
Pagi ini, seperti yang sudah direncanakan. Mega memakai baju biasa. Meski sebenarnya ia menanggung ragu karena memikirkan sosok Gus Jaka.
Semalaman, Mega tidak bisa tidur. Pikirannya seperti dibuat risau karena belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang terus muncul di hatinya.
Mengapa Gus Jaka tidak mengajukan dirinya sendiri? Mengapa lelaki setampan itu tidak berani menemuinya sendiri? Mega mulai berpikir jika ada sesuatu yang salah.
Jika Gus Jaka tidak menemuinya sendiri, ada kemungkinan lelaki itu belum mengetahui tentang dirinya. Dan lagi Mega tidak meminta proposal ta'aruf milik Gus Jaka itu. Ia tidak memikirkannya sendiri.
Semalam, Mega juga mengganggu waktu Fatimah untuk meminta pendapat. Mega menceritakan semua dan Fatimah selalu memberi jawaban yang menenangkan.
"Khusnuzon sama Allah, Meg. Tawakal aja. Kalau udah jodohnya, mau gimanapun akan tetap berjodoh."
Mega menimbang kata-kata Fatimah. Nasehat itu terdengar klise. Tapi itu adalah nasehat terbaik untuk dirinya saat ini.
Semoga benar apa yang dikatakan Fatimah. Semoga ikhtiarnya kali ini membawa hasil. Dan ini jawaban untuk kegelisahannya.
Mega mematut dirinya sekali lagi di cermin sebelum mengenakan cadar. Nanti saat bertemu Gus Jaka, Mega berkewajiban memperlihatkan wajahnya sebelum perjodohan dilanjutkan.
Dada Mega berdegub kencang. Ia menunggu di depan kampusnya dengan wajah tegang. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya.
Mata Mega melebar. Melihat sekilas mobil itu, Mega sudah mengetahui siapa yang ada di dalamnya. Kaca mobil terbuka.
"Anti ngapain di sini Meg? Ini kan hari Ahad, nggak ada jam kuliah," ujar Dika dari dalam mobil. Perasaan Dika saat melihat wanita bercadar itu melihatnya sekilas, terasa ada yang mengganjal.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Kak Dika. Nggak kok, ana nggak ngapa-ngapain." Mega berkata pelan.
Membuat Dika yang tidak bisa mendengar dengan jelas, memilih turun dari mobil dan menghampiri Mega. Saat Dika ada di sampingnya, Mega malah mundur dua langkah.
"Kenapa mundur?" Dika merasa tersinggung. Ia mencium badannya. Sepertinya ia tidak bau.
"Ti, tidak, Kak. Mega cuma nggak mau ada fitnah," balas Mega menunduk. Sebenarnya hati Mega mulai tidak keruan saat berada di dekat lelaki ini. Apalagi setelah sering bersama Gus Ali, pria itu sering memakai parfum Yasmin. Membuat Mega sedikit merinding saat mencium wanginya.
"Oh, gitu. Tadi anti ngomong apa?" tanya Dika merasa perempuan di depannya tidak nyaman dekat dengannya.
"E, anu, ana nggak ngapa-ngapain di sini. Cuma, ...."
"Yaudah kalau gitu, ayo ana antar balik ke kosan." Tidak sengaja Dika meraih pergelangan tangan Mega.
__ADS_1
Membuat keduanya terdiam sesaat sebelum akhirnya tersadar dan Dika melepaskan pegangannya.
"Afwan, Kak. Mega nggak mau balik kok."
Dika terdiam. Perempuan di depannya seperti berusaha menghindar dan menyembunyikan sesuatu.
"Ya sudah kalau gitu, ana balik duluan. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Wajah Dika terlihat kecewa. Dengan langkah lesu ia kembali berjalan ke mobilnya.
Setelah sampai di depan pintu mobilnya, Dika membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Mega. Dengan susah payah, Dika menata raut wajahnya agar tidak terlihat kecewa.
"Oh iya, umi nanyain anti kenapa nggak pernah balas pesannya. Kalau anti nggak sibuk, telepon umi ya."
"I, iya, Kak." Mega terpaku sejenak. Wajah Dika terlihat menegang sebelum akhirnya tubuhnya hilang di balik pintu mobil.
Setelah mobil Dika berlalu, sebuah mobil lain berhenti di depan Mega. Melihat pintu depan terbuka dan muncul wajah Ning Rere, Mega menjadi lega.
Saat itu juga, Mega melihat lelaki yang berada di belakang setir. Sepertinya Mega pernah melihatnya. Mega langsung menduga jika dialah Gus Jaka. Walau begitu Mega berusaha mengendalikan diri.
"Ayo, Mega. Temani ana." Ning Rere membukakan pintu untuk Mega.
"Baik, Ning." Mega menurut. Ia masuk ke dalam mobil. Duduk di bangku belakang.
Mega duduk dengan tegang. Untung saja cadarnya menutupi rasa tegang ini. Merasa tidak nyaman, Mega bermain teleponnya. Ia mengirim pesan kepada Fatimah. Lebih tepatnya meminta doa.
||Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Tim, ana sudah bertemu calon suami ana. Doakan hari ini lancar ya.||
Mobil lalu kembali melaju. Baru beberapa meter, Ning Rere meminta mobil dihentikan. Gus Jaka menurut, walau wajahnya juga terlihat terkejut.
"Ada apa, Re?" tanya Gus Jaka pertama kali membuka suara di depan Mega.
Suaranya yang halus ditangkap indera pendengaran Mega. Ia sampai menutup matanya karena suara itu sangat indah.
"Begini, Mas. Ana ngerasa nggak enak badan, ana pindah ke belakang aja ya? Biar ukhti Mega yang di depan. Ana ingin baringan." Suara Ning Rere terdengar dibuat-buat.
Gus Jaka terlihat tidak suka saat Ning Rere meminta orang lain yang duduk di sampingnya. Tapi ia juga tidak bisa menyakiti teman wanita istrinya itu.
"Makanya ana nggak setuju kita jalan-jalan di sini." Kali ini suara Gus Jaka menyiratkan kejengkelannya.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Nyenengin hati ana hari ini aja gimana? Jangan banyak protes." Ning Rere turun dari mobil dan membuka pintu bangku belakang.
"Em, afwan Ning. Ana tetap di sini nggak apa-apa kan?" tanya Mega terlihat tidak nyaman.
"Jangan, ana mau tiduran. Anti di depan saja." Ning Rere meletakkan tasnya di bangku belakang.
Walau dengan berat hati, Mega menurut. Ia turun dan pindah duduk ke samping Gus Jaka. Dari tempatnya kini, Mega bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah rupawan Gus Jaka.
Mega duduk dengan ragu. Ia hanya bisa menunduk karena takut mengotori hatinya. Walau ia tahu jika pria itu adalah calon suaminya, Mega masih memiliki kecemasan jika ini belum direstui Tuhan.
Daripada tidak ada kesibukan, Mega memilih bertasbih. Ia menenangkan dirinya dengan kalimat-kalimat thoyyibah. Tapi karena saking groginya, tasbih di tangan Mega jatuh.
Ia langsung menunduk mengambil tasbih itu. Sayangnya kepalanya membentur dashboard mobil. Sontak Mega mengaduh.
"Anti nggak apa-apa?" tanya Gus Jaka untuk pertama kalinya berbicara dengan Mega.
"Ti tidak, Gus."
Hening. Tidak ada lagi percakapan. Mega melihat lewat spion bahwa Ning Rere benar-benar tertidur di bangku belakang.
Mega merasa dirinya dalam suasana yang sulit. Ia tidak bisa membuka percakapan. Ia hanya terus bertasbih. Hingga saat sampai di depan Mall, mobil yang mereka tumpangi berhenti dan parkir.
Mega masih diam saja. Setelah mobil terparkir, Gus Jaka juga terdiam. Tak lama kemudian, Gus Jaka memanggil Ning Rere.
"Re, kita sudah sampai."
Ning Rere tetap belum bangun. Gus Jaka sampai menoleh ke belakang, menyentuh perempuan yang terlelap itu. Ia tidak sadar jika posisinya kini sangat dekat dengan Mega.
Bahkan Mega merinding saat harum minyak misik tercium ke hidungnya.
"Re, kita sudah sampai."
Ning Rere menggeliat. Ia bangun dan melihat sekitar. Ia juga menguap karena masih mengantuk.
"Meg, kita makan dulu yuk. Habis itu anti bantu ana beli kitab, ya."
Mega terkejut tapi tidak bisa menjawab banyak. Ia hanya bisa mengiyakan kata-kata Ning Rere.
__ADS_1