Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Jawaban Tata


__ADS_3

Siang yang cerah bagi Dika, karena ia sedang menunggu calon mertuanya yang satu jam lalu berkata ingin menemuinya.


Jemari Dika yang mengetuk-ngetuk meja kaca adalah usahanya untuk menenangkan diri. Dalam hatinya merasa menang. Ia yakin akan diterima. Mana ada calon mertua ingin menemui kekasih anaknya, jika bukan karena ingin memberi kabar baik? Begitu pikirnya.


Tak lama kemudian, dari dalam restoran muncul sepasang suami istri. Ialah kedua orang tua dari Tsabita, orang yang pagi tadi ia lamar. Dika masih sedikit terkejut karena secepat ini ia mendapat jawaban.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," Dika menyongsong. Ia mencium takzim abinya Tata. Lalu menangkupkan tangan kepada uminya Tata yang terlihat berwajah sinis.


Meski begitu, Dika terus membesarkan hatinya. Ia yakin akan diterima. Mungkin saja wanita yang melahirkan Tata itu masih mengujinya.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Silakan duduk," ujar sang Abi dengan wajah ramah.


Sayangnya, setelah Dika menempatkan pantatnya, kedua orang di depan itu terlihat saling pandang. Lalu wajah keduanya terlihat tegang.


Hal ini membuat Dika sedikit nerveous. Berkali-kali Dika membaca doa penenang hati dalam gumaman. Ia berharap sekali akan diterima menjadi menantu orang di depannya.


"Bisa ceritakan tentang video yang sedang viral itu? Bapak ingin mendengar dari antum langsung." Ayah dari Tata memasang wajah serius.


Dika menunduk sebentar. Menyiapkan hati dan menyiapkan diri untuk mengatakan sebagaimana kejadiannya. Semoga saja hal itu dimaklumi oleh mereka.


***


Di sisi lain, seorang lelaki memasuki kampus dengan celingak-celinguk. Ia ingin bertanya kepada mahasiswa, tapi sejak tadi hanya menemukan mahasiswi saja.


Haikal melanjutkan langkahnya, berharap bertemu Ikhwan untuk menitipkan pesanan ibunya untuk Tata.


Sejenak tubuh Haikal menegang. Saat di seberang ia melihat Tata yang juga sedang menatapnya. Dengan langkah berat, Haikal menuju Tata.


Wajah Tata yang kusut tiba-tiba terlihat berseri. Tak menyangka jika kehadiran Haikal mempengaruhi dirinya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Mbak. Ini ana mau menyampaikan titipan umi." Haikal sebenarnya tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan perempuan.


"Umi kok repot-repot sih," komentar Tata merasa sungkan. Ia menerima rantang itu. Dan tidak sengaja jemarinya menyentuh jemari Haikal.


Keduanya terdiam, lalu kembali menunduk. Sama-sama tidak tahu harus bagaimana menguasai diri.


"Jangan dimakan ya, Mbak."

__ADS_1


"Apa?"


"Jangan lupa makan maksud saya." Haikal semakin menunduk. Saking nerveousnya, ia sampai keliru berkata. Wajahnya sudah mulai menghangat karena Tata terlihat tertawa kecil.


"Antum lucu, deh. Ha ha ha." Tata tertawa lepas. Baru kali ini rasanya ia bisa ceria seperti itu.


"Ya sudah, Mbak. Saya kembali ya. Tidak enak kelihatan berduaan dengan dosen cantik," kata Haikal. Detik berikutnya ia menutup mulut. Menyesali kata yang lolos dari kerongkongannya yang terasa tidak pantas.


Tapi Tata malah kembali tersenyum. Ia merasa tersanjung dianggap cantik oleh lelaki muda di depannya.


"Ya sudah, hati-hati ya," balas Tata membiarkan Haikal melangkah pergi.


Tata menatap rantang itu. Lalu melihat punggung Haikal yang hilang di balik bangunan. Ia merasa hatinya aneh. Seperti ada sesuatu yang terjadi.


Dan Tata menyadari perasaannya tidak benar. Ia sangat takut jika harapan yang ia tanam hanya akan menuai kecewa. Apalagi dengan Haikal, lelaki yang lebih muda.


Tata jadi ingat kata-kata Gus Ali ketika dulu mereka masih sama-sama menimba ilmu sebagai mahasiswa.


Saat itu Gus Ali mengatakan jika ia telah melamar seorang wanita yang berusia muda. Lebih muda dari dirinya.


"Tentu saja agar menenangkan diri, Ta." Jawaban Gus Ali itu malah membuat Tata mengernyit heran.


"Maksud antum?"


"Ya memang alasan klise sih, Ta. Tapi pada nyatanya, ana memang menyukai wanita yang lebih muda."


"Bilang saja biar cantiknya awet," ledek Tata merasa sahabatnya itu sulit mengatakan hal itu.


"Ha ha ha. Kan sunnahnya itu memilih calon dengan mempertimbangkan empat hal. Kecantikan, nasab, kedudukan, dan agama." Gus Ali menjelaskan dengan rinci tentang hal itu.


"Berarti kalau ana pengen punya suami lebih muda nggak bisa dong?" tanya Tata akhirnya.


"Bisa, Ta. Pernah dengar kisah Nyai Rabiah Al-Adawiyah dan Kyai Hasan Bisri? Coba deh anti pelajari kisah mereka."


Ingatan tentang perbincangan Tata dengan Gus Ali itu seketika membuat Tata ingin menemui sang Abi. Meminta petunjuk untuk menemukan kitab yang memuat kisah perjalanan yang dimaksud Gus Ali.


Tata bertekad akan mempelajari kisah itu. Siapa tahu ia masih memiliki kesempatan untuk menjadi pendamping orang yang lebih muda darinya. Ah, Tata mulai berharap.

__ADS_1


Tata berjalan ke kantornya, ia ingin memakan masakan yang dibawakan oleh Haikal. Ia merasa sangat bahagia mendapat perhatian kecil dari keluarga Haikal.


Sosok Haikal baginya menarik perhatian. Kepolosannya dan kepatuhannya, mengingatkan Tata pada Gus Ali.


Setelah selesai makan, Tata mencuci rantang yang dibawa Haikal. Saat itu juga, handphonenya berdering. Nama abinya muncul di layar.


"Halo, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Bi."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, langsung saja ini Ta. Abi dan umi ada di restoran bersama Dika. Apa anti bisa ke sini?" tanya sang Abi.


Membuat hati Tata yang semula sudah ceria, kini kembali murung. Mendengar nama Dika saja hatinya tidak terima. Sangat menolak lelaki itu. Tidak ada perasaan sedikitpun.


"Afwan, Bi. Tapi Tata nggak bisa nerima Dika. Kalau nanti Tata yang ngomong, Dika pasti nggak terima. Jadi, ...."


"Anti ke sini dulu saja. Tidak baik menjawab lamaran dengan grasa-grusu."


Tata mendengus. Mau tidak mau ia menyetujui keinginan abinya. Selesai dengan pekerjaannya, Tata datang ke restoran. Dari kejauhan, Tata sudah melihat kedua orang tuanya bersama Dika.


Memilih menunduk karena tidak ingin membuat Dika senang. Tata sudah bertekad menolak lelaki itu.


"Jadi kita dengarkan jawaban dari Tata. Meski Bapak suka dengan antum, tapi nanti kalian yang menjalani kehidupan rumah tangga."


"Sebelumnya Tata meminta maaf kepada Dika. Kalau saya tidak bisa menerima lamaran dari Dika."


"Apa alasannya, Bu?" tanya Dika tidak percaya. Ia masih berusaha menguasai diri di depan kedua orang tuanya Tata.


"Ana tidak bisa mencintai antum." Tata memalingkan pandangannya, ia menghindari tatapan nanar di mata Dika.


Dika menunduk. Tidak percaya dengan kata-kata Tata barusan. Wanita yang sudah ia gadang-gadang menjadi calon istri itu ternyata menolaknya sekali lagi.


"Apa tidak bisa dicoba dulu, Ta? Tresno jalaran saka kulina," ujar sang umi yang akhirnya membuka hati untuk laki-laki yang terlihat berjuang keras untuk anaknya itu.


Semula uminya Tata tidak menyukai Dika. Tapi setelah mendengar kisah sebenarnya dari mulut Dika langsung, uminya Tata mulai menerima lelaki itu menjadi calon menantunya.


Tata menggeleng lemah. Ia benar-benar tidak bisa mencoba mencintai Dika. Atau karena kehadiran orang lain? Tata berdialog dengan hatinya sendiri.


"Kalau begitu ya sudah, Tante dan Om. Saya pamit. Mungkin saya memang bukan yang terbaik untuk Bu Tata." Dika akhirnya menyerah. Daripada memperlihatkan betapa porak-porandahnya hatinya, ia memilih berlalu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2