Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Keputusan dan Keputusasaan


__ADS_3

Aku terduduk di atas dipan. Air mata baru saja tuntas. Itupun karena kupaksa untuk menyudahi tangisan tak berguna ini. Aku sadar betul apa yang telah kulakukan adalah salah.


Terbawa perasaan curiga dan menjadikannya halusinasi yang mengganggu. Mas Adi masih memelukku erat. Di dalam dekapannya yang hangat aku merasa sedikit lebih baik.


Aku mulai memikirkan jalan keluar untuk permasalahan ini. Aku harus minta maaf pada Sofia dan juga Rahman. Jangan sampai mereka benar-benar keluar dari rumah ini. Ini adalah rumah mereka juga.


Berkali-kali aku mengembuskan napas. Berusaha mencari kata-kata untuk meminta maaf kepada Sofia dan Rahman.


"Mas, ana harus segera minta maaf sama Sofia," ujarku sembari melepas pelukan Mas Adi.


Perasaan bersalah ini sangat mengganggu. Aku ingat bagaimana dulu aku mencurigai Mas Adi dengan Sofia, dan ternyata keduanya sama sekali tak bersalah. Harusnya aku belajar dari pengalaman. Tapi mengapa aku harus terjerumus lagi pada prasangka yang buruk?


Begitu burukkah hatiku?


Mas Adi menatapku. Ia seolah ingin mencari sesuatu di mataku.


"Ada apa, Mas?" tanyaku ragu.


Walau Mas Adi sangat baik. Aku tahu iapun manusia biasa. Kelak jika aku keterlaluan, ia pasti akan marah. Dan aku sadar hal yang aku lakukan hari ini sangat tidak bisa ditolerir.


"Cepat minta maaflah pada Sofia."


Mataku membulat. Walau kalimat itu diucapkan dengan senyum. Mata Mas Adi seolah terluka saat mengatakannya.


"Ana pasti minta maaf, Mas. Tapi bisakah ana percaya antum tidak akan mengkhianati pernikahan kita?"


Entah siapa yang berbisik di dada. Hingga lisan ini lancang berkata demikian. Hey Afin, bagaimana bisa aku berkata seperti itu?


"Mas tidak bisa berjanji," sesalnya membuat mataku kembali menilik tajam.


"Apa Mas Adi masih mencintai Sofia?" tanyaku.


Kini kedua belah tanganku saling meremas. Aku mulai risau. Mengapa Mas Adi tak bisa menjamin cintanya hanya untukku? Apa sebenarnya ia masih mencintai Sofia?


"Sudahlah, Fin. Jangan terbawa perasaan. Sekarang yang terpenting jangan lukai hati orang lain."


Nada bicara Mas Adi kembali merendah. Tak sekaku tadi ketika mengatakan tak bisa berjanji untuk setia. Astaghfirullah. Mengingat kalimat itu aku kembali merasakan sakit.


"Baiklah, Mas. Ana akan minta maaf kepada Sofia sekarang juga."


Aku langsung berjalan keluar. Tak memedulikan panggilan Mas Adi. Sambil berjalan, aku kembali terngiang kata-kata Mas Adi.

__ADS_1


Mungkinkah Mas Adi masih memiliki perasaan kepada Sofia? Sampai-sampai ia membela istri Rahman itu.


"Assalamualaikum."


Buku jemari tanganku mengetuk pintu kamar Rahman dan Sofia. Tak selang lama, pintu itu terbuka.


Rahman dan Sofia menatapku heran. Tak sengaja aku melihat bekas air mata di wajah Sofia. Apakah dia juga nelangsa karena prasangkaku padanya?


"Ada apa Mbak Afin?" Wajah Rahman berusaha santai. Padahal matanya sempat membulat melihatku berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ana mau minta maaf sama Sofia, ana tahu tadi telah suudzon padanya."


Sebenarnya aku ragu-ragu meminta maaf. Rasanya aku tak salah. Tapi Mas Adi lah yang salah.


"La, ana yang salah, Fin. Afwan." Sofia segera menghambur padaku.


Alih-alih terkejut, aku malah terdiam sejenak. Seluruh perasaan curigaku hilang seluruhnya. Dia memelukku sembari sesenggukan. Dan hatiku bagai teremas. Pedih.


"Harusnya ana lebih mengerti perasaan anti sebagai sesama wanita. Apalagi anti sedang mengandung." Suara Sofia terputus-putus.


Mendengar kalimat itu aku juga terhenyak. Kami sesama perempuan. Tapi mengapa sulit saling memahami?


"Ana yang minta maaf, Sof. Jangan anti pergi dari sini," kataku akhirnya.


"Afwan, kami harus pergi." Sofia melirik Rahman.


Rasa bersalah kini bersarang di dadaku. Ternyata salahku sudah sejauh ini. Keputusan Rahman dan Sofia sudah bulat.


Cepat atau lambat mereka akan pergi dari sini. Dan Mas Adi akan sangat sedih jika harus berpisah dengan adiknya lagi. Aku harus mencegah kepergian mereka.


"La, kalian tidak boleh pergi dari sini. Ana mohon." Aku menangkupkan tangan.


Ya Allah, jika mereka pergi, rasa bersalahku akan semakin menggunung. Dan aku tak yakin bisa menebusnya. Memang benar jika kita melukai hati orang itu seperti menancapkan paku pada papan. Meski telah minta maaf, bekasnya takkan seperti semula.


Barangkali Sofia sudah sangat tak betah hidup dengan prasangkaku yang tak terkendali.


"Afwan, Mbak. Ini keputusan kami. Biarkan kami belajar mandiri."


Saat Rahman bersuara, aku tahu kalau mereka sudah benar-benar tak betah bersandingan dengan aku.


"Bukan karena Mbak Afin. Ini memang keinginan kami untuk hidup mandiri."

__ADS_1


Rahman kembali melanjutkan bicaranya. Saat ini aku benar-benar menyesal telah ceroboh. Tidak bisa mengatakan apapun. Aku terdiam. Mata ini melorot. Melihat lantai.


***


Setelah tak mampu menghentikan keinginan Rahman dan Sofia keluar dari rumah ini, aku memilih untuk berdiam diri di kamar. Duduk di atas sajadah dan tetap beristighfar.


"Kecemburuan ini benar-benar merusak. Imanku yang belum seberapa, hancur karena ketidakmampuan," batinku merana.


Air mata terus menetes. Sedih dan kecewa dengan tindak tandukku yang tidak berdasar. Kemana buah dari pelajaran di pondok? Mengapa aku gampang terbawa perasaan?


Baru setelah cukup tenang, aku beringsut dan menemukan Mas Adi memandangiku di belakang.


"Mas, ana benci diri ana sendiri," ujarku lemah.


Kini aku melipat mukena yang tadi aku gunakan. Dada ini masih terasa berat. Bisa-bisanya aku tak bisa menata hati.


"Jangan, Fin. Anti tidak boleh membenci diri anti sendiri. Allah sudah menciptakan makhluk sempurna manusia, bagaimana bisa anti berpikir begitu?" Mas Adi maju dan membelai ujung hijab.


Menghela napas. Benar kata Mas Adi. Bagaimanapun juga harusnya aku tadabbur terlebih dahulu setiap menghadapi sesuatu.


"Fin, apa anti merasa tidak nyaman di sini?" Mas Adi menatapku hangat.


Setiap berada di sampingnya dan merasakan kasih sayangnya, aku merasa begitu bahagia. Semoga rumah tangga kami selalu sakinnah mawaddah dan penuh rahmah.


"Kenapa, Mas?" Anehnya aku malah balik bertanya.


"Apa kita pulang ke Indonesia?" tanya Mas Adi hati-hati.


Aku menggeleng. Dengan menambah cuti, pendidikan kami di sini akan semakin lama. Aku tidak mau semakin menyusahkan.


"La, Mas. Bersamamu selalu membuatku bahagia." Aku tersenyum semanis mungkin.


Ingin membuat Mas Adi yakin kalau aku baik-baik saja.


"Anti belajar menggombal dimana, Fin?" Mas Adi menatapku geli.


"Ana tidak menggombal, Mas. Ana serius."


Mas Adi maju dan mengecup ujung kepala. Rasanya sejuk dan tentram. Semoga bahagia ini terus berlanjut hingga Jannah.


Tak lama kemudian, suara dering handphone Mas Adi mengejutkan kami. Dia langsung mengambil benda pipih itu di sakunya.

__ADS_1


||Tolong ana......||


Hanya itu yang sekilas aku baca. Mas Adi terlihat menyembunyikan sesuatu. Dan prasangkaku kembali menguji.


__ADS_2