
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Sampai menjelang waktu sholat malam, Fatimah dan Gus Ali berusaha memejamkan mata barang sebentar. Sayangnya mereka tetap tidak bisa.
Malam ini keduanya tidur menghadap ke atas. Keduanya sama-sama tidak berani menoleh ke sampingnya. Baru setelah punggung terasa panas, Gus Ali pura-pura miring dan menghadap ke sampingnya. Menatap Fatimah yang terlihat sangat tidak nyaman.
Gus Ali tetap dengan pura-puranya telah tertidur. Setelah memastikan suaminya tidur, Fatimah memilih berbaring ke kiri. Menghindari tatapan Gus Ali.
"Anti belum tidur?" tanya Gus Ali pura-pura menguap.
"Be, belum, Gus. Eh, Mas." Fatimah tetap tidak bergeming. Entah mengapa tubuhnya seolah kaku untuk menoleh ke arah Gus Ali. Atau sebenarnya jantungnya yang terus berdebar ketika dipandangi oleh lelaki yang tampan itu.
"Kenapa anti tidak mau menghadap kemari?" Gus Ali memicingkan matanya sebelah. Berharap Fatimah peka dan segera menyadari kalau suaminya berharap memandang wajah Fatimah.
"Maaf, Mas. Fatimah tidak bisa."
Kening Gus Ali berkerut. Entah mengapa seperti ada sesuatu yang berbeda pada diri Fatimah. Ia seperti tidak menemukan Fatimah yang ia kenal selama ini.
Gus Ali bangun dari tidurnya. Ia meraih dagu istrinya dan menatap ke dalam telaga jernih milik Fatimah. Ia seolah mencari sosok yang sangat ia kagumi itu.
Sedangkan Fatimah, ditatap Gus Ali sedekat itu merasa takut. Tapi sekelebat wajah mengganggunya. Apakah ia cemburu?
"Apa yang anti pikirkan?" tanya Gus Ali, suaranya sangat dalam. Membuat Fatimah berdebar sendiri.
"Tidak ada, Mas." Fatimah berbohong. Reflek ia menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal.
"Anti berbohong?" tanya Gus Ali menatap lebih tajam kepada Fatimah.
"Lihat, anti menggosok hidung. Berarti anti berbohong. Sekarang jawab jujur, mengapa anti tidak bisa tidur?"
Fatimah bangun dan bersandar di kepala ranjangnya. Haruskah ia mengungkapkan ketakutannya? Atau ia harus berkelit mencari topik lain untuk berbicara dengan Gus-nya?
"Mas apa kabar?" tanya Fatimah sangat kaku. Inginnya dalam hati membuka percakapan, tapi malah terkesan aneh.
"Baik, Tim. Sangat baik. Apalagi setelah menikahi anti." Gus Ali menikmati wajah istrinya yang tegang. Ia sendiri kadang masih tak percaya jika ia bisa bersatu dengan gadis pujaannya.
"Kenapa?" tanya Fatimah tergagap. Ia juga masih gerogi dengan kehadiran laki-laki ini.
"Karena Mas memang mencintaimu."
"Kok Mas nggak terus terang dari dulu?" tanya Fatimah mencebikkan bibirnya, sebal.
"Lha anti nggak pernah tanya."
"Harusnya meski tidak saya tanya, Mas mengatakan kalau yang melamar saya itu Mas." Fatimah semakin sebal. Tak menyangka kalau malam ini perasaannya campur aduk.
"Laki-laki itu yang dipegang ucapannya, Tim. Kalau Mas bilang sejak dulu kalau Mas yang melamar anti, tapi Allah tidak menakdirkan kita bersama, apa nggak menyakiti namanya?"
Fatimah melongo. Alasan yang diungkapkan lelaki di hadapannya sangat masuk akal.
"Tapi, ...."
"Kalau sekarang kita sudah menikah, baru Mas akan menceritakan semua kepadamu. Biar anti juga tahu bagaimana Mas memperjuangkan anti." Gus Ali mengelus ujung kepala Fatimah. Gadis yang dulu selalu ia pandangi dari depan kelas kini ada di hadapannya dengan seluruh keterbukaannya. Tak menyangka jika Fatimah begitu cantik saat hijabnya disingkap seperti saat ini. Rambut hitam, lurus, dan terawat milik Fatimah bisa saja membuat Gus Ali mabuk kepayang dan lupa daratan.
Tapi ia harus bersabar sedikit lagi. Usia Fatimah masih terbilang muda. Meski ia ingin memiliki Fatimah seutuhnya, Gus Ali sadar ia bukan perampok. Ia adalah seorang kekasih, teman, dan juga pelindung.
"Memangnya Mas Ali berjuang apa?" tanya Fatimah penasaran.
"Anti lupa kalau suamimu ini sangat tampan dan berkharisma? Bahkan teman anti, Mega saja melamar saya."
Fatimah menutup mulutnya. Satu perasaan cemas, dan ragu datang ke dalam hatinya. Bagaimana kabar sahabatnya itu? Bagaimana cara Fatimah menjelaskan bahwa selama ini ia salah sangka.
"Mas, ...." Fatimah mendesah. Ia bingung mengatakan permasalahan ini pada suaminya.
"Ada apa, Tim? Kalau anti ada masalah lebih baik ceritakan, siapa tahu ana bisa bantu cari jalan keluarnya. Sekarang kita itu dua raga tapi satu jiwa. Jadi jangan pendam sendiri masalahmu."
Kalimat Gus Ali itu sangat memukau Fatimah. Ia tak menyangka kalau Gus idamannya bisa berkata sangat dewasa seperti itu. Tak sadar sudut bibirnya melengkung. Fatimah tersenyum kecil.
"Masalahnya, saya bersahabat dengan Mega. Dan Mega belum move-on dari Mas. Bagaimana saya menjelaskan kalau Mas suami saya?" tanya Fatimah risau. Bahkan sampai detik ini ia belum membalas pesan Mega yang menanyakan keadaan Fatimah.
"Hem, katakan apa adanya saja, Tim." Diam-diam Gus Ali juga teringat kepada Tata. Mungkinkah ia juga harus mengatakan apa adanya kepada teman wanita yang masih sangat mencintainya itu?
"Tapi, Mas. Gimana kalau Mega nggak terima?"
"Ya anti ambil balik."
"Apanya?"
"Lha yang Mega nggak mau terima apa?"
__ADS_1
"Duh, Mas. Jangan bercanda deh. Ini serius."
"Mas juga serius. Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kita tidak perlu menjadi pengendali udara, pengendali tanah, pengendali api, atau pengendali air. Yang penting mengendalikan perasaan sendiri saja sudah sakti."
Fatimah menoleh kepada suaminya. Bisa-bisanya lelaki itu bergurau tentang hal serius. Tapi nyatanya ia juga ingin tertawa mendengar pengendali empat elemen itu.
"Kok ketawa? Lucu ya?" Gus Ali bahagia bisa membuat suasana lebih cair. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk terus menjadi sosok suami yang humoris. Sepertinya Fatimah menyukai itu.
"Malah ngomongin Avatar."
Seketika itu Gus Ali menatap jam beker di nakas. Melihat jarum panjangnya menunjuk angka tiga, Gus Ali berusaha mengusir rasa kantuknya.
"Apakah anti terbiasa qiyamullail?" tanya Gus Ali setelah kembali menghadap ke sisi istrinya.
Fatimah hanya menggeleng kecil. Ia memang jarang melaksanakan sholat malam karena ia tidak bisa bangun dini hari.
"Sekarang masih ngantuk?"
"Em, tidak, Mas."
"Kalau begitu kita qiyamullail ya. Lagipula biar anti mulai memaksakan diri. Istiqomah itu dimulai dengan keterpaksaan. Kalau tidak dipaksa, kapan bisa Istiqomah?"
"Kok, Mas jadi bawel?"
"Bawel untuk kebaikan. Kecuali Mas bawel seperti Bu Yanti tuh, ghibah aja dimana-mana, baru itu tidak boleh," jelas Gus Ali sambil nyengir.
"Tuh Mas juga ghibahin Bu Yanti."
"Itu tadi contoh saja. Sudah ayo mandi dan bersih-bersih. Anti lebih nyaman kita sholat di tempat sholat atau di kamar saja?" tanya Gus Ali. Ia tak mungkin memaksa Fatimah sholat di pasolatan yang ada di ruang tengah jika Fatimah tidak menyukainya. Sekali lagi kenyamanan istrinya adalah yang paling utama.
"Di tempat sholat saja, Mas."
"Serius? Nggak malu kalau nanti ada umi sama Abah?" tanya Gus Ali memastikan lagi.
"Em, tapi di pasolatan kan lebih suci daripada di kamar ini Mas."
"Oh ya? Kok bisa?"
"Kan kamar ini banyak debu, mending sholat di tempat sholat yang sudah pasti bersih dan suci."
"Memangnya anti pernah pipis di kamar ini?"
"Ih, apaan sih Mas. Ya nggak pernah lah."
"Lha gitu bisa bilang tempat ini nggak suci untuk sholat."
"Mas kok kayak dosen killer sih?" bisik Fatimah yang sayangnya didengar jelas oleh Gus Ali.
"Anti saja belum pernah mencoba masuk di kelas saya, gimana anti bisa ngomong gitu? Mas mau tanya, syaratnya suci itu apa?"
"Bersih dari najis."
"Najis dibagi tiga, yaitu?"
"Satu, Najis Mughalladhah (Berat) adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan dari salah satu keduanya. Dua, Najis Mukhaffafah (Ringan) najis yang berupa air kencingnya seorang bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun serta belum makan selain air susu yang berasal dari ibunya (ASI). Tiga, Najis Mutawassithah (Sedang) ialah air kencing, tahi, air madzi, nanah, apa pun yang keluar dari lambung, bangkai (selain manusia, ikan dan belalang), darah (selain hati dan limpa) dan lainnya."
"Pinter istri saya." Gus Ali tersenyum sangat manis pada Fatimah. Lalu mengacak rambut istrinya. Dalam hati ia berusaha keras agar seperti adegan di drama Korea.
"Ayo bersih-bersih."
"Sebentar, Mas. Ada yang ingin saya tanyakan, ...." Fatimah ingin menanyakan perihal Bu Tata. Tapi sayangnya Gus Ali merasa tak banyak waktu mereka untuk mendirikan sholat malam.
"Ayo, sebentar lagi subuh."
"Ba-baik, Mas."
Fatimah manyun. Lalu keduanya secara bergantian memakai kamar mandi. Setelah siap, keduanya melaksanakan sholat malam dengan khusyuk. Meski beberapa kali Fatimah harus menahan keinginan untuk menguap. Air matanya sampai menetes berkali-kali karena menahan kantuk.
Selesai qiyamullail, Gus Ali begitu menikmati kesyahduan malam. Ia tak lagi memedulikan Fatimah yang tak lagi mampu menahan kantuk. Gus Ali hanya fokus berdialog dengan RabbNya. Ia hanya ingin bercinta dengan Tuhannya.
Hingga adzan subuh yang berkumandang menyadarkan Gus Ali telah terbuai dengan muhasabahnya. Gus Ali menoleh dan terkejut mendapati Fatimah tertidur di atas sajadahnya. Tapi sebuah senyum manis terukir di wajah Gus Ali. Ia berusaha maklum karena Fatimah belum terbiasa melakukan qiyamullail.
Ia jadi teringat kejadian yang lalu. Saat dirinya mendapati Fatimah dan Mega berada di luar kelas karena dihukum. Usut punya usut ternyata Fatimah mengantuk karena malamnya ia tidak tidur. Gsu Ali hanya bisa menggeleng kecil.
"Sayang?" panggilnya berusaha sehalus mungkin. Ia tak enak mengganggu tidurnya Fatimah. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Fatimah melewatkan waktu sholat subuh yang hanya sebentar.
"I, iya Mas? Astaghfirullah. Ana ketiduran. Mana udah subuh lagi." Fatimah segera melepas mukenanya untuk melakukan wudhu.
"Tim, kita ikut jamaah di ruang tengah sama umi dan abah ya."
Fatimah mengangguk. Ia seolah terhipnotis oleh aura Gus Ali yang gemilang. Faktanya setelah sholat malam Gus Ali terlihat semakin tampan.
Fatimah dan Gus Ali keluar dari kamar menuju tempat sholat. Rupanya kedua orang tua Fatimah sudah berada di sana sejak tadi. Tanpa banyak berbicara mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
__ADS_1
Setelah salam. Ustaz Adi bersalaman dengan Gus Ali, lalu bersalaman dengan umi Afin. Saat Gus Ali bersalaman dengan umi dari istrinya itu ia menangis sesenggukan. Membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Afwan, umi. Saya teringat umi kandung saya saat salim." Gus Ali berusaha menghilangkan air mata yang menggantung.
"Tidak apa-apa, Gus. Sekarang umi juga umi antum."
Gus Ali lalu menoleh pada Fatimah. Dengan sedikit kaku Gus Ali mengangkat tangannya di depan Fatimah.
"Apa, Mas?"
"Salim, Tim. Anti kan istri Gus Ali. Harus takdzim padanya," terang umi Afin membuat pipi Fatimah merona.
"Oh iya, setelah ini kalian mau langsung kembali ke Surabaya?" tanya umi Afin setelah selesai wiridan.
"Belum, umi. Kami kan baru akad saja, belum resepsi." Kalimat Gus Ali membuat Fatimah mendengkus.
Sedangkan umi Afin segera teringat bagaimana resepsi pernikahannya dulu. Syams begitu romantis. Setelah akad, paginya langsung walimatul ursy. Syams hanya menyiapkan itu dalam waktu semalam.
"Kenapa tersenyum, mi?" Ustaz Adi menyenggol pundak istrinya. Heran dengan senyum yang terpasang di wajah sang istri.
"Emang nggak boleh senyum?" tanya umi Afin sewot. Entah mengapa akhir akhir ini ia gampang sekali terbawa perasaan. Rasanya ingin selalu melampiaskan kemarahan pada siapapun yang mengganggunya.
"Enggak, kok, mi. Abah cuma kelihatan cemburu." Fatimah membantu Abahnya berbicara. Abahnya memang orang yang tidak mau mengakui betapa besar cintanya pada sang istri.
"Jadi kapan resepsinya?" tanya umi Afin lagi pada Gus Ali, menantunya yang begitu tawadhu dan Sholih.
"Terserah Fatimah saja, umi."
Fatimah terkejut namanya dicatut. Ia ingin protes. Tapi tak mungkin melakukannya di depan kedua orang tuanya.
"Kok terserah Fatimah?" balas ustaz Adi yang juga penasaran mengapa Gus Ali menyerahkan keputusan kepada putrinya.
"Setiap perempuan kan punya pernikahan impiannya sendiri, Bah. Jadi saya ingin mewujudkan keinginan Fatimah. Kapan, dimana, dan bagaimana terserah Fatimah."
Diam-diam Abah dan umi Fatimah saling berpandangan. Rupanya sang menantu sangat pandai merayu. Pandai merangkai kata-kata untuk membuat Fatimah tersipu.
"Biar Fatimah pikirkan dahulu, mungkin satu bulan ke depan saja, Gus."
"Kok manggilnya Gus?"
"Eh, Mas."
"Mi, Abah juga pengen dipanggil Mas," ujar Ustaz Adi membuat Fatimah dan Gus Ali malu-malu. Maklum pengantin baru, pasti masih malu-malu.
"Ya umi minta perhiasan emas lima gram dulu, Bah. Baru umi mau manggil Abah dengan sebutan Mas." Umi Afin mencubit lengan suaminya. Berusaha mengkodekan untuk segera bangkit dari sini.
"Mau kemana Abah sama umi?" tanya Fatimah melihat kedua orang tuanya buru-buru beranjak. Padahal biasanya kedua orang tuanya akan berlama-lama di tempat sholat.
"Abah mau jogging sama umi," ujar umi Afin mengajak suaminya segera berlalu.
"Kok tumben, ...." Belum selesai Fatimah berkata, Gus Ali segera merebahkan kepalanya di pangkuan Fatimah.
"Eh, Mas?"
"Kenapa? Apa saya tidak boleh bermanja kepada istri yang sudah saya beli dengan mahar yang anti katakan?"
Fatimah hanya bisa menatap sajadah di sampingnya agar tidak semakin gerogi dengan entah pujian atau sindiran dari suaminya.
"Mas kok pandai bicara?"
"Ya Mas kan guru, kalau nggak bicara gimana muridnya bisa mengerti?"
"Oh iya, ya."
Hening. Suara handphone membuat Fatimah terlonjak. Ia terpaksa meninggalkan Gus Ali yang kepalanya jatuh membentur lantai.
"Ya Allah."
Setelah meraih handphonenya, Fatimah kembali ke hadapan Gus Ali yang menggosok kepalanya.
"Maaf, Mas. Saya mau ambil handphone."
Setelah membuka handphone, ekspresi wajah Fatimah langsung berubah. Kesedihan sangat terlihat di matanya yang menanggung mendung. Tak lama kemudian air matanya jatuh.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun."
"Siapa yang meninggalkan dunia, Tim?" tanya Gus Ali penasaran.
"Ulama kita, Mas. Syekh Ali Jaber." Air mata Fatimah langsung tumpah. Ia benar-benar bersedih kehilangan satu ulama besar. Yang diibaratkan cahaya Allah. Lantas jika cahaya Allah satu per satu diambilnya, di bumi hanya tinggal kegelapan. Hal itu membuat dada Fatimah bersedih.
"Jangan bersedih, Tim. Mari kita doakan saja," ujar Gus Ali menenangkan istrinya.
Allaahummaghfir lahu warham hu wa’aafi hii wa’fu anhu wa akrim nuzula hu wa wassi’ madkhola hu waghsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daari hi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaoji hi wa adkhil hul jannata wa ‘aidz hu min ‘adzaabil qobri wa fitnati hi wa min ‘adzaabin naar.
__ADS_1
Artinya:
"Yaa Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka."