
Malam begitu pekat. Aku duduk termenung di depan rumah. Tiba-tiba bayangan itu menyergap segala ingat. Satu nama yang sebenarnya begitu melekat, tapi aku tak mau terlalu berharap.
Kata teman-teman santri, Gus Ali sosok yang baik dan hampir sempurna sebagai seorang laki-laki. Wajahnya yang manis dengan kulit kuning langsat. Senyumnya begitu menggoda. Perawakannya tinggi, tapi banyak yang tidak tahu tentangnya kecuali aku.
Tidak, aku tidak akan membuka aibnya kepada siapapun. Aku adalah sahabat yang baik. Jadi aku tidak boleh mengumbar aibnya. Haha, sejenak aku teringat kata umi. Bahwa kalau menjadi seorang istri harus pandai menutupi kekurangan suaminya. Tapi juga bukan berarti harus mengumbar kebaikannya.
"Kalau kita menceritakan kebaikan atau keburukan seseorang begitu detail hingga yang mendengar bagai melihat sendiri aib atau kelebihan itu, maka akan ada syetan yang menyusup di sana. Dan dari sanalah awal cerita orang ketiga dalam hubungan," jelas umi waktu itu.
Aku hanya diam. Dan sekarang baru aku temukan maksudnya. Meski aku belum menikah. Ah tidak, aku tidak ingin cepat cepat menikah. Masih ingin menuntut ilmu. Kalau bisa hingga ke luar negeri seperti Abah dan umi.
"Kok ngelamun?" Suara umi mendekat, membuatku terkejut hingga gawai di tanganku terjatuh.
"Eh, umi?"
Aku baru mau mengambil benda pipih itu saat tangan umi lebih dulu meraihnya. Umi melihat layarnya. Dan dadaku berdegup sangat kencang.
"Ini, ... Gus Ali?"
Mata umi membelalak. Aku menunduk malu dan bingung mencari alasan.
"Tidak, Mi. Tadi tidak sengaja lihat profilnya secara acak," tukasku.
Aku menggigit bibir, semoga saja tidak ada kecurigaan dalam hati umi. Mata umi masih menatapku. Ia sangat heran dan shock.
"Afwan, umi. Handphone ana mau digunakan untuk tanya sama ustazah."
Aku berusaha mencari alasan agar handphone itu segera kembali padaku. Umi tak melepaskan pandangannya dariku. Terlihat sangat memikirkan hal ini. Semoga saja beliau tidak mengatakan pada Abah tentang ini. Kalau tidak, aku akan mendapat masalah besar. Abah bukan orang yang gampang marah. Tapi jika mengetahui anaknya bertindak di luar syariat, ia pasti akan marah.
Dan ta'zir Abah bukan main-main. Aku pernah dihukum berendam di air karena lupa mengerjakan tugas sekolah. Aku ingat betul bagaimana Abah terlihat kecewa harus menghukum anaknya.
"Mi, tolong jangan dipikirkan. Fatim hanya tidak sengaja kepencet profil Gus Ali."
Aku meraih punggung tangan umi. Berusaha meyakinkan beliau. Meski aku tak yakin itu berhasil. Seorang umi akan sangat mengenali anaknya entah anaknya sedang berbohong atau mengatakan yang sebenarnya.
"Fokus sekolah! Ojo pacaran!"
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut umi. Bukannya senang, aku malah risau. Seorang ibu akan banyak berbicara jika anaknya melakukan hal yang salah. Jika umi hanya mengatakan empat kata, itu berarti beliau tidak sedang baik-baik saja.
"Nggeh, mi. Fatim minta maaf." Aku menunduk.
Setelah umi berlalu dari hadapanku, mata ini kembali memerhatikan foto profil di aplikasi WhatsApp. Foto Gus Ali sedang bersidekap dengan tersenyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.
__ADS_1
"Meleleh hati adek, Bang."
Sedetik kemudian aku teringat pesan umi. "aku hanya kagum kepada njenengan. Lagi pula njenengan seorang Gus, yang hanya akan menikah dengan seorang Ning. Cintaku bagai pungguk merindukan bulan."
Baru saja aku menutup aplikasi perpesanan itu lalu melihat email dari ustazah Dila. Nah aku tidak berbohong kan pada umi? Aku memang akan menghubungi ustazah untuk pelajaran besok.
Sayangnya sebuah telepon membuat mataku melotot. Nama yang terpampang di layar membuat gemetar jiwa dan ragaku. Ada apa malam begini Gus Ali meneleponku?
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," sapanya di seberang.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Lho kok salamnya malah nggak dijawab?" tanya suara di seberang.
"Ma-maksud saya waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh." Aku tergagap. Benar-benar bingung berbicara dengan Gus di seberang.
"Ada apa Gus menelepon saya?"
"Nggak ada apa-apa, cuma mau memastikan kalau sahabatku ini baik-baik saja."
Aku terdiam. Kalau cuma memastikan aku baik-baik saja, mengapa tidak lewat pesan saja?
"Kok kadingaren telepon? Lewat pesan mawon," protesku. Tak sadar kalau nada suaraku lebih tinggi.
Aku memukul kepala sendiri. Dimana akhlakku? Sampai berani membentak seorang Gus. Duh Gusti semoga enggak kualat.
"Ngapunten, Gus. Saya cuma kaget aja nggak pernah ditelepon laki-laki."
"Masak? Ustaz Adi tidak pernah meneleponmu?"
"Ya pernah, Gus."
"Lalu apa masalahnya kalau saya telepon?"
"Tapi Gus kan beda, ...."
"Beda apanya?"
"Tidak, Gus."
"Lha tadi katanya beda?"
__ADS_1
"Sudahlah, Gus. Jangan begitu."
"Begitu gimana?"
"Ya begitu."
Tut. Daripada semakin tidak jelas, aku terpaksa lancang menutup teleponnya Gus Ali.
Setelahnya kuletakkan tangan di dada. Berbicara dengan Gus Ali mengancam kesehatan dadaku. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk. Dari siapa lagi kalau bukan Gus Ali.
Kadang aku berpikir kalau persahabatan antara aku dan Gus Ali yang terjalin hanya di chat WhatsApp itu wajar. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku memikirkan ulang semua itu? Merasa ada yang salah. Tapi aku juga tak mau menyudahi kedekatan ini.
||Kok nggak sopan main tutup telepon?||
||Ana tak mau mendapat masalah jika ketahuan teleponan sama Gus. ||
Aku menghela napas. Memang ada yang tidak beres pada diriku. Dan juga pada hatiku. Aku kembali memeriksa dadaku. Semoga jantungku tidak copot.
||Apa kamu akan menghindariku?||
||Gimana bisa? Besok kan pelajaran antum||
Aku tersenyum kecil. Mengingat esok akan bertemu dengan Gus Ali. Setiap hari Rabu aku selalu bersemangat karena akan bertemu dengan Gus Ali meski hanya di kelas. Jangan berpikir kalau kami sering bertemu. Karena hubungan antara laki-laki dan perempuan hanya bisa bertatap muka dalam saat-saat yang ada uzurnya. Selain itu sangat dilarang.
||Yowes, Ndang istirahat. Biar besok nggak telat. Apa mau dita'zir lagi?||
||Nggeh. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.||
Setelah itu aku berjalan masuk ke dalam rumah. Wajahku rasanya menghangat. Setiap kali saling berbalas pesan dengan Gus Ali, aku selalu merasa ada perasaan aneh.
"Dijodohkan? Ana tidak setuju!" pekik umi saat bersama Abah di ruang tamu.
Pertanyaan yang langsung muncul di kepalaku adalah siapa yang dijodohkan? Apa mungkin yang sedang mereka bahas itu aku? Apakah aku yang dijodohkan?
Bayangan pernikahan tiba-tiba melintas di depan mata. Tapi segera aku tepis. Aku tetap berkhusnuzon bahwa yang sedang dibicarakan umi dan abah adalah orang lain. Mungkin sanak famili atau tetangga.
"Assalamualaikum," ucapku sembari berjalan melewati Abah dan umi dan diam seribu bahasa. Bahkan tidak menjawab salamku.
"Bah, mi? Salam Fatim kok nggak dijawab?"
Abah dan umi terlihat saling pandang sebelum akhirnya keduanya serempak menjawab salamku.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Setelahnya, aku terus berjalan ke kamar. Membiarkan Abah dan umi dengan urusan mereka.