
Dika sampai di depan rumah, ia tidak terkejut sedikitpun ketika melihat mobil milik adik Abahnya itu. Dika hanya berpikir jika mungkin belum mendapat waktu yang tepat untuk bertukar pikiran dengan ayahnya mengenai apa yang sedang ia perjuangkan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh," jawab semua yang ada di sana. Rupanya mereka sedang asyik nostalgia dengan kenangan mereka dahulu.
"Ini dia, biangnya masalah datang juga," sindir umi Naf atas kedatangan anaknya.
"Jangan gitu, bapaknya juga suka buat onar," timpal Sofia sambil menyenggol pundak umi Naf.
"Nah, iya. Jadi harusnya anti sudah kebal dengan masalah. Ha ha ha." Abah Fahmi tertawa terbahak lalu menular pada yang lainnya.
"Dika masuk dulu ya, Paklek, Bulek." Dika mengundurkan diri dari tempat itu.
"Tunggu, Dik. Gimana Mega?" tanya umi Naf membuat Dika kembali mundur dan duduk di samping ibunya.
"Nggak gimana-gimana, Mi."
"Hem. Maksud umi, orang tuanya sudah tahu belum masalah ini?"
"Kayaknya belum sih, soalnya tadi waktu aku nganterin ke kostan dia ditelpon dan dimarahin gitu." Dika tidak merasa ditatap oleh semua mata ketika ia mengatakan mengantarkan Mega.
"Kalian cuma berdua di mobil?" tanya umi Sofia membuat Dika tersadar.
"Enggaklah, Bulek. Sama Fatimah sama Pak Ali, kok. Nggak mungkin Dika berani berduaan sama cewek."
"Hem. Masak?" ledek Sofia.
"Waktu itu antum berani berduaan sama Fatimah waktu mau nyulik dia?"
"Itu beda cerita, Bulek. Waktu itu, ...."
"Udahlah jangan dipojokin terus. Kasihan Dika. Dia udah tobat kok," bela Abah Fahmi membuat istrinya mencebik.
"Belain terus," cibir umi Naf.
"Udah, Mbak Naf, Mas Fahmi jangan berantem terus." Rahman yang lebih banyak diam akhirnya membuka suara.
Tentu saja karena wibawanya dan pembawaannya yang enak membuat umi Naf dan Abah Fahmi sungkan.
"Antum nanti kan gantiin Ali di kampus ya, Man? Tolong bantu keponakanmu itu untuk lulus ya, Man. Masak kuliah bertahun-tahun nggak lulus-lulus."
__ADS_1
"Wah ana nggak berani nepotisme, Mbak. Ha ha." Tawa Rahman membuat yang lainnya tersenyum.
"Jangan-jangan sengaja nggak lulus-lulus karena ada udang di balik bakwan itu," sindir umi Sofia membuat semua mata tertuju pada Dika.
"Bener, Dik? Jadi ada cem-ceman di kampus?" tanya umi Naf melotot kepada putra semata wayangnya yang kehilangan kata-kata untuk menjawab itu.
"Kalau diem aja berarti bener tuh," tambah umi Sofia membuat Dika semakin menunduk.
"Kalau sesama mahasiswa pasti Dika ngejar sampai lulus, tapi kalau nggak lulus-lulus berarti dosen nih yang disukain Dika." Rahman membuat semua yang berada di sana membenarkan perkataan itu.
Mereka yakin apa yang dikatakan Rahman benar karena Dika sendiri kini wajahnya memerah seperti udang rebus. Meski menunduk, Dika tidak bisa menutupi rasa malunya.
"Padahal menurutku Mega itu baik, lho." Umi Naf keceplosan mengatakan dirinya sudah terlanjur cocok sama Mega.
"Iya, Mbak Naf. Kalau nggak lulus-lulus kuliah, mana mau keluarga dosen punya mantu model begitu? Mending sama Mega aja yang wataknya persis Mbak Naf. Jadi bisa ngimbangin Dika yang trouble maker."
"Daripada gibahin Dika, mending istirahat deh Paklek dan Bulek, besok kan ke Ngantang. Jauh, terpelosok lagi." Dika ngambek dan segera berlalu dari tempat itu.
Ia menutup pintu kamarnya dengan sebal. Bisa-bisanya dia jadi bahan ghibah oleh keluarganya. Jangan-jangan nanti di Ngantang, di saat reuni keluarga besarnya, ia juga jadi bahan ghibah. Dika mengacak rambutnya frustasi. Terpikir untuk tidak mengikuti acara besok, tapi ia tidak mungkin membiarkan Mega menghadapi orang tuanya sendirian.
Bahkan Dika merasa perlu membawa pasukan untuk mengantar Mega ke rumahnya serta memastikan keamanannya.
"Ah, Bulek kan juga terlibat. Mending besok Bulek dan Paklek ikut ke rumah Mega."
Dika membalikkan badannya dan kembali mencoba tidur. Tapi matanya tidak segera mengantuk. Dika memainkan teleponnya agar bisa memancing kantuk.
Tapi yang ada matanya melebar saat nama Mega tertera di sana. Entah mengapa Dika ingin sekali menghubungi gadis itu. Setidaknya memastikan kalau Mega baik-baik saja.
Dengan ragu-ragu Dika menekan tombol panggil dan menunggu panggilan tersambung.
"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Ada apa Kak Dika?" suara Mega tidak seperti biasanya. Dika menduga wanita itu kembali menangis karena takut dengan hari esok.
"Kamu habis nangis?" tanya Dika merasa bodoh karena setelah kalimat itu keluar dari mulutnya. Sudah tahu serak itu habis nangis, dia pakai nanya.
Berbeda dengan Mega yang merasa tersanjung ketika Dika menanyakan keadaannya.
"I, iya, Kak."
Hening. Dika tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak pandai menghibur perempuan. Itulah mengapa kalaupun ia mendekati Tata, yang ia dapatkan hanya kemarahan Tata.
"Kamu yang tenang ya. Besok kita hadapin bareng-bareng. Aku bawa Bulek Sofia juga buat ngejelasin ke orang tua kamu." Dika terkesima dengan kemampuannya menemukan kata-kata yang bijak.
__ADS_1
"I, iya, Kak Dika. Terimakasih banyak kak Dika mau repot-repot bantuin Mega jelasin ke mama papa." Mega menahan napasnya. Rasa dadanya mau meledak karena bahagia.
"Yaudah, kamu istirahat gih. Besok perjalanan jauh ke Ngantang." Dika sebenarnya merasa aneh mengatakannya. Ia hanya berharap Mega tidak salah paham dan menyangka Dika memiliki perasaan lebih kepada Mega.
"Kakak sudah pernah ke Ngantang?" tanya Mega memberanikan diri. Ia tidak ingin Dika segera menutup telepon. Masih ingin berbincang dengan pria yang ia pikir menyeramkan itu. Ternyata Dika tidak seperti itu.
"Belum, sih. Aku juga baru tahu kemarin kalau aku dan Fatimah bersaudara."
"Iya, Kak. Ngantang tuh nggak pelosok. Meski di perbatasan antara kabupaten Malang dan Kediri," jelas Mega berusaha mencairkan suasana meski ia sendiri tidak yakin.
"Hem, tetep aja kan jauh dari perkotaan."
Dika dan Mega terdiam sesaat. Tidak menemukan kalimat untuk memancing salah satu berbicara lagi.
"Meg?"
"Kak Dik?"
Keduanya terdiam setelah serempak memanggil nama. Hening. Ada yang ingin ditanyakan Dika, tapi juga ada yang ingin ditanyakan Mega.
"Kamu dulu."
"Enggak, Kak Dika duluan aja kayaknya penting."
"Ladies first."
"Berarti besok ana Kakak jemput?" tanya Mega ragu-ragu. Ia takut dianggap kepedean karena hal yang ingin ia tegaskan ini.
"Yaiyalah, emang kamu mau terbang sendiri ke Ngantang?"
"Hehe, enggak kak. Jam berapa?"
"Jam tujuh kayaknya berangkat."
"Oke."
"Kak Dika sendiri ada yang mau disampaikan?" tanya Mega akhirnya penasaran dengan apa yang akan dikatakan Dika padanya.
"Jangan terlalu dekat sama ibuku ya Meg. Takutnya beliau berharap lebih sama kamu."
Deg. Mega terhenyak. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari bibir Dika. Hal ini seolah menegaskan kalau Dika tidak memiliki perasaan lebih kepada Mega. Dan Dika tidak ingin Mega mengharapkannya.
__ADS_1
"I, iya, Kak."