Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Permintaan yang Sulit ( POV Adi)


__ADS_3

Sejak aku menerima pesan itu, aku menjadi sangat gelisah. Semoga saja Afin tidak menyadarinya.


Atau aku pasti akan sangat merasa bersalah. Dia sedang mengandung anakku, dan aku harus menjaganya.


Bagaimana bisa aku melukainya dengan sesuatu yang bahkan belum pernah aku bayangkan?


Tanpa sadar aku melamun untuk kesekian kalinya. Sungguh aku risau. Pesan dari Mas Rois, salah satu ustaz yang juga sedang menempuh pendidikan di sini.


Kami sering mengerjakan tugas dan berdiskusi bersama. Beliau teman yang baik. Hanya saja memiliki kekurangan. Dia selalu sumbu pendek.


Barangkali sifat itu pula yang membuatnya berada dalam masalah ini. Peluhku membasahi kening. Rasanya ingin segera berganti hari karena aku ingin segera bertemu dan menanyakan kebenaran tentang pesannya.


"Mas kok melamun?" tegur Afin dari belakang.


Kami masih berada di atas sajadah setelah sholat magrib. Sepertinya Afin memperhatikan aku sejak tadi. Buktinya ia tahu kalau aku sedang melamun.


"E, la ya sidati sauqi." Aku berusaha mengembangkan senyuman.


Meski rasanya sangat canggung. Aku merasakan Afin berkali-kali lipat lebih sensitif sejak hamil.


"Jangan berbohong, Mas."


Ucapan Afin kali ini menegaskan kalau dia benar memperhatikan sejak tadi. Astaghfirullah. Apa yang harus aku katakan?


Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa Mas Rois memintaku bantuan yang tidak mungkin aku lakukan.


"E, Fin, nanti ba'da isya, Mas mau sowan ke Mas Rois, ya," kataku mencari topik lain.


Dalam hati aku berharap Afin tak meminta turut dalam sowanku kali ini. Sungguh aku dilema jika nanti permintaan Mas Rois sampai di telinga Afin, aku tak tahu harus bagaimana.


Lagipula Mas Rois juga tidak berpikir jauh. Mengapa meminta tolong padaku, padahal aku telah menikah. Dan posisinya sekarang Afin mengandung anak pertama kami.


Aku takut jika tak bisa menjaga akhlak dan tirakat, akan berpengaruh pada anak kami kelak.


Afin nampak berpikir keras. Melihat garis wajahnya yang lugas, mendadak aku panas dingin. Yaa Rabb, semoga aku tidak melukai perasaan istriku.


Dia sedang dalam masa sulit sebagai perempuan yang terpengaruh hormon kehamilan. Bahkan aku masih ingat bagaimana insiden yang menyebabkan Sofia dan Rahman buru-buru pindah rumah.


"Afin nggak ikut, ya."


Alhamdulillah. Tanpa sadar aku bernapas lega. Dan sayangnya Afin mengetahui itu. Matanya langsung mendelik.

__ADS_1


"Mas kenapa ambil napas? Apa Mas senang bisa keluar sendirian?" cerocos wanita yang sudah lama tak banyak bicara itu.


Yaa Allah, baru saja aku bersyukur. Dan ujianMu kembali datang. Aku buru-buru menggeleng. Sangat menghindari salah paham.


"Laa, yaa habiba, ana tidak senang."


"Hanya, ha-nya ana senang anti bisa beristirahat lebih awal." Akhirnya aku menemukan alasan di detik-detik akhir.


"Atau ana ikut saja?" timbangnya lagi.


Kepalaku kini terasa pening. Yaa Allah, ini baru bulan-bulan awal kehamilan. Bagaimana jika sampai sembilan bulan Afin akan sensitif seperti ini?


"Istriku," panggilku dengan nada manis.


Mungkin Afin berubah galak karena jarang aku puji.


"Setelah ana berpikir jauh, ana lebih baik istirahat. Tiba-tiba kepala ana pusing." Afin berkata dengan meletakkan tangannya di kepala.


Jujur itu membuatku merasa bersalah sekaligus khawatir dengan keadaannya. Semoga istriku dan anak di dalam kandungannya selalu sehat dan dalam penjagaan Allah.


Aku menunduk untuk bernapas lega. Takut jika nanti kelegaan yang tak seberapa ini tertangkap mata elang Afin.


***


Tidak lain tujuanku hanya agar Afin tidak semakin buruk pikirannya. Aku berganti baju yang sudah sering aku pakai dan tidak memakai wangi-wangian.


Ini semua hanya agar Afin tidak semakin cemburu buta. Kemarin-kemarin ketika ia cemburu pada Sofia, aku sempat kualahan.


Tidak bisa mengatasi sendiri kelakuan istriku yang di luar dugaan. Aku kira setelah kujelaskan tentang aku dan Sofia masih mahram, Afin sudah cukup mengerti.


Tapi ternyata tidak begitu. Afin masih terus mengikuti kecurigaannya. Entahlah, aku tidak mau menyalahkannya. Lagi-lagi aku teringat bahwa ia sedang mengandung anakku.


Afin berbaring di atas dipan dan menutup setengah badannya dengan selimut. Meski aku sedikit curiga karena tadi aku menangkap basah ia meraih cadar dan tasnya.


Saat aku tanya, ia hanya berkata membereskan saja. Padahal aku tahu kalau tas dan cadar itu hanya ia persiapkan jika akan keluar dari rumah.


Apakah Afin masih begitu curiga sampai akan mengikutiku?


"Fin, Mas berangkat ya. Assalamualaikum," pamitku lalu mencium pucuk kepala Afin.


Dia yang sejak tadi pura-pura menutup mata hanya mengangguk tanpa melihatku. Hatiku semakin yakin jika Afin akan membuntuti kepergianku.

__ADS_1


Walau begitu aku harus tetap menemui Mas Rois. Harus kujelaskan permohonan maaf ku karena tak bisa membantu permasalahan yang ia hadapi.


Untungnya, rumah Mas Rois tak jauh dari blok rumah. Aku sedikit bersyukur akan itu. Setidaknya, jika Afin benar-benar akan mengikuti aku, ia tak perlu naik kendaraan.


Sejujurnya aku tak mau terjadi apa-apa padanya dan jabang bayi yang dikandungnya.


Setelah berjalan dua puluh menit, aku sampai di depan pintu rumah berwarna kayu itu. Aku mengetuk dan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam."


Mas Rois segera membuka pintu dan mempersilakan aku masuk. Tak lupa aku memintanya menutup pintu. Itu aku lakukan agar Afin tak mendengar apa yang akan kami bicarakan di dalam ruang tamu.


"Adi, ana mohon tolong ana." Wajah ksuut Mas Rois kini terlihat jelas.


Laki-laki yang kutaksir berusia tiga puluh satu tahun itu mengiba dan terlihat jelas duka yang ditanggungnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Mas?"


Aku menempatkan diri di seberang Mas Rois. Ia baru saja menaruh tubuhnya di sofa berwarna mustard.


"Tanpa sadar, ana telah mentalak istri ana. Dan kini ana sangat menyesal. Ana sangat mencintai Nusaibah. Ana tak bisa hidup tanpanya." Duka sangat pekat di wajah Mas Rois. Ia benar-benar terpukul dengan kejadian ini.


Dan ya, aku tidak melihat Mbak Nusaibah di rumah ini. Apakah ia telah memilih angkat kaki dari rumah ini? Hey, aku tidak mau terlalu jauh berkata.


Aku datang kesini untuk menjelaskan bahwa aku tidak bisa melakukan nikah muhallil. Aku tidak bisa dan tidak akan mampu membagi kasih sayangku pada Afin.


"Afwan, Mas. Tapi ana harap ini jadi pelajaran buat antum. Agar tidak selalu terbawa emosi." Aku berusaha memberi semangat. Meski kesan dari ucapanku adalah menyalahkannya.


"Jadi, Di. Tolong ana ya. Nikahilah Nusaibah lalu ceraikan, agar ana bisa kembali dengannya."


Aku mengembuskan napas dalam. Melihat air mata mengumpul di wajah laki-laki ini aku iba. Tapi mengeringkan dukanya dengan menggores hati istriku bukan pilihannya.


"Tapi, Mas. Nikah muhallil itu, ..."


"Nikah muhallil ada dalam Alquran, Di. "Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan tersebut tidak halal baginya sehingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain ini menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri)nya untuk kawin kembali jika keduanya dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui." (Q.S. al Baqarah [2]: 230)."


Saat Mas Rois membacakan arti salah satu ayat, aku terdiam. Mas Rois rupanya benar-benar menyesal. Ia telah mendapat pelajaran dari sikapnya yang cenderung sumbu pendek.


"Ana tidak mungkin menyakiti istri ana, Afin sedang hamil, Mas," kataku sedikit kelu.


Brakkkk.

__ADS_1


Aku dan Mas Rois segera bangkit mendengar suara keras dari arah depan. Mungkinkah Afin bisa mendengar perbincangan kami?


__ADS_2