Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Tentang Aku (Fatimah POV)


__ADS_3

Tahun terus berjalan, kini aku telah baligh dan Abah umi memutuskan untuk aku mondok di pondok pesantren dekat rumah. Tentu saja aku sudah biasa.


Di sini aku telah memiliki sahabat yaitu Gus Ali. Anak dari pengasuh utama pondok pesantren Al-Huda.


Walau begitu tidak membuatnya istimewa. Sepengetahuanku dia tetap saja ga ada akhlak kalau lagi kumat.


"Fatim, coba Babul Mantani."


Mata Gus Ali mengedip padaku. Saat ia mulai tersenyum, dua buah lesung pipi langsung cekung dan menambah manis.


Hal itu juga yang kali ini membuat para teman-teman santri putri terdengar berbisik seperti suara lebah.


Aku terdiam beberapa saat. Kata-kata Gus Ali kucerna baik-baik. Meski sedikit kesal, dan mendapat banyak tatapan aneh. Aku tetap menjawab pertanyaan Gus Ali yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan materi pengujian hari ini.


Aku pura-pura melihat kitab kuning di pangkuan.


"Babul Mantani, Al Mantanu utawi mantan iku imroatun wong wadon mahdufatun yang dibuang sopo imroah, ...."


"Cukup, cukup. Sekarang pada lafadz al Mantanu coba di i'rob dan di i'lal," lanjut Gus Ali. Membuatku ingin tertawa sekaligus terhenyak.


Di acara resmi dan penting seperti pengujian kali ini, harusnya Gus Ali tidak bermain-main seperti ini. Tapi kalau tidak guyon ya bukan Gus Ali namanya.


"Al Mantanu ismun mufrodun mustaqun asluhu (asalnya) kenangan, alawasni masa lalu. Qulibati cinta lalu kecewa. Litaharrukiha diselingkuhi, fashoro lupakanlah."


Suara tawa terdengar nyaring di ruangan ujian kali ini. Aku ingin menunduk tapi ingin sekali melihat wajah Gus Ali saat ini.


Apakah dia juga tertawa? Dan ternyata tidak, dia hanya tersenyum lalu menatapku. Ah sahabatku yang satu ini memang solidaritasnya tinggi.


Tak lama kemudian tawa semua yang menyaksikan aku diuji Gus Ali dalam membaca kitab kuning tiba-tiba lenyap. Semua mulut terkunci dan wajah tertunduk ketika seorang datang dengan wajah serius.


Siapa lagi kalau bukan orang yang paling berkharisma di penjuru pondok. Pak Kyai yang notabene Abah dari Gus Ali.


Dengan wajah kaku beliau berjalan menghampiriku tapi masih menjaga jarak. Lalu berhenti dan mundur. Beliau memilih duduk bersila di samping anaknya yang kini memasang wajah masam.


Antara Pak Kyai dan Gus Ali memang sering terdengar mereka tidak terlalu akur. Apalagi kalau Gus Ali menyebabkan aku bermasalah. Entah bagaimana sebenarnya hubungan antara Abah dan anak itu, tapi aku selalu disangkutpautkan.


Aku jadi teringat awal pertama kali masuk di lingkungan pondok. Karena sebelumnya umi dan abah sendiri yang mengajariku, dan aku begitu yakin kalau mereka mampu. Jangan salah Abah dan umi pernah menuntut ilmu di Yaman, negeri para nabi. Jadi aku yakin meski tidak belajar di pondok, aku tetap bisa berkembang.

__ADS_1


Tapi hari itu setelah Pak Kyai bertamu ke rumah, Abah mengantarku untuk mendaftar di taman pendidikan Al-Qur'an di pondok. Dari situ aku mengenal Gus Ali dan sampai kini kami berteman.


"Assalamualaikum, Fatimah. Namaku Ali, dan aku akan jadi temanmu sampai kapanpun."


Gus Ali kecil tidak mengajakku salaman. Kata Abah itu memang sudah hukumnya kalau tidak mahram tidak bersentuhan.


Setelah perjumpaan itu, Gus Ali selalu mencari-cari cara untuk menggangguku. Ia pernah menuduhku mengambil sandalnya hanya agar aku dan dia disidang di ruang sekretariat.


Aku malu sekali, Abah terlihat pucat saat aku dihukum menyalin kitab. Tapi aku meyakinkannya kalau aku bisa menyelesaikan hukuman itu.


Masih ingat dengan jelas saat aku menyalin kitab dan Gus Ali berada di ruang sekretariat menemaniku meski dengan masih menjaga jarak.


"Kamu capek, Tim? Apa aku gantiin nulisnya?"


"Iya aku capek."


Aku tidak mau lama-lama dengannya di ruangan ini. Jadi aku berusaha menulis dengan cepat. Tapi hal itu membuat tanganku kram. Jangan salah, meski hanya satu bab kitab Taklim Mutaalim itu sangat tebal.


"Gus mau bantuin dalem?" tanyaku iseng, lagipula mana mungkin anak Pak Kyai akan membantuku. Begitu pikirku.


"Gus, jangan dekat-dekat kita bukan muhrim." Aku terkejut dan tidak tahu kalau Gus Ali tidak bercanda.


"Kalau gitu Fatim mundur, biar aku tuliskan."


Aku mengangguk lalu berjalan meninggalkan meja tempatku menulis. Aku memilih duduk di pojok ruangan. Menunggu Gus Ali selesai menulis.


"Sudah, ini selesai," pekik Gus Ali setelah limabelas menitan menulis.


Aku takjub karena kecepatan menulis Gus Ali. Tapi aku segera berjalan mendekat dan melihat buku tulisku yang memang sudah penuh tulisan Arab Pegon beserta artinya.


"Wes, aku pergi dulu ya."


Gus Ali tak membiarkan aku menjawab lalu berjalan meninggalkanku yang menatap tulisan di bukuku. Tulisan Gus Ali sangat rapi.


Aku terhenyak saat kembali tersadar. Kenangan itu tertanam kuat di kepalaku. Gus Ali yang cengengesan itu kini telah menjelma menjadi Gus yang pandai dalam mengajar.


Maka dari itu kini Gus Ali mengujiku tentang kitab kuning. Beliau juga menjadi salah satu ustaz di madrasahku.

__ADS_1


Di usiaku yang baru menginjak enam belas tahun ini, aku masih duduk di kelas tiga madrasah Aliyah. Dan selalu bertemu Gus Ali disaat pelajaran bahasa Arab.


"Kholas."


Masih terdiam. Tapi salah satu ustazah menyentuh pundakku. Kembali mengatakan bahwa sudah cukup menguji kemampuanku.


Aku berjalan mundur kembali ke tempat santri putri. Duduk dan melihat bagaimana Gus Ali di samping Abahnya menguji santri putri yang lain.


Diam-diam aku terpukau dengan sosok Gus Ali. Sahabatku yang selalu usil itu bukan orang sembarangan. Tapi jika ingat kata umi, aku harus bisa menjaga hati agar tetap fokus menimba ilmu.


|| Fatimah, anti cukup pandai di bahasa Arab. Tapi tingkatkan di pelajaran matematis.||


Mataku membulat sempurna melihat pesan dari Gus Ali di aplikasi pesan. Gus Ali selalu perhatian padaku. Saat seperti ini dia bisa mengingatkanku untuk lebih rajin belajar.


||Inggih, ustaz||


Balasanku segera centang dua biru. Aku melongok melihat Gus Ali tetap fokus menguji santri lain. Padahal ia barusan mengirim pesan padaku.


Ada banyak hal yang sebenarnya memenuhi pikiranku. Segala hal tentang Gus Ali yang mendekatiku secara terang-terangan. Tapi aku merasa itu biasa saja. Masih dalam tahap yang normal.


"Yang penting aku tidak menggoda Gus Ali."


Aku berkata demikian bertujuan untuk menenangkan diriku sendiri. Pernah suatu kali aku mendengar bisikan tak mengenakan tentang hubunganku dan Gus Ali.


Aku tidak mau ambil pusing. Selama aku dan Gus Ali bisa menjaga diri, aku tetap menjadi temannya. Selama Gus Ali tidak mengajarkan sesuatu yang dilarang agama.


"Jangan-jangan Fatimah itu merayu Gus Ali." Satu lagi bisikan salah satu santri yang mampir di telingaku.


Aku hanya menghela napas. Bukan lidah mereka bukan urusanku. Jika mereka punya mulut untuk berbicara sembarangan tentang orang lain, maka aku memiliki telinga yang bisa saja tidak aku gunakan untuk mendengar kata-kata itu.


Sekali lagi, Gus Ali tertangkap mata menatapku sejenak. Tidak lama. Mungkin hanya dua detik, lalu beliau fokus kembali menguji santri. Aku hanya bisa menarik napas dan mengembuskannya. Aku harus sabar. Tidak boleh terbawa masalah.


Nanti jika sudah jam pulang madrasah, aku akan bercerita pada Gus Ali tentang ini. Atau mungkin aku harus membatasi diri berhubungan dengan Gus Ali.


Ah, memang benar kalimat yang aku dengar bahwa hubungan antara pria dan wanita hanya akan berdampak fitnah. Maka dari itu islam memberi peraturan yang ketat dengan tali pernikahan.


Pikiranku jadi ngawur kemana-mana. Padahal aku dan Gus Ali kan hanya bersahabat dan tidak lebih.

__ADS_1


__ADS_2