
Sedangkan di Ngantang, Pak Kyai Huda mengundang kedua orang tua Fatimah ke ndalem. Sesampai di ndalem sepasang suami istri itu duduk di ruang tamu sembari menunggu kedatangan Pak Kyai.
"Bah, ada apa ya kok kita disuruh kemari?" tanya umi Afin berbisik pada suaminya.
Ustaz Adi hanya menggeleng samar. Berbisik-bisik saat berada di rumah orang lain adalah hal yang buruk. Ustaz Adi sengaja tak menjawab pertanyaan istrinya itu.
Tak lama kemudian, Pak Kyai Huda datang dengan dibantu Ning Faza berjalan. Kedua orang tua Fatimah itu merasa sedih karena keadaan Pak Kyai.
"Wes, Za. Kamu duduk sini." Pak Kyai mengajak putrinya yang selama ini merawat sejak ia mengalami serangan jantung itu di sampingnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, ustaz Adi dan istri." Pak Kyai membuka percakapan. Beliau menghela napas sejenak.
Akhir-akhir ini pikirannya terbebani dengan ketiadaan kabar dari Gus Ali yang berada di Surabaya. Rasanya Pak Kyai tak mau memikirkan, tapi ia tetap saja berkewajiban memikirkan putranya itu.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Yi. Wonten menopo nggih?"
"Ngene lo, aku pengen arek-arek Ndang mentas. Dinikahkan saja secepatnya."
Ustaz Adi dan umi Afin saling berpandangan. Terkejut dengan kata-kata Pak Kyai. Mereka bukannya tidak setuju. Hanya saja sudahkah Fatimah dan Gus Ali siap secara lahir dan bathin?
"Kami sebagai orang tua dari Fatimah akan menurut saja apa yang menurut Pak Kyai baik." Ustaz Adi menanggapi dengan singkat.
Sebagai seorang Ayah, dia juga memikirkan nasip putrinya. Jarak antara lamaran dan pernikahan yang jauh juga akan menimbulkan kesan buruk.
Belum lagi Gus Ali dan Fatimah kini berada di kota orang. Entah keduanya sudah bertemu atau belum. Menurut ustaz Adi keputusan Pak Kyai ini juga baik bagi putrinya.
"Yowes, Za. Telponen Ali, ngomongo kon moleh."
Ning Faza yang berada di samping Pak Kyai dengan cekatan meraih handphone dan menghubungi nomor Gus Ali. Kebetulan lelaki itu langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Mbak. Ada apa?"
"Mulih o."
"Wonten menopo, Mbak? Abah sehat kemawon?"
Ning Faza baru akan membuka mulutnya tapi Pak Kyai segera meraih handphone itu. Ia ingin berbicara sendiri dengan putranya yang sering membuatnya jengkel meski sesungguhnya sangat ia rindukan itu.
"Waktu Abah nggak banyak, kamu cepat pulang. Sekarang."
Mendengar suara Abahnya itu Gus Ali yang kini berdiri di depan kelas langsung berbalik dan kembali berjalan ke kantor.
"Inggih, Bah. Ali pulang." Gus Ali langsung memikirkan untuk berangkat dengan bus.
"Yowes. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Setelah itu telepon terputus. Gus Ali tak lagi memikirkan kelasnya hari ini. Mungkin ia hanya akan memberi tugas kepada mahasiswa baru yang harusnya hari ini menjadi kelas pertamanya.
"Nggak jadi masuk kelas, Li?" tanya Tata yang tak sengaja melihat wajah temannya itu berubah pias. Tata jadi khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Gus Ali.
"Saya harus pulang ke Ngantang," kata Gus Ali sembari berjalan masuk ke kantornya. Tata mengikutinya dan ingin segera mengetahui apa yang menyebabkan Ali harus pulang kampung detik ini juga.
"Apa Abah antum baik-baik saja?" tanya Tata duduk di depan meja Gus Ali.
Padahal laki-laki di depannya sedang sibuk membuat tugas untuk mahasiswa baru.
"Abah sepertinya kurang sehat. Saya harus segera pulang."
"Ini, pakai mobilku." Tata segera meletakkan kunci mobilnya di meja Gus Ali.
"Tidak usah, Ta. Nggak apa-apa saya naik bus saja."
"Jangan, kalau nunggu bus kelamaan. Pake aja mobilku. Nggak apa-apa ana bisa bareng Abah."
Sejenak Gus Ali memperhatikan Tata. Wajah tulus itu dan segala kebaikan Tata serta keluarganya, membuat Gus Ali semakin tak enak hati.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Gus Ali yang akhirnya mau menerima bantuan Tata. Kalau dalam keadaan mendesak seperti ini Gus Ali tak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
Dalam pikiran Gus Ali ia membayangkan jika keadaan Abahnya sudah gawat. Ia tak siap kehilangan satu-satunya orang tua itu. Makanya Gus Ali secepatnya akan pulang. Bahkan jika ia bisa menghilang, ia akan segera menghilang dan ada di hadapan Abahnya.
"Iya nggak apa-apa, semoga Abah baik-baik saja ya. Salam untuk Abah." Tata menggenggam kan kunci mobil itu di tangan Gus Ali.
Dalam keadaan gawat seperti ini, Gus Ali sudah lupa menjaga jarak dari wanita yang selalu terbuka akan perasaan padanya itu.
"Ya sudah, saya pulang dulu. Sekalian memberi tugas ini ke kelas."
"Nggak usah, ana aja yang mengantar ke kelas." Tata meraih kertas berisi tugas itu.
Setelah Gus Ali bergegas ke parkiran dan pulang ke Ngantang dengan mengendarai mobil milik Tata, di sisi lain Tata berjalan menuju kelas tempat Gus Ali seharusnya mengajar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Fatimah yang berada di kelas itu seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bu Tata ada di depan kelas.
Melihat wajah anggun Tata tentu membawa ingatan Fatimah pada isi handphone perempuan itu penuh video Gus Ali menyanyi lagu India yang romantis maupun yang sedih.
"Fat, itu Bu dosen kekasihnya Gus Ali kan ya?" bisik Mega pada Fatimah yang duduk di sampingnya.
Alih-alih menjawab, Fatimah hanya terdiam. Hatinya berkecamuk. Mau tak mau memori tentang Gus Ali selama ini kembali muncul di kepalanya.
__ADS_1
'Gus saya baru sadar kalau saya menyukai antum. Tapi Gus ternyata sudah memiliki kekasih,' gumam Fatimah.
Perasaannya kembali tidak menentu. Ia hanya tak mengerti mengapa Gus Ali begitu mudahnya mempermainkan hatinya. Tak tahukah kalau Gus Ali sangat berharga bagi dirinya?
Lalu dengan menghilang tanpa kabar dan tanpa pamit, Gus Ali muncul di sekitarnya dengan catatan telah memiliki kekasih. Fatimah terdiam.
'Lagipula Kak Tata memang lebih baik darinya. Kak Tata seorang dosen. Baik, cantik, dan sekufu.' Batin Fatimah kembali terasa sakit. Sakit yang tak berdarah.
Berkali-kali Fatimah berusaha menenangkan dirinya dengan menghirup napas panjang. Ia kembali teringat pemilik cincin yang kini tersemat di jari manisnya. Barangkali Fatimah begitu terbawa perasaan hingga lupa ada seorang laki-laki Sholeh yang menunggunya.
Dan Fatimah harus setia. Fatimah memejamkan matanya. Mulutnya bergumam istighfar berkali-kali. Ia harus sadar kalau perasaannya pada Gus Ali sudah saatnya ia hilangkan.
"Fat, kok diem?"
Mega melihat Fatimah mendadak berubah. Sahabatnya itu jadi curiga kalau Fatimah sebenarnya berusaha meredam cemburu di hatinya.
"Ah, ana tahu. Anti cemburu ya?" tanya Mega lagi.
"Apaan sih."
"Ana juga cemburu, Fat. Tenang aja, ada temennya," ujar Mega santai. Ia tak memedulikan wajah Fatimah gusar padanya.
"Gus Ali kan sudah punya kekasih, anti belum move on juga sama Gus Ali?" tanya Fatimah setelah menenangkan dirinya sendiri.
"Hu'um nih. Belum move on. Belum nemu penggantinya sih," jawab Mega sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas.
"Temen sekelas kita nggak ada yang secakep Gus Ali," bisik Mega lagi. Membuat tatapan tidak suka dari Fatimah.
"Hehe, peace. Canda kok." Mega memasang jari telunjuk dan jari tengahnya untuk membuat lambang damai.
"Inget ya tujuan kita di sini nyari ilmu."
"Nyari ilmu sambil nyari jodoh kan kayak peribahasa sambil menyelam minum air"
"Yang ada kembung, Meg."
"Yang di belakang bicara terus ya? Silakan keluar kalau nggak mau mengikuti kelas ini."
Mega dan Fatimah segera kicep. Tak menyangka kalau perempuan secantik Bu Tata ternyata killer juga.
Keduanya mengikuti kelas dengan tenang. Meski hanya mendapatkan tugas dari dosen yang hari ini tidak hadir, Fatimah dan Mega mendapatkan pelajaran berharga. Mereka yang menganggap Bu Tata dosen cantik dan baik, ternyata harus menelan ekspektasi karena Bu Tata galak dan tegas di kelas.
"Weh, ternyata Bu Tata galak juga ya," komen Mega saat jam kuliah selesai.
"Bu Tata galak? Kalian belum tahu dosen yang digantikan Bu Tata tadi sih," balas teman sekelas mereka yang diketahui bernama Aisha.
"Emang gimana orangnya?" tanya Mega. Sedangkan Fatimah berusaha tidak tertarik membicarakan dosen. Ia menyibukkan diri dengan membuka-buka buku catatannya.
"Kok bisa?"
"Ya bisalah, nih aku ngulang pelajaran ini karena nilaiku C semua."
Fatimah dan Mega saling berpandangan. Sepertinya baru Minggu depan rasa penasaran dua perempuan ini akan terjawab.
"Iya sih, ini aja tugasnya suruh bikin makalah dua puluh lembar. Huft."
Drrttt. Fatimah terkejut saat handphonenya berdering. Melihat nama uminya di layar, Fatimah segera mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Umi."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Gimana kabarnya, Tim?"
"Baik, umi. Tumben nelepon."
"Kamu bisa pulang sekarang juga nggak?" tanya umi Afin dengan suara lirih.
"Ada apa, Mi?"
"Pulang sekarang ya."
"Iya, Mi. Fatimah pulang sekarang."
Setelah telepon terputus. Wajah Fatimah langsung berubah cemas. Hal ini membuat Mega dan Aisha heran.
"Ada apa, Fat?"
"Nggak tahu, disuruh pulang sama umi."
"Yaudah ana temenin ya?"
"Nggak usah, Meg. Nanti ngerepotin anti. Ana bisa sendiri kok."
"Yaudah, stay safe ya."
"Naik apa emangnya?"
Fatimah melirik jam di tangannya. Masih siang. Masih banyak angkutan yang beroperasi jam segini.
"Naik bus bisa kok."
"Beneran nggak mau ana temenin?"
"Jangan deh, nanti kalo anti ikut ke Ngantang nggak ikut jam setelah ini. Mending anti ikut kelas, nanti ana nyontek catatan anti." Fatimah terkekeh lalu berjalan ke keluar.
__ADS_1
Sebenarnya ia penasaran ada apa di Ngantang. Tak seperti biasanya ia diminta pulang mendadak. Walau dengan hati yang cemas, Fatimah menuruti perintah singkat ibu yang telah melahirkannya.
Fatimah sempat menerka-nerka. Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di Ngantang? Abah dan uminya apakah sehat-sehat saja? Atau ada sesuatu yang terjadi? Haikal memutuskan lamaran misalnya? Fatimah semakin jauh menerka.
Pukul 17. 00, Gus Ali sampai di depan rumah. Gus Ali segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Abahnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Abah?" panggilnya sangat cemas.
Ning Faza yang baru keluar dari kamar Pak Kyai segera menemui adiknya. Sebenarnya Ning Faza tidak tega melihat wajah bingung dan lelah Gus Ali.
"Sudah datang, Li?" tanya Ning Faza.
"Abah gimana keadaannya, Mbak? Abah kenapa?" tanya Gus Ali bertubi-tubi. Rasanya ia ingin menerobos pintu kamar Abahnya agar tahu dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan ayahnya itu.
"Abah baik, kok. Lagi istirahat. Antum bebersih dulu sana," perintah Ning Faza pada adiknya.
"Tapi Ali pengen ketemu Abah dulu."
"Nggak usah, nanti aja bakda Magrib. Antum cepat mandi."
Walau belum tenang, Gus Ali melaksanakan yang diperintah kakaknya. Ia segera mandi menyegarkan tubuhnya, lalu bersiap mendirikan sholat magrib berjamaah di masjid Jami.
Saat keluar dari kamarnya, Pak Kyai telah berada di ruang tamu menunggu anaknya. Dengan langkah hampir berlari, Gus Ali menghampiri Abahnya. Ia segera memeluk tubuh sepuh yang terlihat sedikit kurus.
"Abah kok kurus? Abah sakit apa?" tanya Gus Ali. Serta merta air matanya tumpah dan membasahi sorban abahnya.
"Ojo nangis."
"Lha wonten menopo Abah nyuruh Ali pulang? Kangen nggih Bah kaliyan Ali?"
Bukannya menggangguk, Pak Kyai malah menggeleng. Membuat wajah Gus Ali berubah heran.
"Wes Ndang siap-siap. Bakda isya antum nikah."
Gus Ali melongo mendengar kata nikah dari mulut abahnya.
"Ni-kah?"
Kepala Gus Ali langsung terasa berat. Ia belum siap. Akhirnya Gus Ali jatuh pingsan di depan Pak Kyai.
"Cemen. Mau nikah kok pingsan?" komen Pak Kyai menggelengkan kepalanya.
Di saat yang sama, Fatimah baru menginjakkan kakinya di rumah setelah bakda magrib. Sebenarnya ia sampai Ngantang sebelum magrib, hanya saja ia sekalian membersihkan diri dan sholat di masjid yang ia temui di dekat stopan bus.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Abah. Umi?" panggil Fatimah begitu meletakkan tasnya di kursi ruang tamu.
Karena terlalu lelah, Fatimah tak menyadari kalau ruang tamu ini terlihat rapi, bersih, dan ditata ulang.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, sudah magriban?" tanya umi Afin sembari mendekat ke anaknya. Fatimah segera mengangguk.
"Ya sudah, masuk kamar sana. Istirahat dulu." Fatimah mengangguk. Ia berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
Tapi ia heran melihat uminya terus menatap ke pintu rumah yang terbuka. Adakah orang lain yang ditunggu uminya?
"Nunggu siapa, mi?"
"Mbak Yanti."
Mendengar jawaban itu Fatimah semakin penasaran. Mbak Yanti adalah nama tetangga yang memiliki salon. Kening Fatimah mengerut.
"Emang ada yang mau nikah, kok nunggu Mbak Yanti?" gumam Fatimah.
"Iya. Anti yang akan menikah."
Bagai dihantam gada, Fatimah melongo. Ia berusaha tidak pingsan saat ini juga. Setelah berusaha menenangkan diri beberapa menit, Fatimah mendekat kepada uminya.
"Umi jangan becanda, deh."
"Umi nggak becanda. Orang pihak laki-lakinya udah siap kok."
"Hah? Kok terburu-buru sih?"
"Ini permintaan Pak Kyai. Kita nurut saja. Anti nggak keberatan, kan?"
Fatimah gelagapan untuk menjawab. Kejutan yang belum pernah ia bayangkan ini membuat kepalanya sedikit berat.
Alih-alih menjawab, Fatimah melangkahkan kakinya ke kamar. Ia berusaha mencerna setiap keterangan dari uminya. Hari ini ia akan menikah. Iya. me-ni-kah.
Fatimah nanti akan kembali ke Surabaya dengan status baru. Yaitu istri. Fatimah terus memikirkan hal ini hingga kepalanya terasa semakin berat. Akhirnya tubuh Fatimah jatuh ke kasur. Ia terlalu shock dengan kabar yang sangat mendadak ini.
***********************************************
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.
Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗
Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.
Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.
Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏
__ADS_1