
Aku memeluk erat Afin ketika kami akan bersiap ke makam si sulung. Ya, bayi yang meninggal dunia sesaat setelah dilahirkan itu adalah si sulung. Kami sengaja tak mengajak Fatimah ke makam kakaknya.
Barangkali nanti ketika dia sudah sedikit lebih besar dan kami beri pemahaman sedikit demi sedikit. Sesampai di samping makam Aisyah, air mataku tak bisa kutahan. Jatuh begitu saja.
Tiba-tiba bayangan kematian begitu dekat. Jika nanti aku tiada, mungkinkah istri dan anakku masih mengingatku?
Aku jadi ingat Syams yang telah lebih dulu meninggalkan dunia yang fana ini. Syams, adikku yang begitu usil tapi juga penyayang.
Tanpa sadar aku menghela nafas berat. Laki-laki yang telah meminjam cintaku. Syams telah lebih dulu menikahi Afin, tapi takdir berkata lain. Lalu di saat terakhirnya, ia mengembalikan Afin padaku.
Air mataku kembali luruh. Setelah membacakan doa untuk putriku, aku mengajak Afin berziarah di makam Syams juga.
Di sana kami banyak terdiam. Entah apa yang ada di pikiran Afin, yang jelas aku masih termenung. Memikirkan maut yang lebih dekat dari nadi.
Sebagaimana banyak diketahui, malaikat maut mengunjungi setiap hari. Dengan harapan orang itu dalam keadaan beribadah dan ingat Allah saat dicabut ruhnya.
"Mas," panggil Afin melemah. Melihat wajahnya yang sedikit pucat, aku langsung terkesiap. Membantunya berdiri lalu kami segera berlalu.
Aku hampir lupa, Afin baru saja melahirkan. Ia masih dalam masa pemulihan, tapi aku mengajaknya berziarah.
Astaghfirullahalladzim, apa yang aku pikirkan? Aku merutuki kecerobohan ini. Segera mengajak Afin pulang dan menyuruhnya beristirahat.
"Maafkan Mas, tadi lupa kalau anti masa pemulihan. Harusnya anti tidak usah ikut," kataku penuh penyesalan.
Afin hanya menggeleng pelan. Aku ingin sekali memeluknya lagi. Tapi terdengarnya suara tangis Fatimah membuatku mundur agar Afin lebih mendahulukan menyusui Fatimah ketimbang aku.
Sekarang aku harus tahu diri. Cinta Afin telah terbagi. Antara suami dan buah hati. Barangkali ke depannya juga aku harus banyak mengalah dari Fatimah.
Hari berganti. Aku sangat menikmati peran baruku sebagai ayah siaga. Selalu berusaha memenuhi kebutuhan Afin selama masa pemulihan.
"Besok-besok kalau Fatimah besar, kita segera nikahkan ya." Tiba-tiba aku nyeletuk. Membuat tatapan Afin heran padaku.
Aku hanya bisa cengengesan. Bingung juga dengan kata-kata yang meluncur dari bibirku. Sudah tahu emosi Afin belum normal semenjak melahirkan, aku malah membuat gara-gara denganya. Aku menepuk jidat.
"Maksud Mas?" tanya Afin dengan pandangan menyeramkan.
Tuh kan. Macan betinanya ngamuk. Rutukku dalam hati.
__ADS_1
"Tidak, Fin. Jangan dipikirkan."
Aku berusaha agar Afin melupakan kalimatku tadi. Dengan pura-pura meraih popok kotor Fatimah dan membawanya ke kamar mandi untuk mencucinya.
Untunglah Afin tak lagi banyak bertanya. Lain kali aku harus menjaga lisanku lebih baik lagi. Setidaknya agar rumah tangga adem ayem tanpa ada banyak pertengkaran.
Selesai mencuci popok, aku segera menjemurnya. Sambil menyeka keringat karena panas matahari, aku bersyukur sampai pada titik ini. Menjadi ayah. Memiliki anak perempuan yang harus pandai menjaga diri.
Tanggung jawabku teramat besar. Anak perempuanku semoga menjadi jalan ke syurga. Semoga ia menjadi anak pembawa rezeki. Sebagaimana Siti Fatimah anak rosulullah.
Sembari melipat popok Fatimah, aku memperhatikan Afin menyusui Fatimah. Ada kagum yang terus mengembang di dadaku. Istriku itu telah menjadi seorang ibu. Dan Aku bersyukur memilikinya.
"Fin, Mas ambilkan makan ya untukmu."
Afin mengangguk pelan. Lalu aku beringsut mengambil makan untuknya. Melihat wajahnya yang kuyu, aku tahu Afin kurang tidur karena Fatimah yang sering terbangun di malam hari.
"Kalau nanti anti ngantuk, biar Mas saja yang bangun kalau Fatim menangis."
Aku berucap demikian sembari menyentuh pundaknya. Tidak kuduga, respon Afin tidak seperti yang aku inginkan.
Wajah cantiknya langsung berubah masam.
Aku menggaruk tengkuk. Malu dengan balasan Afin. Aku menunduk.
"Ya anti kurang keras kalau manggil Mas," kilahku.
"Sudah, Mas. Bahkan Afin pukul-pukul Mas Adi tetap nggak bangun."
"Maaf, Fin." Akhirnya hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Inginnya menunjukkan bahwa aku juga ayah siaga, sayangnya caraku salah. Benar-benar kurang akal.
"Lagian, Mas tuh kalau mau ngomong yang sesuai fakta dong."
Wajah Afin mulai berkobar. Persis seperti petasan yang dibakar. Afin terus mengomel. Dia tidak peduli bahkan jika aku tak mendengarnya. Ya biar saja dia meracau tidak jelas. Nanti kalau dia sudah normal, aku akan mendekatinya dan mengulangi permintaan maafku.
Walau baru saja aku menjadi seorang ayah, aku yakin waktu akan berjalan dengan cepat. Hari berganti hari. Minggu ke Minggu. Dan bulan terus berlalu.
__ADS_1
Fatimah menjadi bayi yang baik. Atau memang dia sebenarnya tidak ingin aku menjadi pengganggu untuk ibunya.
Aku jadi membayangkan jika nanti dia sudah dewasa. Dia sudah pasti menjadi pembela ibunya. Maknanya aku yang minoritas ini akan semakin tertindas.
"Mas tolong ambilkan popok," pinta Afin suatu waktu. Bayi Fatim sudah mulai merangkak. Membuat Afin kadang kualahan mengganti bajunya sendiri.
"Iya."
Aku cepat bangkit dan melakukan perintah Afin. Walau aku juga baru saja pulang dari Madrasah. Dua bulan lalu, aku dimintai tolong untuk mengajar di Madrasah.
Walau Abah Kyai begitu sungkan, tapi aku sangat bersyukur. Akhirnya aku memiliki tujuan untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki dari Yaman.
Madrasah tempatku mengajar sebenarnya masih berada di lingkungan rumah. Madrasah itu sebenarnya milik pondok pesantren besar di sini. Aku juga dulu sempat menimba ilmu di sini.
Saat itulah aku mengetahui Afin. Dan menyukainya. Jika ingat kejadian itu, aku jadi tersenyum sendiri. Membayangkan nanti jika Fatim mulai beranjak besar dan aku akan sangat protektif.
Jangan sampai ada Adi lain menggodanya. Membuyarkan konsentrasi belajarnya. Karena walau aku dulu masih kecil, setelah menggoda Afin aku tidak bisa melepaskan bayangan wajahnya di mataku.
"Astaghfirullah," pekik Afin.
Aku segera masuk ke ruang tengah, tempat Afin dan Fatim berada. Tadi aku hanya mengambilkan popok lalu kembali pergi.
"Astaghfirullah."
Melihat bayi Fatim menangis di pangkuan Afin, aku segera bertanya ada apa. Dan ternyata Fatim jatuh dari kursi. Astaghfirullahalladzim.
"Lain kali lebih hati-hati ya," pesanku sangat lemah lembut.
"Kenapa? Mas nyalahin Afin?"
Aku mundur dua langkah. Padahal maksud perkataanku begitu jelas. Aku tidak menyalahkan, hanya saja lain kali lebih hati-hati. Tapi rupanya menurut Afin tidak begitu. Wajah Afin yang merah padam segera berganti sendu saat air matanya jatuh satu per satu.
"Tidak, Fin. Mas tidak menyalahkan Afin."
"Bilang saja Mas, Afin tidak pandai menjaga anak. Hiks hiks." Afin mulai menangis.
"Astaghfirullahalladzim. Maafkan Mas ya sayang. Sini, Mas gantiin gendong Fatim. Anti istirahat dulu."
__ADS_1
Walau badan ini masih letih, aku segera meraih Fatim dan mengajaknya berjalan-jalan keliling rumah. Tak apa, ini juga hiburan untukku. Barangkali lain kali aku tidak langsung mengatakan nasehat yang tegas. Mungkin Afin begitu lelah menjaga Fatim seharian, jadi dia gampang tersulut emosi.