Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Seperti Pelangi di Matamu


__ADS_3

Aku masih geming di tempat, beberapa menit yang lalu, tiga orang di sampingku telah beranjak pergi. Tapi aku masih terngiang percakapan hangat mereka. Percakapan yang diam-diam terus menggerus hatiku.


Sepertinya, dugaan ku benar selama ini. Cinta antara Mas Adi dan ustazah Sofia belum padam. Bulir-bulir air mata kembali menemani kesendirianku. Nyatakah ini ya Allah?


"Cinta sejati ustazah Sofia telah ada di depan mata," kata-kata wanita yang duduk di kursi roda dengan wajah agak pucat itu terlintas kembali. Aku meremas kedua tangan. Kecewa, rasa itu benar-benar sudah membelengguku. Dengan mendengarkan pembicaraan mereka, aku tahu sinar kebahagiaan rumah tanggaku mulai meredup. Mungkin kebahagiaanku lah yang akan hilang. Karena Mas Adi dan ustazah Sofia terlihat berbinar-binar. Mereka berdua bahkan tidak berhenti tersenyum atau saling menatap.


"Jika memang aku bukan yang kau cinta, lalu mengapa rumah tangga ini tetap terjalin? Siapa pula yang akan tahan hidup bersama tanpa kebahagiaan?" Air mata kembali menetes.


Jika saja Syams masih ada, mungkin kemalangan ini tidak akan aku alami. Astagfirullahaladzim. Jiwaku memekik, karena kekecewaan hampir saja aku melakukan kesalahan dengan mengingkari apa yang telah terjadi. Ya Allah, betapa rapuhnya aku. Beberapa saat, kuremas gamis yang lugu akan untuk melampiaskan kegagalanku mengendalikan diri. Namun detik berikutnya, aku telah bangkit dan berjalan menjauh. Menjauhi semuanya, ya, aku akan pergi dari kehidupan Mas Adi agar ia tenang dan bahagia bersama ustazah Sofia, cinta sejatinya. Langkahku terhenti di depan sebuah kafetaria rumah sakit. Dengan mata kepala, aku melihat lelaki itu sedang duduk bersama seorang perempuan. Lelaki itu adalah Mas Adi, dan perempuan itu adalah sahabatku, ustazah Sofia. Tak sengaja telingaku merekam sedikit pembicaraan mereka.


"Bersabarlah sedikit lagi, aku yakin kau akan bahagia." Mas Adi menyeruput sedikit kopi di depannya. Sedangkan ustazah Sofia belum menjawab apa-apa. Perempuan berkhimar toska itu hanya tersenyum dan sesekali melirik wajah Mas Adi. Tanpa sadar, kedua rahangku mengeras menahan amarah menyala-nyala.


"Mungkin memang harus aku yang mengalah," lirihku pada diri sendiri.


Tak usahlah lama-lama aku menatap kemesraan mereka saat ini. Bahkan belum pernah dalam mimpi ku, aku diuji Allah dengan masalah yang demikian mendera dada. Sakit, sakit sekali rasanya. Langkah kaki ini semakin aku percepat. Aku ingin segera pergi dari sini.


*****


Adzan dhuhur terdengar begitu nyaring dari tempat ku saat ini. Di sebuah masjid yang berada jauh dari kota dan rumahku. Akhirnya, aku memilih pergi. Tak sanggup meneruskan rumah tangga ini. Jika aku salah paham, bukankah apa yang aku dengar tadi sudah sangat menjelaskan? Jika aku tidak bertabayyun, bukankah dengan gamblang aku mendengarkan percakapan intim Mas Adi dan ustazah Sofia?


Aku menggeleng. Mungkin beginilah akhirnya. Aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya. Yang aku bisa saat ini hanya menyembuhkan lukaku atau sejenak saja menenangkan diri.


Masjid adalah tempat yang paling sering aku singgahi saat penat atau banyak masalah yang membelit hari-hari. Biarlah untuk beberapa saat aku menghindar dari Mas Adi. Jika yang aku lakukan ini salah, semoga Allah memberikan hidayah padaku.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim aladilaillahalillahuwalhayyulqoyyum," aku terus melantunkan istighfar. Aku sadar betapa kecil dan rapuhnya makhluk seperti ku tanpa kekuatan dariNya. Yang kini bisa aku lakukan hanya memohon kekuatan dariNya.


Matahari telah condong ke barat, tapi aku masih bersimpuh di sini. Beristigfar dan melantunkan ayat-ayat Allah SWT.


Pukul 16.35, apakah aku akan terus seperti ini? Berlari dari kehidupan pernikahan ku? Setelah lama termenung, akhirnya aku memilih pulang ke rumah. Semoga Allah memberikan kekuatan pada ku untuk menghadapi situasi ini.


Bismillahitawakaltualallah. Aku mengambil napas dalam-dalam, seakan mengisi paru-paruku dengan berjuta oksigen yang menyegarkan. Aku bangkit dan melepaskan mukena yang aku kenakan. Baiklah ini sudah sore. Jika nanti Mas Adi mencari ku, akan sangat berdosa aku meninggalkannya.


Dengan langkah tergopoh-gopoh aku berjalan keluar masjid megah dengan arsitektur bangunan timur tengah ini. Tanpa menunggu lama, aku berlari menuju jalan besar. Ya aku tahu, posisiku sekarang lumayan jauh dari rumah.


Aku harus menaiki bus untuk bisa kembali ke rumah. Baru saja aku mengedarkan pandangan untuk melihat kendaraan yang melintas. Handphone ku berdering, tanpa menunggu aku segera merogoh tas yang terselempang di bahu dan mencari benda pipih itu. Aku lengah karena itu dan mungkin tidak menyadari adanya kendaraan yang melintas dari arah berlawanan.


Suara klakson mobil terdengar memburu, aku baru saja menempelkan telepon pintar ku di telinga. Aku mengangkat wajah dan mendapati sebuah mobil sudah mengarah ke arahku. Suara decitan remnya hanya terdengar sekilas. Aku terhuyung,


****


Aku beberapa kali mengerjapkan mata, tubuh ini terasa nyeri di sana-sini. Yang dapat aku lihat hanya nuansa putih dan hijau ruangan ini.


"Aku dimana?" Sepertinya aku bertanya kepada diri sendiri. Kepala ini terasa pusing saat aku mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi padaku. Bayangan saat aku akan mengusap layar telepon seluler karena ada panggilan melintas di kepala. Ya, sepertinya aku tadi sedang akan pulang.


"Assalamualaikum, ukhti sudah sadar?" Seorang lelaki berjalan ke samping ranjangku. Aku mengernyitkan dahi saat menyadari wajah lelaki itu tidak asing bagiku. Wajah rupawan dan mata itu, ....


Syams? Mas Adi? Atau hanya orang yang memiliki wajah seperti mereka? Karena takjub aku masih mengamati wajah laki-laki dengan kemeja dan celana bahan berwarna cerah ini.

__ADS_1


"Ukhti?" Laki-laki itu menatapku dengan tatapan bingung.


"Maaf, antum siapa?" Tanyaku setelah tersadar bahwa laki-laki ini bukan Mas Adi ataupun Syams. Tapi harus aku akui bahwa wajahnya juga sangat mirip dengan Syams dan Mas Adi.


"Ana tadi yang membawa mobil dan tidak sengaja menabrak anti. Maafkan ana yang ceroboh ini," melihat wajahnya yang dipenuhi penyesalan aku jadi malu sendiri.


Mungkin bukan dialah yang ceroboh, tapi aku. Karena sibuk untuk mengangkat telepon, aku tidak memperhatikan jalan. Aku menggeleng kuat, "bukan antum. Tapi analah yang ceroboh."


Pandangan kami saling bertubrukan. Entah mengapa perlahan kurasakan sebuah desiran aneh saat tadi tidak sengaja menatap matanya. Sepertinya dia orang baik, dan insting ku juga mengatakan seperti itu. Di matanya aku menangkap sinar indah pelangi. Seperti pelangi selalu menghiasi wajahnya.


Aku kembali terdiam. Astagfirullahaladzim, bagaimana bisa aku berpikir sekotor ini? Aku ini masih bersuami. Setelah tersadar, aku segera menundukkan pandangan.


"Siapa nama antum?" Tanyaku penasaran.


"Rahman, Syamsurrahman." Mendengar laki-laki di sampingku ini menyebutkan namanya, tenggorokanku tercekat. Apakah Mas Adi dan Syams memiliki saudara kembar lainnya? Kepalaku kembali pening saat kupaksa untuk memikirkannya.


"Apa-apakah antum punya saudara kembar?" Tanyaku dengan susah payahnya. Laki-laki itu berusaha untuk tidak menatapku. Tapi sekilas aku melihat perubahan air mukanya.


"Na'am, ana memiliki dua saudara kembar yang kini tinggal satu karena Allah telah mengambil satu saudaraku lainnya." Mataku membulat mendengar kalimatnya yang terakhir. Apakah benar dugaan ku?


Aku memejamkan mata saat sakit di kepala terasa tidak bisa kutahan. Entah karena benturan keras atau karena mendengar perkataan laki-laki tadi.


"Ya Allah!" Pekikku, berusaha menguasai diri dan meredakan sakit ini, tapi tidak bisa. Rasa sakitnya sangat menyiksaku. Beberapa saat kemudian seorang dengan jas putih membuka ruang rawatku, mungkin Rahman yang memanggilnya. Aku merasakan sebuah suntikkan pada selang infus yang menancap di pergelangan tangan. Semua terasa gelap.

__ADS_1


__ADS_2