Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Kedatangan Tata


__ADS_3

Suasana resepsi pernikahan Gus Ali dan Fatimah terasa hangat, Fatimah memilih duduk di pelaminan karena ia tidak terlalu berani bergaul dengan para tamu yang notabene pembesar dan tokoh agama.


Baru setelah sedikit agak sore, Fatimah turun dari pelaminan untuk menyambut tamu dari pihak keluarganya. Bukan karena tidak menghargai tamunya, tetapi karena lebih ke menjaga kehormatan mahramnya.


Jantung Fatimah seolah berhenti berdegub di saat matanya melihat sosok Tata baru masuk ke tempat acara. Napas Fatimah terasa berat. Gus Ali yang melihat wajah istrinya tidak seperti biasa, segera menatap ke arah yang sama.


Gus Ali berdehem untuk mengembalikan kesadaran istrinya. Ia juga menggenggam erat tangan Fatimah. Merasakan perhatian suaminya itu, Fatimah menoleh. Tanpa bicara, Gus Ali hanya mengisyaratkan agar Fatimah lebih santai.


Tata masuk ke tempat resepsi bersama kedua orang tuanya. Matanya terus menunduk. Tak peduli dengan sekitarnya.


"Ayo, Ta. Temui pengantinnya dulu," pinta Abahnya memang bertujuan menyadarkan Tata jika lelaki yang pernah ia cintai telah memilih orang lain.


"Baik, Bi. Tata ikut Abi saja." Tata mengangkat wajahnya, berusaha keras mengukir senyum di wajahnya. Walau itu terasa berat.


Setelah bersalaman dengan kedua orang tua Fatimah, Tata sampai di depan pengantin. Ia hanya tersenyum kecil saat menangkupkan tangan ke pada Gus Ali. Dan ia menghambur ke pelukan Fatimah.


"Barakallahu lakuma wabarokaalaikuma wajamaa baina kuma fii khoir. Semoga sakinnah mawaddah dan penuh rahmah."


Melihat Tata dengan lapang dada melepaskan dirinya, Gus Ali melirik ke arah lain. Ia tidak bisa pura-pura tidak tahu jika ada orang lain yang kini menatap nanar kepada Tata.


Hanya saja Gus Ali tidak mau ambil pusing. Tata dan kedua orang tuanya segera berlalu dari pelaminan lalu menikmati hidangan dan beramah tamah.


"Apa Mas nggak mau nemuin Bu Tata?" bisik Fatimah, antara menguji suaminya atau merasa iba dengan wanita yang dulu begitu mencintai Gus Ali. Fatimah pun belum yakin jika Tata yang diceritakan suaminya itu merayu untuk menikahinya, telah melepaskan perasaan cintanya pada Gus Ali.


"Sudah tahu perih, kenapa hati anti sakiti sendiri?" tanya Gus Ali membuat Fatimah terkesiap. Benar kata suaminya, sudah tahu luka itu sakit, tapi Fatimah malah melukai hatinya sendiri.


Fatimah tidak berani lagi membahas Tata di hadapan suaminya. Mungkin memang lebih baik begitu. Dengan semakin membahasnya, Fatimah hanya menggarami luka di hatinya lagi dan lagi. Padahal Fatimah sendiri tahu kisah itu sudah karam setelah Gus Ali menjadi suaminya.


Gus Ali kembali mengedarkan pandangannya. Ia melihat ke arah Haikal yang berusaha mencuri pandang kepada Tata. Lelaki yang pernah menjadi kang ndalem itu terlihat begitu antusias melihatnya.


Tak hanya itu, Bu Tuti yang ada tak jauh dari sana juga terlihat terkejut dengan kedatangan Tata. Gus Ali menyaksikan bagaimana ibu dari Haikal itu berjalan dan menemui Tata.


Keduanya nampak berpelukan sebelum akhirnya harus berpisah karena Tata beserta kedua orang tuanya pulang.


Gus Ali tidak bisa menahan rasa penasarannya. Di saat acara lengang dan tamu terlihat sepi, Gus Ali memanggil Haikal untuk mendekat padanya.

__ADS_1


"Kal, ana mau nanya. Jawab jujur ya."


"Ada apa, Gus?" Haikal terlihat gemetar.


"Antum kenal Tata? Kok tadi umi antum kayak dekat sama dia?" tanya Gus Ali sambil memperhatikan perubahan air muka Haikal.


"I, iya, Gus."


"Kenal dimana?"


"Umi ketemu dia waktu terkilir di jalan."


"Oh." Gus Ali tidak melanjutkan pertanyaannya karena kini Fatimah terlihat menatapnya tajam. Pasti nama Tata yang ia sebut sampai ke telinga istrinya itu.


"Kenapa tanya tentang Bu Tata?" Wajah Fatimah langsung terlihat judes.


Gus Ali berusaha sabar. Walau dalam hati dia kesal pada dirinya sendiri mengapa harus bertanya pada Haikal saat Fatimah ada di sampingnya? Seharusnya Gus Ali menghargai istrinya itu.


"Maaf, sayang. Mas cuma penasaran karena Bu Tuti kelihatan akrab sama Tata. Siapa tahu Tata adalah jodohnya Haikal." Gus Ali memasang senyum manis yang paling manis. Sayangnya yang namanya wanita tidak akan pernah lengkap tanpa sifat ngambeknya.


"Emangnya Haikal suka sama Tata?" tanya Fatimah kepada Haikal, membuat pria yang belum pernah merasakan dadanya berdebar itu panik untuk menjawabnya.


"E, enggak, Tim. Eh Ning."


Fatimah menatap suaminya lagi. Jawaban Haikal seolah menyalahkan apa yang dikatakan Gus Ali.


"Oalah, Tim. Mana ada orang suka ngaku," timpal Gus Ali memojokkan posisi Haikal.


"Ya sudah, Kal. Antum bisa istirahat. Dari tadi sudah bantuin menjamu tamu. Antum juga perlu istirahat."


Haikal mengangguk lalu berjalan pergi dari hadapan Gus Ali. Sedangkan Gus Ali masih merayu Fatimah yang masih cemburu karena kejadian itu. Padahal Gus Ali telah mengatakan yang sebenarnya.


"Masyaallah, wanita itu lucu ya, Tim." Gus Ali akhirnya menyadari sesuatu.


"Lucu gimana, Mas?"

__ADS_1


"Ya ini, ngambekmu ini tanda kalo anti masih wanita."


"Emang ada wanita yang nggak ngambek kalo suaminya menanyakan tentang wanita lain di saat resepsi?" balas Fatimah melengos tidak mau melihat wajah suaminya.


"Ya Allah, Tim. Mas harus ngomong berapa kali sih? Mas cuma penasaran karena Tata kenal Bu Tuti. Siapa tahu ini jalan yang Allah tunjukkan untuk membantu qadarNya."


"Maksud Mas?"


"Siapa yang tahu kalau Haikal diam-diam suka sama Tata? Anti lihat kan wajahnya Haikal yang memerah? Haikal itu termasuk santri kenceng. Dia fokus mencari ilmu saja, nggak pernah suka-sukaan sama mbak santri atau wanita."


"Oh ya?"


"Ya juga tahu kan? Wong dulu sekelas."


"Iya, Mas."


Fatimah terdiam sejenak. Tiba-tiba ia memikirkan nasip orang lain yang juga menyukai Bu Tata. Apalagi telah banyak berkorban untuk Bu Tata.


"Lalu gimana dengan Dika, Mas?" tanya Fatimah.


"Ya menurut Mas, Dika itu nggak beneran cinta sama Tata. Dia cuma terobsesi."


"Tapi Dika kan sampai rela nggak lulus-lulus demi Bu Tata?" Entah mengapa Fatimah ingin membela Dika di hadapan suaminya itu. Baginya Dika juga pantas bahagia.


"Emang menurut hati nurani anti, pengorbanan Dika untuk Tata itu apa sudah benar?"


Fatimah menggeleng. Ia membenarkan apa yang dikatakan Gus Ali.


"Cinta itu bukan egoisme, Tim. Cinta itu menyembuhkan, bukan malah mencurangi atau menyakiti salah satu pihak."


Fatimah mendengarkan baik-baik kalimat suaminya. Ia jadi tidak sabar untuk mendengar kisah lagi dari suaminya. Hanya saja saat ini bukan saat yang tepat.


"Bayangkan kalau Dika sudah mendapatkan Tata, pasti bahagia banget kan? Tapi apa bahagianya itu bisa awet? Atau akan menguap bersama berjalannya waktu?" tanya Gus Ali lagi.


Alih-alih menjawab, Fatimah hanya menggendikkan bahunya. Pertanyaan suaminya kali ini tidak mampu dijawabnya karena menurut Fatimah, hal yang belum terjadi itu rahasia Allah. Ia sebagai manusia tidak mungkin ikut campur dengan kekuasaan Allah.

__ADS_1


__ADS_2