tapi lali Gus Ali kembali teringat Fatimah. Ia kembali mencoba menghubungi nomor istrinya. Dan ada sedikit kelegaan saat Fatimah mengangkat teleponnya. Atau jangan-jangan Fatimah telah mengetahui tentang foto itu sehingga malu untuk masuk ke kelas? Gus Ali jadi berpikiran macam-macam.
"Anti dimana?" tanya Gus Ali begitu suara Fatimah terdengar.
"Di klinik, Mas. Tadi keserempet motor."
"Di sana sama siapa? Mas kesana sekarang ya."
Mendengar istrinya menjadi korban kecelakaan, Gus Ali terlihat cemas. Bayangannya sudah kemana-mana. Dan sejujurnya Gus Ali takut kehilangan istrinya itu.
Bahkan tentang fitnah yang kini tersebar di lingkungan kampus, Gus Ali tak lagi memikirkannya. Jika nanti dekan akhirnya memintanya mundur, Gus Ali akan dengan lapang dada menyerahkan tugasnya.
"Di sini ada Kak Tata, Mas. Yang penting saya nggak apa-apa, kok." Suara Fatimah sedikit memelan. Gus Ali mengerti kalau Fatimah berusaha menutupi dirinya.
"Biar saja, Tim. Mas sudah tidak peduli kalau pernikahan kita terungkap. Mas sekarang ke sana ya."
Fatimah tidak bisa menjawab lagi. Atau lebih tepatnya tidak dibiarkan menjawab. Gus Ali keburu menutup telepon. Dan kini Fatimah hanya bisa terdiam memikirkan respon dosen cantik ini terhadapnya. Sudah bukan rahasia lagi jika Gus Ali dan Kak Tata punya hubungan yang sangat dekat.
"Siapa, Tim?" tanya Tata yang menemani Fatimah di klinik. Tadi tak sengaja melihat kejadian itu. Dan yang membuat Tata geram adalah pesepeda yang menyerempet Fatimah malah putar balik dan pergi.
"Kakak ya?" tebak Tata karena Fatimah belum juga menjawab.
"Bu, bukan, Kak."
"Em, pacar ya?" Tata kembali menebak. Ia sendiri ragu-ragu kalau wanita seperti Fatimah ternyata punya kekasih. Seharusnya sosok seperti Fatimah, gadis desa yang polos dan terlihat memiliki pengetahuan agama yang luas, tidak melakukan hubungan pacaran.
"Bukan juga, Kak." Fatimah mencoba menyimpulkan senyumnya mesti dengan sangat kaku.
"Lalu siapa dong, Tim? Anti kan panggilnya Mas, kalau bukan kakak atau pacar, jangan-jangan, ...." Tata melebarkan matanya. Ia seakan tidak percaya dengan terkaannya sendiri.
__ADS_1
"Suami ya?" lanjut Tata. Kali ini Fatimah tidak menggeleng atau berkata bukan. Berarti benar kalau yang menelepon tadi adalah suaminya.
Diam-diam Tata terkagum-kagum dengan pribadi wanita di depannya. Jadi wanita semuda ini sudah menikah. Bahkan Tata tidak menyangka kalau Fatimah seberani itu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
"Wah, anti sudah menikah ya? Wah nggak nyangka, ana kalah nih." Tata terlihat terkejut.
Sedangkan Fatimah tersipu-sipu. Ingin berkata bohong, ia teringat sudah begitu banyak kebohongan yang ia lakukan. Jika kali ini ia berbohong, ia akan terus berbohong.
Fatimah menganggap ini adalah titik baliknya untuk mengubah kebiasaan berbohongnya. Walau resikonya besar, kejujuran tidak akan membuat kehidupan semakin rumit.
"Sudah lama menikah?" tanya Tata lagi, ia antusias berbincang dengan Fatimah yang sebenarnya berusaha menghindar. Sayangnya Tata tidak menyadari itu.
"Baru mau sebulan, Kak."
Jangankan Tata yang terkejut, Fatimah kadang masih tak percaya kalau kini ia telah menjadi seorang istri dari Gus Ali Nur Hidayat.
"Oh, masih pengantin baru dong?" ledek Tata inginnya bercanda. Tapi rasa pening di kepala Fatimah membuatnya menutup mata.
"Eh, eh, kenapa Tim? Pusing ya?" respon Tata melihat Fatimah kesakitan.
"Bentar ya, saya panggilkan dokternya lagi."
Fatimah mengangguk sekenanya. Tepat saat Tata keluar dari kamarnya, Gus Ali datang dan masuk ke ruangan tempat Fatimah dirawat.
Melihat kaki istrinya yang diperban, Gus Ali semakin khawatir. Takut kalau luka Fatimah begitu fatal, Gus Ali semakin cemas.
"Apa yang sakit sayang? Apa kita ke rumah sakit besar saja biar dirongent?" tanya Gus Ali meletakkan tangannya di seluruh bagian tubuh istrinya.
"Aduh!" Fatimah malah pura-pura kesakitan sambil meletakkan tangan di dada.
"Apa yang sakit Tim?"
"Hatiku, Mas."
"Kok becanda sih, Mas serius khawatir lhoh."
Tawa Fatimah langsung pecah. Melihat wajah sang suami begitu kesal. Entah mengapa hal kecil seperti ini membuatnya bahagia.
"Iya, Mas. Maaf deh. Bisakah Mas ngurus administrasinya? Biar bisa pulang."
"Anti beneran sudah nggak apa-apa?" tanya Gus Ali memastikan.
Fatimah mengangguk. Setelah merasa istrinya tidak apa-apa, Gus Ali berjalan keluar dari ruangan menuju ruang administrasi.
Tak sadar jika Gus Ali bersimpangan dengan Tata yang berjalan bersama dokter umum di klinik ini.
"Apa ada keluhan lanjutan?" tanya dokter yang baru saja masuk bersama Tata.
"Ini dok, sedikit pusing."
"Nanti saya resepkan penghilang pusing, tapi jika masih parah harus diperiksa lebih lanjut ya."
"Baik, dok," jawab Fatimah mengangguk.
Setelah Dokter muda itu keluar dari kamar, Tata yang sejak tadi memperhatikan saja, kini maju ke samping dipan.
"Wah pengen nemenin, tapi ada jam nih. Maaf ya," ujar Tata tak enak karena harus meninggalkan Fatimah.
"Tidak apa-apa, Kak. Kak Tata sudah banyak banget bantu saya." Fatimah menatap lekat wanita cantik di sampingnya.
"Ya sudah, get well soon yaa."
"Yaa, Kak. Terimakasih."
Setelah mengucap salam, Tata pergi keluar dari kamar. Baru saja Fatimah akan memejamkan mata, Gus Ali datang membuka pintu. Sontak Fatimah kembali membuka mata.
__ADS_1
"Mas, bikin kaget saja."
"Eh, iya, maaf tidak mengucapkan salam. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh sayangku. Semuanya sudah selesai, ayo kita pulang."