Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Tamu Agung


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kewajibannya melanjutkan kisah tentang lima riwayat kecemburuan Ummu Aisyah, Gus Ali beranjak. Fatimah masih duduk di sampingnya.


Melihat sang suami akan pergi, cepat-cepat Fatimah bertanya kemana suaminya itu akan pergi. Maksud hati agar mudah jika nanti mencarinya.


"Mau kemana, Mas?"


"Jalan-jalan santai aja, Tim. Kenalan sama tetangga." Gus Ali merasa sudah wajar saja mengatakan tujuannya.


Sayangnya ada hal lain yang dipikirkan Fatimah. Wajahnya langsung memerah.


"Oh, mau kenalan sama tetangga yang punya anak gadis?" tanya Fatimah sembari wajahnya ditekuk. Agar tidak terlihat marah, Fatimah kembali menatap laptopnya.


Gus Ali yang baru saja melangkah, menghentikan dan berbalik. Ia melihat ke arah istrinya yang terlihat gelisah tidak tenang.


"Istighfar, Tim. Kan baru saja menceritakan bagaimana efeknya cemburu? Kok sudah suudzon sama suami?" Gus Ali mendekat ke samping suaminya. Lalu menyentuh pundak istrinya.


Fatimah merasa bersalah, dia tidak bisa mengatakan apapun selain diam saja. Gus Ali berusaha sabar. Ia selalu mengingat bahwa yang dinikahinya adalah seorang anak yang pasti dulunya sangat disayangi kedua orang tuanya, jadi Gus Ali berusaha menahan diri agar tidak menyakiti.


"Ya sudah, Mas tungguin anti belajar ya. Nanti kalau anti bosan, kita jalan-jalan berdua," kata Gus Ali dengan suara halus.


Hal itu malah membuat Fatimah merasa tertampar. Ia menyadari kesalahannya hanya dengan sindiran halus seperti itu. Ya, ia telah suudzon pada suaminya.


"Maafkan saya, Mas. Tidak seharusnya saya begitu. Jika Mas mau jalan-jalan, silakan Mas. Maafkan Fatimah." Fatimah menunduk. Wajahnya sudah ingin menangis karena takut. Takut kalau kecemburuannya itu juga melukai hatinya.


"Enggak apa-apa, Tim. Kita belajar sama-sama, ya." Gus Ali menggenggam tangan Fatimah lalu menempelkannya di pipi.


Menatap ke dalam manik hitam Fatimah, Gus Ali menemukan hakikat dirinya. Kehidupan yang sejati adalah yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mungkin Fatimah perlu diajarkan tentang hal itu.


"Fatimah, Gus Ali? Ada tamu."


Suara itu adalah suara umi Afin yang sambil mengetuk pintu kamar putrinya. Tentu saja sebenarnya umi Afin tidak enak pada menantunya karena mengganggu. Seperti dirinya belum pernah menjadi pengantin baru saja.


Hal yang lumrah jika sepasang pengantin baru, menghabiskan waktu seharian di kamar. Toh mereka sudah halal dan menjalankan ibadah.


"Iya, umi." Gus Ali menoleh dan menjawabnya. Lalu ia kembali menoleh ke istrinya.

__ADS_1


"Mas duluan saja yang menemui, nanti saya menyusul."


"Mas duluan, ya." Gus Ali menyentuh pipi istrinya lalu berjalan melewati pintu.


Gus Ali hampir saja meloncat karena terkejut mendapati siapa yang kini duduk sambil manyun di ruang tamu. Tentu saja Dika, sepupu istrinya yang kadang resek dan judes. Tapi Gus Ali yakin sebenarnya lelaki itu baik.


Melihat bagaimana kualitas ibu dan ayahnya, Gus Ali yakin sebenarnya Dika anak yang baik. Toh setiap manusia memang memiliki perjalanannya masing-masing.


"Antum, Dik? Tumben ke sini?" tanya Gus Ali sembari duduk di sofa dekat dengan lelaki yang memegang topi itu.


"Iya, Pak, eh Gus." Dika menggaruk tengkuknya. Setelah mengetahui jika orang di depannya adalah seorang Gus, Dika jadi bingung sendiri berbicara dengannya.


"Gus juga manusia biasa, Dik. Panggil Pak juga nggak apa-apa. Atau Mas." Gus Ali berusaha mencairkan keadaan yang kaku.


"Mas? Bha ha ha. Mas Ali gitu?" Dika malah terbahak, membuat Gus Ali memutar bola mata jengah.


"Bercanda, Gus. Katanya Gus itu dari kata Raden Bagus, jadi antum orang yang terhormat dong. Aku jadi bingung berbicara dengan Gus." Dika berkata jujur, ia pandangannya tentang Gus Ali berubah total saat ia berada di pesantren saat resepsi itu.


"Sudah, Dik. Nggak usah bingung. Gus juga manusia biasa, kok. Terserah deh mau panggil apa. Kok malah ngributin panggilan sih?" tanya Gus Ali akhirnya, merasa sia-sia berbicara mengenai status keGusannya.


"Ehem, ehem. Sebentar, Gus. Aku haus." Dika berdehem sambil memegang tenggorokannya.


"Tim? Tolong bikinkan minum untuk tamu agung," ujar Gus Ali membuat Dika merasa malu.


Tamu agung adalah sindiran untuknya. Mungkin perkataannya yang ceplas-ceplos tadi masih kurang sopan bagi Gus Ali. Entah mengapa kini Dika lebih memikirkan bagaimana bersikap dan berkata di depan istri sepupunya itu.


"Gus nyindir aku, ya?" bisik Dika, namun rupanya bisikannya itu sampai ke telinga Gus Ali.


"Nggak nyindir, Dik. Tapi menghormati."


Dika mencebikkan bibirnya. Meragukan kalimat indah Gus Ali sebagai penghormatan. Tak lama kemudian, Fatimah datang dengan baki berisi dua cangkir teh. Fatimah juga terkejut melihat siapa tamu agung yang dimaksud suaminya.


"Oalah, Dika. Ana kira Gus dari mana, sampai dibilang tamu agung," cerca Fatimah. Membuat Gus Ali terkejut. Masih saja bibir wanitanya itu dengan ringan mengatakan hal yang bisa saja menyakiti orang lain.


"Fatimah, jangan salah. Dika ini bisa saja lebih terhormat daripada Gus dari pesantren manapun. Ingat cerita Uwais al-Qarni? Uwais hanya pemuda biasa, tapi namanya terkenal di langit," tegur Gus Ali membuat Fatimah langsung menunduk, merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Siapa itu Uwais al-Qarni, Gus?" tanya Dika ikut penasaran dengan nama yang disebutkan pria di dekatnya.


"Nanti kapan-kapan saya ceritakan kisah agung tentang Uwais, Dik. Tapi sekarang antum minum dulu. Katanya haus." Gus Ali mempersilakan tamunya meminum teh yang dihidangkan Fatimah.


"Ah, seger. Sekarang sudah nggak haus," komen Dika setelah meminum separuh cangkir teh itu.


"Jadi tumben sekali ke sini?" tanya Gus Ali. Sambil mengingat kembali jika keluarga besar mertuanya akan kembali ke Surabaya esok hari.


"Gini, Gus. Kemarin kan Bu Tata datang ke pesta pernikahan, ternyata ibunya Bu Tata tahu tentang video viral itu." Dika terlihat serius.


Gus Ali dan Fatimah bahkan baru sekali ini melihat Dika sangat mencemaskan sesuatu. Mungkin cinta Dika memang benar-benar dalam kepada Tsabita.


"Lalu, gimana caranya aku mendekati Bu Tata kalau ibunya saja sudah mencap aku yang tidak-tidak?" tanya Dika setelahnya.


Fatimah dan Gus Ali mendengarkan dengan seksama pertanyaan itu. Tapi keduanya malah memikirkan hal lain. Bukan masalah Dika. Tapi bagaimana dengan Mega? Jika Dika saja ditolak ibunya Tata yang mengetahui video itu, lalu Mega pasti akan mengalami kesulitan mendapatkan jodoh karena video itu.


"Jadi antum mau minta mauidzoh?" tanya Gus Ali menegaskan.


"Mauidzoh? Apalagi itu?" tanya Dika semakin pusing. Ia selalu malas dengan istilah-istilah berbahasa Arab.


"Nasehat, Dik," balas Gus Ali cepat. Melihat laki-laki di depannya begitu resah.


"Ya bisa dibilang begitu."


"Gini, Dik. Seorang ibu itu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan anak harus menghormati kedua orang tuanya. Karena ridhonya Allah tergantung pada ridhonya orang tua."


"Apa aku harus mundur, Gus?" tanya Dika terlihat putus asa.


"Ya jangan kayak nggak ada cewek aja, Dik. Dunia ini tidak selebar daun kelor. Ditolak Tata, masih banyak wanita yang lain. Barangkali Allah ingin menjodohkan antum dengan wanita yang kualitasnya lebih baik."


Dika menganggukkan kepalanya. Meski hatinya berontak untuk melupakan Bu Tata. Tapi ia juga masih ingin mendengar saran lain dari Gus Ali.


"Contohnya, Mega," tambah Gus Ali. Membuat Dika meraup wajah karena jengah.


"Jangan sebut nama itu lagi, Gus. Sehari ini saja aku sudah dengar nama itu berkali-kali. Mega, Mega dan Mega. Huft."

__ADS_1


"Jangan begitu, nanti antum naksir sama Mega beneran baru tahu rasa."


Dika terlihat menyepelekan perkataan itu. Ia memang sudah sangat bosan dengan nama itu. Di penginapan tempat keluarganya menginap, uminya dan Buleknya juga membahas tentang Mega.


__ADS_2