
Mega terduduk lesu di kamarnya. Ingin menangis tapi air matanya sudah terasa kering tak bisa menangis lagi. Ia kacau dan kalut saat Fatimah mengirimkan screenshot-an sebuah akun lambe yang memosting video di cafe waktu itu.
Mega sudah mengecek postingan itu, dan saat membaca komentarnya yang hampir menyentuh lima ribu, hatinya terasa ditimpa beton.
gila si ceweknya keliatan pendiem
enak banget ya cowoknya
cowoknya emang keliatan bukan anak baik sih
ini kan temen kampus
wah wah ternyata mereka begitu
nggak nyangka
Mega semakin menangis. Terbayang wajah kedua orang tuanya yang pasti mengetahui kabar ini.
"Maafin Mega, Ma, Pa." Mega lirih.
Langitnya seolah runtuh. Meski kabar itu sama sekali tidak benar, apa yang bisa ia lakukan? Sekarang ia akan dicap sebagai wanita yang tidak baik dimanapun ia berada.
Suara dering handphone tidak ia hiraukan. Mega masih terus meratapi nasibnya sendiri. Ia merasa menjadi manusia paling terpuruk di dunia ini.
"Mega?" panggil suara perempuan sambil mengetuk pintu kamar kost Mega.
Mega tahu kalau itu pasti suara Fatimah yang mencemaskan keadaan dirinya. Tapi Mega yang terpuruk enggan beranjak. Ia menutup wajahnya di lipatan tangan.
Fatimah dan Gus Ali yang mengetuk pintu di depan kamar kost terus berusaha memanggil nama Mega. Mereka jelas sangat cemas.
"Mas, Mega ada di dalam," ujar Fatimah putus asa. Tidak tenang melihat sahabatnya itu menyendiri di dalam kamar. Takut kalau Mega bertindak nekad.
"Tenang, Tim. Mas minta kunci serep ke pemilik kost dulu ya." Gus Ali beranjak dari samping istrinya lalu berjalan mencari rumah pemilik kost.
Fatimah tetap setia berada di depan pintu kamar Mega. Sekali-kali Fatimah menyemangati Mega, dan meminta dibukakan pintu. Sayangnya Mega masih tidak mau keluar.
Di saat yang sama, Gus Ali telah memegang kunci serep kamar kost Mega. Ia bertemu dengan Dika yang baru turun dari mobilnya. Gus Ali menatap tidak suka beberapa detik. Lalu melunak setelah teringat kalau ia dan Fatimah sudah memaafkan perilaku Dika.
"Apa yang antum inginkan, Dika? Kenapa antum ke sini?" Gus Ali menghampiri.
Dika tidak membuang waktu, ia segera menjelaskan duduk perkara kepada Gus Ali. Setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari Dika, Gus Ali menghela napas.
__ADS_1
Ternyata tidak seperti yang ia pikirkan. Jadi Dika dan Mega hanya korban dari media. Korban dari orang-orang yang tidak bertabayyun. Gus Ali mendapat pelajaran berharga dari kejadian ini.
"Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang, Pak?" tanya Dika dengan pandangan kosong.
"Kasian Mega, pasti dia sangat terpukul dengan kejadian ini," lanjut Dika membayangkan hancurnya hati Mega saat ini.
"Kita harus menemukan ibu-ibu yang melabrak kalian. Biar bisa diklarifikasi." Setelah lama terdiam, Gus Ali mengatakan ide yang menurutnya tepat.
"Bagaimana keadaan Mega, Pak?" tanya Dika selanjutnya. Ia tidak bisa menutupi rasa cemasnya. Ia sangat merasa bersalah. Dika mau melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.
"Mega mengurung diri. Makanya saya minta kunci serep." Gus Ali mengacungkan kunci di tangannya.
"Saya ikut menemui Mega, Pak."
Akhirnya Dika dan Gus Ali berjalan ke kamar Mega. Fatimah yang masih berdiri di sana sempat menunjukkan amarahnya kepada Dika.
"Antum tega sekali merusak kehormatan seorang wanita!"
"Tunggu Fatimah, ini hanya salah paham."
Fatimah ingin sekali memukul wajah Dika jika tidak dilerai Gus Ali. Ketiganya segera kembali fokus kepada Mega. Setelah kunci diputar dan pintu terbuka, Fatimah langsung menerobos masuk.
"Mega."
"Kita harus menemukan ibu-ibu itu. Saya takut masalah ini akan membuat kalian dikeluarkan dari kampus." Suara Gus Ali tegas. Ia tahu akan sulit memperjuangkan nasip Mega dan Dika sebagai mahasiswanya.
"Tapi kemana kita harus mencari perempuan itu?" tanya Dika kesal lalu memukul setir.
"Kita pikirkan nanti dulu. Sekarang kita makan dulu." Gus Ali yang berada di samping Dika memberi saran.
Mega dan Fatimah duduk di bangku belakang. Fatimah berusaha terus menenangkan Mega yang matanya sudah sembab karena terus menangis.
"Maafkan saya, Pak. Karena kelicikan saya ingin memfitnah Bapak, sekarang saya yang kena fitnah." Pandangan Dika melorot. Ia merasa sangat malu melihat Gus Ali dan Fatimah tulus ingin membantu.
Gus Ali terdiam sesaat. Ia teringat sebuah ungkapan dari sahabat nabi yang masyhur.
"Barangsiapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.” (Ali bin Abi Thalib)
"Iya, Pak. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Dika kembali menunduk, merasa malu dan sangat bersalah.
"Sudah, tidak apa-apa. Ayo kita mencari makan saja. Saya yakin Mega juga belum makan."
__ADS_1
Keempatnya lalu meluncur ke sebuah restoran menggunakan mobil milik Dika. Mega yang sudah sedikit tenang mulai bercerita.
"Afwan sebelumnya, tapi ana melihat ibu-ibu yang melabrak waktu itu bersama ustaz Adi. Tapi anehnya ustaz Adi diam saja, bahkan seperti tidak mengenali ana." Mega berkisah dengan tidak enak hati.
Tentu saja hal ini membuat Fatimah curiga. Apa mungkin Abahnya itu ada di sini? Apa mungkin Abahnya itu memiliki wanita lain yang tidak lain ibu-ibu yang melabrak Mega dan Dika saat itu?
"Tolong jangan bercanda, Meg. Anti tahu kan betapa bahayanya fitnah? Bahkan dosa fitnah lebih besar dari membunuh." Gus Ali memperingati Mega.
"Demi Allah, Gus, ana tidak berbohong."
Fatimah yang mulai terpengaruh jadi kepikiran. Ia memikirkan bagaimana perasaan uminya jika mengetahui hal ini. Mata Fatimah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Daripada menjadi fitnah dan prasangka, lebih baik anti telpon Abah untuk memastikan," saran Gus Ali.
Fatimah ragu-ragu menerima handphone dari suaminya. Ia ingin menelpon rumah. Tapi ia juga takut jika apa yang dikatakan Mega memang benar.
"Telepon saja, Tim. Agar tidak jadi fitnah." Gus Ali meyakinkan, karena dalam hati Gus Ali tidak percaya dengan kata-kata Mega.
Dengan tangan gemetar, Fatimah mencari nomor telepon rumahnya dan menekan tombol panggil. Sejenak ia menunggu panggilan tersambung.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Ada apa Fatimah? Tumben nelpon?"
Itu suara umi Afin yang terkejut dengan panggilan itu. Fatimah menahan napas beberapa detik sebelum akhirnya menanyakan keberadaan Abahnya.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, umi. Abah ada di rumah?"
"Tidak ada, Tim. Abah anti lagi ada keperluan di Surabaya. Nggak mampir ke rumah anti?" tanya umi Afin terdengar heran.
"E, tidak, Mi."
Fatimah tidak tahu harus bagaimana karena sekarang hatinya dicekam rasa takut. Bibirnya terasa kaku untuk berbicara.
Melihat itu, Gus Ali segera mengambil handphone. Saat handphone beralih, Gus Ali berbicara dengan umi Afin.
"Umi dan abah sehat-sehat saja? Oh iya, insyaallah kami pulang Minggu depan, Mi. Iya, assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Telepon terputus. Fatimah diam seribu bahasa. Kepalanya yang belum sepenuhnya pulih kini kembali terasa pusing.
"Nah, di restoran ini saja. Kita makan dulu sambil mencari cara menemukan ibu-ibu itu." Gus Ali berbicara.
Setelah mobil berhenti, para penumpangnya keluar dan berjalan ke dalam restoran. Saat melewati sebuah mobil, Fatimah terpaku sesaat. Ia sepertinya mengenali mobil itu. Mobil yang dulu membantunya pulang dari kampus. Fatimah jadi teringat wajah ibu-ibu yang menolongnya saat itu.
__ADS_1
Pun Dika yang berjalan terkejut melihat mobil Abahnya ada di sana. Entah bagaimana ia menghadapi Abahnya. Semoga saja ia tidak bertemu dengan Abahnya.
"Ayo masuk."