Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Cemburu Merusak Segalanya


__ADS_3

Fatimah masih melamun di meja belajarnya. Ucapan Abah terus terngiang di kepalanya. Benarkah ia telah dijodohkan? Lalu siapa laki-laki yang akan menjadi suaminya? Apakah dia tampan? Atau galak? Kalau galak tapi tampan sih nggak apa-apa. Kalau galak doang? Fatimah bergidik membayangkan hidup dengan laki-laki yang galak.


Cekling. Sebuah pesan masuk. Fatimah segera meraih handphone di atas meja. Senyumnya segera terbit melihat nama Gus Ali tertera di layar.


||Assalamualaikum. Gimana Madrasah hari ini?||


Buru-buru Fatimah membalas pesan itu. Sayangnya karena senang, ia sampai lupa membalas salam Gus Ali terlebih dahulu.


||Baik.||


||Kok cuek si?||


||Tadi kemana?||


||Di ndalem, sibuk.||


||Oh, jadi bener mau menikah?||


||Nikah sama kamu||


||Selamat ya, Gus. Akhirnya menemukan calonnya||


||Kok ngomongnya gitu?||


||Mega udah cerita ke semua orang||


||Oh, jadi kamu udah tahu, dong?||


||Tahulah, Mega akan jadi istri Gus kan?||


Drrrrt. Getaran telepon membuat Fatimah bingung untuk menjawab. Tapi kalau tidak dijawab nanti Gus Ali malah curiga. Malah mikir yang aneh-aneh. Jangan sampai Gus Ali berpikir dirinya cemburu.


Fatimah mengoreksi pemikirannya barusan. Apa? Cemburu? Tidak, Fatimah tidak cemburu. Tapi perasaan apa ini yang mengganggu hatinya. Kesal dan ingin marah. Apalagi kalau ingat bagaimana Mega begitu semringah mengatakan kalau dia bisa mendapatkan Gus Ali.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Gus."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


"Ada apa, Gus?"


"Mega cerita apa aja di Madrasah?"


"Cerita kalau dia itu calon istri Gus."


"Terus?"


"Dia nyindir aku."


"Nyindir gimana?"


"Ya gitu."


"Gitu gimana?"


"Sahabatan doang nggak boleh kegeeran."


"Emang kamu kegeeran?"


"Ish, enggaklah, Gus."


"Terus kenapa kok cuek?"


"Cuek? Enggak, kok. Cuma lagi bete aja."


"Bete kenapa?"


"Tadi nguping umi sama Abah, bilang katanya aku mau dijodohin."


"Dijodohin sama siapa?"


"Ya mana aku tahu, Gus. Sama Haikal kali."


Fatimah terlonjak sendiri. Bagaimana bisa nama Haikal muncul di kepalanya? Dia adalah santri yang pendiam. Walau begitu Haikal terlihat cerdas dan lebih menonjol dibanding santri lain di kelas.

__ADS_1


"Haikal? Jadi kamu ada apa sama Haikal?"


"Nggak ada apa-apa, Gus."


"Kok berharap dijodohin sama Haikal?"


"Namanya juga nebak asal."


"Jujur deh," desak Gus Ali dengan penasaran. Entah mengapa ada nyeri di dadanya saat Fatimah menyebut nama laki-laki lain.


"Beneran, Gus."


"Serius?"


"Iya, Gus. Tapi emangnya kalau beneran dijodohin sama Haikal nggak apa-apa?"


"Nggak boleh."


"Kenapa nggak boleh?"


"Karena, ... karena kalian nggak sekufu."


"Sekufu? Apa itu, Gus?"


"Iya, setara atau sepadan gitu."


"Padahal saya sama Haikal kan sama-sama murid madrasah, kan setara, Gus? Kecuali saya sama Gus baru tidak sepadan."


"Em, enggaklah. Sekufu tidak seperti itu maksudnya."


"Lalu gimana?"


"Nanti kalau sudah waktunya kamu bakal mengerti dengan sendirinya."


"Hem, gitu ya, Gus. Apa saya boleh bertanya?"


"Apa?"


"Astaghfirullah, suudzon banget sih."


"Lha gimana, Gus? Memang begitu adanya."


"Apa jangan-jangan kamu juga sering teleponan sama Haikal?"


"Kok Haikal sih?"


"Lha terus siapa? Wah banyak ya cowok kamu?"


"Astaghfirullahalladzim. Saya nggak pernah teleponan sama laki-laki. Kata Abah harus pandai jaga diri."


"Kok teleponan sama saya?"


"Ya kan Gus yang nelepon."


"Tapi kamu terima, kan?"


"Kalo nggak diterima nanti Gus ngambek."


Ups. Apa yang barusan dikatakan Fatimah? Berani-beraninya dia berkata begitu kepada Gus Ali.


"Emang kamu takut kalau saya ngambek?"


"E, enggak sih."


"Terus?"


"Kok terus, sih?"


"Yaudah, kamu nggak suka saya telepon ya?"


"Em, gimana ya."


"Kok gimana ya?"

__ADS_1


"Ya gitu lah, Gus."


"Ya sudah bulan depan kalau kamu sudah ada yang melamar, saya akan berhenti telepon kamu."


"Kenapa berhenti?"


"Emang maunya kamu gimana? Kan nggak enak sama calon suami kamu."


"Masak harus nikah muda sih, Gus? Saya masih pengen kuliah."


"Kuliah habis nikah lebih nyaman."


"Nyaman gimana?"


"Buktinya umi dan abah kamu kuliah di Yaman habis nikah."


"Kok Gus tahu?"


"Ya tahulah."


"Kok bisa Gus tahu kisah Abah dan umi lebih jelas dari saya?"


"Ya gimana kamu tahu, kamu aja jarang ngobrol sama mereka."


"Ih, kata siapa? Kami sering ngobrol kok."


"Berarti kamu jarang bertanya, pasti lebih suka mendengarkan ya?"


Fatimah terdiam, tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Gus Ali barusan. Ia menyadari kalau selama ini memang banyak diam dan mendengar. Cenderung jarang bertanya.


"Tuh kan nggak jawab, berarti bener kalo kamu orangnya pasrah aja sama cerita orang. Kamu nggak mau bertanya atau ingin tahu. Sifat inilah yang menghambat perkembangan belajarmu."


"Jadi saya harus gimana?"


"Berani bertanya, berani mendebat, dan ngeyel."


"Gitu ya, Gus?"


"Heem, yaudah. Pelajaran hari ini begitu saja. Lebih ngeyel lagi ya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Setelah menjawab salam Gus Ali, sambungan terputus. Fatimah masih menatap layar itu hingga lampunya redup. Kata-kata Gus Ali masih ia ulang-ulang di kepala.


Harus lebih ngeyel dan berani bertanya. Inilah yang disukai Fatimah. Cara Gus Ali memberi pelajaran tambahan untuk dirinya. Bukan pelajaran sekolah, tapi lebih ke masalah hati.


Ilmu hati itu bukan ilmu sembarangan. Dulu awalnya Fatimah tidak mengerti sama sekali. Tapi kini sedikit demi sedikit ia paham kata-kata Gus Ali meski harus mengulang kata-kata itu berpuluh-puluh kali.


"Oalah, Gus. Saya sudah nyaman belajar sama panjenengan. Nanti kalau saya sudah dilamar orang, Gus akan mundur," gumam Fatimah.


Tiba-tiba matanya terasa panas dan butiran air mata meleleh dari sana. Dada Fatimah terasa nyeri.


Nanti setelah lamaran, ia yakin akan segera dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Setelah itu Fatimah tak bisa membayangkan hidupnya.


Ia pasti akan merasa kehilangan saat Gus Ali tidak lagi menghubunginya. Perasaannya terasa compang-camping.


Di tempat lain, Gus Ali terdiam memandang gemintang yang berkerlip di langit. Di depannya seorang kang ndalem yang juga santrinya duduk memandangi Gus-nya.


Sebuah senyuman kecil terbit di wajah Gus Ali. Lalu menyusul gelengan kepala.


"Bisa-bisanya tadi Fatimah nyebut namamu, Kal. Kayaknya Fatimah berharap dijodohin sama kamu," ujar Gus Ali membuat Haikal terlonjak. Bahkan saat ia menuang kopi dari ceret tumpah dan mengenai sarungnya.


Otomatis kang ndalem paling muda itu bangun dari duduknya karena merasakan cairan kopi panas menyentuh kulitnya.


"Oalah, ati-ati to, Kal," timpal Gus Ali turut bangun dari duduknya.


"Ngapunten, Gus. Saya kaget." Haikal berusaha menjauhkan sarungnya yang basah dari kulit pahanya.


"Kaget napo?"


"Lha Fatimah kan calonnya Gus, kok ya bisa nyebut nama saya. Mana bisa saya bersaing dengan seorang Gus," jelas Haikal memasang wajah takut.


"Oalah, Kal. Kok isone. Nggak peduli Gus, Gis, atau Ges. Kalau jodoh ya bakal tetep ketemu."


Kedua orang yang menikmati malam itu lalu tertawa riang. Di balik itu, Gus Ali sebenarnya sedikit resah. Ia tak berani berterus terang kepada Fatimah kalau dialah yang dijodohkan dengan anak ustaz Adi itu.

__ADS_1


__ADS_2