Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Perjuangan untuk Umat


__ADS_3

Dengan berjalannya waktu, aku mulai bisa menata hati dan pikiran. Tidak terasa, sebentar lagi ujian akan dilaksanakan. Perjuanganku belum berakhir.


Dan inilah saat yang penting, saat dimana aku akan mengetahui kualitasku sendiri. Dadaku bergedub kencang, aku telah melaksanakan qiyamul lail sebelum menghapalkan kitab yang kini ada di tangan. Sekali lagi aku murojaah kitab hijau ini. Setengah jam lagi, aku akan di munaqosah. Yaitu diuji hapalan.


Ujian ini telah aku siapkan selama beberapa bulan, walau begitu rasanya masih saja ada gugup yang menghias relung hatiku.


Kuusap punggung tangan berusaha meredakan ketegangan yang sedang berkecamuk di dalam hati. 'Aku harus lulus' tekad itu sekali lagi menggetarkan dada.


Kuangkat kedua telapak tangan tengadah untuk memohon kepada Allah. Semoga diberikan kelancaran dalam menghadapi ujian lisan dan ujian tulis ini.


'Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii' [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku" (QS. Thoha: 25-28)


Akhirnya, setelah menunggu tigapuluh menit, namaku dipanggil untuk memasuki ruangan ujian lisan.


Teknis ujian ini adalah diuji hapalan kitab Taqrib alias Fatkhhul Qorib yang berisi dasar-dasar ilmu. Kuembuskan napas sebelum memasuki ruangan itu. Sedetik, sempat terbayang wajah abi, umi dan Syams. Aku memberi salam kepada tiga penguji yang kini duduk di depanku.


Mereka menyuruhku membaca bab Thaharah (bersuci), setelah itu mereka memberi beberapa pertanyaan perihal bab Thaharah yang telah aku baca.


"Akhsanti!" (Kamu berhasil) Kututup mulut dengan kedua tangan. Air mata meleleh karena bahagia.


Alhamdulillahirobbilalamin. Aku bergerak maju dan menyalami ketiga penguji itu, lalu bergerak memohon diri dari ruangan. Setelah ini, tinggal ujian tulis yang akan dilaksanakan minggu depan.


****


Satu bulan kemudian, hasil ujian tulis keluar. Dengan langkah cepat aku menuju tempat pengumuman, kulihat satu persatu nama yang tertulis dengan huruf Arab itu.


Mataku melotot tak percaya saat membaca Jayyid jiddan ada di keterangan namaku. Sekali lagi aku memastikan apa yang aku lihat.


Subahanallah! Nyatakah ini? Aku segera bersujud syukur. Berkali-kali kubaca hamdalah. Memang benar kalau bermodal usaha, doa dan tawakal, maka Allah-lah yang mengatur hadiah bagi kita.

__ADS_1


Cup. Aku mendelik kala merasakan sebuah kecupan halus di pipi kananku.


"Mabruk, sayang. Barakallah," Suara itu memaksaku menoleh ke arah sumber suara.


Mataku mendelik ketika melihat sosok yang kini tersenyum manis di sampingku. Syams! refleks aku segera menghambur di pelukannya.


Ya Rabb, kejutanMu luar biasa. Dadaku berdetak kencang. Taman bunga dan kupu-kupu kembali hidup di hatiku.


"Perjuanganmu untuk umat belum selesai, sayang." Syams kembali berbisik.


Aku masih berada di dekapannya. Rasanya lama sekali aku merindukan kehangatan yang kini kuperoleh lagi.


Rasanya tidak ingin aku melepaskan pelukannya lagi. Lama sekali aku tetap memeluknya, hingga aku terdorong karena dia tiba-tiba terbatuk. Aku melepaskan pelukannya karena batuk Syams belum juga reda. Kuperhatikan wajahnya yang putih terlihat berbeda.


"Astagfirullahaladzim, kamu sakit?" Tanyaku, memegang kedua pipinya yang terasa lebih dingin dari biasanya. Syams menepis tanganku lembut.


Dia terlihat berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya sambil berkata ia tak apa. Tapi entah mengapa hatiku meragu. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan Syams dariku.


"Tapi sepertinya kamu sedang kurang enak badan, Syams. Istirahatlah dulu," balasku menuntun lelaki beraroma yasmin ini duduk di sebuah kursi dekat ruang tamu asrama.


Syams mengacungkan telapak tangannya, memberi kode kalau dia baik-baik saja. Namun di hatiku mengatakan hal yang lain. Yang berbanding terbalik dengan pernyataan Syams.


Situasi ini membuat oikiranku melayang jauh, di saat abi dan umi selalu berkata baik-baik saja saat aku menghubungi mereka. Padahal sebenarnya ada sesuatu yang terjadi, tapi kedua orang tuaku itu tidak mau membuatku khawatir. Hal itu seperti menjadi trauma tersendiri bagiku.


Aku takut ada sesuatu yang buruk disembunyikan Syams hanya demi membuatku senang. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan abi dan umi?


"Bagaimana keadaan abi dan umi Syams? Katakan sejujurnya," pintaku buru-buru aku menyambung dengan mendesaknya jujur karena pasti Syams akan berusaha membuatku tenang dengan tidak mengatakan hal yang akan mengganggu pikiranku.


"Karena operasi dulu, abi sekarang kesulitan berbicara," balas Syams singkat.

__ADS_1


Ya Allah, rasa sedih dan kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga kedua orang tuanya segera merasuk hati.


Air mata kesedihan segera mengalir begitu saja. Aku merasa menjadi anak yang tidak berbakti. Aku menunduk, menyembunyikan air mata yang kini memenuhi wajahku.


Tapi Syams bukan lelaki yang mudah dikelabui. Suamiku itu mengambil wajahku lalu mengelus pelan kedua pipi. Tatapannya yang tajam dan lekat seolah berkata 'jangan menangis'. Tapi aku tidak bisa, yang ada air mata semakin deras mengalir.


"Ayo kuajak jalan-jalan," Syams meraih tanganku dan berjalan menuju mobilnya yang berada di area asrama. Setelah bergulat dengan pelajaran selama enam bulan, sekarang waktunya liburan datang.


Ingin sekali aku pulang ke Indonesia untuk bertemu abi dan umi, tapi Syams selalu berkata bahwa tujuanku adalah mulia untuk mempersembahkan pengetahuan bagi negeri. Jadi aku harus menguatkan mental untuk tetap berikhtiar di sini sampai tiba nanti waktu untukku pulang membawa gunung seperti impianku.


"Sebentar, aku belum membawa tas dan ijin kepada kepala asrama," aku menginterupsi sebelum sampai di mobil. Syams berdecak.


"Aku sudah membawa tas dan beberapa potong bajumu, lalu sudah ijin ke umi Ainun," balas Syams membuatku takjub atas kehebatannya merencanakan ini semua dengan persiapan matang.


Sampai di mobil, Syams menatapku lagi. Aku membalas menatapnya. Rasa tentram segera merasuk. Membuat kedua pipiku menghangat. Rasa rindu itu benar-benar membahagiakan. Ya, benar. Pertemuan setelah perpisahan itu sangat membahagiakan dan cinta ini semakin bertumbuh.


"Ya Allah, kenapa kamu terlihat lebih kurus Syams?" Aku terbelalak melihat tulang pipi itu menonjol. apalagi wajah putih Syams yang segar terlihat sayu. Lagi-lagi, Syams meyakinkanku bahwa keadaannya baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa," jawabnya singkat sambil mengalihkan pandangannya ke arah kemudi. Sungguh saat ini, kecemasan memenuhi pikiranku. Aku meyakini ada sesuatu yang berbeda dari gelagat Syams.


Udara di kota ini terasa panas, beberapa kali aku mengipasi wajah dengan tangan. Kulihat Syams masih berkonsentrasi mengemudi. Kami menuju rumah yang dulu kami tempati. Tigapuluh menit kemudian kami sampai di tujuan. Syams menoleh ke arahku. Tatapannya sama seperti pertama kali bertemu.


Membuat bibirku kelu tidak mampu berkata-kata. Dia tampan, sangat tampan. Dan aku lebih bersyukur karena pria tampan itu suamiku.


Setelah beberapa menit, Syams mendahului keluar dari mobil. Dia segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku masih meneliti sebuah amplop coklat yang ada di kotak surat.


Aku yang peenasaran segera mengambilnya. Alisku berkerut saat membaca nama itu ada di amplop surat. Syamsul Mujahidin.


Aku mencoba memeriksa lagi, alamat yang ditujunya memang benar ke rumah ini. Tetapi mengapa atas nama Syamsul Mujahidin?

__ADS_1


Tanpa banyak waktu lagi aku melangkah ke dalam rumah, aku akan menanyakan tentang amplop coklat ini pada Syams.


__ADS_2