Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Setelah Resepsi 2


__ADS_3

Setelah memberikan secangkir kopi ke arah Abahnya, Fatimah bergegas kembali ke kamar. Ia sudah tidak sabar menanti kelanjutan kisah kecemburuan Aisyah.


Fatimah berjalan sedikit menghentak karena ingin cepat sampai di kamarnya. Sayangnya, mulutnya terbuka begitu melihat Gus Ali tampak tertidur. Dengan pelan Fatimah meletakkan secangkir kopi di nakas. Lalu berjalan pelan ke arah suaminya.


Memastikan jika Gus Ali memang benar-benar tertidur. Dan dengkuran halus meyakinkannya jika lelaki itu memang tidur.


'Mungkin lelah,' bisiknya dalam hati. Walau tak sengaja ia berdecak karena harus menahan rasa penasarannya pada kisah cemburunya Ummu Aisyah.


Merasa tidak ada yang bisa ia kerjakan di sini, Fatimah bergerak ke luar sambil mengambil laptopnya. Mempelajari materi kuliah menjadi pilihannya.


Sambil membaca beberapa literari tentang tarbiyah, ia juga sambil menyetel lagu Hadrah. Tak lupa ia mengenakan headset agar tidak mengganggu tidur suaminya.


Namat A'yuni Yauma


Suatu hari dalam tidurku


Namat Wal Haninu Nama


Dalam tidurku kerinduan tumbuh


Rohat Tahtawini


Aku diselimuti oleh


Ru'yak Ya Rosulallah


Gambaran Anda, wahai Rasulullah


Ahmad Ya Nurol Huda


Ahmad "Yang Terpuji", Wahai Cahaya Petunjuk


Bi Syauqun Fauqol Mada


Kerinduanku melampaui batas


'Aini Tarju An Tarok


Mataku berharap bisa melihatmu


Ruhi Ya Habibi Fidak


Jiwaku, Wahai kekasihku, aku akan berkorban untukmu


'Anaq Thoifuhu Qolbi


Penampakannya memeluk hatiku


Dzabat Fi Yadaihi Yadi


Tanganku melebur di tangannya

__ADS_1


Nadatuh 'Uyuni


Mataku memanggilnya


Wabahah Lamasal Qolba


Dan kemegahannya menyentuh hatiku


Haudhuhu Kautsaru Warowa


Telaganya adalah penyejuk dan melimpah


Syarbatun LidawaAya


Satu tegukan seperti obat untukku


Irwini Ya Habibi


Puaskan rasa dahagaku wahai kekasihku!


Ya Thobibal Baroya


Wahai penyembuh para makhluk


Anta Li Balsamu Wa Syifa


Anda adalah balsem "obat" dan penawar luka


Gus Ali yang bangun, berjalan menuju nakas dimana secangkir kopinya sudah tidak ada kepulan asapnya yang berarti kopi itu mungkin sudah dingin.


Melihat Fatimah yang menikmati musik dari headset, timbul keinginan untuk mengerjai istrinya. Dengan langkah berjingkat, Gus Ali melangkah ke arah kopinya dan menghabiskannya dengan sekali teguk. Ia memang lumayan haus.


Setelah itu ia kembali ke tempatnya semula, pura-pura masih tertidur. Saat Fatimah menoleh, ia menyadari ada yang aneh. Fatimah melepas headsetnya. Ia berjalan ke arah kopi yang kini tinggal letheknya itu. Lalu melihat Gus Ali yang masih terpejam.


Masih tidak yakin, Fatimah mengambil cangkirnya. Memastikan jika matanya tidak salah. Dan memang benar kopi itu habis.


Fatimah beranjak ke tempat tidur Gus Ali. Ia melihat dengan seksama suaminya itu masih menutup mata dan mendengkur halus. Fatimah menyentuh pelipisnya. Merasa bingung.


Melihat istrinya dengan wajah begitu, Gus Ali tidak tahan lagi. Ia bangkit dan mengecup pipi istrinya.


"Eh?"


"Ha ha ha."


"Mas usil banget sih? Saya kira hantu yang habisin kopinya."


"Ha ha ha. Mana ada hantu siang begini?" Gus Ali terbahak hingga memegang perutnya yang terasa kram.


"Ish, sekarang Mas lanjutkan kisahnya."


"Baru juga bangun tidur, sudah ditodong aja?"

__ADS_1


"Ya kan Mas sudah minum kopinya. Akadnya kan saya buatin kopi untuk Mas lalu melanjutkan kisahnya. Karena Mas sudah menghabiskan kopinya, berarti Mas berkewajiban melanjutkan kisahnya." Fatimah menjelaskan dengan sangat detail.


Gus Ali tersenyum sangat manis. Ia mengelus ujung kepala istrinya.


"Anti sangat cerdas. Sepertinya Mas tidak salah memilih ladang."


Fatimah menautkan alisnya. Dia sebenarnya tidak heran dengan ucapan itu. Orang pesantren memang kental dengan kinayah atau perumpamaan.


"Ayo Mas lanjutkan."


"Iya sayang. Kecemburuan Ummu Aisyah yang ketiga adalah kepada Zainab. Ialah istri nabi satu-satunya yang selalu menyajikan madu kepada Rosul. Mengetahui hal itu, Ummu Aisyah marah dan mengajak tetangganya yang juga merupakan istri Rosulullah, Hafshah."


"Jadi mereka berkompromi untuk hal yang tidak baik begitu, Mas?" tanya Fatimah.


Gus Ali mengangguk. Ia melanjutkan ceritanya.


"Suatu ketika Rasulullah kembali pulang dari Zainab, Aisyah sang istri menyinggung soal madu. Demikian pula Hafsah melakukan hal sama. “Bagaimana dengan madu yang disuguhkan Zainab,” begitu dua istri Rasulullah ini memancing pertanyaan. Rasulullah sadar kalau kedua istri ini menyimpan cemburu sehingga beliau berkata tidak akan minum madu lagi. Ucapan Rasulullah yang terkesan mengharamkan madu itu semata ingin menyenangkan kedua istri Beliau. Dan langsung ditegur Allah melalui lima ayat di Surah al Tahrim. Karena sesungguhnya madu itu halal."


Saat Gus Ali menjeda ceritanya, Fatimah terlihat antusias menunggu.


"Bisakah anti mengaji surah Al Tahrim ayat satu sampai empat?"


Fatimah mengangguk dan bertaawuz. Lalu mengaji ayat yang dimaksud suaminya. Lalu Gus Ali menjabarkan artinya.


Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.


Sungguh, Allah telah mewajibkan kepadamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana.


Dan ingatlah ketika secara rahasia Nabi membicarakan suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Lalu dia menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan peristiwa itu kepadanya (Nabi), lalu (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Maka ketika dia (Nabi) memberitahukan pembicaraan itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang memberitahukan kepadaku adalah Allah Yang Maha Mengetahui, Mahateliti.”


Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebenaran); dan jika kamu berdua saling bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sungguh, Allah menjadi pelindungnya dan (juga) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain itu malaikat-malaikat adalah penolongnya.


Fatimah menatap takjub. Hatinya terasa sejuk setiap mendengar penjabaran tentang ayat Alquran. Ia merasa Tuhannya sedang menasehatinya saat ini.


"Lalu yang kelima, ...." Gus Ali menatap istrinya lagi.


"Yang kelima ini berarti yang nggak ditegur ya Mas? Sepertinya yang empat tadi kan selalu akhirnya Ummu Aisyah yang meminta maaf dan bertaubat."


"Lama-lama Mas bisa kualahan menjawab pertanyaan anti yang terlalu cerdas ini, Tim."


Alih-alih tersenyum, Fatimah malah menatap tidak setuju dengan kalimat suaminya. Ia merasa suaminya terlalu berlebihan.


"Jadi yang kelima ini, Ummu Aisyah cemburu kepada Ummu Salamah karena pembantunya Ummu Salamah memberi sepiring kurma untuk Rosulullah dan Ummu Aisyah. Tapi Ummu Aisyah tidak mengerti maksud madunya ini. Ummu Aisyah yang menemuinya langsung menjatuhkan piring itu hingga piringnya pecah."


"Sedahsyat itu cemburunya seorang wanita ya, Mas." Fatimah menggelengkan kepalanya sambil terus menyimak kisahnya.


"Iya, Tim. Mengetahui itu Rosulullah membantu memungut kurma yang jatuh itu sembari berkata, ibumu sedang cemburu."


"Masyaallah. Shollu nabi alaik. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad."


"Begitu indahnya ya Mas, akhlak yang dicontohkan Nabi kita."

__ADS_1


"Iya Tim. Semoga dalam segala hal kita bisa meneladaninya."


__ADS_2