
Jangan lupa like, komen, dan share ya.
jazzakumullah khair ❤️
****
Sinar matahari amat terik membuat Tata yang duduk di samping abinya yang menyetir mobil terlihat kegerahan. Sepertinya beberapa kali ia meniup wajahnya sendiri berusaha mengurai rasa panas.
Sejenak Tata menatap abinya. Lelaki yang masih tidak membuka suara itu membuat Tata semakin berdebar di dada.
Saat ini ia akan menemui Haikal yang telah melamarnya. Seperti yang sudah Tata bilang setelah abinya mengatakan bagaimana Haikal di pertemuan pertama mereka. Tata akan memberi jawaban setelah melihat sendiri calonnya.
"Kenapa, Ta? Deg-degan ya?" tanya Abinya menyadari putrinya terus mencuri pandang.
Tentu saja Tata terkejut. Wajahnya langsung terlihat gugup. Tata gagal menutupi perasaan saat ini.
"Apa Abi cocok sama Haikal?" tanya Tata sekalian. Ibaratnya ia sudah ketahuan sang ayah, jadi biar saja keduanya terbuka soal ini.
"Em, setuju itu relatif, Ta. Sebenarnya siapapun yang menurut anti bisa membahagiakan, Abi akan setuju."
"Masak?"
"Maksud Abi kan laki-laki yang memang berniat melamar anti. Berarti Ali nggak termasuk dong, kan yang ngejar-ngejar dia itu anti. Tapi dianya tidak membalas perasaan anti," jelas sang ayah panjang lebar.
Ini adalah pertama kalinya Tata tenang saat disebut nama Gus Ali. Atau tentang dirinya yang begitu mencintai lelaki hampir sempurna itu.
Tata menyadarinya dan berpikir bahwa ini adalah hasil penempaan dari waktu. Walau ia terbersit Haikal turut andil dalam usahanya move on.
Tapi perbedaan usia kini menjadi pertimbangan Tata. Bagaimana jika hal ini akan menjadi masalah di masa depan kelak?
"Bi, apa dia lebih muda dari Tata?" Akhirnya Tata memilih bertanya langsung. Masih ada kemungkinan kalau Haikal yang mengkhitbahnya bukan Haikal yang ia kenal selama ini.
"Em, kok anti tahu?"
Mata Tata melebar. Hatinya semakin berdegub kencang. Sekarang kemungkinan kalau Haikal adalah Haikal yang ia kenal lebih besar.
"Eh, sebenarnya Tata ada temen yang namanya Haikal."
__ADS_1
"Jadi kalian sudah dekat? Pacaran?" Wajah sang ayah kini terkejut. Masih tidak menyangka kalau Haikal yang terlihat polos ternyata sudah berhubungan dengan putrinya.
"Abi jangan salah sangka dulu, Tata kenal Haikal juga karena nggak sengaja. Cuma sejak kenal, uminya sering masakin buat Tata dan Haikal yang nganter ke kampus."
Tata merasa sedikit kesal karena citra Haikal di mata abinya kini tercoreng karenanya. Padahal kewajiban seorang istri adalah menjaga kehormatan suaminya.
Eh, suami? Istri? Tata bergelut dengan pikirannya sendiri. Tak sengaja ia memukul kepalanya merasa konyol memikirkan perkara yang belum tentu terjadi.
"Kenapa, Ta?" tanya Abinya heran melihat Tata memukul pelipisnya sendiri.
"Enggak, kok, Bi. Cuma Tata mikir aja, kenapa Haikal berani lamar Tata."
"Cowok kalau serius ya pasti langsung mengutarakan keinginan untuk menikahi." Abinya terlihat menautkan alis.
"Tapi, Bi. Tata sama Haikal itu nggak pernah ngobrol banyak."
"Sudah sampai, Ta."
Saking asyiknya berdebat, Tata sampai tidak menyadari jika mereka sudah sampai di depan restoran keluarganya dimana ia akan bertemu dengan Haikal.
Tata tidak membalas perkataan abinya itu. Karena setelahnya ayahnya itu keluar dari mobil. Tapi Tata masih tetap di dalam mobil. Ia menyiapkan diri sebelum menemui lelaki yang entah sesuai dengan ekspektasinya atau tidak.
Sembari memikirkan bagaimana jika Haikal yang datang ini bukan Haikal yang ia sayang, eh ia kenal, Tata menyiapkan kata-kata penolakan di kepalanya.
Abinya telah duduk di meja dekat jendela. Tata yang sibuk merancang kalimat, langsung tidak fokus berjalan ketika melihat seseorang yang duduk di depan abinya.
Bahkan langkah Tata kini tidak bisa biasa saja. Tata terpeleset dan jatuh tepat di samping kursi Haikal. Haikal reflek ingin menolong, tapi begitu menyadari mereka bukan mahram, Haikal kembali ke tempat duduknya.
Melihat kejadian itu, Abi dari Tata hanya bisa tersenyum samar. Ayah mana yang tidak terharu jika melihat kebahagiaan sang putri ada di depan mata. Bahkan abinya telah membayangkan sang putri duduk bersanding di pelaminan dengan pria yang akan membahagiakannya lahir dan batin.
****
Di sisi lain, Fatimah yang baru sampai di rumah segera masuk ke kamar mandi. Ia tidak memedulikan panggilan dari Gus Ali. Hal ini membuat Gus Ali cemas dan berusaha mengingat adakah kesalahan yang ia perbuat?
Fatimah langsung mengunci diri. Air mata deras mengalir di pipinya. Kesedihan yang sejak tadi ia pendam, kini ia luapkan dengan air mata.
Gus Ali yang melihat pintu kamar mandi dikunci dari dalam hanya mengetuk pintu dan memanggil nama Fatimah. Sayangnya tidak ada jawaban.
__ADS_1
Gus Ali yang juga penat dan letih memilih membiarkan istrinya menyelesaikan urusannya sendiri. Bukan berarti Gus Ali tidak cemas dengan keadaan Fatimah, tapi mungkin Fatimah memang butuh waktu untuk sendiri.
Ia jadi teringat kisah tentang hidayah dari Allah yang selalu turun setiap hari. Barangkali Fatimah sedang diuji untuk lebih mengerti dirinya sendiri.
Sejatinya belajar memahami diri sendiri juga sebuah pembelajaran untuk mengerti hakikat Rabb yang mencipta.
Gus Ali memilih membersihkan dirinya di kamar mandi lain, lalu beristirahat. Tidak lupa ia melihat kamar mandi tempat Fatimah mengurung diri. Setelah Fatimah menuntaskan permasalahan pada dirinya sendiri, maka Gus Ali harus ada di sana untuk meluruskan pemikiran Fatimah.
Sebagaimana yang sering didengungkan, jika wanita adalah tulang yang bengkok. Maka Gus Ali harus sabar dan tidak pernah lelah menasehati Fatimah. Apalagi saat ada masalah, wanita cenderung kufur dan bertindak yang kurang manfaat.
Tak lupa Gus Ali menyiapkan diri jika ternyata amarah Fatimah kalo ini adalah karena dirinya. Bagaimanapun sepasang suami istri tetaplah dua manusia dengan kelebihan dan kekurangan yang sepanjang hidup berdampingan akan bergesekan dan berkonflik.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Gus Ali yang membaca kitab di atas sajadah langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia lega dan was-was begitu melihat Fatimah berjalan keluar dengan mata yang sembab.
Gus Ali menutup kitabnya, membiarkan kitab itu tetap di atas tatakan kitab. Ia bangkit dan segera menghampiri Fatimah.
"Anti belum makan, sayang. Makan dulu ya?" Gus Ali memperhalus ucapannya.
Saat ini adalah saat yang riskan. Salah intonasi saja, Fatimah bisa kembali mengunci diri.
"Ana ambilkan makan, ya. Duduklah." Gus Ali membimbing Fatimah duduk di atas dipan.
Fatimah menahan tangan suaminya. Saat sedih dan kacau seperti ini, Fatimah tidak merasa lapar. Ia hanya ingin mendapat pencerahan dari suaminya.
Barangkali Gus Ali memiliki penawar dari rasa sakit yang kini menggerogoti kalbunya.
"Ana tidak lapar, Mas. Tetaplah di sini." Suara Fatimah sedikit serak.
Detik selanjutnya, Fatimah merebahkan kepalanya di pangkuan Gus Ali. Tatapan matanya yang semula kosong mulai berisi. Fatimah mulai menginjak bumi dan mungkin sudah bisa diajak berbicara.
"Ada apa, Tim?"
Saat mendengar suaminya bertanya begitu, air mata Fatimah kembali lolos dari ujung matanya. Ia seperti kembali masuk ke kubangan rasa sakit yang tadi menyedotnya.
"Kenapa Allah belum juga percaya pada kita untuk dititipi amanah, Mas?"
Tubuh Gus Ali bergetar. Ia membeku di tempat. Tidak pernah menyangka jika sang istri sakit karena merindukan momongan di antara mereka.
__ADS_1