Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Karma Instant


__ADS_3

Dika, Fatimah, dan Mega sampai di kelas. Mereka terkejut melihat seisi kelas langsung melihat mereka sambil membicarakan mereka.


Dika bersikap tidak peduli, ia langsung masuk dan duduk di belakang. Sedangkan Fatimah dan Mega, mereka masih memperhatikan bagaimana teman-teman membicarakan mereka. Tatapan yang tertuju kepada mereka bagaikan menguliti mereka.


"Udah yuk masuk," ajak Fatimah kepada Mega.


Walau tatapan mata seisi kelas begitu membuat risih, tapi Fatimah, Mega, maupun Dika berusaha biasa saja menjalani hari ini. Mereka berusaha mengikuti pelajaran dengan baik.


Bahkan ketika jam usai, mereka segera keluar dari kelas karena tidak tahan ditatap dengan curiga.


"Ada apa sih mereka kok liatin kita terus?" gusar Mega.


Saat keduanya keluar dari kelas pun mereka selalu jadi bahan pembicaraan. Mega semakin risih. Ia sampai mengajak Fatimah pergi dari sana.


"Sebentar, anti mau kemana, Meg?" tanya Fatimah merasa tangannya sedikit sakit karena ditarik Mega.


"Pergi dari sini, kalau perlu pulang aja."


"Tapi, Meg. Ana harus nunggu Mas Ali."


"Ya sudah ana pulang duluan, ya." Mega putus asa dan was-was karena terus menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada.


"Oh iya, ana ada sesuatu buat anti." Fatimah segera mencari sesuatu di tasnya lalu memberikannya pada Mega.


Mega menerima undangan itu dengan raut wajah biasa. Ia tak merasa sakit hati ataupun kesal kepada Fatimah dan Gus Ali.


"Ana pasti datang, Tim." Mega tersenyum.


Membuat Fatimah juga lega karena melihat Mega menerima kenyataan kalau Fatimah sudah menikah dengan Gus Ali.


"Alhamdulillah."


"Yaudah, ana pulang duluan ya. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."

__ADS_1


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Setelah Mega enyah dari depannya, Fatimah berjalan pelan ke ruangan suaminya. Tapi ada hal yang mengganjal di hatinya. Setelah ia tidak bersama Mega, tidak ada mata yang terus memandanginya seperti tadi.


Fatimah sampai di ruangan Gus Ali. Ia disambut Gus Ali dengan senyuman manis. Gus Ali sendiri sedang fokus dengan laporannya. Ia sedang asyik membuka mesin pencarian tentang cendekiawan Muslim. Meski ia diskors, ia harus tetap belajar.


Fatimah tidak mau mengganggu suaminya yang sedang fokus. Ia duduk di samping Gus Ali sembari iseng membuka sosial media.


"Astaghfirullah halladzim," pekik Fatimah membuat Gus Ali ikut terkejut.


"Ada apa, Tim?" tanya Gus Ali mengalihkan pandangannya dari komputer.


"Ini Mas." Fatimah mendekatkan gawainya ke arah Gus Ali.


Ia memutar video yang kini ramai di timeline-nya. Sebuah video dengan narasi : Seorang Ibu melabrak laki-laki yang diduga menghamili putrinya.


Video itu diambil dari samping sepasang kekasih yang duduk berhadapan. Lalu seorang wanita paruh baya datang dan melabrak mereka. Terdengar saat si ibu ini berbicara 'kamu harus tanggung jawab telah menodainya'


Fatimah terlihat menahan napas. Ia langsung menghubungkan antara berita yang sedang viral dengan pandangan teman-teman sekelas, bahkan satu lingkungan kampus menatap Mega begitu penasaran.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Jadi Mega dan Dika sudah melakukan, ...." Gus Ali beranjak dari depan komputer. Ia ingin segera menemui Dika.


Tapi Fatimah segera mencekalnya. Ia tidak mau Gus Ali terburu-buru. Belum tentu apa yang ada di berita itu adalah fakta. Bisa saja hanya salah paham. Fatimah selalu berprasangka baik.


Fatimah menghubungi nomor Mega. Sayangnya Mega sedang berada di panggilan lainnya. Akhirnya Fatimah memilih mengirim pesan singkat kepada sahabatnya itu.


||Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Meg, apa anti sudah melihat berita yang sedang viral? Sebelumnya maaf kalau ana menyinggung. Tapi apa benar kalau yang ada dalam video itu anti dan Kak Dika?||


Send. Fatimah menunggu balasan. Tapi pesan itu tidak kunjung dibaca oleh Mega. Hal ini membuat Fatimah semakin khawatir kepada sahabatnya itu.


Ia jadi ingat pesan kedua orang tua Mega saat mereka berangkat bersama ke Surabaya. Mata Fatimah terasa memanas. Hingga akhirnya ia menangis tersedu. Melihat itu, Gus Ali menyimpan filenya lalu mematikan komputer.


Gus Ali mendekat dan membiarkan Fatimah bersandar di bahunya. Fatimah meluapkan kesedihannya atas apa yang terjadi kepada Mega. Ia merasa menjadi penyebab Mega bertindak sejauh ini. Seandainya Fatimah tetap berada dekat dengan Mega, sahabatnya itu pasti terawasi.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Mega menerima telepon dari Bu Nafisah, ibu dari Dika. Mereka membicarakan perihal video yang sedang viral.


Umi Nafisah setelah melihat video itu langsung menelpon Mega. Karena Dika bahkan belum pulang ke rumah. Umi Nafisah yang kecewa dan kalut harus berusaha menahan dirinya.


Kalau dilihat dari video itu, sepertinya Mega sedang hamil anak Dika. Jadi Umi Nafisah berusaha sabar agar tidak menyulut emosi Mega. Ia takut jika Mega stres dan akan berpengaruh terhadap janin yang dikandungnya.


"Nak Mega, kalau boleh tahu, sejauh mana hubungan anti dengan Dika?" tanya umi Nafisah tanpa memberitahu tentang video yang beredar.


Mega yang tidak tahu menahu soal video itu tetap santai saja. Ia berusaha menjawab pertanyaan ibunya Dika dengan sebaiknya.


"Hanya berteman, Tante."


"Seandainya Tante pengen menyelesaikan masalah ini baik-baik, apa anti siap menikah dengan Dika?"


Mega tersentak. Tak menyangka kalau ibunya Dika ternyata langsung memintanya menikah dengan putranya. Tentu saja Mega tidak curiga sama sekali. Ia menganggap umi Nafisah umi yang baik dan ingin yang terbaik untuk putranya.


"Afwan, Tante. Saya dan Kak Dika hanya berteman. Lagipula ia sudah mencintai wanita lain." Mega berusaha menjelaskan semampunya. Ia teringat cerita Dika alasan menculik Fatimah dahulu adalah karena ia tidak rela Bu Tata disakiti Gus Ali.


"Hah? Tapi bagaimana anti akan melanjutkan hidup dengan keadaan begini?" tanya Umi Nafisah, berusaha keras tidak menyinggung perasaan Mega.


"Tidak apa-apa Tante. Mega masih ingin fokus kuliah."


Umi Nafisah sedikit kesal. Ia tidak menyangka kalau Mega ternyata keras kepala juga. Atau mungkin ini pengaruh hormon kehamilannya sehingga Mega menyebalkan. Umi Nafisah memutar otaknya. Ia tidak ingin membiarkan Mega memilih sendiri dan Dika lari dari tanggungjawabnya.


"Kalau begitu, besok bisakah anti ke rumah, Meg? Tante mau bicarakan tentang hubungan kalian."


Mega terus mengerutkan kening. Merasa tidak nyambung dengan setiap kalimat ibu dari Dika itu. Tapi sebagai gadis yang baik, Mega berusaha tetap santun.


"Oh, maaf Tante. Sepertinya Tante tidak perlu repot-repot dengan hubungan Mega dan Kak Dika. Kami hanya berteman."


Di sisi lain Mega terasa tersanjung saat Umi Nafisah meminta pendapatnya tentang menikah dengan Dika. Tapi Mega juga sadar diri jikalau Kak Dika memiliki kriteria perempuan yang jauh di atasnya. Bagaimana bisa Mega bersaing dengan Bu Tata? Dosen yang cantik, baik, dan keluarga orang terpandang.

__ADS_1


__ADS_2