
JANGAN LUPA BAGI TIPS/POINNYA YA TEMAN-TEMAN. LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JAZZAKUMULLAH KHAIR
****
Sepanjang perjalanan ke Surabaya, Gus Ali dan Fatimah lebih banyak diam. Keduanya sama-sama memikirkan hal yang memenuhi kepala mereka.
Bukan berarti mereka tidak bahagia dengan pernikahan ini. Tapi pernikahan ini menyakiti beberapa pihak. Di sisi Fatimah, ia merasa bersalah kepada Mega. Inginnya ia tak berbohong. Tapi jika ingat bagaimana Mega masih terlihat sangat menyukai Gus Ali, ia tidak tega mengatakan kepada gadis itu.
Sedangkan di sisi Gus Ali sudah pasti hal berat untuk mengatakan pada Tata kalau ia telah menikah. Apalagi Fatimah mengenal Tata. Ternyata saat ia mengimami Tsabita berjamaah di musholla, wanita yang berbicara dengan Tata adalah Fatimah.
"Tim."
"Hem?"
"Anti melamun ya?"
"E, enggak, Gus eh Mas." Fatimah membekap mulutnya sendiri. Rupanya ia belum juga terbiasa memanggil Gus Ali dengan sebutan Mas.
Gus Ali kembali memfokuskan pandangan ke depan. Bagaimanapun juga ia sedang menyetir mobil milik Tata. Tak enak jika terjadi sesuatu dengan mobil sahabatnya ini.
Hening. Keduanya diam lagi. Tidak ada lagi perbincangan. Gus Ali juga ragu untuk membuka percakapan dengan istrinya. Daripada terus saling canggung, Gus Ali menyalakan radio.
Aku yang rentan karena
Cinta yang tlah hilang darimu
Yang mampu menyanjungku
Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu mengenangmu
Dariku ku temukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejati
Yeah hu hu hu…
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan kenangan terindah
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang tlah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah
Oh ho ho oohhh
Ohh ohh
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang tlah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan ku jadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupmu
Yang tlah terukir abadi
__ADS_1
Sebagai kenangan yang terindah
"Lagunya bagus ya." Gus Ali berkomentar. Mulutnya terasa kaku karena tak ada percakapan.
"Iya, cocok buat Bu Tata," balas Fatimah lalu menoleh ke luar jendela. Membiarkan angin meniup jilbabnya.
"Kok masih cemburu sih?" Gus Ali memang terkejut karena Fatimah terus mengaitkan dirinya dengan sahabatnya itu. Bukankah Gus Ali sudah menjelaskan hubungan antara Gus Ali dan Tsabita hanya profesional kerja?
"Tidak, kok, Gus."
"Panggil Mas saja. Ini perintah!" Gus Ali ingin sekali melihat wajah istrinya, sayangnya Fatimah masih saja membuang muka.
"Iya, Mas." Wajah Fatimah masih saja masam. Ia sendiri terkejut karena tak bisa mengendalikan emosinya. Ia masih sangat labil.
"Siti Fatimah," panggil Gus Ali sembari meraih dagu istrinya. Berlaku mesra adalah salah satu resep menghadapi istri yang sedang marah.
Mau tak mau Fatimah menoleh dan keduanya bersitatap beberapa detik. Melihat wajah teduh Gus Ali yang dihiasi senyum manis, tak mungkin tidak berpengaruh untuk Fatimah. Ia segera menunduk begitu pikirannya mulai memikirkan yang iya-iya.
"Kenapa? Kok nunduk?"
"Mas harus fokus nyetir."
"Apa kita istirahat dulu? Saya lapar."
Gus Ali menoleh ke sekeliling. Untungnya mereka sedang berada di dekat rest area. Gus Ali segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu keduanya keluar dari mobil. Kebetulan Gus Ali berhenti di dekat lesehan. Keduanya segera masuk dan memesan makanan.
Keduanya duduk berhadapan. Sekali lagi Fatimah menunduk, menghindari tatapan mata suaminya. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya jika tatapan laki-laki yang halal sangat menghunjam. Membuat pipinya menghangat dan detak jantungnya berdetak keras.
"Em, sepertinya saya punya hutang ya sama anti." Gus Ali membuka kancing lengan bajunya agar sedikit mendapat hawa segar.
Sebenarnya Fatimah berusaha menyibukkan diri. Ia sudah mati kutu di depan suaminya. Entah mengapa perasaan sayangnya itu membuatnya lebih pemalu di hadapan Gus Ali.
"E, apa Mas?" tanya Fatimah lirih. Ia masih memainkan handphonenya pura-pura sibuk.
"Anti jangan sok sibuk. Kalau suami bicara tolong perhatikan." Suara Gus Ali masih selembut tadi. Tapi Fatimah malah merasa suaminya itu berusaha tegas.
"Maaf, Mas. Fatimah tidak akan mengulangi lagi." Fatimah menatap wajah suaminya.
"Mas dulu kan pernah janji kalau anti jadi lulusan terbaik, akan saya kasih hadiah," ujar Gus Ali menyita perhatian Fatimah.
"Nah, sekarang anti boleh minta apapun sebagai hadiahnya," lanjut Gus Ali melebarkan senyumnya.
"Nggak seru, Mas kalau ana yang minta. Saya akan terima apapun yang diberikan oleh Mas Ali." Fatimah mantap menjawab. Lagipula apalagi yang ia harapkan? Pernikahan ini sudah sangat membahagiakannya. Fatimah sadar kalau materi ataupun ketampanan wajah yang ia tuju, ia takkan pernah mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
"Ya sudah kalau begitu maukah anti dengarkan kisah yang akan saya ceritakan?" tanya Gus Ali. Respon Fatimah tadi membuat Gus Ali melihat sisi lain Fatimah. Istrinya itu memang tak butuh segala hadiah.
"Mau, Mas. Saya sudah kangen banget dengar Mas cerita." Senyum Fatimah melebar. Ia tidak berakting. Ia memang sangat menyukai kisah teladan yang selalu menggugah hatinya.
"Sepertinya cerita yang tidak terlalu panjang ya, Tim. Kita kan harus melanjutkan perjalanan." Gus Ali memperingati sebelum Fatimah kecewa karena cerita yang akan ia kisahkan hanya kisah-kisah kecil bagaimana Rosulullah sallallahu alaihissalam memperlakukan istrinya.
"Baik, Mas. Tapi nanti kalau ada waktu tolong kisah yang panjang ya, Mas." Fatimah mengalah. Sebenarnya ia sudah tidak sabar mendengar kisah yang akan menyiram kehausan jiwanya. Kisah teladan yang menggugah jiwa dan menambah iman.
"Kisah bagaimana Rasulullah Saw memperlakukan istrinya. Terutama istri kesayangannya, Aisyah. Bahkan beliau pernah menyuruh rombongan untuk bergerak dahulu. Beliau sengaja melakukan itu biar bisa berduaan dengan Siti Aisyah."
Gus Ali memberi jeda dari ceritanya. Saat melihat wajah Fatimah begitu menyimak dengan serius, ia sangat senang. Setidaknya ia mengetahui hal yang disukai sang istri.
"Mereka berlomba lari."
"Siapa yang menang, Mas?"
"Karena Aisyah masih langsing, ya Aisyah yang menang."
Fatimah tersenyum. Sepertinya ia familiar dengan kisah itu. Bagaimana tidak? Kisah itu terkenal berkat lagu yang mengisahkan Aisyah istri Rasulullah.
"Kalau menurut hadist, kisah ini diungkapkan sendiri oleh bunda Aisyah."
Mulut Fatimah terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. Ia menunggu suaminya kembali bercerita. Menyela pembicaraan adalah hal yang salah. Dan hal ini ia harapkan menjadi awal mula ketawadhu'an Fatimah pada suaminya.
Suami yang harus ia hormati dan ia patuhi perintahnya selagi sesuai dengan syariat.
"Aisyah radhiyallah ‘anha mengisahkan. Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata, “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad)
"Masyaallah, indahnya akhlak Rasulullah," komentar Fatimah setelah merasa diberi waktu untuk menanggapi kisah dari suaminya.
"Itulah, Tim. Bahkan saat Rasulullah Saw mendapatkan tawanan perang yaitu Ummul mukminin Shafiyyah, beliau berlutut agar Shafiyyah bisa naik ke untanya," tambah Gus Ali.
Fatimah berkaca-kaca. Mendengar cerita teladan dari manusia paling mulia, hatinya bergetar. Ia berjanji pada diri sendiri akan membaktikan diri untuk suaminya selama dalam kebaikan.
"Suami anti tidak semulia nabi Muhammad, tapi ijinkan saya berusaha membahagiakan anti," ujar Gus Ali. Matanya sedikit berembun.
Terkadang ia masih tak percaya bisa menikahi wanita yang selalu ia idamkan. Gus Ali hanya berdoa semoga pernikahan mereka membawa keduanya pada kebaikan.
"Ana juga bukan wanita baik, Mas. Tolong bimbing saya. Ingatkan dan didik saya." Fatimah menjawab membuat suasana sedikit emosional.
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang. Keduanya menyantap makanan dengan lahap karena memang perut keroncongan.
Tak ada satu patah kata pun yang diucapkan. Mereka melakukan sesuai adab makan yang diajarkan dalam Islam. Barulah setelah selesai makan dan meneguk minuman, Gus Ali kembali membuka percakapan.
__ADS_1
"Tahu tidak, Tim. Jaman sekarang itu sudah banyak adab yang tidak dihiraukan yang sejatinya adab itu untuk melindungi dan mengatur manusia."
"Maksud Mas bagaimana?" Fatimah masih belum mengerti.
"Mas bukannya mau menghakimi pekerjaan orang lain lhoh ya, tapi dari kacamata Mas, itu kurang sesuai dengan adab. Contohnya influencer yang membuat video riview makanan. Dimana mereka makan sambil berbicara."
Fatimah terdiam sesaat. Ia membenarkan pikiran suaminya. Selanjutnya ia menyusun kalimat untuk menanggapi pendapat Gus Ali.
"Saya setuju dengan Mas, tentang adab yang mulai hilang yaitu tidak boleh berbicara pada saat makan. Tapi kita tidak boleh hanya menilai dari satu hal, Mas. Barangkali dengan riview makanannya ia bisa membantu para pedagang makanan yang kini mulai sepi pembeli." Fatimah berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang baik.
"Benar juga menurut anti, astaghfirullah." Gus Ali meraup wajahnya.
Khusnuzon adalah tingkatan tertinggi dalam keilmuan. Memetik sebuah kebaikan yang tersembunyi. Ketimbang membincangkan hal yang jelas-jelas salah.
Keduanya lalu berdiri. Gus Ali sebagai suami berjalan dengan santainya ke kasir. Bermaksud akan membayar makanan yang mereka lahap tadi. Sayangnya ia mencari dompet tidak ada di sakunya.
Melihat Gus Ali berbalik, Fatimah segera menghampiri. Takut jika ada hal buruk yang terjadi. Meski Fatimah ragu jikalau uang Gus Ali tidak cukup. Karena ia sendiri menyaksikan lembaran merah yang mengumpul di dompetnya saat menyiapkan tas suaminya.
"Ada apa, Mas?"
"Dompet Mas ketinggalan di mobil, Mas ambil dulu ya," pamit Gus Ali.
Tapi Fatimah berinisiatif untuk membayar makanan dengan uangnya saja. Lagipula uangnya juga milik suaminya, kan? Pikir Fatimah ringan.
"Pakai uang saya saja, Mas." Fatimah mengangsurkan dua lembar uang pecahan seratus ribu.
Wajah Gus Ali terlihat memerah. Mungkin malu karena dibayarkan istrinya. Tapi Gus Ali menerima uang itu dan segera membayarkan.
Gus Ali dan Fatimah kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Gus Ali kini memutar YouTube di handphonenya agar suasana perjalanan tidak semakin sepi.
Mulia berani lembut hati
Amat cerdas ilmu seluas samudera
Yaa Sayyidah putri Abu Bakar istri Rosululloh"
Sungguh Nabi memuliakanmu
Hingga Nabi minum di bekas gelasmu
Bila marah, nabi kan memanja
Sejukkan hatinya
Ummana sungguh terpuji akhlakmu dengan Nabi
Dengan Baginda bunda slalu berseri-seri
Selalu bersama hingga ujung nyawa kau disamping Rosulullah
Sayyidah Aisyah sungguh manis shirah cintamu
Bukan persis novel yang kadang cerita semu
Kau istri mulia, yaa Aisyah Ummanaa Allah Rahman pilih Rasul untukmu
Kedua orang di dalam mobil itu menikmati alunan lagu yang mengisahkan tentang Siti Aisyah Radhiyallaha.
"Berapa jauh lagi kita sampai, Mas?" tanya Fatimah setelah musik selesai. Ia ingin bertanya sejak tadi, tapi karena yang mengalun adalah lagu tentang kemuliaan Ibunda Aisyah, ia mengurungkan niatnya.
"Mungkin satu jam lagi, kenapa Tim? Capek ya?" balas Gus Ali terlihat mencemaskan keadaan istrinya.
"Tidak, kok, Mas." Fatimah tersenyum manis.
"Em, Mas. Apa Fatimah boleh minta sesuatu?" lanjut Fatimah.
"Everything's for you."
"Gini, Mas. Mas Ali kan nggak mengijinkan saya bernyanyi untuk orang lain, jadi saya ingin juga Mas Ali tidak bernyanyi untuk orang lain."
"Kenapa, kok gitu permintaannya? Meski suara Mas didengarkan orang sedunia, hati Mas hanya untuk Fatimah, istri saya."
"Em, Mas keberatan ya?"
"Enggak, kok. Mas akan memenuhi permintaan anti." Gus Ali menjawab sekenanya. Baiklah setelah ini gitar kesayangannya harus kembali disimpan.
Atau digunakan saat bersama Fatimah saja. Pikir Gus Ali. Tapi sejujurnya Gus Ali masih penasaran tentang hubungan Tata dan Fatimah. Jangan sampai kedekatan istri dan sahabatnya itu memicu persoalan baru. Atau curiga-curigaan.
"Waktu hape ana tertukar dengan handphone Bu Tata, ana shock banget dengan wallpaper di layar handphone Bu Tata. Apalagi dalam galerinya penuh foto dan video Mas." Fatimah meluapkan kekesalannya. Ia sampai mendengus karena sangat kesal. Dadanya terbakar cemburu. Dan ia berharap Gus Ali tidak lagi dekat dengan Bu Tata.
"Tak apa, Tim. Manusiawi kalau perempuan itu pencemburu. Tapi wajib ingat ya, Allah lebih pencemburu."
"Astaghfirullah," pekik Fatimah teringat kalau dirinya baru saja terbawa rayuan setan.
"Ngomong-ngomong berarti anti sudah mencintai saya sejak lama, ya?" tanya Gus Ali menahan senyum. Hal paling menyenangkan adalah mengetahui jika cintanya bersambut.
"I, iya, Mas. Sejak Mas selalu ada untuk Fatimah, sejak itu Fatimah terganggu dengan kehadiran Mas."
"Wah, bahaya juga ya ternyata mendekati sejak kecil. He he he." Gus Ali terkekeh. Membuat wajah Fatimah memerah menahan malu.
Perjalanan mereka hampir sampai di tujuan. Tapi perjalanan kisah mereka masih sangat panjang. Pernikahan memang ikatan yang suci. Jika mereka mampu menerjang segala ujian dan cobaan, mereka akan bertumbuh dan semakin mengerti hakikat cinta.
__ADS_1