Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Pernikahan Mendadak


__ADS_3

Hal yang pertama ditanyakan oleh Gus Ali setelah mendapatkan kesadarannya adalah memastikan apa yang membuatnya sangat shock.


"Beneran nikah hari ini, Bah?" tanya Gus Ali dengan raut wajah yang masih kaget.


Alih-alih menjawab, Pak Kyai hanya mengangguk sembari menyerahkan jas dan sarung pengantin.


Gus Ali menatap sekilas sarung dan jas yang diletakkan di atas dipan itu. Lalu ia kembali meraba dadanya. Hari ini ia akan menikahi Fatimah. Tapi siapkah ia menjalani tradisi yang menjadi dasar ketakutannya selama ini?


Gus Ali meraup wajahnya. Ia bingung. Hatinya ingin sekali menghubungi Fatimah. Setidaknya menanyakan bagaimana kabar calon istrinya itu. Sudah siapkah wanita itu menjadi bagian dari hidupnya?


Gus Ali ragu-ragu menyentuh jas hitam pengantin. Mengambilnya. Lalu meletakkannya ke tempat semula. Tapi detik berikutnya diambilnya lagi.


'Apa anti sudah siap, Tim? Kalau anti sudah siap, tolong beri ana pertanda.'


Gus Ali menengadahkan wajahnya. Meminta Allah mengirim petunjuk jika pernikahan malam ini akan benar terjadi.


Tiba-tiba hati Gus Ali berdetak kencang. Bahkan Gus Ali sudah mulai lupa dengan kerinduannya pada Fatimah yang menumpuk di sudut hati. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ah kata siapa? Gus Ali juga memikirkan Fatimah di sela-sela waktunya.


Gus Ali menatap foto profil whattsapp Fatimah. Gus Ali berkali-kali mencoba menghubungi nomor itu, tapi tidak ada jawaban. Gus Ali meletakkan kembali handphonenya. Lalu bergegas bersiap.


Bagaimanapun juga ia seorang laki-laki. Sekali maju tak boleh mundur. Entah bagaimana nanti dirinya dan Fatimah melewati tradisi itu. Yang jelas tekad sudah begitu bulat. Gus Ali tak boleh menyerah atau melangkah mundur.


***


...موجوع قلبي,, والتعب بيه...


...Mauju Qolbi wittangaaabbeyya...


...Hatiku tersakiti, dan aku lelah...


...من اباوع على روحي,, ينكسر قلبي عليه...


...Min abawe ealaa ruhi, yankasir qalbiun ealayh...


...Tak bisa ku lihat jiwaku, hatiku hancur...


...تعبان وجهي,, وعيوني قهرتني...


...Teban wajahi, waeuyuni qahratani...


...Sudah lelah hatiku,, dan air mataku mengalahkanku...


...دنيا شلت حال حالي,, وبحياتي كرهتني...


...Dunya shalat hal hali, wabihayati karhatani...


...Dunia melupakan keadaanku, dan membuatku benci kehidupanku...


...كرهت الحب,, ماريده دمرني...


...Karahat alhb, mariduh dimarni...


...Aku benci cinta, tak ingin mengulanginya lagi cinta yang menghancurkanku....


...طيب اني وادري طيبي,, لهالحال وصلني...


...Tyb ‘iiniy wadry tyby, lhalhal wasalani...


...Aku baik-baik saja, karena itu ku tahu keadaan menimpaku....


...موجوع قلبي,, والتعب بيه...


...Mawjue qolbi, waltueabu bih...


...Hatiku tersakiti, dan aku lelah....


...من اباوع على روحي,, ينكسر قلبي عليه...


...Min abawe ealaa ruhi,, yankasir qalbiun ealayh...


...Tak bisa ku lihat jiwaku, hatiku hancur....


...كل يوم صدمه اقوى من اللي قبلها...


...Kulu yawm sadamah ‘aqwaa min ally qibaliha...


...Setiap hari menimpa masalah yang lebih berat dari sebelumnya....


...اني واصل بالشدايد شده محد واصل الها...


...‘iiniy wasal bialshadayid shadah mahadun wasal ‘ilha...


...Aku telah merasakan berbagai kesengsaraan, kesengsaraan yang tiada seorang pernah merasakannya....


...محد وقفلي من كنت محتاج وقفه...


...Mahadun waqafali min kunt muhtaj waqfah...


...Tiada seorang pun yang mengerti padaku disaat aku membutuhkannya....


...الصلابه بهالناس, مدري هاي الدنيا صلبه...


...Alsilabuh bihalnas, madri hay aldunya salabah...


...Kekejaman manusiakah? aku tak tahu atau dunia yang kejam....


...دخيل الله,, من الدنيا من العالم...


...Dkhyl allah,, min aldunya min alealam...


...Ya Allah lindungilah aku dari (kejamnya) dunia dari alam semesta....


...ربي خلي هذا همي,, نهاية كل ظالم...


...Rabbi khali hdha hmy,, nihayat kl zalim...


...Tuhanku, damaikanlah keresahan ini (dengan) berakhirnya segala kedholiman....


...موجوع قلبي,, والتعب بيه...

__ADS_1


...Mawju qolbi, waltueabu bih...


...Sakit hatiku, dan aku sangat lelah....


...من اباوع على روحي,, ينكسر قلبي عليه...


...Min abawe ealaa ruhi, yankasir qalbiun ealayh...


...Tak dapat ku lihat jiwaku (hilang), aku kasihan pada diriku....


Fatimah mengusap air matanya yang jatuh di sudut mata. Dengan gemetar ia mematikan nada dering yang menyala. Mega menelpon. Tapi ia tak siap berbicara dengan siapapun.


Fatimah gugup, masih shock, dan belum bisa berpikir jernih. Bu Yanti yang baru saja sampai segera masuk ke dalam kamar Fatimah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Fatimah membukakan pintu kamar. Ia tak mungkin membiarkan tukang rias itu tetap berada di luar. Sedangkan kedua orang tuanya begitu sibuk menyiapkan ini itu.


"Lho, kok pengantinnya ngelamun?" tanya Bu Yanti memerhatikan Fatimah yang terus menunduk.


"E, enggak kok, Bu."


Fatimah duduk dengan tidak santai di kursi rias. Belum lagi Bu Yanti menyapukan riasan di wajahnya. Bu Yanti sedikit terkejut dengan pemandangan di depannya. Baru kali ini melihat pengantinnya tidak bahagia di momen pernikahannya. Bahkan meski itu dijodohkan, tak pernah Bu Yanti melihat tatapan mata yang begitu nanar penuh nestapa.


"Ada apa, Ning?" tanya Bu Yanti menyentuh pundak Fatimah.


Ia sangat terkejut hingga hampir melompat dari tempatnya. Bu Yanti merasakan ada ketidakikhlasan di mata Fatimah.


"Oh, dijodohkan ya, Ning?"


Fatimah ragu-ragu mengangguk. Sebenarnya Fatimah tidak menolak perjodohan ini. Hanya saja ada sesuatu di hatinya yang begitu mengganjal. Sesuatu yang ia sendiri tak tahu bagaimana membuat hatinya lega dan ikhlas menjalani hari ini.


"Belum cinta ya sama calonnya?" tanya Bu Yanti sembari menyiapkan fondasion untuk make-up sederhana malam ini.


Fatimah tidak menjawab. Ia merasa menjadi simalakama untuk menjawabnya. Pernikahan akan terjadi hari ini. Dan setelah itu Fatimah tak boleh memikirkan laki-laki lain selain suaminya.


"Masih cinta sama orang lain?" tanya Bu Yanti berusaha mengorek informasi. Acara mendandani tak akan menyenangkan jika pengantin begitu murung.


Sekali lagi Fatimah tidak menjawab. Ia merasa tak pantas menjawab. Meski hatinya begitu ingin menjawab 'iya'.


"Kalau gitu telpon saja pacarnya, minta izin untuk nikah sama orang lain," saran Bu Yanti membuat Fatimah mendongak.


Ada keinginan untuk menghubungi Gus Ali. Tapi Fatimah tak begitu punya nyali. Bagaimana jika Gus Ali sedang bahagia bersama Bu Tata? Bukankah Fatimah hanya akan mengganggu? Entah mengapa ada rasa sesak membayangkan Gus Ali begitu dekat dengan Bu Tata.


"Kalau nggak berani, ya Ning akan merasa bersalah seumur hidup."


Fatimah membulatkan matanya. Membenarkan perkataan Bu Yanti. Ia akan menyesal tak bisa mengatakan perasaannya pada Gus Ali, meski ia sendiri tak yakin kalau Gus Ali masih menganggapnya ada. Anak Pak Kyai itu bahkan tak pernah mencoba untuk menghubunginya.


Sebentar. Fatimah menginterupsi pemikirannya sendiri. Ia teringat jikalau ia telah mengganti nomor. Bagaimana bisa Gus Ali menghubungi jika Gus Ali tidak tahu dia ganti nomor?


Fatimah menunduk. Ia benar-benar merasa tidak tenang. Mungkinkah ia menghubungi Gus Ali duluan?


"Nggak apa-apa, Ning. Mending bilang ke orangnya kalo Ning cinta. Siapa tahu setelah itu Ning bisa lebih ikhlas."


Terpengaruh dengan perkataan Bu Yanti, Fatimah meraih handphonenya. Ia melihat akun whattsapp Gus Ali yang terlihat online. Fatimah menggigit bibir bawahnya.


Dengan memejamkan mata, Fatimah mengusap layar dan menelpon Gus Ali. Entah apa yang akan ia katakan pada Gus Ali. Tapi Fatimah ingin sekali mengabari laki-laki itu.


Panggilan baru tersambung tapi Fatimah segera mengakhiri teleponnya. Fatimah baru ingat jika Haikal, calon suaminya adalah santri ndalem Gus Ali. Bagaimana bisa ia menyakiti dua orang baik itu?


Di sisi lain, Gus Ali yang baru mengenakan jas pengantin terkejut dengan panggilan nomor tidak dikenalnya. Kening Gus Ali berkerut. Menerka siapa yang mencoba menghubungi.


Daripada penasaran, Gus Ali memanggil kembali nomor yang tidak ia kenal itu. Hati Gus Ali menjadi tak karuan.


Nafsil hanin fill bode wizekerool ghomilah


Aku masih memiliki kerinduan yang sama dan mengingat kenangan indah kami


Ma'a shortak kulli yum nafsil kalaam


Sambil memegang fotomu setiap hari


Mak'dar shatomin ruhi wa la ghamad fii lillah


Aku tidak bisa merasa nyaman dan menutup mataku dimalam hari


Ablamma fakor fiikanan ghaait manaam


Aku tidak bisa merasa nyaman dan manutup mataku dimalam hari


"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Ini dengan siapa?" Gus Ali menunggu suara balasan.


Hening cukup lama. Hingga terdengar suara yang membuat dada Gus Ali serasa akan meloncat.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, Gus. Bagaimana kabarnya?" Fatimah terbata-bata menjawab.


"Fatimah? Ana baik-baik saja. Bagaimana dengan anti?" Gus Ali tak bisa menahan senyum di wajahnya.


"Al-alhamdulillah bi Khoir." Fatimah menggigit bibirnya dengan gelisah. Matanya mulai berkabut. Membuat Bu Yanti yang menyapukan eyeliner kesulitan.


"Anti siap menikah hari ini?" tanya Gus Ali berusaha menguasai dirinya.


"Insyaallah." Fatimah menutup mulutnya. Benar dugaannya, Gus Ali tahu soal pernikahannya dengan Haikal. Fatimah tidak mungkin mengungkapkan perasaannya sekarang.


"Mau minta mahar apa?"


"E-e, anu. Surah Ar Rahman." Fatimah kembali terdiam. Matanya terasa perih menahan air mata yang ingin keluar.


"Ya sudah. Kita sama-sama berdoa ya semoga malam ini berjalan lancar."


"Nggih, Gus. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Lho, sibuk ya? Ya sudah. Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


Gus Ali terpaksa memutus panggilan karena Fatimah juga telah berpamitan. Diam-diam Gus Ali tersenyum penuh arti. Ia segera menengadahkan kedua tangannya.


"Maturnuwun Ya Allah."

__ADS_1


Raut wajah tegang Gus Ali seketika lenyap. Telepon Fatimah kali ini sangat bermakna untuknya.


Gus Ali segera merapikan dirinya. Ia berjalan ke luar dari kamar. Begitu bertemu Gus Badar di ruang tengah, Gus Ali melompat ke pelukan kakak iparnya itu. Persis seperti anak kecil yang baru bertemu saudara jauh.


Gus Badar yang seorang dokter hanya bisa melongo. Dan Pak Kyai serta Ning Faza hanya tersenyum kecil. Diam-diam mereka merenung, wajah girang Gus Ali sangat mirip dengan mendiang Bu Nyai.


Tak terasa setetes air mata jatuh dari sudut mata keduanya. Saat perpisahan begitu sulit dilupakan dan pertemuan hanya sebatas doa dalam kenang.


"Ayo berangkat."


Ketiga orang itu segera merapikan diri dan menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Gus Ali telah mengabari Tata jika ia akan mengambil cuti seminggu.


Tepat di depan rumah Fatimah, mobil berhenti. Sebelum turun dari dalam mobil, Pak Kyai menyerahkan saputangan putih ke tangan Gus Ali. Pak Kyai tak sadar jika tubuh Gus Ali menegang sesaat.


Setelah sampai di ruang tengah tempat acara, mereka saling bertegur sapa. Fatimah masih berada di kamar. Ia tak kuasa menahan perasaannya, apalagi setelah mendengar suara Gus Ali lewat telepon. Fatimah merasa hatinya bagai dihantam palu Godam.


"Sudah, Ning. Calon suaminya sudah datang. Sebentar lagi ijab akan dilangsungkan." Bu Yanti terpaksa menambah olesan bedak di wajah Fatimah yang pudar karena air mata Fatimah terus menetes.


"Hiks hiks. Huhu." Tangis Fatimah malah bersuara. Membuat Bu Yanti semakin meradang karena bulu mata palsunya terlepas, bahkan sebelum acara dimulai.


"Sudah Ning. Jangan menangis, nanti kalau sudah tahu enaknya menikah ya nggak akan nangis kok." Bu Yanti lama-lama sebal dengan pengantin di depannya.


"Saya takut, Bu."


"Nggak usah takut. Calon suamimu bukan macan, kok. Nanti ya bilang kalau awal-awal pelan-pelan saja."


Fatimah menghentikan tangisnya. Pikirannya tidak ingin kemana-mana tapi kata-kata Bu Yanti membuatnya berpikir yang iya-iya.


Sedangkan di luar, Gus Ali menggenggam sapu tangan itu dengan gemetaran. Ia cemas dan gerogi. Apalagi nanti ia ingin melafalkan ijab qobul dengan bahasa Indonesia saja. Dadanya terus dag dig dug.


Tak lama kemudian datanglah petugas KUA yang membawa surat nikah milik Gus Ali dan Fatimah. Gus Ali langsung melirik pada Abahnya yang duduk di samping. Tak menyangka kalau pernikahan ini sudah sangat disiapkan. Meski ia masih menyimpan rasa kesal karena mendadak sekali di suruh pulangnya.


"Baik, pengantin sudah siap?" tanya ustaz Adi yang duduk di depan Gus Ali.


"Si-siap, Bah."


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Wahai Ali Nur Hidayat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Siti Fatimah binti Syamsul Mujahidin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan surah Arrahman."


Dan saat Gus Ali merasa tangannya diayunkan oleh ustaz Adi, ia segera gelagapan melafalkan ijab.


"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah binti Syamsul Mujahidin."


Semua terdiam. Gus Ali tidak lancar sekali napas. Bahkan salah menyebut nama calon istrinya.


"Tenangkan driimu, Le," bisik Pak Kyai di samping putranya. Sepertinya rasa grogi membuat Gus Ali semakin tidak fokus.


"Ambil napas dulu."


Gus Ali menurut. Di pikirannya langsung cepat teringat pesan sang ayah. Ijab kobul hanya boleh diulangi 2 kali. Jika sampai 3 kali salah, maka nikah itu tidak sah. Karena dianggap kurang bersungguh-sungguh.


'Waqod atainaa daawuda minnaa fadla, yaa jibaalu awwibii ma’ahu wathoir, wa alannaa lahulhadiid.' Gus Ali berbisik membaca doa agar lancar melafalkan ijab itu.


"Sudah siap?" tanya ustaz Adi setelah memberi cukup waktu untuk Gus Ali berkonsentrasi.


"Bismillah, Bah." Gus Ali menjawab mantap. Kali ini ia akan benar-benar berkonsentrasi.


Ustaz Adi kembali menjabat tangan Gus Ali dan mengulangi ijab kabul.


"Wahai Ali Nur Hidayat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Siti Fatimah binti Syamsul Mujahidin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan surah Arrahman."


"Saya terima nikah dan kawinnya Siti Fatimah dengan maskawin tersebut tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah."


"Alhamdulillah."


Semua menengadahkan tangan dipimpin Pak Kyai berdoa untuk kebaikan pengantin dan semua hadirin.


"Umi, Fatimah boleh ke sini," ujar ustaz Adi pada istrinya. Umi Afin mengangguk lalu berjalan ke kamar.


Hati Gus Ali semakin tegang. Ia sampai menggenggam erat sapu tangan putih dari Abahnya.


Sedangkan Fatimah memilih menunduk penuh saat dituntun uminya untuk duduk di samping suaminya. Dalam hati, Fatimah sudah pasrah seumur hidup akan menyesal karena tak bisa mengungkapkan perasaannya pada Gus Ali.


Setelah duduk di samping suaminya, Fatimah merasa sedikit curiga. Perawakan Haikal sangat berubah total. Bahkan menurut pandangan Fatimah yang hanya melihat sekilas dari sudut mata, lelaki di sisinya sudah sangat mirip dengan Gus Ali.


'Ah mungkin perasaanku saja yang berharap kalau Gus Ali jadi suamiku.'


"Gus, silakan persembahkan maharmu."


Mendengar panggilan Abahnya kepada suami, Fatimah memberanikan diri melirik ke sampingnya. Ia takut terlalu terbawa perasaan hingga tak sadar hatinya memikirkan lelaki lain selain suaminya.


"Audzubillah himinnsyitonirrojim bismillahirrahmanirrahim. Arrahman, ...."


Begitu pembacaan surat Arrahman yang diminta Fatimah, pengantin wanita melihat sosok di sampingnya benar-benar Gus Ali, Fatimah melongo dengan mata terbelalak.


"Kok Gus Ali?" terangnya. Ingin hati berbisik tapi kata-kata Fatimah itu terdengar oleh semua yang hadir.


Sedangkan Gus Ali hanya tersenyum manis sembari mengajukan tangan kanannya untuk disalimi istrinya.


***********************************************


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh teman-teman.


Jangan lupa vote atau kasih tips ya, biar author semakin bersemangat nulisnya. 🤗


Jangan lupa juga di-share ya, biar semakin banyak yang membaca cerita ini.


Maklum author masih merintis. Semakin banyak yang baca, author semakin semangat menulisnya.


Btw maaf jika banyak lirik lagu yang author sisipkan, ini untuk penambah rasa semata. Jika kalian tidak suka bisa di skip. Tapi bagi author isi dari lagu itu menambah baper. 😂😂😂


insyaallah ini part terakhir yang ada lirik lagunya. Setelah ini author coba tanpa lirik lagu.


Syukron katsiron. Semoga Allah membalas kebaikan pembaca sekalian.

__ADS_1


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh 🙏


__ADS_2