Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Pengakuan 2


__ADS_3

Mega turun dari mobil Gus Jaka dan Ning Rere. Senyumnya tidak pernah pudar sedari tadi. Apalagi tadi Ning Rere mengajaknya ke toko perhiasan untuk membeli cincin yang pas di jari manisnya.


Tapi tetap saja Mega masih penasaran dengan panggilan Ning Rere kepada Gus Jaka. Ia seperti mendengar Ning Rere memanggil Gus Jaka dengan sebutan 'Mas'. Pun ia tidak berani untuk menanyakannya secara langsung.


Mega hanya bisa berharap bahwa Ning Rere adalah adik dari Gus Jaka. Ia tidak bisa membayangkan jika ternyata Gus Jaka dan Ning Rere adalah suami istri. Dan dia akan dijadikan istri kedua. Mega hanya bisa terus berkhusnuzon kepada takdir.


Hari itu akhirnya Mega kembali ke kostnya. Ia terus menatap kotak perhiasan kecil dengan beludru merah itu. Hatinya rasanya mau meledak karena bahagia.


Apalagi Gus Jaka sangat tampan dan terlihat baik. Pun seorang hafiz. Mega berekspektasi tinggi terhadap hubungannya dengan Gus Jaka. Toh pertemuan hari ini adalah bukti keseriusan. Rasanya tidak mungkin Gus Jaka dan Ning Rere akan mempermainkannya.


Begitu mobil Gus Jaka lenyap dari pandangan, Mega segera mengambil handphonenya. Ia tidak sabar untuk menceritakan kebahagiaannya kini pada sahabatnya, Fatimah.


Tanpa sadar Mega terbawa perasaannya, merasa sombong karena akan berjodoh dengan seorang Gus juga. Ternyata tidak hanya Fatimah yang bisa mendapatkan suami seorang Gus.


Mengingat pemikiran salah itu, secara sadar Mega langsung beristighfar. Rasa ujub atau sombong pada dirinya sendiri itu ia usir dengan banyaknya istighfar. Ia tidak boleh sekali-kali merasa lebih baik dari orang lain.


Meski kesombongannya hanya setitik, tapi Allah Maha Pencemburu. Mega takut jika perasaannya akan menjadikannya jauh dari kasih sayang Allah.


Setelah melepaskan perasaan itu, barulah ia mengetik pesan yang dikirim kepada Fatimah. Hanya pesan yang singkat.


||Mohon doanya ya, Tim. Semoga Allah ridho dengan ikhtiar yang ana lakukan||


Satu menit kemudian balasan segera ia dapatkan dari Fatimah. Fatimah mengaminkan doa Mega. Tapi juga mengingatkan untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah. Mega juga disarankan untuk melakukan istikharah agar mendapat petunjuk.


Mega tersenyum, ia akan melakukan seperti apa yang dikatakan Fatimah. Ia akan berusaha mendapat petunjuk dari Allah kalau memang benar Gus Jaka adalah jodoh yang dikirimkan oleh Allah.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu membuat Mega terperanjat. Hari sudah berganti malam, tapi masih ada orang yang bertamu ke kost-annya.


"Assalamualaikum, Mega. Ana Dika, bisa keluar sebentar?"


Mega semakin terkejut. Ia penasaran dengan alasan Dika datang ke kost-annya malam-malam begini. Mega segera mengenakan kembali cadarnya dan membuka pintu.


Untuk menghindari fitnah, Mega dan Dika berjalan ke tempat yang umum dan banyak orang lalu lalang.


Dika masih terdiam. Dari raut wajahnya, Mega menebak ada sesuatu yang mengganggu pikiran lelaki itu.

__ADS_1


"Kak, Dik."


"Mega."


Keduanya terdiam setelah serempak saling memanggil. Dika menoleh ke arah lain untuk mencairkan rasa gugupnya. Sedangkan Mega memilih menunduk.


"Kak Dika duluan."


"No, no, no. Ladies first."


Mega tak menjawab agar perdebatan tidak semakin panjang.


"Apa Tante Naf baik-baik saja?" tanya Mega hati-hati, yang terlintas di kepalanya saat melihat kedatangan Dika tentu saja masalah uminya.


Mega teringat pesan Dika tempo hari. Tentang uminya yang rindu pada Mega. Bahkan Dika meminta gadis itu menghubungi uminya untuk sekedar bertegur sapa.


"Baik, sehat. Malah umi nanya kapan anti main ke rumah."


"Em, alhamdulilah jika Tante sehat."


Jika dulu Mega merasa senang akan hal itu, kini Mega tidak bisa lagi berpikir demikian karena ia sudah memiliki calon suami yang harus ia jaga kehormatannya.


Berkaca dari kasusnya yang dulu, Mega mulai berhati-hati dalam berperilaku. Apalagi calon imamnya kelak adalah seorang Gus.


"Mega."


"Iya, Kak?"


Suara Dika seolah tertelan kembali. Ia merasa sangat gugup untuk mengatakan tujuannya. Terlintas di kepalanya bagaimana Gus Jaka yang sudah beristri itu memang berkharisma dan tampan. Dika merasa tidak mampu bersaing dengannya.


Pikiran Dika kembali melayang. Teringat kata-kata Gus Ali jika ternyata Mega telah dilamar oleh Gus Jaka, ia tidak boleh melamar di atas lamaran saudara muslimnya sendiri.


Tapi apa daya, pikiran Dika yang terpaku pada Mega yang akan menjadi istri kedua tidak bisa hanya diam saja. Ia tidak boleh membiarkan Mega terluka. Ia tidak boleh membiarkan perempuan yang ia kasihi itu menangis karena salah pilih.


"Bagaimana hubungan anti dengan Gus Jaka?" tanya Dika dengan suara lirih.

__ADS_1


Jika orang lain yang menanyakannya, Mega tentu biasa saja. Tapi ini masalahnya, Dika yang menanyakannya. Mega tidak bisa menutup fakta bahwa dirinya dulu pernah memiliki perasaan lebih kepada lelaki ini.


Dan rasanya kata-kata sulit keluar dari kerongkongannya karena Dika yang menanyakan hubungannya dengan Gus Jaka.


"Ba, baik, Kak."


"Apa anti sudah yakin dengan pilihan anti?" Dika terlihat sangat serius. Bahkan Mega tercenung karena belum pernah melihat wajah super serius Dika.


"Insyaallah, Kak. Mohon doanya saja." Mega memilih menjawab pertanyaan itu dengan diplomatis.


"Anti itu cantik dan baik, Meg. Kenapa harus memilih suami orang? Masih banyak yang mau menjadi suami anti." Dika mulai kualahan menahan perasaannya.


"Apa maksud, Kak Dika?" Mega berusaha tenang meski ia sangat terkejut dengan ungkapan pria di hadapannya.


"Jadi anti belum tahu kalau Gus Jaka itu suami Ning Rere?"


Mega kaget dan matanya membulat sempurna. Di situasi seperti ini, Mega langsung teringat tasbih di tangannya. Secara otomatis Mega menggumamkan istighfar di batinnya.


"Mungkin Kak Dika salah paham, Ning Rere tidak mengatakan kalau Gus Jaka adalah suaminya." Wajah Mega mengatakannya dengan tenang. Efek dari istighfar yang terus ia dengungkan.


"Enggak, Meg. Ana tahu Gus Jaka memang tampan. Tapi ana nggak rela kalau anti jadi istri kedua. Anti tahu kan bagaimana istri kedua di mata masyarakat kita? Ana mohon pertimbangkan kembali, Meg." Dika mengatakannya dengan nada lemah. Ia berharap bisa meluluhkan hati Mega.


Dengan cekatan, Dika merogoh sakunya. Mengeluarkan kotak perhiasan yang dulu dikembalikan oleh Bu Tata. Dika tahu apa yang akan dilakukannya ini salah. Tapi ia terpaksa melakukannya agar Mega tidak terjerumus dalam pernikahan yang salah.


"Terimalah ini, Meg. Lihat kan ana juga menginginkan anti jadi istri ana. Jadi pikirkanlah lagi tentang ini Meg."


Mega terkejut bukan main. Tanpa menunggu reaksi dari Mega, Dika meletakkan kotak itu ke genggaman tangan Dika.


Melihat Dika yang emosional dan dirinya sendiri yang ada dalam kubangan dilema, Mega menitikkan air mata.


"Apa anti menangis, Meg?"


"Tidak bisa, Kak. Ini salah. Ana telah dilamar oleh Gus Jaka. Tidak seharusnya Kak Dika melamar di atas lamaran orang lain."


Mega akan mengembalikan kotak kecil milik Dika itu, tapi Dika meyakinkannya untuk berpikir jernih. Dika mengatakan kalau ini belum terlambat. Mega punya hak untuk menolak lamaran dari Gus Jaka. Dan sebelum pergi, Dika berjanji ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Mega.

__ADS_1


__ADS_2