Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Nasib Tata


__ADS_3

Air mata Tata kembali meleleh. Ia teringat nasib cintanya yang tak pernah terbalas. Melihat ke belakang bagaimana ia berjuang demi Gus Ali, tapi lelaki itu malah menikah dengan orang lain.


Hati Tata hancur. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Semangat hidupnya hanya Gus Ali. Saat Gus Ali kini menjadi milik orang lain, apa yang bisa ia harapkan?


Sakit hatinya tak pernah begitu ringan. Kadang Tata merasa dirinya sedang dipermainkan oleh takdir. Ketika ia menjatuhkan pilihan, tapi tidak pernah Tuhan mengijinkannya bahagia. Apakah dia tidak pantas bahagia?


Kamar itu pintunya terbuka. Seseorang tak sengaja melihat Tata yang meringkuk dengan punggung terguncang. Entah mengapa rasa sedih itu turut menjalar ke hatinya. Daripada semakin merusak hatinya, lelaki itu memilih berlalu.


Dua langkah, lelaki itu terkesiap saat ibunya memandangnya dengan heran.


"Umi kenapa?" tanyanya berusaha terlihat biasa.


"Kamu yang kenapa, Kal? Sudah kamu lakukan apa yang umi pinta?" tanya ibu itu membalas pertanyaan Haikal dengan pertanyaan juga.


Haikal menggeleng. Seharusnya uminya mengerti kalau ia sangat menjaga kesucian dirinya dengan tidak sembarangan menyentuh kulit wanita.


"Umi kan cuma minta tolong, pijatan kamu pasti bisa mengurangi rasa sakitnya Tata karena terkilir," omel uminya Haikal. Merasa anaknya itu kini tidak memiliki rasa simpati pada orang lain.


"Umi, Haikal hanya akan memijat orang yang boleh Haikal sentuh. Kalau wanita itu bukan mahram Haikal, tidak mungkin Haikal sembarangan berhubungan dengan wanita."


"Apakah dokter juga harus memperhatikan itu? Jadi dokter lelaki tidak akan membantu kalau pasiennya perempuan dan bukan mahram?" tanya ibunya sengit.


Haikal tidak bisa menjawab. Tidak mudah mengatakan segala yang ia dapatkan di pesantren di sini. Bahkan mengatakan yang haq kepada ibunya sendiri pun ia tidak menemukan caranya.


"Meski umimu ini tidak pernah mondok, tapi umi tidak sebodoh itu. Innamal a'malu binniyat. Semua perkara tergantung niatnya. Niatkan antum mau menolong gadis itu, bukan yang lain," perintah umi Haikal tanpa menunggu Haikal menjawabnya, ia memberikan minyak urut ke tangan Haikal.


"Tapi, umi, ...."


"Semua tergantung niatmu sendiri. Sekarang kamu malah dholim sama cewek itu karena kamu bisa menolong tapi kamu nggak mau." Mata uminya Haikal melotot marah.


Merasa kalah berdebat dan tidak menemukan kalimat untuk menanggapi ocehan ibunya, Haikal diam saja. Bahkan saat tubuhnya didorong ke arah pintu dan masuk ke dalamnya bersama ibunya.


"Permisi, Nak. Ini anak ibu, dia bisa ngurut."


Haikal menghela napas. Ia menundukkan kepalanya. Ia sudah tidak punya alasan untuk menolak permintaan ibunya untuk membantu Tata yang kakinya terkilir.


"Maaf, tante. Tapi apa, ...."

__ADS_1


"Sudah nggak apa-apa, Nak. Insyaallah atas izin Allah, kakinya pasti sembuh."


Haikal merasakan didorong ibunya untuk mendekat ke ranjang. Haikal berjalan. Matanya masih menunduk, melihat kaki bengkak Tata yang mulai terlihat memar dan ungu.


"Sebelumnya saya minta maaf, Mbak. Kalau saya lancang. Saya hanya ingin membantu," ujar Haikal membuka suaranya. Untungnya ia tetap menunduk agar tidak melihat wajah Tata, meski tadi dia sudah mengintipnya.


"Ayo lekaslah."


Haikal mendekat. Tangannya terlihat gemetar saat menyentuh kaki Tata. Tapi dia yakinkan dirinya bahwa ia hanya berniat membantu. Tidak ada yang lain.


"Aduh! Pelan-pelan," pekik Tata merasa tulang kakinya semakin sakit.


"Tahan sebentar ya Mbak."


Tata menjerit saat Haikal memijat bagian kakinya yang bengkak. Haikal tidak goyah, ia masih harus meluruskan urat yang sempat terpilin.


"Kamu bisa pelan dikit nggak sih!" bentak Tata sambil memukul lengan Haikal sekuatnya.


Haikal terkejut tapi tetap diam. Berusaha tetap fokus dengan kaki Tata.


"Ibu ambilkan air hangat ya untuk kompres." Ibu Haikal akhirnya meninggalkan Tata dan Haikal berduaan.


"Aduh, sakit!" Tata membentak lagi sambil mengeluarkan air mata. Ia tidak hanya meringis. Tapi juga menangis tersedu.


"Su-sudah, Mbak." Haikal meletakkan kaki Tata dengan hati-hati lalu berdiri memberi jarak.


Bukannya menghentikan tangisnya, Tata malah terus menangis. Membuat Haikal bingung apa yang sebenarnya ditangisi wanita di depannya ini. Ia bahkan sudah selesai memijat kaki Tata.


Alih-alih menanyakan penyebab Tata menangis sepedih itu, Haikal memilih membisu di pojok ruangan. Akhirnya matanya ia beranikan untuk menatap wanita yang menangis dengan pilu.


Haikal merasakan kesedihan itu menjalar ke hatinya. Bahkan tidak bisa dipungkiri jika Haikal mempertanyakan siapa yang berani menyakiti wanita ini.


Meski wanita di depannya bukan wanita yang sesuai kriteria idamannya, tetap saja mereka tidak pantas disakiti.


Diam-diam Haikal terpengaruh oleh tangis Tata. Ia penasaran setengah mati kepada orang yang menyakiti wanita di hadapannya.


Untungnya tak lama kemudian ibunya Haikal datang membawa baskom berisi air hangat. Melihat Tata yang menangis tersedu, ibunya Haikal panik. Jangan-jangan Haikal telah melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.

__ADS_1


"Aduh, neng apa yang sudah dilakukan Haikal sampai neng nangis seperti ini?" tanya ibunya Haikal mendekat dan duduk di samping Tata.


"Ti-tidak, Bu. Anak ibu sangat baik, tapi, ...." Tata kembali menangis.


Sesama wanita ibu Haikal mendekat dan memeluk Tata. Mengelus pundaknya agar Tata merasa lebih baik.


"Apa yang sebenarnya membuat neng sedih? Apa neng sedang sakit hati?" tanya ibunya Haikal dengan lembut. Haikal tentu saja belum keluar dari sana. Ia memperhatikan wajah Tata yang nampak tidak asing.


"Apakah ada laki-laki yang kaucinta menyakitimu?" tanya ibunya Haikal lagi berusaha mencari informasi agar bisa menenangkan Tata.


"Iya, Bu. Mengapa Tuhan menitipkan perasaan cinta, sedangkan Dia tidak menyatukan kami. Hiks hiks hiks." Tata akhirnya buka suara.


Membuat Haikal yang mematung kini melebarkan bola matanya. Ia merasa ikut sakit dengan pengakuan Tata. Cinta, hal yang bahkan belum pernah ia mengerti.


Haikal hidup dengan fokus menuntut ilmu di pesantren dan kini ia kembali ke rumahnya. Haikal merasa simpati kepada Tata. Ia merasa kasihan kepada Tata.


"Apa kamu dijodohkan?"


Tata menggeleng. Ibunya Haikal langsung menangkap apa yang dialami Tata. Ia kembali mengelus pundak Tata dengan lembut.


"Dia menikah dengan orang lain, " ujar Tata dengan gemetar. Tangisnya kembali pecah. Membuat Haikal tidak tahan dan akhirnya memutuskan keluar dari ruangan itu.


Haikal tidak habis pikir karena rasa sedih yang dialami Tata juga membuat air matanya mengumpul di pelupuknya. Haikal menyandarkan tubuhnya di tembok.


Ia mengusap air matanya saat handphonenya berdering. Haikal segera menerima panggilan itu.


"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Gus."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Kal. Bajunya sudah siap dibawa ke Ngantang kan? Jangan lupa ya besok datang juga," ujar Gus Ali mengingatkan.


"Inggih, Gus. Saya juga sudah kangen sama Pak Kyai."


"Kangen sama Pak Kyai apa mbak kadhamah?" goda Gus Ali, sebenarnya ia juga mengetahui kalau Haikal belum pernah merasakan jatuh cinta. Haikal sangat fokus dengan tholabul ilmunya.


"Ampun menggoda saya, Gus. "


"Ha ha ha. Bercanda, Kal. Pokoknya jangan lupa datang ya."

__ADS_1


"Iya, Gus."


__ADS_2