
Mega menghitung hari demi hari. Matanya fokus menatap layar ponselnya. Menunggu adalah hal yang membosankan. Dan Mega sedang merasakannya.
"Dor!"
Fatimah datang dari belakang dengan maksud mengejutkannya, tapi wajah Mega sama sekali tidak terkejut.
"Ada masalah apa, Meg? Wajah anti kok begitu?" Fatimah datang dengan membawa semangkok bakso.
"Enggak apa-apa, kok," kilah Mega berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal memang benar ada yang sedang berkecamuk di pikiran.
Tak lama kemudian, Dika dan Gus Ali menghampiri mereka. Sejak hari itu, Dika mendengar nasehat dari Gus Ali berupa kisah ulama sufi, Dika mulai berubah.
Meski Dika dan Gus Ali sering bertengkar, Gus Ali terus merangkul Dika dalam perjalanannya. Gus Ali merasa wajib menemani pria itu hingga lelaki itu menemukan hakikat.
Pun dengan Dika yang merasa semakin membutuhkan kawan yang mau menegurnya saat ia salah. Dika fokus dengan makannya, begitupun Gus Ali dan Fatimah.
Hanya Mega yang hari ini tidak makan. Dan Fatimah belum menyadari itu. Saat akan mengambil tisu, barulah Fatimah sadar jika tidak ada makanan di depan sahabatnya itu.
Mega juga hanya diam dengan tatapan yang sulit dimengerti. Fatimah buru-buru menyelesaikan makannya. Ia tidak mungkin akan berbicara sembari makan. Jadi jika ingin berbicara, Fatimah harus segera menyelesaikan makannya.
"Anti tidak makan, Meg?" tanya Fatimah setelah meminum air putih di tumblernya.
Mega hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Fatimah menelisik sahabatnya itu. Melihat ada yang coba disembunyikan darinya.
"Tim, anti lupa ya? Ini kan hari Kamis, mungkin Mega puasa," ujar Dika setelah menyelesaikan makannya.
"Oh iya, maafkan kami ya Meg. Kami nggak tahu kalau anti puasa." Fatimah menepuk dahinya. Merasa tidak enak karena sedari tadi makan di depan orang yang berpuasa.
"Enggak apa-apa, kok Tim." Mega menjawab dengan santai. Ia kembali menunduk agar tidak berpandangan dengan Dika atau Ikhwan lain.
Kini Mega memang berusaha memperbaiki diri. Terus berdoa agar diberi jalan yang mudah. Apalagi semakin dekat dengan deadline yang diminta orang tuanya untuk menikah.
Meski dengan berjalannya waktu banyak orang yang mulai melupakan kasus video itu, tapi ketakutan orang tua Mega tetap tidak hilang. Mereka terus menanyakan Mega kapan akan pulang membawa calon suami.
__ADS_1
Terkadang jika sedang sadar, Mega berkhusnuzon kepada takdir Allah. Mungkin cobaan ini adalah cara Allah meningkatkan kualitas ibadahnya.
Tapi di saat yang lain, saat ia lemah dan merasa menyerah, ia membenci keputusan mama dan papanya. Bukan membenci personalnya, tapi lebih menyayangkan tindakan dan sikap kedua orang tuanya yang terkesan memaksa takdir.
Mengingat seluruh kisahnya, air mata Mega menggenang di sudut mata. Tidak ada yang menyadari jika Mega tengah merana. Dan sebelum ada yang menyadarinya, Mega harus segera menghapus perasaan nelangsa itu.
Biji tasbih di tangannya terus bergulir. Membawa ketenangan di hati Mega. Bahkan saat ia bercengkrama dengan orang lain, tasbih itu tetap bergulir. Meski dalam batin, Mega terus mengagungkan nama Tuhannya.
"Gus, setelah ini antum kemana?" tanya Dika yang akhir-akhir ini gaya bicaranya mulai terpengaruh dengan lingkungannya.
"Belum ada rencana sih." Gus Ali curiga, tapi ia coba berkhusnuzon kepada lelaki di depannya. Berusaha berprasangka baik meski hatinya menolak. Wajah semringah Dika malah menyimpan keusilan.
"Ikut ana yuk."
"Nggak boleh, Gus Ali setelah ini ada urusan sama ana. Jadi nggak boleh keluyuran sama antum," ujar Fatimah langsung ngegas.
Ia tahu watak sepupunya itu ada maksud tertentu. Bisa saja hal itu banyak mudharatnya daripada membawa manfaat.
"Nggak, nggak boleh. Mas Ali kan suami saya," balas Fatimah lagi.
"Lebai banget sih, jangan-jangan lagi isi?" ledek Dika membuat wajah Fatimah dan Gus Ali berubah seketika.
"Apaan sih. Pokoknya nggak boleh keluyuran sama Dika," ujar Fatimah berusaha tidak terpengaruh dengan kata-kata Dika. Walau sebenarnya ia memang sedikit terpikir apa yang dikatakan Dika.
"Kata Kak Dika bener, Tim. Anti kok sensi banget sih? Jangan-jangan lagi hamil." Mega menimpali. Membuat Fatimah terdiam sesaat.
"Anti kok bantuin Dika sih? Jangan bilang anti masih ada perasaan sama Dika, jadi belain dia terus." Ucapan Fatimah semakin tidak terkontrol.
Kalimat itu membuat Mega segera menunduk. Terkejut dan sakit seketika itu. Mega merasa kerongkongannya mengganjal. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sedangkan Dika merasa terkejut dengan pengakuan Fatimah itu. Tapi ia juga tidak berani membuka suara. Dika hanya diam dan menundukkan kepalanya. Bingung harus bagaimana.
"Astaghfirullah, Fatimah. Kata kata anti kok berlebihan sih? Ingat, lidah itu seperti pedang tajam. Jika digunakan untuk hal yang salah, akan melukai." Gus Ali langsung menegur istrinya. Memang kalimat istrinya tadi sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Ma, maaf, Mega. Ana nggak bermaksud begitu." Fatimah mengatakan itu dengan wajah gugup.
Ia belum pernah melihat Gus Ali, suaminya, terlihat sangat marah seperti tadi. Dengan begitu Fatimah sadar jika kesalahannya pasti sangat fatal.
Mega masih terdiam, pesan masuk di handphonenya mengalihkan perhatian. Setelah membaca pesan itu, Mega merapikan dirinya untuk segera pergi.
"Afwan, saya ada urusan. Ana duluan ya." Mega berpamitan dengan teman-temannya.
Fatimah terkejut saat Mega berdiri dan berjalan pergi. Ia merasa bersalah dan menyusul langkah sahabatnya.
"Mega, anti marah ya sama ana?"
"Enggak, Tim. Nggak apa-apa. Lain kali lebih dijaga ya ucapannya." Mega menjawab singkat. Lalu berlalu dari hadapan Fatimah.
Fatimah menatap kepergian sahabatnya dengan nanar. Ia merasa bersalah.
Sedangkan Gus Ali dan Dika terlibat percakapan ringan tentang Mega.
"Ada apa sih sama Mega? Emang iya dia pernah punya perasaan sama ana?" tanya Dika dengan ragu.
"Mungkin dia sedang banyak masalah. Biasalah perempuan. Mereka makhluk yang unik dengan perasaan berlebih. Nanti kalau antum punya istri, pasti ngerti yang ana maksud." Gus Ali menjawab diplomatis. Ia tidak ingin membuka masalah Mega meski ia mengetahui banyak.
"Udah Gus, jangan mengalihkan pembicaraan. Ana tanya, Mega pernah suka sama ana?" tanya Dika lagi. Entah mengapa ia merasa ingin mengetahui lebih banyak.
"Meskipun dia suka sama antum, dia nggak bisa ngapa-ngapain. Dia kan perempuan yang hanya memiliki hak menolak atau menerima. Yang seharusnya datang ya tetap saja yang laki-laki," balas Gus Ali tidak mengiyakan. Tetapi juga tidak menampik.
"Lha tapi dia kok nggak pernah keliatan suka sama ana?" Dika seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau antum ngerasa yakin, ya lamar aja. Bukannya Abah dan umi antum juga suka sama Mega?" tanya Gus Ali.
"Apa sih, Gus. Ana nggak bilang suka sama Mega." Dika mencoba menutupi sesuatu.
"Hati-hati dengan ucapan, nanti Mega diambil orang lain baru nyesel." Fatimah yang baru kembali ke tempat itu, merasa jengkel dengan kalimat yang keluar dari mulut saudaranya.
__ADS_1