
Setelah kepergian Dika, Mega hanya bisa menggenggam kotak cincin di tangannya. Masih syok dengan penuturan lelaki itu tentang Gus Jaka dan Ning Rere.
Dengan maksud mengkonfirmasi, Mega segera merogoh sakunya. Tangannya gemetar ketika mencari nomor milik Ning Rere.
Hatinya mendadak ngilu. Tidak bisa membayangkan jika harus menjadi madu untuk Ning Rere. Baginya itu terlalu jahat. Mega hanya ingin menikah dan mendapat suami yang baik. Tapi ia juga tidak ingin harapannya itu menjadi nyata namun di sisi lain menyakiti yang lain.
'Apa gunanya menjadi istri seorang Gus, kalau menjadi istri kedua? Ana tahu tidak ada wanita yang mau berbagi suaminya,' batin Mega berkecamuk.
Masih terkejut hingga ia tidak bisa menemukan nomor telepon Ning Rere, padahal ia yakin telah menyimpan nomornya.
Mega meletakkan handphone kembali ke nakas. Ia meraup wajahnya lalu berusaha menenangkan diri.
Berkali-kali bibirnya beristighfar agar pikirannya bisa sedikit longgar. Kini Mega merasa lebih baik. Ia mengembuskan napasnya pelan agar berefek menenangkan.
Lima menit, sepuluh menit. Mega mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia kembali mencari nomor telepon Ning Rere.
Ketemu. Mega melihat jam di dinding kamarnya, masih pukul delapan. Semoga ia tidak mengganggu waktu Ning Rere malam-malam begini.
Tapi Mega juga tidak bisa menahan hingga esok hari tentang ucapan Dika tadi yang membuatnya sangsi.
"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, tumben Mega telepon? Apa ada kabar baik?"
Mega terpaku, suara Ning Rere terdengar semringah menjawab salamnya. Bahkan Ning itu berharap mendengar kabar baik, yang artinya beliau menanti Mega mengatakan persetujuannya.
"Em, maaf Ning ana terpaksa malam-malam begini menelpon, maaf kalau mengganggu waktu Ning bersama Gus Jaka." Mega terdiam sesaat. Menyiapkan diri untuk menanyakan kebenarannya.
"Enggak kok, Meg. Mas Jaka lagi batshul masail kok."
__ADS_1
Deg. Mega terdiam. Penyebutan Ning Rere terhadap Gus Jaka seolah membenarkan apa yang dikatakan Dika.
Kepala Mega kini terasa berat. Belum juga menanyakan kepada Ning Rere, Mega sudah memikirkan bagaimana kehidupan mereka bertiga kelak. Meski awalnya Ning Rere begitu menerima dirinya, apakah Ning Rere tidak akan cemburu?
"Anu, Ning. Kalau boleh tahu sebenarnya hubungan Ning dengan Gus Jaka itu apa ya?" Mega menutup matanya, ia sendiri tidak tahu bagaimana harapan yang mulai berkembang di hatinya jika kenyataan itu benar.
Pasti taman bunga di dadanya yang mulai bermekaran akan langsung terbakar dan kembali gersang, atau malah terendam banjir air mata.
"Oh iya, ana belum cerita ya Meg? Sebenarnya Ahad ini pengennya ngajak anti ke pondok, tapi anti keburu menanyakannya ya."
Mega memasang telinga dengan baik agar tidak salah paham jika Ning Rere menjelaskan. Mega masih berharap kalau Ning Rere dan Gus Jaka hanya kakak adik.
"Mas Jaka itu suami ana. Jangan takut ya untuk berpoligami dan menjadi istri kedua. Insyaallah ana ridho, dan ada sebab lain yang menjadi dasar ana meminta Mas Jaka menikah lagi."
Bagai tersambar petir, hati Mega yang semula dipenuhi bunga, kini tenggelam bersama genangan air matanya yang menetes. Pahit sekali kenyataan yang harus ia hadapi.
"Ja, jadi Ning Rere memang berniat menjadikan ana madu Anti?" tanya Mega sedikit terbata.
Sedangkan Mega hanya bisa membisu. Air matanya terus luruh membasahi hijab yang ia kenakan. Ia bingung dan dilema.
Apakah ia harus berterus terang jika ia belum mampu menempati posisi yang ditawarkan Ning Rere? Mega tahu betul jika Ning Rere orang yang baik. Dari cara bicaranya dan menghadapinya, Mega tahu wanita itu bisa sabar.
Tapi Mega ragu pada dirinya sendiri. Ditambah tawaran Dika yang terdengar menjadi jalan keluar dan harapan baru untuk Mega.
"Afwan Ning. Bolehkan ana meminta waktu untuk memikirkannya? Sejujurnya ana merasa belum pantas untuk membersamai Gus Jaka dan Ning dalam berumahtangga. Ana masih buruk dan perlu waktu untuk memikirkannya matang-matang."
"Afwan, Ning. Ana takut menyesal akhirnya."
Ning Rere terdiam, tidak segera menyahuti seperti sebelumnya. Mungkin Ning Rere juga mulai mengerti tekanan batin seperti apa yang dirasakan Mega.
__ADS_1
"Baiklah, Meg. Minta petunjuk pada Allah ya. Nanti jika sudah mendapat petunjuk, anti we-a ana saja kalau tidak berkenan telepon."
"Sekali lagi ana minta maaf, Ning." Mega mulai merasa sungkan kepada Ning Rere.
"Enggak apa-apa, kok. Kalau ana boleh jujur, ana sudah ridho kalau anti menjadi adik, apalagi Mas Jaka terlihat tidak banyak berkomentar tentang anti. Tidak seperti dulu-dulu ketika ana pertemukan dengan wanita-wanita pilihan ana."
Penjelasan Ning Rere ini membuat Mega membulatkan mata. Ia terkejut mengetahui fakta bahwa sudah banyak wanita yang diajukan kepada Gus Jaka.
"Be benarkah itu, Ning?"
"Iya, Meg. Ana tidak mengada-ada. Ana jujur apa adanya Meg. Segala sesuatu yang baik, harus dimulai dengan cara yang baik pula."
Mega masih terdiam. Cara berbicara Ning Rere yang tenang sesaat membuat Mega yakin jika wanita itu memang sudah siap jika suaminya membagi cinta.
"Kalau poligami dianggap buruk di masyarakat itu hanya karena oknum yang tidak memenuhi syarat poligami, memaksa untuk melakukan poligami, Meg. Ingat ya hanya oknum. Mereka yang menyeleweng lalu memilih jalan poligami tanpa restu dari istri pertama, itu bukan poligami. Rosulullah memang melakukannya, berpoligami tanpa izin istrinya, tapi bil khusus itu untuk kepentingan dakwah. Sedangkan kita kan manusia biasa, tidak memiliki kepentingan mendesak seperti beliau, maka harus memenuhi syarat sebelum berpoligami."
Penjelasan panjang Ning Rere sejenak menenangkan kegundahan hati Mega. Terutama tentang poligami itu sendiri. Mega merasa akan mendapat bimbingan dan ilmu dari Ning Rere. Keyakinan Mega untuk melanjutkan perjodohan dengan Gus Jaka kembali menebal.
Siapa tahu ini adalah cara Allah agar Mega mendekat padaNya. Karena berkumpul dengan orang-orang mukmin juga akan membuat kita ke dalam golongan itu.
Sebagaimana teman yang baik adalah teman yang membawa manfaat kepada kebaikan. Ning Rere dan Gus Jaka bagi Mega sudah cukup sebagai figur orang mukmin yang akan membantu hijrahnya.
Siapa yang tidak ingin mengabdikan diri mencari barokah orang-orang Sholeh? Memikirkannya Mega hingga melupakan kata-kata Dika yang juga menawarinya hidup bersama.
"Ya sudah, sekarang anti istirahat Meg. Nanti bangun di sepertiga malam, mohon sama Allah untuk memberi petunjuk."
"Inggih, Ning."
"Ya sudah, ana tutup ya teleponnya? Sekarang lumayan ngantuk Meg. Habis ngaji safinatunnajah. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Sambungan terputus, Mega hanya bisa terdiam. Ia belum bisa mengambil keputusan saat ini.