Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Firasat Seorang Anak


__ADS_3

Untuk Mas Adi


Maafkan ana tidak berpamitan. Ana ingin pulang. Ada firasat yang tak bisa aku ceritakan. Mas tetaplah fokus menimba ilmu. Jika Allah menakdirkan kita akan kembali berkumpul saat Mas menyelesaikan studi.


Nb: jika sudah sampai, ana akan berkabar.


Punggungku lemas tak bertenaga begitu membaca kalimat demi kalimat yang ditulis Afin.


Sejenak aku kalut. Tapi detik selanjutnya aku mengambil napas panjang. Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan.


Alih-alih mencoba menghubungi Afin sekali lagi, aku malah membersihkan diri lalu melanjutkan hidupku. Meski rumah ini terasa sangat sepi tanpa adanya Afin, tapi aku harus tetap fokus.


Setelah memasak aku segera mengisi perutku yang sejak tadi berdendang karena lapar. Sudahlah, meratapi kepergian Afin tidak ada manfaatnya. Malah bisa mengganggu fokusku belajar di sini.


Berjam-jam aku sibuk di depan komputer. Barangkali hari-hari selanjutnya juga akan aku isi dengan hal seperti ini.


Aku melirik handphone di samping laptop. Menanti kapan Afin menghubungi. Atau barangkali Afin menghubungiku sejak tadi tapi dataku mati?


Aku segera meraih gawai dan mengecek data internetnya. Atau melihat baterainya. Ah tidak, memang tidak ada panggilan masuk.


Aku terpaku melihat foto wallpaper di layar handphone. Foto Afin yang begitu menggemaskan. Ah aku jadi merindukannya. Belum juga satu hari, tapi aku sudah sangat kangen suaranya. Kangen wajahnya. Kangen manjanya.


Kukirim sebuah pesan singkat. Hanya tiga kata. I Miss You. Biarlah aku dicap lebay atau bagaimana, yang jelas aku sudah sangat rindu.


Setelah itu aku berusaha berkonsentrasi pada tugasku. Walau awalnya sulit, setelah itu aku mulai bisa fokus dengan apa yang ada di depanku.


Drrrrt. Mataku setengah terkejut. Melihat nama Afin di layar, aku segera menerimanya. Semakin terkejut karena Afin suaranya terdengar bergetar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Bagaimana perjalanmu, Fin? Sudah sampai di rumah?" tanyaku tergesa.


"Sudah, tapi saat ini ana sedang di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


"Umi, Mas. Sudah seminggu dirawat di rumah sakit."


Mataku melebar. Dan aku benar-benar terkejut. Ya Rabb, ternyata benar firasat Afin tempo hari. Dia begitu ingin pulang. Ternyata umi sedang dalam kesakitan. Pantas saja Afin begitu gelisah dan meminta pulang.


Kali ini aku merasa egois. Berada jauh dari keluarga memang sangat mneyakitkan. Apalagi jika orang tua Afin selalu berkata baik-baik saja ketika dihubungi. Padahal tidak demikian keadaan sebenarnya.


Aku terdiam. Masih merasakan badai di dalam hatiku. Merasa bersalah. Merasa tak peka dan tak becus menjadi menantu.


"Sekarang bagaimana keadaan umi?" tanyaku bergetar. Air mata sudah mengumpul di mata.

__ADS_1


"Mohon doakan dari sana ya, Mas."


Suara Afin sedikit melemah. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal.


"Ada apa, Fin? Bicaralah jujur."


Aku bukan laki-laki yang mengekang. Tapi aku juga tidak suka jika ada yang ditutup-tutupi.


"Afin kangen Mas Adi."


Wajahku menghangat. Senyumku juga melebar. Aku juga rindu sekali denganmu, istriku. Tapi aku harus kuat.


"Mas juga sudah rindu pelukanmu."


"Ah, Mas jangan menggodaku."


Aku membayangkan wajah Afin bersemi. Kemerah-merahan yang menggemaskan. Aku jadi benar-benar merasa kehilangan istri.


"Lha anti tidak mengajak Mas untuk pulang." Aku gantian berkomentar.


"Nanti kalau Mas nggak lulus-lulus gimana?" tanya Afin lagi.


Aku menggigit bibir. Ternyata Afin tidak egois. Ia juga memikirkan masa depanku.


"Iya, Mas. Ya sudah Afin menemani umi dulu."


"T-tunggu, Fin."


Aku mencegah Afin menutup telepon. Rasanya masih ingin menuntaskan rasa rindu. Tapi aku tidak boleh egois.


"Apa, Mas? Mas jaga diri ya."


Mata ini tiba-tiba berkabut. Rasanya ingin segera pulang dan memeluk istriku detik ini juga. Tapi apa daya, aku tak bisa terbawa perasaan. Semoga ujian ini kami lalui dengan lulus.


"Fin, Mas juga berharap Afin jaga diri di sana."


Suaraku rasanya tercekat di tenggorokan. Ternyata begini rasanya jauh dari pasangan. Entah bagaimana jika nanti kita bertemu. Semoga Allah jaga Afin dan anak yang dikandungnya.


"Kalau Mas tak tahan, nikah lagi saja, Mas. Jangan berbuat yang dilarang agama."


Bibirku melongo sempurna. Ucapan Afin seperti pedang yang menusuk. Ia seolah kuat. Padahal kecemburuannya teramat dalam.


"Emang anti ikhlas dimadu?"


Tak ada jawaban. Aku merutuki kalimatku tadi. Kami sedang berjauhan tapi aku malah membuat masalah baru. Bagaimana jika Afin marah?

__ADS_1


Kalau dekat gitu gampang menjelaskan kalau aku sedang bercanda. Tapi kalau jauh begini bagaimana?


Aku memasang pendengaran lebih baik lagi. Tapi tidak ada sahutan dari seberang kecuali suara gemericik. Astaghfirullah. Pasti Afin marah.


"Afin? Afwan, Mas hanya bercanda."


"Lagipula mana ada yang mau sama Mas, Mas cuma cinta sama Afin."


Masih tidak ada jawaban. Aku memukul jidat. Kacau, benar-benar kacau. Bisa jadi salah paham.


"Fin, Mas benar-benar tidak bermaksud, ...."


"Halo, Mas? Mas masih di sana? Mas tadi ngomong apa? Tadi handphone ana jatuh ke tas, jadi tidak dengar Mas ngomong apa."


"Ha?"


Aku menutup mulut. Ternyata begini ribetnya hubungan jarak jauh. Godaannya begitu macam-macam. Yang utama pasti tentang komunikasi yang buruk.


"Mas, maafkan Afin tidak bisa patuh kepada suami. Maafkan Afin tidak bisa seperti Siti Asiyah." Suara renyah Afin sedikit mengendur.


"Tidak apa, Fin. Mas Adi rida Afin berbakti kepada kedua orang tua." Aku mencoba tersenyum walau sangat sulit.


Sepertinya dia mulai lelah berbicara banyak. Atau ada permasalahan di sana. Semoga umi segera sembuh. Tapi keadaan Afin yang sedang hamil membuatku tak bisa memintanya bepergian lagi. Mungkin ini yang terbaik.


Toh jika nanti bayi kami lahir, Afin ada dalam pendampingan umi. Pikirku begitu memberi penghiburan untuk diriku sendiri.


Apapun yang diberikan Allah adalah yang terbaik. Semoga aku menjaga hatiku di sini hingga nanti pulang kembali untuk menemui anak dan istri.


"Fin, maafkan Mas membekukan tabungan kita. Mas takut anti nekad pulang ke Indonesia."


"Naam, Mas. Afin sudah menduga itu. Untungnya Afin menghubungi Sofia dan meminjam uangnya, tolong Mas Adi ganti ya."


Aku terhenyak. Tak sadar berdecak. Jadi Afin pinjam uang Sofia untuk pulang ke Indonesia. Aku menggeleng heran. Dasar wanita, selalu punya banyak rencana cadangan.


"Jadi anti pinjam uang Sofia?" tanyaku meyakinkan. Aku tidak marah, hanya saja merasa lucu bahwa Afin mati-matian cemburu pada Sofia, dan sekarang ketika ia butuh uang, ia bisa dengan entengnya pinjam uang.


"Iya, Mas."


"Makanya Fin, jangan membenci sesuatu secara berlebihan, bisa jadi yang anti benci adalah penolong anti."


"Apa?!"


"Maksud Mas nggak gitu, Fin. Tapi, ...."


Tut, tut. Panggilan terputus. Bahkan tidak ada salam yang terucap. Aku mendelik. Salah paham lagi.

__ADS_1


__ADS_2