Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Mahar Arrahman


__ADS_3

Malam sudah tiba. Fatimah baru selesai murojaah. Seperti biasa, keluarga kecil itu membiasakan menghidupkan Alquran di antara Magrib dan isya. Bahkan setelah isya bergulir dan malam semakin larut, masih ada anggota keluarga yang menetap di tempat pasolatan.


Ini pula yang membuat televisi di rumah jarang menyala di saat malam. Karena bagi ustaz Adi dan istrinya, hiburan di dunia yang menyejukkan dan menuntaskan dahaga adalah ayat-ayat Allah. Kisah yang memberi semangat berbenah sebelum nyawa tercabut.


"Fatimah," panggil ustaz Adi mengejutkan Fatimah yang sempat terdiam sesaat.


"I, iya, Abah?" tanya Fatimah, berusaha menutupi keterkejutannya.


"Anti tadi dihukum ustazah Maharani?"


Mata Fatimah membulat sempurna. Bagaimana Abahnya bisa tahu? Apakah ustazah Maharani menceritakan kejadian tadi di kantor ustazah? Jangan-jangan juga ke telinga Gus Ali. Eh, sekilas Fatimah teringat saat dirinya dan Mega bertemu Gus Ali di dekat perpustakaan.


Atau jangan-jangan Gus Ali yang memberitahu ustaz Adi tentang dirinya yang dihukum keluar kelas. Huh, Fatimah jadi suudzon pada diri Gus Ali. Entah siapa yang sebenarnya memberitahukan hal itu pada ustaz Adi. Yang jelas kini kedua orang tuanya menatap kecewa padanya.


Fatimah menunduk. Takut dan menyesal memenuhi hati Fatimah. Memang ini pertama kalinya ia dihukum sampai keluar dari kelas.


"Fatimah ketiduran, Bah." Fatimah mengaku dengan suara lemah.


"Kenapa bisa ketiduran? Apa semalam tidak tidur?" tanya ustaz Adi lagi. Ia juga sempat menatap istrinya yang merasa bersalah. Bagaimanapun juga kesalahan anak termasuk andil besar pengawasan ibu di dalam rumah.


"Fatimah kemarin jadi istikharah?" bisik umi Afin pada anaknya. Meski berbisik, kalimat itu dapat terdengar sampai ke telinga ustaz Adi.


"Istikharah?" ulang ustaz Adi. Keningnya berkerut.


"Ya sudah, Fatimah jangan diulangi tidur di kelas. Anti harus belajar disiplin," kata ustaz Adi.


"Iya, Abah. Fatimah nggak akan ketiduran di kelas lagi. Umi, Abah, Fatimah meminta maaf telah melakukan kesalahan itu." Wajah Fatimah benar-benar bersalah.


"Iya." Hanya satu kalimat itu mampu membuat Fatimah merasa takut.


Setelah merasa cukup, Fatimah mohon undur diri. Ia segera berlalu ke kamarnya. Dengan langkah yang sedikit berat.


Sesampai di kamar, Fatimah meraih handphonenya. Sudah pasti di sana ada nama Gus Ali di layar. Sebuah pesan masuk dari tadi bakda magrib. Fatimah berdecih. Mungkin Gus Ali sangat santai sampai mengiriminya pesan di jam ngaji.


||Assalamualaikum, Fatim. Kenapa sampai dihukum keluar kelas?||


Fatimah memutar bola matanya. Jengah. Kadang ada rasa senang saat mendapati pesan Gus Ali. Tapi kadang dia juga sangat malas berhubungan dengan laki-laki itu. Toh ada laki-laki lain yang sudah dijodohkan padanya. Jadi Fatimah harus belajar menetralkan perasaannya saat berkomunikasi dengan Gus Ali.


"Nanti calon suamiku bisa cemburu kalau tahu aku sedekat ini dengan Gus Ali," ujar Fatimah.


Lalu teringat kata Gus Ali saat mengetahui Fatimah sudah dijodohkan. Ini pasti akan lebih mudah. Gus Ali akan mundur sendiri setelah tahu Fatimah sudah dijodohkan.


||Ketiduran di kelas, Gus. Semalam tidak bisa tidur.||


Fatimah membaca kembali deretan huruf sebelum dikirimnya. Tak lama kemudian ada pesan lain yang masuk. Fatimah terkejut melihat melihat nomor yang belum ada dalam kontaknya.


||Assalamualaikum, Fatimah. Ini aku, Mega. Ini nomerku. Disimpan ya.||


Kalau ingat Mega, Fatimah langsung teringat ucapan temannya itu. Tentang ia akan cemburu kalau Gus Ali menikah dengannya. Entah mengapa ada rasa sedih di hatinya. Bukan karena kecemburuan Mega. Tapi lebih ke perasaannya sendiri yang mendadak sembilu. Bagai tertusuk jarum yang tajam di sela-sela daging yang dihidangkan. Fatimah berusaha senang dengan perjodohannya, tapi di sisi lain ia juga mencemaskan dirinya dan hatinya.


||Oh, kenapa tidak bisa tidur? Kepikiran aku ya?||


Fatimah ingin sekali membanting hapenya saat membaca balasan itu. Tapi bibirnya malah tersenyum.


||Ge-er banget sih, Gus? Ingat saya sudah punya calon, tolong Gus jangan menggoda saya.||


Fatimah baru akan mengirim balasannya. Tapi buru-buru menghapus kalimat di belakang.


||Ge-er banget sih, Gus? Saya mikirin ujian akhir.||


Barulah Fatimah mengirim balasannya. Ia terpaksa berbohong. Padahal yang sebenarnya terjadi, Fatimah selalu memikirkan Gus Ali dengan sadar atau tidak. Bahkan sampai wajah tampan itu muncul setelah sholat istikharahnya.


||Tim, anti nanti setelah menikah apa nggak kuliah?||


Kini nama Mega yang muncul di layar handphonenya. Ia sedikit merasa lucu. Kini dia sedang berbalas pesan dengan dua orang yang sama-sama menyebalkan. Mega sempat menyebalkan saat dulu menjadi fans Gus Ali garis keras. Sedangkan Gus Ali memang sudah menyebalkan sejak lama.


"Jangan-jangan mereka jodoh?" tanya Fatim pada diri sendiri. Kok hatinya merasa sedih membayangkan kalau Mega dan Gus Ali berjodoh?


Tak lama kemudian suara pintu terketuk membuyarkan lamunan Fatimah. Lalu uminya masuk ke kamar putrinya.


"Belum tidur, Tim?" tanya umi Afin menatap putrinya yang masih duduk di meja belajar dengan handphone di tangan. Sekilas umi Afin melihat nama Mega di layar handphone Fatimah.


"Belum, umi. Masih chat-an sama temen," balas Fatimah.

__ADS_1


Umi Afin duduk di dekat putrinya. Ia sebenarnya sudah menahan sedari tadi untuk berbicara dengan Fatimah dari hati ke hati.


"Kemarin jadi istikharah, Tim?"


Fatimah mengangguk. Ia jadi khawatir jika uminya bertanya adakah pertanda yang ia dapatkan setelah melakukan sholat istikharah. Fatimah ingin sekali menyembunyikan kalau ia malah terbayang Gus Ali. Mana mungkin uminya akan percaya kalau yang ditemukan Fatimah malah orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perjodohan ini.


"Lalu gimana?"


"Fatimah belum dapat pertanda, mi. Apa mungkin istikharah Fatimah tidak khusyuk?" tanya Fatimah. Dalam hati ia meminta maaf karena harus berbohong pada ibunya.


"Tidak apa, Tim. Terkadang kita beristikharah tapi yang mendapat pertanda malah orang lain di sekitar kita."


Fatimah menyimak baik-baik kalimat uminya. Dalam hati ia benar-benar merasa bersalah telah membohongi uminya.


"Tapi umi ingin tanya jujur dari dalam diri Fatimah, apakah Fatimah keberatan dengan perjodohan ini?" tanya umi Afin sembari menatap lekat putrinya.


"Tidak, Mi. Fatimah insyaallah ikhlas. Kalau menurut umi dan abah ini terbaik, insyaallah juga terbaik menurut Allah."


Mata umi Afin berkaca-kaca. Masih belum bisa menerima kenyataan kalau putri di depannya sudah dewasa dan akan segera dilamar orang.


"Tapi apa kamu nggak merasa tertekan dengan ini, Tim? Usia kamu masih sangat muda."


"Kalau Fatim berpikirnya begini, Mi. Nanti setelah lulus sekolah Fatim akan terjun ke dunia masyarakat, daripada Fatimah terjerumus ke dalam zina, lebih baik Fatimah dinikahkan," jelas Fatimah mengungkapkan alasannya mau menerima perjodohan itu.


Dalam hati Fatimah, ia juga sedang meyakinkan dirinya kalau ini yang terbaik. Ini yang Allah takdirkan untuknya.


Air mata umi Afin yang menggantung sontak runtuh. Umi Afin memeluk erat putrinya. Rasa sayangnya yang berlebih membuatnya sedikit mencemaskan masa depan anaknya.


"Nanti kalau Fatimah menikah, Fatimah ingin mahar Arrahman, Mi. Seperti umi." Fatimah mengeratkan dekapan uminya.


Melihat air mata uminya tumpah, Fatimah juga turut menangis. Sebagai anak hanya inilah baktinya. Menuruti perintah kedua orangtuanya selagi tidak menjerumuskan ke dalam dosa.


Di depan pintu kamar yang setengah terbuka, ustaz Adi berusaha membekap mulutnya sendiri. Melihat kepatuhan Fatimah membuat dadanya bahagia sekaligus sedih. Perpisahan itu ada di depan matanya.


Apalagi saat teringat kata Gus Ali tempo hari. Anak Pak Kyai Huda itu sempat berpikir untuk segera menikahi Fatimah. Jadi tidak hanya lamaran, tapi langsung menikah. Air mata ustaz Adi juga jatuh ke pipi. Ia merasakan kesedihan istrinya. Walau begitu ia harus tetap tegar di hadapan istri dan anaknya.


"Ya sudah, Fatim segera tidur ya, nduk. Jangan sampai begadang lagi. Jangan sampai dihukum lagi di kelas," peringat umi Afin pada putrinya.


Sekali lagi umi Afin membelai wajah putrinya. Tak terasa kalau putrinya itu sudah dewasa dan akan melanjutkan hidupnya ke babak baru. Pernikahan.


"Ada apa, Bah?"


"Gus Ali ingin segera menikahi Fatimah. Karena ia harus pindah ke Surabaya," ujar ustaz Adi denga suara bergetar.


"Ke Surabaya? Apa nggak bisa Fatimah tinggal di sini saja, Bah?" tanya umi Afin.


"Setelah Fatimah menjadi istri Gus Ali, ia harus patuh kepada suaminya." Tak mau terlalu terbawa perasaan, ustaz Adi berlalu dari hadapan istrinya. Ia tak sanggup melihat umi Afin menangis. Ia tidak sanggup melihat kesedihan atas perpisahan di mata istrinya lagi.


Dulu, dulu sekali ustaz Adi hancur. Bahkan sangat hancur melihat Afin dengan tatapan nanar di saat kematian Syams.


Ustaz Adi seakan trauma dengan kesedihan di mata istrinya. Walau sejak kecil ustaz Adi sudah terbiasa mengalami kemalangan, tapi ia tak sanggup jika istrinya yang menanggung sedih itu. Lebih baik ustaz Adi menghindar sementara waktu.


***


Setelah kepergian umi Afin dari kamarnya, Fatimah menangis dan menutup wajahnya dengan bantal. Baru setelah lega, ia kembali duduk dan melihat handphonenya.


||Ya sudah, fokus belajar untuk ujian. Kalau anti lulus dengan nilai terbaik, akan aku beri hadiah.||


Bibir Fatimah sontak melongo. Gus-nya yang satu itu memang selalu di luar perkiraan. Tapi tak apa, Fatimah jadi bersemangat untuk belajar. Biar dapat hadiah.


||Serius, Gus? Boleh tahu hadiahnya apa?||


Fatimah terkekeh sendiri. Baru saja ia menangis sedih. Sekarang hatinya kembali ceria setelah mendapat pesan Gus Ali. Eh tapi nanti setelah dilamar, Fatimah harus bisa menghindari Gus Ali. Tidak masalah, Gus Ali juga akan menghindarinya. Pikir Fatimah.


||Ya nanti kalau sudah terbukti anti jadi lulusan terbaik, baru hadiahnya meluncur.||


Bibir Fatimah langsung mengerucut. Padahal ia sudah penasaran dengan hadiah dari Gus Ali. Menunggu lulusan itu sangat lama.


||Saya pasti bisa jadi lulusan terbaik. ||


Balasan itu singkat, tapi menurut Fatimah sangat tepat. Ia memang murid yang selalu peringkat teratas di kelas. Menjadi lulusan terbaik itu pasti mudah. Meski ia dihukum keluar kelas sekali, itu tak akan mempengaruhi nilainya.


||Melihat optimismu, saya jadi ingat cerita tentang Sayyidina Ali yang lulus ujian dari Rosulullah.||

__ADS_1


Mata Fatimah langsung berbinar. Mendengarkan siroh atau kisah teladan adalah kesukaannya. Ia selalu haus akan pengetahuan tentang kisah kehidupan di zaman Rosulullah.


||Ceritakanlah, Gus. Saya mohon.||


Tak lama setelah centang dua biru pesan itu, sebuah panggilan masuk. Melihat nama Gus Ali di layar, Fatimah segera menerimanya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Gus."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."


"Kok malah telepon, sih?"


"Ya katanya mau dengar kisah?"


"Tapi lewat pesan, kan bisa."


"Kalau lewat pesan namanya baca, bukan dengar."


"Bilang aja Gus mau dengar suara saya."


Entah mendapat keberanian dari mana, Fatimah mengatakan itu.


"Eh, kok gitu?" Gus Ali langsung terdengar salah tingkah.


Alih-alih Fatimah jadi tidak enak padanya, Fatimah malah bersemangat menggoda Gus Ali. Toh dia hanya bercanda. Dan mungkin nanti setelah mereka tidak saling berkomunikasi, mereka akan merindukan momen akrab ini. Pikir Fatimah terbawa perasaan.


"Gus modus, ya?"


"Enggak kok. Kalau Fatimah lebih suka baca saja ya sudah saya tutup teleponnya."


"Ja, jangan, Gus. Terlanjur telepon, kok."


"Ah, jangan-jangan kamu yang modusin saya ya?"


"Langsung cerita saja, Gus."


"Eh, anti kok berani nyuruh-nyuruh Gus?"


"Afwan, Gus. Ana tidak bermaksud."


"Udah, saya mulai kisahnya ya. Pada suatu hari, saat Rasulullah SAW berada di masjid, seorang sahabat datang menghampirinya. Ia mengeluh karena merasa sulit mengerjakan salat dengan khusyuk. Sering kali ia masih teringat akan hal-hal lain, termasuk urusan rumah tangga, utang-piutang, dan sebagainya.


Rasulullah SAW kemudian berkata "Tidak ada orang yang dapat sempurna dan khusyuk sepenuhnya dalam mengerjakan salat dari awal hingga akhir."


"Saya bisa, ya Rasulullah," tiba-tiba Ali bin Abi Thalib menyela dengan yakin.


"Baiklah, jika memang benar dapat sempurna dengan khusyuk dari awal hingga akhir, akan kuberikan sorbanku yang terbaik sebagai hadiah untukmu," kata Rasulullah.


Kemudian Ali bin Abi Thalib mengerjakan salat sunah dua rakaat, terlihat dia mengerjakannya dengan penuh kekhusyukan. Namun setelah selesai, Ali tampak murung. Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kamu bisa mengerjakan dengan khusyuk dan sempurna, Ali?"


"Dari rakaat pertama sampai sujud terakhir saya masih bisa khusyuk, ya Rasul. Namun, ketika hendak salam, saya teringat akan sorban sebagai hadiah yang engkau janjikan, ya Rasul," kata Ali dengan murung


Rasulullah SAW mengatakan, bahwa khusyuk itu memang tidak mudah. Sebab, khusyuk itu diukur oleh Allah sebatas kemampuan manusia. Namun, ketika pikiran sudah terbawa urusan lain ketika salat, segera kembalikan lagi kepada salat. Jadi, khusyuklah kita dalam salat."


"Lalu kaitan cerita ini dengan saya apa, Gus?" Setelah terdiam lama, Fatimah memberanikan diri bertanya.


"Anti sangat optimis kalau anti bisa menjadi lulusan terbaik demi hadiah yang saya janjikan. Tapi anti lupa kalau yang membuat anti mampu menjadi lulusan terbaik itu semata-mata karena Allah."


Deg. Fatimah terdiam. Rasanya seperti tamparan keras. Tapi menyadarkan. Fatimah segera beristighfar. Jadi sejak tadi ia telah takabur.


"Jadi saya harus bagaimana, Gus?"


"Ya berusaha sebisa mungkin, tapi tidak meninggalkan berdoa dan tawakal."


"Syukron katsiron, Gus atas kemurahan panjenengan memberikan saya ilmu yang sangat bermanfaat."


"Sama-sama, Tim. Ya sudah, sudah malam. Nanti saya ganggu waktu istirahat kamu. Saya nggak pengen kamu dihukum lagi karena ngantukan."


Seketika Fatim menyadari sesuatu. Tapi ia tidak mungkin mengatakan pada Gus Ali.


"Iya, Gus. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh."

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terputus, Fatimah segera menatap langit-langit kamarnya.


"Jadi yang ngadukan ke Abah kalo aku dihukum itu, ... Gus Ali."


__ADS_2