Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Jika Allah Menghendaki


__ADS_3

Matahari menebarkan hangatnya ke seluruh penjuru langit.


Aku dan Mas Adi baru saja sampai di halaman kantor sekretariat Al-Amin. Mas Adi lebih dulu turun dan memasuki ruangan bercat hijau dan putih itu.


Tak lupa laki-laki itu membawa dokumen-dokumen untuk mendaftarkanku. Aku mengembuskan napas kasar. Tidak! Aku tidak akan menyalahkan siapapun.


Justru aku bersyukur pada Allah masih memberiku waktu dan kesempatan untuk kembali berjuang untuk umat.


Ya, walau sekarang aku harus kembali belajar dari nol. Setidaknya hapalanku mengenai Kitab Tarqib masih terjaga.


Aku melirik ke arah pintu kantor. Mas Adi belum terlihat keluar dari ruangan itu. Aku kembali duduk di kursi yang disediakan di luar ruangan.


"Naam, abu." Terdengar seseorang sedang berdiskusi.


Aku menoleh lagi. Menemukan Mas Adi sudah berjalan menuju ambang pintu. Laki-laki dengan kemeja dan celana rapi itu telah sampai di sampingku.


Dia masih serius dengan kelengkapan persyaratan pendaftaranku. Beberapa menit kemudian, aku menerima formulir yang harus kuisi dari tangan Mas Adi. Segera saja aku meraih bolpoin dan mulai mengisi identitas diri.


Aku menggembungkan pipi sebentar saat memikirkan apa yang akan aku isikan.


"Mas, aku ke sana, ya? Nggak ada meja sulit untuk nulis," pintaku ke Mas Adi.


Laki-laki itu mengangguk lalu aku berjalan menuju tempat yang aku maksud tadi. Sebuah kursi yang berada di tengah hamparan taman bunga.


Di sana ada meja yang bisa aku gunakan untuk alas menulis. Aku sibuk mengisi satu persatu pertanyaan.


Mataku kuedarkan sebentar sambil berpikir. Terlihat dari jarakku kira-kira 15 meter dari tempat Mas Adi.


Seorang gadis menemui Mas Adi. Gadis berkhimar oranye itu menghadap Mas Adi. Sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Apa dia wanita yang kata Mas Adi itu? Wanita yang telah dipilih Mas Adi tapi terpaksa ia lepaskan karena harus menikahiku?


Aku terkejut saat menyadari punggung perempuan itu bergetar, apakah perempuan itu menangis? Karena penasaran aku menghampiri mereka.


Entah mengapa jantungku berdetak tidak karuan. Ada letupan amarah yang tidak aku mengerti.

__ADS_1


Seperti tidak suka saat ada perempuan berada di dekar Mas Adi. Apa ini, ..., cemburu? Aku menggeleng kuat.


Mana mungkin aku bisa cemburu? Bukankah cemburu tanda cinta? Jika aku cemburu, berarti aku mencintai Mas Adi? Pikiranku berputar-putar.


"Assalamualaikum," salamku menegur keduanya yang kira-kira berjarak dua meter. Mas Adi dan perempuan itu berbalik sambil menjawab salamku. Dadaku tersentak saat menyadari siapa perempuan yanng kini berurai air mata di depan suamiku. Dia adalah, ustazah Sofia?


"Ustazah Sofia?" Panggilku. Melihat raut wajahnya yang terkejut, hatiku berkecamuk rasa bersalah. Jadi ustazah Sofia orangnya? Ya Allah.


"Jadi kalian saling mengenal?" Mas Adi yang terlihat pasi bertanya seolah tidak percaya. Sedangkan ustazah Sofia masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang tadi sudah kulihat bekas air mata ada di sana.


"Jadi, dialah istriku." Mas Adi kembali bersuara, karena aku dan ustazah Sofia sama-sama membisu. Entah apa yang dipikirkan ustazah Sofia, tapi yang jelas aku menyesal menerima pernikahan ini. Karena pernikahan ini, ustazah Sofia kehilangan kebahagiaannya. Setidaknya, rasa bersalah itu terus menghiasi hatiku saat ini.


"Selamat ya, Fin." Setelah lama membisu, ustazah Sofia mengulurkan tangannya. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan, ustazah Sofia mengucapkan doa agar rumah tanggaku bahagia dunia akhirat.


Ustazah Sofia juga menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang mungkin menyakitinya. Betapa tidak? Memeluk istri dari calon suamimu. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya itu.


"Baiklah, aku masih banyak pekerjaan. Aku duluan ya, Fin." Ustazah Sofia terlihat mencari-cari alasan agar bisa cepat pergi dari sini.


Setelah kepergian ustazah Sofia, aku dan Mas Adi masih setia terdiam dan mematung. Aku larut dalam penyesalanku sendiri. Kalau saja aku tahu di hati Mas Adi sudah ada wanita lain, aku pasti berusaha menolak keras pernikahan itu.


"Apa formulirnya sudah selesai?" Tanya Mas Adi setelah sekian lama kami mematung. Aku menggeleng. Mas Adi berdecak sebal.


"Baiklah, ayo kita selesaikan agar bisa segera pulang. Aku butuh istirahat." Ungkapnya, membuatku mengerutkan kening. Aneh. Mas Adi terlihat kusut setelah bertemu dengan ustazah Sofia.


Memangnya apa yang mereka bicarakan tadi? Aku menyusul langkah Mas Adi menuju tempatku meninggalkan formulir tadi. Setelah itu aku segera menyelesaikannya lalu mengikuti langkah Mas Adi menuju mobil. Mas Adi benar melakukan seperti yang dikatakannya tadi?


Aku duduk di samping Mas Adi yang mengemudikan mobil. Di sepanjang perjalanan, aku memilih diam dan Mas Adi pun sepertinya juga begitu. Beberapa kali aku melirik kea rah suamiku. Namun beberapa kali pula terlihat muka datar yang sangat membuatku tidak nyaman itu.


"Mas," panggilku. 10 menit lalu, kami telah sampai di depan rumah. Tapi Mas Adi tidak segera turun dari mobil. Melainkan terdiam di depan kemudi.


"Iya?" Jawabnya terdengar datar. Lagi-lagi, rasa marah memenuhi kepala. Tanpa berkata apa-apa, aku memilih membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


Mungkin, Mas Adi memang sangat mencintai ustazah Sofia. Mungkin, harusnya aku tidak merebutnya. Atau sekarang aku harus mengembalikannya kepada pemilik hatinya?

__ADS_1


Aku terus bergerak masuk ke dalam kamar dan membuka lemari. Kuambil koper dan kumasukkan pakaian-pakaianku. Mungkin akan lebih baik jika aku pulang ke Indonesia agar Mas Adi bisa kembali kepada ustazah Sofia.


"Apa yang kau lakukan, dik?" Suara geram itu terdengar sebelum tangan kekar Mas Adi memelukku dari belakang. Aku menepis tangan itu. Tak terasa, air mata yang dari tadi aku tahan meluruh dan membasahi pipi.


"Untuk apa aku di sini? Toh Mas Adi tidak mencintaiku, Mas Adi masih sangat mencintai ustazah Sofia bukan?" Jawabku berapi-api.


Gejolak di dadaku sudah tidak tertahan. Lebih baik aku ungkapkan saja apa yang ada di kepala dan hatiku.


Mas Adi kembali menyelipkan tangannya di pinggangku untuk memeluk. Lagi-lagi aku menepis tangan itu. Aku tidak lemah! Aku lebih baik mengalah dan mengembalikan Mas Adi pada pemilik hatinya.


"Mas mencintaimu, dik." Aku melotot tidak percaya. Kubalikkan tubuh ke arah Mas Adi. Kini, kami saling berhadapan.


"Jangan munafik, Mas. Aku tahu Mas Adi masih mencintai ustazah Sofia. Dan yang terbaik adalah Mas Adi menceraikan aku agar bisa menikahi ustazah Sofia. Dia juga berhak bahagia." Jawabku lagi.


Kutatap mata yang sedang disembunyikan Mas Adi dengan menunduk itu. Laki-laki ini masih diam tidak berkomentar apapun. Membuat dadaku semakin sesak. Tiba-tiba Mas Adi maju dan memelukku erat.


"Aku mencintamu, dik." Bisiknya.


Tapi kata-kata itu malah mengundang nyeri yang luar biasa di hatiku. Aku melepaskan pelukannya lalu mendorongnya ke ranjang. Pikiranku terasa gelap. Aku seperti tidak bisa menahan ataupun mengendalikan diriku sendiri. Kutindih Mas Adi, kulepaskan jilbab yang aku kenakan.


"Ayo kita lakukan ini, Mas. Jika memang kau mencintaiku." Tantangku, sambil melepaskan kancing baju yang aku kenakan. Tapi Mas Adi malah memalingkan muka sambil tangannya menahan tanganku yang berusaha membuka kancing bajunya. Laki-laki itu lalu menatapku sangat lekat.


"Aku tidak ingin melakukannya sekarang, dik." Ucapnya singkat.


"Kenapa?"


"Karena Mas Adi tidak mencintaiku. Kan?" Desakku lagi.


"Bukan." Mas Adi berusaha bangkit dan duduk di atas ranjang, dipaksanya tubuhku untuk minggir dan duduk di sampingnya.


"Aku mencintaimu, dik. Aku hanya tidak ingin melakukannya karena kau sedang emosi. Itu adalah ibadah,"


Mataku meredup. Astagfirullahaladzim. Aku beristigfar berkali-kali. Ada apa denganku? Mengapa aku bisa seemosi ini?

__ADS_1


__ADS_2