Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Nasib Tata 2


__ADS_3

Tata terdiam dengan tatapan kosong. Ia melihat tanggal hari ini lewat layar handphonenya. Ia mengembuskan napas panjang. Akhirnya hari ini datang. Hari dimana ia akan melihat Gus Ali bersanding dengan orang yang telah memilikinya.


Tata memejamkan mata beberapa detik. Berusaha kuat, tapi kerapuhan nyata sekali dirasakannya. Puing-puing kenangan yang ia susun kini kembali terberai.


Menyusun kata-kata ataupun doa yang akan ia sampaikan di hadapan Gus Ali, tapi semua kata-kata seolah menyingkir dari kepalanya. Entah ia sanggup atau tidak melihat raut wajah bahagia kedua mempelai.


Setelah lama terdiam, Tata merasa haus. Ia bangkit dan berjalan ke arah dapur. Saat ia berdiri, ia hampir lupa kalau kakinya baru saja baikan setelah terkilir. Tentu saja ia mengaduh saat merasakan sakit itu.


"Ta, anti tidak apa-apa?" tanya uminya yang tak sengaja melihat Tata meringis kesakitan.


"Enggak, mi. Cuma habis terkilir. Jadi ini agak sakit dikit." Tata tidak mungkin menyembunyikan hal sebesar ini dari ibunya.


"Eh, iya. Nanti kita berangkat ke Ngantang bareng-bareng ya. Anti datang kan ke pernikahan Ali?" tanya uminya, tak menyadari jika rahang putrinya mengeras saat nama itu disebut.


"Nggak tau, mi. Mungkin nggak." Tatapan mata Tata jatuh ke lantai, tidak ingin uminya menangkap kerisauan hati itu.


"Eh, jangan begitu. Anti kan sahabatnya. Nggak baik kalo nggak datang. Umi yakin Ali pasti ngundang anti kan?" Uminya benar tidak tahu patah hati yang dialami putrinya. Memang hubungan Gus Ali dan Tata baik sejak dulu. Bahkan diketahui juga oleh keluarga Tata. Sayangnya, tidak ada yang tahu jika Tata menyembunyikan perasaan lebihnya kepada pria itu.


"Entahlah, Mi. Tata nggak tahu, sanggup atau tidak datang ke pernikahan Ali." Tata menunduk. Membuat uminya yang menuang air putih terkesiap. Ia menyadari sesuatu yang sejak dulu tak pernah ia bayangkan.


"Ta, anti baik-baik saja?" Uminya Tata akhirnya mendekati putrinya. Matanya baru terbuka jika sejak tadi Tata menahan kesedihannya.


Tanpa menjawab, Tata berusaha tersenyum. Tapi saat bahunya diusap oleh uminya, air mata begitu saja meluncur. Membuat Tata semakin rapuh.


"Istighfar, Nak. Istighfar. Jadi selama ini anti memiliki perasaan lebih sama Ali?" tanya umi sambil terus memperhatikan perubahan wajah sekecil apapun di wajah anaknya.


"Emangnya jatuh cinta itu bisa diatur ya Mi?" tanya Tata dengan nanar.


Sakit hatinya kini menjadi-jadi saat mulai mengurai satu per satu pedang yang menusuk hatinya.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Tidak ada yang salah atau benar dalam cinta. Itulah kenapa kita harus menyandarkannya pada Pemilik Cinta. Jika Berharap pada manusia bisa dipatahkan, tapi berharap pada Allah tidak akan pernah dikecewakan." Ibunya Tata memeluk anaknya. Ia turut merasakan sakit yang diidap anaknya.


Semula, ia pikir hubungan antara Ali dan Tata hanya sahabat saja. Tak lebih. Cara Ali memperlakukan Tata pun terbilang biasa. Tapi sekali lagi ibunya menyadari. Sosok Ali yang baik dan saleh, pasti memikat hati wanita manapun. Tak terkecuali anaknya.


"Tata nggak sanggup ketemu Ali, mi," rintih Tata di sela tangisnya. Ia masih tidak bisa melepaskan rasa sakit itu.


"Iya, umi ngerti."


"Tapi kalau anti tidak datang, sakit hati anti itu tidak akan pernah sembuh," ujar Abinya Tata yang ternyata sejak tadi mendengar bagaimana anak dan ibu itu berbicara.


"Abi?" Serempak Tata dan ibunya menoleh ke arah sumber suara.


"Iya, Tata harus menyaksikan pernikahan itu. Agar setelahnya Tata tidak mencoba mengganggu ikatan suami istri." Abi Tata menekankan perkataannya.


Entah mengapa Tata merasa abinya mengetahui tentang usahanya menggoda Gus Ali tempo hari.


"Iya, Ta. Abi tahu apa yang anti lakukan di rumah Ali. Abi tidak mau putri abi melakukan hal serendah itu," lanjut abinya membuat Tata melebarkan mata. Memikirkan dari mana abinya mengetahui itu atau siapa yang telah mengatakan kejadian itu pada abinya.


"Putri kita telah memaksa Ali untuk menikahinya, untung saja Ali lari dan menyelamatkan diri," jelas abinya membuat sang istri terkejut. Sedangkan Tata hanya bisa menunduk merasa malu dan bersalah.


Abinya meletakkan undangan di atas meja. Wajahnya yang tegas masih terlihat marah. Siapapun pasti tidak bisa diam saja ketika anak yang ia banggakan ternyata merendahkan diri sendiri demi cinta yang tidak ditakdirkan untuknya.


"Jadi Tata harus datang ke pernikahan itu. Dan minta maaflah." Abinya melangkah pergi dengan masih membawa kemarahan.


Setelah punggung abinya menghilang di balik tembok, Tata kembali tergugu di pundak uminya. Kini perasaannya semakin tidak karuan. Bagaimana ia mampu menghadapi ini?


"Sudah, Ta. Kuatkan dirimu. Jadikan ini pelajaran berharga."


"Mungkin memang cinta itu selalu menyakitkan, Mi. Mungkin dengan tidak jatuh cinta, hati Tata nggak akan sakit." Tatapan mata Tata sangat kosong.

__ADS_1


Perasaan sakit yang terus menerus dirasakannya membuatnya bertekad untuk menutup hatinya untuk jatuh cinta. Mungkin hidup melajang tidaklah buruk. Dan itu lebih baik ketimbang sakit hati.


"Istighfar, Nak. Kuatkan dirimu." Hanya kalimat itu yang terus dikatakan umi pada Tata.


Sejenak Tata terdiam. Dulu ia dirayu setan untuk menggoda Gus Ali. Maka sekarang ia dirayu setan untuk melajang sepanjang hidupnya.


Merasa hatinya sudah mati, Tata melepaskan diri dari pelukan uminya. Ia melangkah ke dalam kamarnya. Air mata sudah tidak mampu menetes. Ia sudah lelah menangis.


Perlahan namun pasti, Tata menetapkan hatinya untuk datang ke pernikahan Gus Ali. Jika menurut Gus Ali, Tata sudah rapuh dan hatinya hancur, maka Tata akan membuktikan dirinya tangguh.


Dia akan kuat dan semakin kuat. Cinta bukan lagi prioritas dan ia akan melakukan hal lain yang bisa ia lakukan. Tidak apa, tanpa cinta, Tata akan membuktikan bisa bahagia.


Sejenak mata Tata tertuju pada gambar di layar handphonenya. Foto saat Gus Ali memegang gitar hadiah dari Tata. Dengan hati yang mantap, Tata mengganti gambar itu dengan gambarnya sendiri.


Dengan mantap, Tata menghapus semua foto dan video yang berhubungan dengan Gus Ali. Ia berjanji tidak akan terlihat sedih. Tata menyeringai. Hatinya sudah mati untuk jatuh cinta lagi.


Sejenak matanya tertuju pada sebuah postingan di media sosial. Kiriman itu seperti menunjukkan jalan untuknya. Tata menekan gambar itu dan menyimpannya.


Setelah menghela napas, Tata menetapkan gambar itu untuk layar handphonenya. Dengan latar gambar hitam dan doa yang ada di sana, Tata berharap ia bisa mendapatkan Fadilah dari membaca doa itu.


DO'A KETENANGAN HATI


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ


Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthmainnah, tu'minu biliqooika' watardhoo bi qodhooika wataqna'u bi'athooika


Artinya:


" Ya ALLAH, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu."

__ADS_1


*آمِـــــــــــيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِـــــــــــلِيْنَ*


__ADS_2