Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Air Mata Menjelang Subuh


__ADS_3

Seusai ijab qabul terlaksana, aku bangkit dari dudukku dan melangkahkan kaki menuju kamar.


Air mata yang sedari kutahan, akhirnya menetes di saat aku berjalan menuju kamar.


"Afin," panggil umi. Tapi aku tetap melanjutkan langkahku menuju kamar.


Tidak menghiraukan panggilan itu, bukannya aku ingin tidak sopan atau membantah panggilan umi. Tapi gejolak di dadaku ini tidak bisa kubendung lagi. Sungguh nyeri ini menyiksa sekali.


Kututup pintu kamar setelah sampai di ruang pribadiku ini. Perlahan, mata ini kembali memutar kala pertama kali Syams menemuiku dan mengatakan bahwa ia adalah teman masa kecilku dulu. Ingatan itu kian menambah laju air mataku yang mengalir ke pipi.


"Jangan menangis, Fin. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," bisikan itu, bahkan aku berkhayal bahwa Syams ada di sini. Ada di sampingku sekarang.


Mendengar kalimat sendunya, kuangkat kedua punggung tangan untuk menghapus air mata yang masih menghias wajah. Aku harus ikhlas! Ini yang terbaik untuk Syams.


Sejenak, aku terdiam. Larut dalam pikiran tentang hal-hal yang mungkin tidak lebih buruk dari ini--dinikahi saudara kembar suamiku--rasanya masih berat untuk melegakan gejolak-gejolak di dalam dada.


"Assalamualaikum," suara bariton itu terdengar di depan pintu kamar. Aku menoleh sebentar. Sebelum akhirnya memilih acuh dengan suara itu. Namun kembali aku teringat kala Syams menasehatiku tentang kewajiban menjawab salam.


"Wa-waalaikumsalam," balasku. Berjalan pelan dan membukakan pintu untuk seseorang itu. Laki-laki berwajah dingin itu berada tepat di depan kamarku.


"Boleh aku masuk, Istriku?"


Laki-laki itu menatapku lekat dan memberi penekanan pada kata 'istriku'.


Aku mengangguk sambil menundukkan pandangan darinya. Setelah laki-laki itu masuk dan berjarak beberapa langkah dariku, aku baru saja ingin menutup pintu. Sebelum umi terlihat menuju pintu ini dan menyampaikan beberapa nasihat untukku.


"Jadilah istri yang baik untuknya," pesan umi. Aku mengangguk lalu menutup pintu itu."


Baiklah, inilah kenyataannya sekarang. Aku berada satu ruangan dengan sosok yang memiliki wajah sama persis dengan mendiang suamiku.


Tapi lelaki ini memiliki sikap yang berbeda, sangat jauh berbeda dengan Syams. Bahkan mungkin aku tidak akan bisa mencintainya seperti aku mencintai Syams dahulu.

__ADS_1


Kuembuskan napas kasar sebelum menyusulnya ke atas tempat tidur. Aku memang belum bisa mencintainya, tapi bukan berarti aku mengabaikannya.


Laki-laki tanpa aroma itu merebahkan dirinya di kasur. Kulihat matanya memejam. Memandang wajahnya yang sangat mirip dengan Syams, membuat dadaku berdetak tidak karuan.


Astagfirullahaladzim. Ada apa denganku?


"Mas? Apa kau tidak ingin mendoakanku terlebih dahulu?" Aku bersuara pelan. Mas Adi terlihat terkejut dengan kata-kataku tadi.


Dengan agak gugup lelaki yang seusia dengan Syams itu mendudukkan tubuhnya lalu meletakkan tangan di ujung kepalaku. Laki-laki itu melafalkan doa barokah yang juga dilafalkan Syams dulu.


Tanpa aba-aba, air mataku kembali berjatuhan. Ada sesak di hatiku. Sesak yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Seperti dihimpit sesuatu yang teronggok besar. Tapi aku tidak tahu apa itu.


"Dik Afin, aku yakin kau belum mencintaiku. Maafkan aku yang menikahimu, tapi aku akan berusaha menjagamu dan memuliakanmu sebagaimana seorang suami memuliakan istrinya." Aku masih terdiam mendengar itu.


"Soal menyempurnakan ibadah sebagai suami dan istri, aku tidak akan memaksamu. Aku akan berusaha menyayangimu," lanjutnya diakhiri tundukan. Aku mengembuskan napas kasar lagi.


Pikiran-pikiran buruk yang tadi sempat mampir di kepala, segera kuusir. Aku tahu Mas Adi mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Entah bagaimana, aku bisa merasakannya.


Walau kami menikah bukan karena cinta, tapi kami tetaplah suami istri yang harus menjaga komunikasi agar tercipta hubungan yang baik.


"Baiklah, ayo tidur," Mas Adi kembali merebahkan tubuhnya. Aku menurut.


Mengikutinya merebahkan kepala pada sandaran ranjang. Tapi mataku belum bisa terpejam. Kegundahan masih mendera. Akhirnya, aku kembali bangkit dan mengambil wudhu.


Hal yang pertama kali melintas adalah saat aku dan Syams dulu bisa mengkhatamkan Al-quran hanya karena sama-sama tidak bisa tidur.


Setelah dari kamar mandi, kulihat Mas Adi telah tertidur pulas.


Aku mengambil mukena dan melaksanakan sholat sunnah lalu melanjutkannya dengan membaca Al-quran. Malam ini, aku merindukan surat kesukaanku. Ar-rahman.


Aku mentadabburi ayat demi ayat yang bercerita tentang kebesaran Allah subhanahuwataala itu. Butir-butir bening menemaniku di keheningan malam ini. Setelah beberapa lama, kulirik Mas Adi yang tidur pulas tanpa selimut.

__ADS_1


Kututup Al-quran dengan takzim, lalu bergerak menyelimuti Mas Adi. Sejenak aku terdiam kala berada dekat sekali dengan wajahnya. Ia memang persis Syams.


Beberapa menit aku menyelami wajah itu. Ada sesuatu yang berbeda di sana, sebuah guratan yang membuat wajahnya terlihat lebih dewasa dari usianya. Aku tersadar dan segera melepas mukena yang aku gunakan. Kubuka jilbabku dan menempatkan tubuhku di sampingnya.


***


Adzan subuh membangunkanku, aku terlonjak. Ya Allah, bahkan aku lupa untuk melaksanakan Qiyamul Lail.


Kulihat lelaki yang semalam tidur di sampingku telah raib dan kemudian terdengar gemericik air.


Sepertinya Mas Adi sedang mandi. Aku kembali meringkuk di dalam selimut sebelum akhirnya bangkit dan turun dari ranjang. Hampir lima belas menit, aku menunggu Mas Adi keluar dari kamar mandi.


Tapi nihil, aku tidak mendengar pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan sosoknya.


Akhirnya aku mencoba memutar gagang pintu. Klek! Tidak dikunci. Terlihat lelaki dengan baju lengkap itu sedang terdiam di bawah shower.


Punggungnya terlihat bergerak-gerak. Aku semakin penasaran. Kuberanikan diri menegurnya. Tanganku meraih pundaknya dengan halus.


Saat wajah itu berbalik, aku terkejut bukan main. Matanya terlihat basah oleh air mata bercampur air kran. Mas Adi menangis. Dengan reflek aku meraup tubuhnya ke dalampelukanku.


Merasakan duka yang kini menyelubungi hati dan pikiran suamiku. Entah duka macam apa yang bisa meruntuhkan air mata dari seorang Mas Adi, Syamsul Mujahidin. Salah satu ustaz yang baru aku tahu juga menjadi pengajar di Al-Amin, universitas di Yaman.


"Apapun duka yang sedang kau tanggung, bagilah denganku, Mas. Aku istrimu," bisikku. Laki-laki itu mengeratkan tangannya di tubuhku. Lama sekali Mas Adi tergugu.


"Maafkan aku, Fin," suara parau itu terdengar putus asa. Mau tidak mau aku turut penasaran dengan penyebab duka suamiku ini. Laki-laki itu bangkit dan meninggalkan aku di kamar mandi.


"Segarkan tubuhmu, kita harus segera melaksanakan sholat Subuh." Bisiknya lalu melempar sebuah handuk ke arahku. Aku membulatkan mata.


"Mas?" Laki-laki yang baru saja menutup pintu kamar mandi itu kembali membukanya.


"Jangan masuk ke kamar dengan baju basah," aku mencebikkan bibir. Beberapa menit kemudian, Mas Adi meletakkan baju yang tadi ia kenakan ke keranjang baju kotor.

__ADS_1


"Tolong cucikan, Dik." Pintanya.


__ADS_2