Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Jawaban Tata 2


__ADS_3

Dika keluar dari restoran itu dengan menunduk. Tidak bisa ditahan, air matanya luruh. Baru kali ini ia merasa hatinya sangat sakit. Ia sapu air mata itu dengan punggung tangan.


Langitnya hari ini sangat mendung. Ia kira paginya cerah akan juga indah untuknya, ternyata takdir berkata lain.


Dika memutuskan pergi dari sana. Entah dimana ia akan merenungi nasipnya. Ia merasa perlu menjauh dulu dari keramaian. Setidaknya agar kekecewaan ini tidak membuatnya buta.


Ketika Dika duduk di taman dekat kampus, ia benar-benar berpikir dan merasakan dirinya. Ada hal yang terasa mengganjal. Seperti orang yang tidak memiliki pegangan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh." Seseorang datang, membuat Dika berdiri karena terkejut dengan kehadirannya.


"Wa waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh," jawab Dika lalu membiarkan lelaki itu duduk di sampingnya.


Dika masih terus diam. Belum ingin membagi kekecewaan yang ia derita. Ia ragu lelaki ini akan menghiburnya. Mengingat setiap pertemuan dengannya selalu membuat Dika diledek.


"Gus ngapain di sini?" tanya Dika dengan lirih. Ia ingin membuka percakapan. Agar tidak kaku dan hanya berdiam diri saja.


"Ana ngantar Fatimah kuliah." Gus Ali sekilas melihat bekas air mata di wajah Dika. Tapi Gus Ali ingin membiarkan lelaki di depannya itu menceritakan kesedihannya sendiri.


Gus Ali juga menyadari jika selama ini hubungannya dengan saudara istrinya itu tidak terlalu baik. Selalu ada keributan kecil. Padahal Gus Ali berharap caranya itu semakin membuat mereka dekat, meski nyatanya malah membuat mereka memiliki tembok penghalang.


"Nggak ngajar?" tanya Dika berusaha mencari topik.


"Belum, nggak tau kapan boleh ngajar. Kan masih di skors. Apalagi sudah ada Om Rahman. Mungkin harus bersiap mencari kerja lain." Jawaban Gus Ali seolah sambil mencurahkan isi hati.


Membuat Dika sempat terhenyak. Lalu menyadari jika posisi sulit Gus Ali juga disebabkan dirinya. Pikiran Dika mulai terbuka tentang bagaimana ia membuat masalah di kehidupan Gus Ali.


Dan kini hidupnya sendiri bermasalah akibat hal yang ia lakukan tanpa perhitungan.


"Maafkan saya, Gus, ...."


"Sudah jangan diungkit. Saya cuma ingin curhat saja." Gus Ali menepuk bahu Dika.


Efek dari tepukan itu, tentu saja Dika merasa Gus Ali sedang membuka dirinya untuk dekat dengannya. Pasti Gus Ali tidak sembarangan mengatakan masalahnya.


"Gus curhat sama saya?" tanya Dika. Malah terlihat menyebalkan.

__ADS_1


"Enggak, sama rumput-rumput yang bergoyang."


"Kayak lagu."


"Enggak, soal ujian."


"Gus kok nyebelin sih." Wajah Dika kembali seperti biasa saat mereka bertemu. Hal ini membuat Gus Ali tenang. Obrolan kecil seperti ini bisa membuat hati lebih ringan.


"Ha ha ha. Udah dari sananya saya nyebelin," balas Gus Ali membuat Dika mencebik.


"Ni orang nyebelin, tapi kok cepet laku? Lha aku udah baik maksimal, kok ya ditolak." Dika melirik Gus Ali.


Gus Ali tersenyum kecil. Secara tidak sadar Dika menceritakan masalahnya. Gus Ali akhirnya tahu jika hal yang membuat wajah Dika terlihat sangat sedih adalah masalah percintaan. Kemungkinan besar ia ditolak Tata lagi.


"Makanya belajar sama saya strategi untuk cari jodoh." Gus Ali terlihat bersemangat mengatakan hal itu.


"Nggak ah, kata Fatimah Gus Ali kan sudah ngincar Fatimah dari kecil. Masak iya aku ngincar anak kecil. Beda usia jauh dong." Dika mulai keluar sifatnya. Bawel dan omongannya pedas.


"Wkwkwk. Nggak harus ngelamar anak kecil lah, Dik."


"Gini deh, saya ceritain tentang kisah cinta Rabiah Al-Adawiyah dengan Kyai Hasan Basri."


"Apa hubungannya?" Dika menyela, membuat Gus Ali sedikit kesal karena Dika memotong pembicaraan sebelum ia selesai.


"Nanti antum bakal tahu kalau sudah dengerin. Makanya dengerin dulu." Gus Ali pura-pura marah kepada Dika.


"Iya, iya, Gus."


"Tapi antum harus mendengarkan dengan seksama. Kisah orang sufi juga harus diilhami dengan meninggalkan nafsu keduniawian."


"Iya, Gus. Cepetan lanjut ceritanya."


"Tunggu sebentar. Sepertinya akan adzan. Kita sholat dhuhur dulu."


Gus Ali beranjak dari tempatnya. Dika yang sejak tadi sudah kehilangan sabarnya, merasa dipermainkan oleh suami dari Fatimah itu.

__ADS_1


"Kalau nggak mau cerita ya udah, nggak usah sok mau cerita deh."


"Siapa yang nggak mau cerita? Tapi kan alangkah baiknya kalau kita melaksanakan sholat tepat waktu."


Dika mendengus. Mau tidak mau ia mengikuti langkah Gus Ali menuju mushola. Mereka segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah.


Setelah sholat, Dika masih penasaran dengan kisah ulama sufi perempuan yang masyhur itu. Ia menunggu Gus Ali menyelesaikan wiridnya. Lama sekali Dika menantinya.


Melihat lelaki itu sangat kushyuk dalam beribadah. Membuat hati Dika bergejolak. Meski ia juga hapal bacaan wirid setelah sholat, ia belum pernah merasa damai seperti Gus Ali saat ini.


Diam-diam hati Dika berontak. Ia merasa selama ini salah dalam beribadah. Bagaimana bisa ia tidak menikmati ibadah sebagaimana Gus Ali di depan matanya saat ini.


Perasaan itu terus menggunung. Membuat Dika semakin gelisah. Jika ia urai simpul kegelisahannya adalah hatinya sendiri.


Sejak keinginannya menjadikan Bu Tata sebagai istri, hari-hari Dika terasa tidak tenang. Seolah nafsu terus menguasai dirinya. Sehingga ia ingin terus memikirkan cara memiliki Bu Tata.


Hingga ia juga tidak pernah memikirkan hal lain. Dika baru menyadarinya. Dan air matanya kembali menetes.


Betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk mengejar Bu Tata? Berapa banyak pikirannya yang istighol (terpaku) pada satu titik. Hanya Bu Tata.


Yang pada akhirnya, Dika kehilangan ketentraman di hatinya. Dika mulai menangis tersedu-sedu. Ia merasa telah menzalimi dirinya sendiri dengan nafsu yang tiada ujung.


Apalagi Bu Tata menolaknya. Jika Dika sadar, pada titik ini harusnya ia membebaskan diri untuk berkarya lebih. Menginspirasi dirinya. Membenahi dirinya.


Tapi yang ia lakukan adalah menyesali. Terus mencari cara agar Bu Tata mau menerimanya. Di satu titik ini. Dika benar-benar sadar.


Hatinya yang semula dipenuhi Bu Tata. Kini mulai berkaca. Matanya yang dipenuhi dengan wajah Bu Tata. Kini terbuka dan menyadari ada banyak hal yang bisa ia lakukan.


Hanya karena cinta pada manusia, Dika telah menjauh dari cintaNya. Melihat keindahan Gus Ali saat bermesraan dengan RabbNya, membuat Dika sadar sesadar-sadarnya. Ia telah diperbudak nafsunya. Ia telah kalah dengan egonya.


Air mata Dika terus bercucuran. Ia tidak menangisi nasipnya karena ditolak Tata. Sebaliknya, ia menangisi dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan nafsu dan pikirannya kepada hal yang tidak berguna.


"Astaghfirullah robbal baroya, astagfirullah minal khotoya. Robbi zidni ilman nafi'a." Bibir Dika bergetar begitu terus melantunkan istigfar.


Hatinya rasa berdebam begitu terus membersihkan noda di dalam hatinya. Ternyata selama ini ia jauh dari Tuhan Yang Maha Cinta, hanya karena makhluk yang tidak mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2