
Fatimah terkejut saat melihat jalan yang ia lewati bersama Dika berhenti di depan kampus.
"Lho, kok ke kampus, Dik?" tanya Fatimah sedikit cemas. Ia baru menyadari jika penilaiannya salah. Apa mungkin Dika akan melakukan hal yang buruk padanya?
"Lu tunggu sini ya, gua mau telpon dulu." Dika meminta Fatimah tetap berada di mobil sedangkan Dika keluar dan mengambil handphonenya.
Fatimah mulai merasa ketakutan. Jika Dika baik, seharusnya lelaki itu akan menanyainya alamat rumah biar bisa mengantar pulang. Tapi Dika tidak melakukannya.
Fatimah berpikir cepat. Ia harus segera pergi dari sini meski dengan tertatih. Ini semata demi keselamatannya.
Dengan langkah tertatih, Fatimah keluar dari dalam mobil. Ia tetap menggunakan tongkat untuk membantu berjalan. Jika saja kakinya tidak sedang sakit, ia akan bisa cepat pergi dari sini. Tapi kenyataannya ia sendiri kesulitan berjalan.
Tak lama, Fatimah melihat Dika selesai menelpon. Otomatis Fatimah cemas kalau nanti Dika tahu ia akan kabur dan kembali membawa dirinya.
Fatimah melihat sebuah mobil yang terparkir di depan kampus. Ia juga melihat seorang perempuan duduk di belakang setirnya. Melihat Dika sudah hampir menoleh, Fatimah segera membuka pintu mobil itu dan bersembunyi di dalamnya.
"Afwan, adik siapa?" tanya perempuan dengan jilbab besar itu.
"Minta tolong, tolong selamatkan saya." Suara Fatimah bergetar saking takutnya.
Melihat raut wajah ketakutan itu, perempuan yang berada di belakang setir menjalankan mobilnya untuk pergi dari sini. Biarlah ia mengantar adik perempuan yang ketakutan ini. Nanti ia bisa kembali ke sini jika adik dengan tongkat dan kepala diperban ini sudah aman.
"Dimana rumah anti?" tanya wanita ini tidak menaruh curiga sama sekali kepada Fatimah.
"Di jalan Durian nomor sebelas." Fatimah terus menoleh ke belakang, takut jika Dika membuntuti mereka.
"Anti arahkan ya, karena ana baru pindah ke Surabaya, jadi ana kurang begitu paham jalan-jalan di sini."
Fatimah mengangguk. Ia berusaha meyakini jika wanita yang tanpa banyak bertanya ini membantunya, semata-mata adalah campur tangan Allah untuk membantunya.
Sepanjang perjalanan, air mata Fatimah menetes deras. Tidak menyangka akan mengalami nasip seperti ini. Ia jadi teringat umi dan abahnya. Rasanya ia sangat rindu kepada kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Berada jauh di kota ternyata tidak mudah. Selama ini bagi Fatimah lingkungannya adalah lingkungan orang-orang berpendidikan yang baik. Tapi ternyata tidak selalu begitu.
Air mata Fatimah kembali mengucur deras saat teringat sahabatnya, Mega. Ia jadi ragu kalau Mega masih bisa ia namakan sahabat. Ia merasa Mega tidak seperti sahabatnya.
"Jangan menangis, kuatlah. Masih banyak orang baik yang akan membantu anti. Jangan lemah dan jangan lupa terus berdoa memohon keselamatan kepada Allah." Wanita di belakang setir mengangsurkan tisu ke belakang. Fatimah menerimanya.
"Terimakasih. Terimakasih banyak. Hiks hiks hiks." Fatimah mengusap air matanya dengan tisu.
Sesampai di depan rumah, Fatimah segera keluar dari mobil. Tak lupa ia berterimakasih berkali-kali. Jika tidak ada wanita baik ini, entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini.
Fatimah menuju pintu dengan sempoyongan. Ia merasa lelah, belum lagi pikirannya dan hatinya yang masih shock dengan kejadian hari ini.
Kurang satu langkah, Fatimah mencapai pintu. Tapi kepalanya terasa pening. Ia tidak sanggup mengangkat tangannya untuk sekedar mengetuk pintu. Fatimah limbung dan jatuh pingsan.
Di sisi lain, Gus Ali setelah menerima telepon misterius itu sangat panik. Ia mondar-mandir di dalam rumah. Sekali-kali melirik handphone menunggu telepon selanjutnya seperti yang dikatakan penelepon misterius tadi.
"Fatimah dalam bahaya," ujarnya memijat keningnya. Ia kembali berdiri. Pikirannya sangat kalut sebenarnya siapa yang kini mengganggu kehidupannya? Bukankah Gus Ali tidak pernah mengganggu kehidupan siapapun?
"Fatimah!" Gus Ali segera mengangkat istrinya yang tergeletak di depan pintu rumah.
"Astaghfirullah." Gus Ali berusaha menepuk pipi Fatimah. Berharap wanitanya itu baik-baik saja dan akan segera siuman.
"Fatimah, sayang? Bangun." Wajah Gus Ali sangat kusut. Ia mencemaskan Fatimah.
Apalagi melihat perban yang membalut kepala istrinya. Gus Ali tidak tahu apa saja yang telah dialami Fatimah. Apa mungkin penculik itu telah mencelakai Fatimah?
Dada Gus Ali sedikit sesak dan terbakar. Ia tidak rela orang yang sangat dikasihinya dizalimi oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Gus Ali berjanji dalam hati untuk menemukan penculik Fatimah. Bahkan jika bisa, ia akan menyeret orang itu ke ranah hukum.
Sedang merenungi nasip istrinya, tiba-tiba handphone Fatimah di nakas berdering. Gus Ali melihat nama Mega di layar itu. Tentu saja Gus Ali merasa curiga kepada sahabat istrinya itu.
Jangan-jangan ini semua ada kaitannya dengan Mega. Tapi jika diingat lagi, yang meneleponnya suara laki-laki tidak asing. Gus Ali berpikir keras.
__ADS_1
"Halo, Tim?" tanya Mega di telepon.
"Halo, apa yang sudah anti lakukan pada Fatimah?" Gus Ali membentak perempuan di telepon.
"G, g, Gus Ali?"
"Jawab, Meg. Apa yang anti lakukan pada istri saya?" Suara Gus Ali kembali meninggi.
"Afwan, Gus. Saya tidak melakukan apa-apa pada Fatimah." Suara Mega bergetar.
Membuat Gus Ali semakin curiga kalau Mega melakukan hal diluar batas. Orang kalau tidak salah, tidak akan takut. Tapi jika ia ketakutan, berarti benar dugaannya kalau Mega terlibat.
"Katakan jujur! Atau saya laporkan pada polisi?" tantang Gus Ali tidak kehilangan nyali.
"Demi Allah, Gus. Saya tidak melakukan apa-apa pada Fatimah." Suara Mega masih bergetar hebat. Rasanya Mega sudah menangis di sana.
"Mas?" suara Fatimah mengalihkan perhatian Gus Ali. Ia tidak peduli dengan panggilan yang belum terputus. Ia memilih segera menghampiri Fatimah.
"Fatimah, anti sudah sadar?" Gus Ali menyentuh pipi istrinya dengan rasa haru yang luar biasa.
"Mas, ana lapar." Fatimah berkata lirih karena kehabisan energi. Badannya terasa sangat lemah.
"Apa kita ke rumah sakit?" ajak Gus Ali ingin yang terbaik untuk istrinya.
"Tidak usah, Mas. Tolong ambilkan makan saja."
Gus Ali mengangguk dan segera berlari ke ruang tengah. Mengambil piring yang diisi nasi, lauk apapun yang ada di sana. Tak lupa Gus Ali mengambil segelas air putih dan membawa semuanya ke kamar.
"Ini, Tim. Saya bantu duduk ya?"
Gus Ali dengan sigap membantu Fatimah duduk dan menyuapi istrinya dengan telaten. Melihat Fatimah begitu lahap makan, Gus Ali meneteskan air mata.
__ADS_1
Hatinya seperti disayat-sayat. Sakit sekali melihat penderitaan yang dialami Fatimah. Ingin sekali Gus Ali segera menanyakan kepada Fatimah tentang siapa pelaku yang menculiknya, tapi mengingat kondisi Fatimah yang masih lemah, ia tidak tega menanyakannya.