
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
"Insyaallah ya." Akhirnya hanya kalimat itu pemungkas pembicaraan antara Mega dan Fatimah tentang pernikahan.
Fatimah buru-buru mengakhiri panggilannya dengan dalih ada telepon lain yang masuk. Fatimah mengembuskan napas kasar.
Ia langsung teringat kata-kata Gus Ali tentang kebohongan yang harus ditutupi dengan kebohongan lainnya. Ia jadi merasa khawatir. Benar saja sejak kecil orang tuanya selalu memintanya berlaku jujur. Ternyata berbohong memang tidak enak.
Fatimah kembali menyibukkan diri hingga malam tiba agar tidak memikirkan masalah Mega. Ia berkali-kali harus meyakinkan diri agar menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan kebenarannya pada Mega.
Mata Fatimah beralih ke laptopnya yang mati. Bahkan ia belum sempat menyimpan file tugas dari Gus Ali. Fatimah berdecak frustasi.
Di saat yang sama, terdengar ketukan pintu di kamarnya. Fatimah melirik pintu yang masih tertutup itu. Ia tak mengira kalau akhirnya Gus Ali tidak tahan untuk berpisah dengannya. Hatinya merasa menang, tapi tetap saja ada kejengkelan di sisi lain.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Fatimah?" panggil Gus Ali.
Fatimah berusaha menutup telinganya. Pura-pura tidak dengar. Tapi ketukan pintu itu semakin keras. Gus Ali memang sengaja mengganggunya.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh." Fatimah menyerah dan membuka pintu. Ia bersidekap dan membuang muka dari suaminya.
"Ada apa?" tanya Fatimah jengah.
"Anti lupa ya kalau saya suami anti?" Wajah Gus Ali terlihat santai.
"Tolong cepat katakan, Mas." Fatimah masih berusaha sabar. Kalau ia tidak sabar, sudah pasti ia akan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Buatkan saya makanan." Gus Ali pura-pura biasa saja.
Kening Fatimah mengerut. Ia masih ingat betul kalau ia sudah menyiapkan makanan di meja makan.
"Sudah ada di meja, Mas. Ada yang lain?" Fatimah menjawab dengan nada datar. Tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Saya tidak suka makanan itu." Gus Ali menatap istrinya yang masih berusaha menghindarinya.
"Kalau begitu minta saja pada Bu Tata, barangkali dia lebih tahu makanan kesukaan Mas." Fatimah sudah malas menanggapi Gus Ali. Ia bergerak maju dan akan menutup pintu kamar.
"Jadi penyebab anti marah itu karena Tata?" tanya Gus Ali dengan tangannya menghalangi pintu yang akan tertutup.
"Bagus deh kalau sudah tahu." Fatimah menjawab dengan nada judes. Ia sudah kehilangan mood. Sudah tugasnya hilang, suaminya berbohong, belum lagi bagaimana ia menghadapi Mega.
"Tunggu dulu, saya bisa jelasin." Gus Ali bergerak maju. Menerobos pintu dan masuk ke kamar yang dipakai sebagai tempat pelarian Fatimah saat marah.
Di situasi seperti itu, Gus Ali pun kepikiran untuk memasang kamera cctv di kamar ini. Setidaknya jika terjadi perang dingin lagi, ia tidak perlu banyak bertanya apa salahnya. Meski kesalahan itu sebenarnya tidak ia ketahui.
Daripada berkata kasar atau buruk di depan suaminya, Fatimah memilih diam. Gus Ali terus melangkah. Sampai ia terkurung di tembok dengan batas kedua tangan kekar suaminya. Fatimah menunduk.
Dadanya bergemuruh meski ia sedang marah, sesungguhnya ia masih begitu menyayangi laki-laki yang ada di depannya kini.
"Anti cemburu? Berarti anti cinta banget ya sama saya?" goda Gus Ali membuat pipi Fatimah memerah. Untung saja ia masih menunduk, jadi Gus Ali tidak melihatnya.
"Ti-tidak, Mas. Jangan kegeeran deh." Fatimah menatap lantai, masih tak berani memandang suaminya. Jujur saja wajah tampan Gus Ali masih sangat mengguncangkan dadanya.
"Anti tidak bisa berbohong lagi, Tim." Gus Ali mengangkat wajah Fatimah. Ia menatap lurus ke dalam mata istrinya.
Rupanya, Fatimah hanya menggertak. Ia tak benar-benar marah. Gus Ali bisa melihat kasih sayang istrinya itu yang demikian besar. Hingga mampu membuat Gus Ali merasa terbang. Mungkin kecemburuan Fatimah adalah cara Fatimah menutupi rasa cintanya yang begitu besar.
"Ketahuilah, Tim. Kecemburuan seorang laki-laki adalah tanda imannya. Kecemburuan laki-laki bertujuan melindungi harga diri dan kehormatan istrinya." Gus Ali kembali mendekatkan wajahnya ke arah Fatimah.
Fatimah bergeming. Ia hanya bingung untuk bersikap. Ia hanya bisa meremas kedua tangannya. Berharap Gus Ali segera enyah dari sini. Ia butuh waktu untuk menyendiri. Rupanya menjadi dua peran sekaligus sangat menyita tenaga dan pikirannya.
Sebagai istri, Fatimah harus melayani suaminya. Setelah menikah, seorang wanita hanya akan menuruti perintah sang imam selama itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sedangkan sebagai mahasiswi, Fatimah harus mengerjakan tugas yang tidak sedikit.
Melihat respon Fatimah yang kaku, ketegangan di wajah Gus Ali mengendur. Bagaimanapun juga ia seorang imam yang harus mendidik istrinya dan bertanggung jawab atas sikap istrinya. Apa yang dilakukan istrinya adalah cerminan didikan seorang suami.
"Tapi, kecemburuan wanita biasanya akan membawa pada kecelakaan, Tim. Mereka hanya terbawa nafsu dan menjadi kufur."
Gus Ali bisa melihat jelas bola mata Fatimah yang melebar saat ia menjelaskan tentang kecemburuan. Dalam hati, Gus Ali berharap Fatimah bisa mengerti apa yang baru saja ia katakan.
'Astaghfirullahal adzim.' Fatimah berbisik dalam hati. Menyadari kalau dirinya sedang terbakar dalam rayuan syetan. Fatimah bahkan tidak menanyakan kebenaran kepada Gus Ali. Ia tidak memberi kesempatan kepada suaminya. Barangkali semua ini memang salah paham.
"Ya sudah, saya harus kembali ke kampus. Ada jadwal kuliah malam, dan saya menginap di sana." Gus Ali mendekatkan tangannya ke wajah Fatimah.
Meski tanpa kata, Fatimah tetap mencium tangan suaminya takdzim. Walau dadanya bagai terhantam beton. Mendengar Gus Ali akan menginap di kampus, Fatimah merasa bersalah. Sudah pasti Gus Ali banyak pikiran karenanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
__ADS_1
Fatimah menjawab salam itu. Ia masih mematung sambil melihat punggung Gus Ali yang hilang di balik pintu. Memikirkan perkataan Gus Ali membuatnya terketuk.
Fatimah ingin menyusul, tapi kakinya bagai tertanam di lantai. Fatimah baru mengembuskan napas kasar saat suara motor memecah keheningan malam. Motor Gus Ali yang berangkat untuk bekerja.
Tubuh Fatimah terasa lemah. Ia jatuh terduduk. Menyesal telah melukai hati suaminya dengan praduga yang tidak benar. Apa mungkin seorang Gus Ali yang bahkan tidak ingin membuatnya bersedih tega mengkhianatinya?
***
Pagi berganti, semalaman Fatimah tidak bisa tidur sama sekali. Ia terus memikirkan keadaan Gus Ali di kampus. Bahkan Fatimah tidak hentinya melihat layar handphonenya. Sejak semalam ia berkali-kali ingin mengirim pesan kepada suaminya, ingin meminta maaf. Tapi tak pernah sampai ia kirim. Hanya ia hapus lagi.
Seperti pagi ini Fatimah sudah memasak untuk suaminya. Meja makan yang biasanya hangat, kini terasa membeku. Tanpa kehadiran Gus Ali di hidupnya, Fatimah merasa ada yang kurang.
Dengan ragu ia mengambil benda pipih di kantong bajunya. Ia menatap nomor Gus Ali. Ingin sekali menelepon suaminya, tapi bingung apa yang akan ia katakan.
Akhirnya, Fatimah memutuskan untuk memanggil nomor Gus Ali. Biarlah ia yang meminta maaf duluan. Toh dia yang salah. Pikirnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Apa ada, Tim?" tanya di seberang. Gus Ali yang duduk di kursi ruangannya menahan senyum. Ia terharu akhirnya istrinya menelpon. Pertanda kalau istrinya sudah tidak ngambek lagi padanya.
"Mas sudah sarapan?" tanya Fatimah bergetar.
"Belum, Tim."
"Kalau begitu saya ke kampus ya, ini saya sudah masak." Fatimah terlihat sangat khawatir.
"Tidak usah, ...."
"Kenapa, Mas? Apa sudah ada masakan wanita lain di hadapan Mas?" Air mata Fatimah tidak terbendung lagi.
"Jangan nangis, Tim. Saya belum selesai bicara. Tidak usah karena sekarang Mas bisa pulang."
Air mata Fatimah kembali menyusut. Wajahnya sedikit panas karena menahan malu. Ia sangat pencemburu.
"Ba, baik, Mas. Saya tunggu di rumah."
"Oh iya, anti siap-siap juga ya. Nanti setelah sarapan kita fitting baju untuk resepsi."
Mata Fatimah langsung melebar. Resepsi? Bukankah resepsinya di Ngantang? Atau mereka akan kembali ke Ngantang hari ini? Fatimah bergulat dengan pemikirannya sendiri.
"Pulang ke Ngantang, Mas?"
Fatimah semakin melongo. Ia semakin merasa malu karena memikirkan yang tidak-tidak pada suaminya. Sedangkan suaminya begitu fokus untuk urusan mereka berdua.
"Mas, saya minta maaf." Fatimah menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak di dadanya.
"Iya, saya tahu. Lain kali jangan diulangi ya."
"Iya, Mas. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
"Waalaikumsayang."
"Apa, Mas?"
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."
Telepon terputus. Fatimah masih menatap layar ponselnya. Kejadian ini adalah pelajaran berharga untuknya. Ia harus sangat hati hati dengan hatinya. Kenapa banyak perempuan yang terjerumus ke dalam neraka? Itu adalah karena mereka menuruti nafsunya.
Pukul delapan pagi, suara pintu diketuk. Fatimah bergegas membukakan pintu. Ia sedikit kikuk di hadapan Gus Ali. Jadi ia hanya diam saja di hadapan suaminya itu.
Setelah membersihkan diri, Fatimah dan Gus Ali duduk di meja makan. Keduanya menikmati sarapan dengan kebisuan. Baru setelah makanan di piring keduanya habis, Gus Ali membuka percakapan.
"Masakan anti enak, Tim."
"Terimakasih."
"Kalau begitu ada apa dengan masakan anti kemarin? Mengapa rasanya tidak seperti ini?"
"Karena ketumpahan garam, Mas. Saya tidak sengaja menyenggol tempat garam." Fatimah masih menunduk.
"Makanya Mas heran, setahu Mas saat Mas melihat bekal Abah waktu di madrasah, makanannya selalu enak. Saya sampai berpikir kalau selama Abah berbohong. Ha ha ha."
Fatimah tersenyum. Ia bahkan tidak tahu kalau Gus Ali begitu dekat dengan Abahnya sejak mereka mengajar di madrasah dulu. Yang artinya Abah sudah mengetahui kalau Gus Ali calon suami Fatimah.
"Ngomong-ngomong kemarin saya bertemu Bu Tata yang nangis setelah keluar dari ruangan, Mas." Fatimah berkata hati hati. Ia ingin mengurai benang kecurigaan yang nyangkut di hati dan pikirannya.
"Oh, kemarin saya terpaksa ngusir Tata dengan sedikit tegas. Kan saya sudah punya istri, jadi harus jaga jarak darinya. Mungkin Tata baper," jelas Gus Ali memasang senyum di wajahnya.
Sedikit lega karena Fatimah akhirnya mau mengatakan apapun tentang permasalahan mereka berdua. Semoga setelah ini Fatimah lebih mempercayainya.
__ADS_1
"Ehem, selama ini Mas nggak pernah berduaan dengan lawan jenis di dalam ruangan Mas. Bahkan untuk bimbingan saja Mas memilih di perpustakaan," lanjut Gus Ali mengatakan yang sebenarnya.
Terang saja Fatimah terkejut. Ia teringat bagaimana wajah Tata saat Fatimah berkata Gus Ali memanggilnya.
"Oh, pantas saja Bu Tata terlihat kaget saat saya bilang mau ke ruangan Mas."
"Ya, begitulah, Tim. Sama satu lagi, Mas mau pesan padamu." Gus Ali terlihat sangat serius.
Wajah Fatimah menegang sesaat. Mencoba menerka apa yang akan dipesankan suami padanya.
"Al Hubbul haqiqi yakunu baina thorfaini wa yushohibuhus shidqu wal amanah. Wa maa ada dzalika fa yakuna khoyal. Cinta sejati selalu melibatkan dua hati dengan disertai kejujuran dan amanah. Jika tidak, maka cinta hanyalah hayalan belaka."
"Jadi Mas mohon, jujurlah dengan suami anti. Juga tolong percayalah pada Mas."
"I, iya, Mas."
Keduanya tersenyum. Ada rasa lega setelah mengatakan semuanya. Sebuah masalah memang terasa sepele setelah diketahui penyebab dan diselesaikan sedari akarnya.
"Ayo berangkat," ajak Gus Ali setelah Fatimah membereskan meja makan.
Saat di depan rumah, Fatimah mencari-cari mobil yang digunakan Gus Ali. Sayangnya tidak ada, hanya ada sebuah motor.
"Kemana mobil, Mas?" tanya Fatimah tidak bisa menahan diri. Jujur saja ia masih ragu-ragu keluar bersama Gus Ali dengan memakai motor. Takut kalau bertemu Mega atau teman lainnya.
"Kemarin bukan mobil saya, tapi mobil Tata."
"Tuh, kan. Bu Tata lagi," gerutu Fatimah tanpa sadar.
"Masak cemburu lagi sih?"
"E, enggak kok. Jadi kita naik motor aja nih?" tanya Fatimah mencari kejelasan. Gus Ali hanya mengangguk pelan sembari mengambil helm.
"Nanti kalau ketemu Mega bagaimana, Mas?" tanya Fatimah lagi.
"Ya tidak apa-apa, malah syukur syukur ketemu Mega biar bisa langsung jelasin. Ingat, Tim. Apapun yang dimulai dengan kebohongan hanya akan menghasilkan penyesalan dan pertengkaran."
"Tapi saya belum siap ngomong sama Mega, Mas."
"Kalau anti tidak siap, biar Mas saja yang ngomong."
"Ya, ya, jangan Mas."
"Lho kenapa? Kan anti nggak berani?"
"Biar saya saja yang bilang sama Mega."
"Ya sudah terserah anti."
Gus Ali mengalah, keduanya lalu diam selama di perjalanan. Barulah sampai di salon yang ia tuju, Gus Ali menghentikan laju motornya dan memarkirkannya.
Gus Ali dan Fatimah bergerak masuk. Ia langsung disambut oleh pemilik salon. Melihat wanita paruh baya itu Fatimah terdiam beberapa saat. Wajahnya nampak tidak asing baginya.
"Silakan, Gus. Mau fitting ya?"
"Iya, Bu. Kalau tempat Ikhwan dimana ya?" tanya Gus Ali.
"Ah, iya, saya sampai lupa pesan Gus. Gus mau dilayani oleh pegawai laki-laki ya."
Bu Nur nama wanita paruh baya itu segera memanggil seseorang dari balik gorden. Fatimah masih menunduk. Ia menurut saja saat Bu Nur memintanya duduk.
"Haikal, ini Gus Ali mau fitting. Kamu bantu ya?" perintah Bu Nur pada laki-laki yang langsung berwajah cerah begitu melihat Gsu Ali.
Haikal masih fokus dengan Gus Ali saja, tidak memperhatikan wajah Fatimah yang terkejut melihatnya ada di sini.
"Bu Nur ini ibunya Haikal, Tim," ujar Gus Ali menyadari Fatimah terheran-heran.
"Oh, pantas saja wajahnya mirip."
"Mari Gus ikut saya." Haikal mengajak Gus Ali ke sisi lain salon.
Sedangkan Fatimah menurut saat diajak Bu Nur melihat baju pengantin berwarna oranye. Fatimah akhirnya dipinta mencoba baju itu.
Di saat yang sama, tak sengaja Mega sedang melewati jalan itu. Karena salah naik angkot, Mega terpaksa berjalan sambil menunggu angkot. Melihat perawakan wanita yang memakai pakaian pengantin di dalam salon sangat mirip dengan sahabatnya, Mega nekad masuk ke dalam salon.
"Lhoh, Tim. Kok sudah fitting baju?"
Fatimah terperanjat melihat Mega ada di hadapannya. Ia tidak bisa mengatakan apapun.
Di saat yang sama, Haikal sedang melewati ruangan itu karena ia harus mengambil meteran kain untuk memperkirakan panjang pengecilan baju pengantin milik Gus Ali yang kebesaran.
__ADS_1
"Eh, ini dia calon suaminya sahabatku. Jahat banget sih Tim nyembunyiin ini semua dariku." Mega memukul pelan bahu sahabatnya karena sebal.