
Aku masih menangis kala menyadari Syams memperhatikanku seusai sholat subuh. Terlihat kecemasan di wajah putihnya, tapi aku tidak peduli dia cemas atau tidak. Aku masih terus memikirkan kata-kata ustazah Naf di telepon tadi. Atau memang, ... ,
"Ada apa?" Syams menyentuhku dengan halus, air mataku malah semakin mengalir melihat perlakuannya padaku yang begitu manis.
Apa mungkin laki-laki sebaik dia akan menghianatiku dan menyakiti hatiku? Pikiranku mulai berputar. Teringat ketika laki-laki itu tersedu di atas sajadah. Apa mungkin lelaki yang takut kepada Tuhannya akan menyakiti makhlukNya? Aku berperang dengan hati kecilku.
"Apa kamu tidak bahagia hidup denganku?" Syams kembali memandangku dengan lekat. Sedangkan bibirku masih terkunci tidak mengatakan apapun.
"Ya sudah, jika kamu masih belum mau berbicara."
Dia menyerah lalu bangkit dari sajadah dan berjalan menuju pintu. Tepat saat itu, seorang wanita terdengar mengetuk pintu. Syams menoleh padaku yang masih membeku.
Kulihat tangan kokohnya membuka pintu dan mempersilakan wanita paruh baya itu masuk dan meletakkan koper besar yang dibawanya. Aku mengernyit heran, siapa wanita ini? Dan sebelum bibirku terbuka untuk bertanya, Syams memperkenalkan Bu Asih padaku.
"Beliau adalah Bu Asih yang akan merias kita."
Alis mataku hampir tertaut mendengar penjelasan Syams. Jadi benar hari ini akan dilaksanakan walimatul ursy?
Karena aku masih belum beranjak dari sajadah dan lengkap dengan mukena yang masih kukenakan, Syams maju dan membantuku bangkit untuk segera mempersiapkan diri.
Katanya, walimatul ursy dilaksanakan jam 8 dan aku memerlukan waktu yang lama untuk berhias. Dengan masih bingung dan seolah tidak percaya, aku menuruti perintah Bu Asih untuk menyiapkan diri.
"Jadi, saya ingin kami berdua memakai baju yang tidak terlalu ribet, tapi tetap terlihat bagus dan adat Jawa," ujar Syams.
Kuakui kali ini Syams terlihat lumayan cerewet ketika meminta ini itu untuk riasan kedua pengantin. Aku menggeleng heran, tapi juga ada senyum aneh yang kini tersemat di bibirku. Laki-laki ini memang unik dan tidak bisa ditebak.
Waktu terus bergulir, aku duduk manis di kursi lipat yang tadi dikeluarkan dari koper besar Bu Asih. Kini, wajahku sedang dimake-up entah seperti apa, karena Bu Asih mengatakan kalau pengantin tidak boleh berkaca agar hasilnya maksimal dan manglingi.
"Mbak, suamimu itu lucu ya," komentar Bu Asih ketika sedang memasang tiga lapis bulu mata di bawah mataku. Entah mengapa, aku membalas komentar itu dengan cerewet.
"Iya, Bu. Saya saja tidak bisa menebak jalan pikirannya," balasku.
Untung saja, limabelas menit lalu Syams keluar dari ruangan ini.
"Tapi mbak beruntung mendapat suami seperti dia. Sudah sholih, baik, lucu, tampan lagi," balas Bu Asih.
Perkataan Bu Asih kali ini membuat dadaku kembali berdegub kencang. Syams memang tampan, aku tidak bisa memungkirinya. Matanya yang cokelat, hidung mancung, wajah bersih dan tinggi tegap.
__ADS_1
Tiba-tiba aku merasa beruntung mendapatkannya sebagai imamku. Tapi di sisi lain, hatiku masih menerka-nerka atas perkataan ustazah Naf yang masih menjadi misteri.
Tak terasa, ada bara tak kasat mata yang kini membakar rasa bahagia tadi.
"Tapi, orang tidak bisa dinilai dari sekali pertemuan saja, Bu." Aku menggantung kalimat itu.
Rasa nyeri yang tadi Subuh datang tiba-tiba, kini kembali hadir di relungku. Bagaimana jika ternyata, pernikahanku ini menyakiti seseorang? Dan seseorang itu, tak lain adalah ustazah Naf, sahabatku sendiri.
"Assalamualaikum."
Dia datang lagi. Syams kembali masuk ke ruangan ini, dengan cepat aku menyeka air mata dengan punggung tangan. Laki-laki berkemeja putih itu berjalan menuju depanku, dia tersenyum menatapku.
"Masyaallah, cantiknya bidadariku, untung saja kau sudah aku nikahi, jika tidak, ....,"
"Jika tidak, mas akan menyesal seumur hidup, menyia-nyiakan perempuan secantik mbak Afin," sambung Bu Asih, membuat pipiku terasa menghangat.
"Sebelum kita nanti melaksanakan walimatul ursy sebagai pengumuman kepada khalayak kalau kamu sudah menjadi istriku, lebih baik kamu sarapan dulu," Syams mengambil piring berisi makanan lengkap dengan sendok dan garpu. Aku baru saja akan menerima piring itu, ketika Bu Asih melarangku memegang apapun.
"Mas Syamsul ini gimana, sih. Henna di tangan mbak Afin kan belum kering," amuknya pada Syams.
Mendengar ungkapan Bu Asih itu, Syams tidak kurang akal. Dia menyendokkan nasi dan lauknya dan menyuapiku.
****
Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 08.00. Aku dan Syams kini sedang duduk berdua di pelaminan didampingi abi dan umi.
Getaran dadaku seperti genderang yang terus ditabuh sejak usai ijab kabul kemarin. Aku masih tidak mengerti, bagaimana bisa laki-laki yang mengenakan pakaian berpasangan dengan kebaya toskaku ini mempersiapkan semua ini dalam waktu semalam.
Apakah Syams memiliki ilmu sehingga bisa melakukan hal-hal diluat perkiraanku? Aku menggeleng kuat, tidak mungkin ia berbuat demikian.
Setelah acara walimatul ursy berjalan khidmat, aku dibuat terkejut saat seorang wanita bergamis marun naik ke atas pelaminan.
Mata gadis itu sembab, sepertinya ia menangis dalam waktu yang sangat lama. Hatiku tiba-tiba berubah suasana, apakah kesedihannya itu karena pernikahanku? Jantungku berdetak tidak karuan, wanita itu, ustazah Naf ada di hadapanku.
Tangisnya pecah dan ustazah berkacamata itu menenggelamkan kepalanya di pundakku. Aku mematung tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Barakallahu lakuma wabaroka alaikuma wajamaa bainakuma fikhoir," ujarnya akhirnya gadis itu meraih tanganku dan menjabatnya.
__ADS_1
"Ke-kenapa ustazah menangis?" tanyaku ragu.
"Kau masih bertanya? Ha? Tentu saja karena kau menikah dengannya," timpal ustazah Naf menunjuk Syams yang menunduk sambil menahan tawa.
Hey, ini tidak lucu. Aku merasa buruk. Buruk sekali, bagaimana jika ustazah Naf sangat tersakiti dengan pernikahanku ini?
"Sudahlah, Naf. Jangan akting lagi. Lihat, wajah Afin mulai pucat." Aku menoleh ke arah Syams. Apa maksud dari semua ini?
Ustazah Naf kembali memelukku dan berbisik pelan, "jaga dia, Fin. Dia lelaki terbaik yang pernah ada." Aku masih tidak mengerti.
"Sudahlah, Naf. Jangan pura-pura sedih." Syams mulai tidak suka dengan tingkah ustazah Naf. Tapi kalimat itu membuat prasangkaku semakin buruk.
"Dia adalah adik sepupuku, fin. Jangan berpikir yang aneh-aneh."
Aku menoleh pada ustazah Naf. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum.
"Kau pikir aku siapanya? Yang memberitahu dia kalau kau akan ke Yaman bulan depan dan menyiapkan ini semua," kata ustazah Naf berapi-api menjelaskannya.
"Tapi di telepon tadi, ...,"
Kepalaku semakin pusing menerka-nerka titik terang semua ini.
"Dia memang jodohku, fin. Jodoh berantem kalo ketemu," balas ustazah Naf mencubit lengan Syams yang tersenyum melihat wajah bingungku.
"Lalu mata ustazah kenapa sembab?" Tanyaku lagi. Berusaha menerima penjelasan ustazah Naf.
"Gimana nggak nangis, bulan depan kalian akan ke Yaman. Aku kehilangan sahabat dan sepupu paling resekku."
Setelah mendengar penjelasan itu, aku menghela napas panjang. Ternyata tidak seperti yang kubayangkan.
Bersamaan itu, seorang laki-laki yang membawa kamera mendekat dan berbisik kepada Syams. Samar-samar kudengar laki-laki itu menyuruh kami bersiap-siap untuk sesi pemotretan.
Bu Asih yang dari tadi mengawasi segera maju dan kembali menambah bedak di wajahku. Ternyata begini rasanya jadi pengantin, memang mendebarkan dan mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup.
Sepuluh menit kemudian, Syams mendapat arahan pak photografer untuk mendekat padaku. Tiba-tiba dadaku berdegub sangat kencang.
"Cantik wajahmu hari ini seolah matahari sedang tersenyum kepadaku." Bisikan itu berhasil menghangatkan wajahku.
__ADS_1
Ya Allah, aku bersyukur telah melaksanakan sunnah NabiMu. Semoga rumah tanggaku membawa berkah dan mendapat ridaMu.