
Dika masih tidak mau menyerah. Jam di tangannya menunjukkan pukul tujuh, dan ia baru turun dari mobilnya. Ia berada di depan sebuah rumah yang megah.
Semalam ia memikirkan langkahnya untuk menyatakan keseriusannya mencintai Bu Tata. Sebagai laki-laki yang baik, ia memilih menemui keluarga Bu dosennya itu.
Barangkali calon ayah mertuanya mau memberi kesempatan. Dika melihat dirinya di dalam cermin spion. Sudah rapi.
Kembali memasukkan tangan ke kantongnya dan mengambil kotak kecil perhiasan. Ia tidak ingin mengecewakan seseorang yang sangat ia cintai. Tak tanggung-tanggung Dika membeli cincin emas dua puluh empat karat dengan desain mewah.
Setelah menyemprotkan parfum yang wanginya elegan, Dika memantapkan langkah dan berjalan menuju rumah Bu Tata.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Dika menekan bel.
Tak lama kemudian seorang ibu-ibu yang ia taksir salah satu art datang membukakan pintu. Dika berusaha menjawab sangat sopan.
"Bapak ada, Bi?" tanya Dika langsung to the point.
"A, ada, den. Silakan masuk, saya panggilkan." Sejenak art di rumah Bu Tata itu memindai penampilan pria di depannya. Pria yang wajahnya tidak asing.
Dika tersenyum semanis mungkin. Lalu dengan masih menjaga penampilannya, ia duduk di sofa berwarna lavender itu.
Mata Dika tidak bisa menunduk saja. Untuk mengurai rasa gerogi ia menatap sekitar. Melihat kerapian rumah ini dan perkakasnya yang mewah, Dika sudah gemetar duluan.
Ia tahu, Tata memang bukan anak orang sembarangan. Jika boleh jujur, ia kini merasa kecil di sini. Tapi ia tidak boleh menyerah. Siapa tahu usahanya memantaskan diri sudah cukup untuk mengimbangi Bu Tata, bidadari hatinya.
"Antum?" Seorang lelaki dengan peci putih datang ke ruang tamu. Tentu saja ia mengenali Dika, mahasiswa di kampus yang hingga saat ini jadi perbincangan para dosen karena tidak lulus-lulus.
"Iya, Pak. Saya Andika Syafi'i." Dika berusaha biasa saja, padahal tangannya yang berjabat dengan ayah Bu Tata itu sebenarnya sudah gemetar.
"Ada keperluan apa ya?" tanya ayahnya Tata, tentu saja waktunya sangat berharga hanya sekedar untuk berbasa-basi dengan mahasiswa yang tidak memiliki tujuan.
"Saya kemari ingin melamar anak bapak." Dengan susah payah, akhirnya kata itu keluar dari mulutnya.
Wajah ayahnya Dika menyiratkan keterkejutan, tapi berusaha menguasai diri. Sebagai orang tua seorang perempuan, ayahnya Tata merasa tersanjung dengan keberanian Dika langsung menemuinya.
__ADS_1
Tapi saat kembali teringat siapa Dika dan bagaimana ia di kampus, ayahnya Tata sedikit meragukan. Apakah Tata sudah tidak memiliki pilihan lain hingga akhirnya menjatuhkan kriterianya dari standar seorang Ali, hingga kepada Dika yang notabene mahasiswanya sendiri.
"Kalau Bapak boleh tahu, apa kalian sudah ada hubungan sebelumnya?" Ayah Tata bertanya dengan serius. Ia ingin mengetahui sejauh mana hubungan Tata dan pria ini.
"Be, belum, Pak." Meski berusaha tidak tegang, nyatanya Dika tidak siap menjawab pertanyaan yang tidak ia duga sebelumnya.
"Lalu apa yang membuat antum menjatuhkan pilihan pada Tata?"
"Saya merasakan hidup saya lebih berwarna dengan melihat Bu Tata. Apalagi jika nanti kami menikah, pasti kami bahagia dalam beribadah." Dika menyayangkan mulut dan pikirannya yang tidak singkron. Ingin hati berkata yang baik, nyatanya ucapannya malah berkonotasi buruk.
Ayahnya Tata terlihat terkejut, ia diam dan mengamati kembali pria di depannya. Dika yang semakin gugup merasa perlu segera mengakhiri pertemuan ini. Ia tergesa mengambil kotak kecil di kantongnya hingga kotak itu jatuh ke lantai.
Dengan cepat Dika mengambil kotak itu. Ia menyusun kalimat dengan cepat. Semoga saja ayahnya Tata terketuk hatinya.
"Saya tahu tidaklah mudah bagi Bapak menerima saya, pun Bu Tata yang merasa selalu terganggu dengan kehadiran saya. Hanya saja siapa yang tahu jodoh, saya titipkan cincin ini kepada Bapak. Jika Bu Tata berkenan, cincin ini semoga diterima, sebagai tanda persetujuan."
"Kalau Tata menolak?" tanya ayahnya Tata tidak memperhatikan wajah Dika yang mulai memucat.
"Cincin ini bisa disimpan saja."
Senyum Dika kembali menghias wajahnya. Siapa yang tidak bahagia dipuji calon mertua? Ah, seandainya Bu Tata ada di sini juga.
"Terimakasih, Bapak. Mungkin saya sekaligus berpamitan karena masih ada kuliah hari ini." Dika bangkit dari duduknya lalu menyalimi calon mertuanya, itupun jika Tata menerimanya menjadi calon suami.
Apapun jawaban yang akan ia terima, yang penting ia sudah berusaha keras. Ah, Dika mulai membayangkan jika Tata menerimanya. Jika mereka menikah, pasti akan lebih mesra dan romantis melebihi Gus Ali dan Fatimah.
Bayangan kemesraan itu rupanya nyantol di kepalanya. Tak sadar ia mencium punggung tangan ayahnya Tata lama sekali.
"Heh?"
"Eh, maaf Bapak."
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Setelah itu Dika keluar dari rumah. Saat baru sampai di mobil, ia melihat Tata yang sepertinya baru pulang jogging. Wajah Tata yang putih mengkilat karena keringat.
Dika terpana seperti melihat bidadari. Ia tidak segera beranjak dari sana. Ia menatap Tata terus menerus hingga Tata menyadari ada mobil yang parkir sembarangan di depan rumahnya.
"Heh, jangan parkir sembarangan di depan rumah orang!" serunya sambil memukul kaca mobil.
Dengan perasaan bahagia, Dika membuka kaca mobilnya. Ia memasang wajah sok gantengnya. Ingin merayu Tata tapi urung. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum.
"Enggak, kok Bu. Saya tidak sembarangan parkir, ini tadi dari rumah ibu."
"Ngapain dari rumah saya?" Mata Tata terbelalak. Mahasiswa yang kurang ajar dan selalu mengganggunya itu datang ke rumahnya. Sudah pasti ia merasa terancam jika Dika sudah tahu rumahnya.
"Enggak ngapa-ngapain Bu. Mari Bu. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Daripada irama jantungnya semakin tidak karuan, Dika memilih berlalu dari sana. Tata masih penasaran dengan kedatangan pria itu.
Ia segera masuk ke dalam rumah. Ia menuju dapur untuk mengambil minum. Tak sengaja bibi yang bekerja di rumahnya juga sedang memasak di sana.
"Tadi ada tamu cowok, non."
"Oh, iya Bi. Dia ngapain?" tanya Tata berusaha mencari informasi.
"Mau ketemu Bapak non."
Tata yang sedang meminum air putih langsung tersedak. Ia terkejut jika Dika menemui abinya. Entah apa yang dilakukan pria itu. Atau jangan-jangan Dika menyuap ayahnya agar lulus dari kuliah?
"Eh, non pelan-pelan kalau minum. Tapi ya non, kok wajah pria tadi kayak familiar ya." Perempuan itu kembali berpikir keras.
"Iyalah, Bi. Ia kan yang lagi viral, yang dilabrak ibu-ibu karena lari dari tanggungjawab itu lhoh," jawab Tata santai. Ingatannya kembali ke parkiran saat uminya mengatakan perihal itu. Jujur saja hatinya sakit mengetahui kenyataan itu, tapi apa gunanya juga ia memikirkan lelaki itu.
"O iya, non. Akhirnya bibi ingat, bener kata non. laki-laki tadi yang lagi viral. Ck ck ck, padahal anaknya cakep ya non."
__ADS_1
"Itulah bi, kita tidak bisa menilai orang hanya dari parasnya saja." Alih-alih berbincang lebih banyak, Tata berjalan pergi.