Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Halusinasi Fatim


__ADS_3

"Mbak siapa yang kamu maksud?" Afin mencecar Fatim dengan pertanyaan. Padahal Fatim sudah mulai ketakutan.


"Sudahlah, Fin. Fatim sudah ketakutan. Lebih baik kita sholat dulu," kataku sambil melongok sekali lagi ke arah yang ditunjuk Fatim tadi.


Sebenarnya aku merasa ada sesuatu yang janggal. Mungkinkah yang dimaksud Fatim adalah Mbak santri yang tidak sengaja ada di sini dan kini telah meninggalkan tempat? Atau, ....


Aku tidak bisa menduga lebih jauh lagi. Yang jelas ada sesuatu yang harus diselidiki pada diri Fatimah.


Selesai sholat berjamaah, aku dan Afin kembali ke rumah dengan menggenggam erat tangan Fatimah. Kami ingin banyak bertanya kepadanya. Tapi apa daya kami yang juga ingin menjaga kesehatan jiwanya.


Sesampai di rumah, aku dan Afin berusaha mengajak bicara Fatim. Tapi sayangnya dia menolak. Kami memutuskan tidak memperpanjang masalah ini. Barangkali Fatin sedang berimajinasi. Meski anehnya harus nama Gus Ali yang disebut.


Gus Ali Nur Hidayat adalah anak bungsu Pak Kyai Huda, kalau tidak salah usianya berbeda tiga hingga empat tahun dari Fatimah.


Malam berganti, aku dan Afin baru turun dari ngaji saat suara pintu diketuk. Afin segera membuka pintu, dan kami berdua terkejut melihat siapa yang malam ini bertamu di rumah kami.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh. Monggo pinarak," balasku sembari terkaget-kaget.


Apa ada yang salah dengan mataku? Pak Kyai Huda datang ke rumah kami.


"Ngapunten, enten menopo nggih Pak Kyai kok tumben ke rumah kami? Seharusnya, kami yang ngalap berkah ke ndalem." Aku salah tingkah. Benar-benar salah tingkah. Tak menyangka jika rumah sederhana di dekat pondok pesantren besar, didatangi Pak Kyai langsung.


"Aku pengen silaturahmi," balas Pak Kyai sembari duduk santai.


Sangat berbeda denganku yang kini keringat dingin merasa sungkan Pak Kyai datang ke rumah kami.


"Ngendi Fatimah?" tanya Pak Kyai terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Aku dan Afin saling berpandangan. Lalu beberapa menit kemudian Fatimah terdengar mengucapkan salam. Ia baru pulang bermain dari rumah tetangga.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Serempak kami semua yang berada di ruang tamu menjawab. Kebetulan kedua orang tua Afin sedang tidak di rumah, mereka sedang keluar kota.


"Lho, Bah? Niki Pak Kyai ya?" Fatimah dengan polosnya mendekat kepada Pak Kyai.


Aku dan Afin kembali berpandangan. Heran karena Fatimah mengetahui sosok Pak Kyai padahal kami sangat jarang mengajaknya sowan ke ndalem.

__ADS_1


"Sampeyan Fatimah ya?" tanya Pak Kyai sambil tersenyum.


Aku dan Afin masih diam di tempat. Heran dengan kedua orang yang terlihat akrab itu. Padahal keduanya bisa dihitung jari saling bertemunya.


"Enten menopo, Pak Kyai ke sini?" tanya Fatimah, duduk di samping Pak Kyai dengan santainya.


Aku ingin menegur, tapi Pak Kyai tidak memperbolehkan aku berbicara begitu.


"Anak wadon ojo disentak," peringat Pak Kyai.


"Fatimah mau mondok?" tanya Pak Kyai lagi kepada Fatimah yang matanya langsung berbinar.


Seperti sebelumnya, aku dan Afin hanya bisa terdiam heran. Keduanya seperti sudah lama saling mengenal.


"Purun, tapi minta izin Abah sama umi dulu."


Fatimah kini berganti menatapku dan Afin. Di matanya terlihat sangat ingin mondok. Tapi kami tak mungkin dzalim padanya. Fatimah masih kecil dan belum bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri.


Lagipula ia masih sangat memerlukan kasih sayang kedua orang tuanya. Aku berusaha merangkai kata untuk menolak keinginan Fatimah secara halus.


"Ya sudah, Fatimah masuk dulu. Abah Yai mau ngomong sama abahmu."


"Ngapunten Pak Kyai, tapi Fatimah niku taksih, ...."


"Ora opo-opo, ben Fatimah nyantri kalong wae."


Pak Kyai tersenyum ganjil. Sedangkan aku tidak lagi memiliki alasan untuk menolak keinginan Pak Kyai.


"Anakmu iku bakal mantuku," bisik Pak Kyai padaku.


Mataku membulat sempurna. Bagaimana bisa Pak Kyai mengambil keputusan begitu tergesa? Bukankah Fatimah masih sangat kecil?


"Ngapunten, maksudipun?"


"Fatimah dan Ali, cocok kan."


Aku menelan saliva. Fatimah dan Ali masih sangat kecil. Meski pasangan itu adalah anak dan mantu Rosulullah, tapi bagaimana bisa aku menjodohkan Fatimah dengan Gus Ali yang notabene anak Pak Kyai?


"Wes, Ojo dipikir. Ben Fatimah kenal Ali," tukas Pak Kyai. Mungkin beliau melihatku yang berpikir sangat keras.

__ADS_1


"Tapi Fatimah taksih alit."


"Ali yo podo sek cilik, tapi Ali wes minta Fatimah."


Aku melongo sempurna. Jadi Gus Ali pernah bertemu Fatimah, lalu memintanya untuk dijodohkan?


Ingin rasanya menolak, tapi apa dayaku yang hanya ustaz di madrasah milik Pak Kyai? Apalagi aku ingin selalu takdzim padanya. Pada keturunan orang-orang Sholih.


"Pripun Pak?" tanyaku memastikan.


Bahkan tadi aku sempat mencubit lenganku. Berpikir bahwa ini hanya mimpi, tapi sayangnya ini kenyataan bukan mimpi.


Diam-diam aku teringat bagaimana aku dulu ketika menyukai Afin sedari masih kecil. Bahkan Afin pernah mengajukan tiga syarat untukku.


Aku menghela napas. Perjodohan tak selalu mulus. Rasanya aku masih cemas jika menjodohkan Fatimah yang bahkan belum mengerti tentang pernikahan.


Aku tak tahu di masa depan anakku akan seperti apa. Tapi mengapa Pak Kyai begitu yakin ingin menjodohkan Gus Ali dengan Fatimah? Adakah alasan lain yang tak terbaca mataku?


"Yowes, segitu wae. Aku pamit ya, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Aku mengantar Pak Kyai hingga beliau hilang di jalan yang berkelok. Bukannya segera masuk. Aku malah melamun di depan rumah. Rasanya masih tak menyangka jika Fatimah yang masih kecil telah mendapatkan lamaran, sedangkan aku tak berani menolaknya.


Yaa Rabb, cobaan apa ini? Bagaimana aku mengatakan kepada Afin tentang ini? Apalagi Afin memiliki kisah sedih dengan perjodohan.


"Mas, ada apa?" tanya Afin yang entah sejak kapan berada di belakangku.


"Tidak, Fin." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulutku.


Alih-alih mengatakan pesan Pak Kyai Huda, aku malah berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan tatapan penasaran Afin.


Biar saja aku simpan sendiri rahasia ini. Jika nanti sudah tepat waktunya, akan aku ungkapkan pada Afin dan Fatimah.


Diam-diam aku menyesal pernah berkata ingin segera menikahkan Fatimah saat ia cukup umur. Nyatanya doa itu terkabul begitu cepat. Bahkan sebelum aku menyadari pertumbuhan Fatimah.


Hari berganti, dan aku hanya meminta Afin mendaftarkan Fatimah di program tahfizh yang ada di pondok. Tujuanku sudah pasti agar Fatimah mengenal Gus Ali.


"Apa salahku sampai diuji seperti ini?" tanyaku pada diri sendiri.


Tak terasa air mataku menetes menyadari ketidakmampuanku menghadapi masalah ini sendiri. Aku jadi lebih pendiam jika bersama Afin dan Fatimah.

__ADS_1


Jika nanti mereka mengetahui masalah ini, apa yang akan terjadi? Terutama Afin sebagai ibu dari Fatimah.


__ADS_2