Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Hanya Sebuah Perpisahan Sementara


__ADS_3

Gus Ali terdiam. Menatap awang-awang yang kadang membayanf wajah Fatimah. Ah, rupanya dia benar-benar tersihir cinta.


Gus Ali segera beristighfar begitu menyadari banyak sekali kotoran dalam hatinya. Semoga setelah ia nanti menikahi Fatimah, semua kesulitannya terurai.


Sebagaimana yang ia yakini dari sebuah hadist tentang menikah adalah menyelamatkan dirinya. Maka barang siapa yang sudah mampu, diperintahkan untuk menikah.


Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ [Tafsir al-Qurthubi, 9/327]


"Ehem." Pak Kyai yang sengaja mengintip putranya di kamar berdehem.


Ada kecewa dan sedikit amarah mengetahui sang anak sering menelepon Fatimah. Sepertinya cinta suci Gus Ali mulai ternoda nafsu.


Jika dibiarkan terus menerus akan merusak iman Gus Ali. Ini juga yang kadang mendorong Pak Kyai untuk segera menikahkan anak bungsunya. Hanya saja ia tak bisa memaksakan kehendak. Apalagi Fatimah termasuk dari keluarga orang yang memiliki ilmu, jadi Pak Kyai tidak mau tujuannya menjadi ketersinggungan untuk keluarga Fatimah.


"Eh, Abah. Sudah sejak tadi?" tanya Gus Ali cemas.


Ia pasti akan dimarahi kalau ketahuan sering menelepon Fatimah. Dulu saja saat ketahuan ia sering whattsapp-an sama Fatimah, Gus Ali ditakzir tidak boleh menggunakan handphone sebelum hapal di luar kepala kitab seperti Al-Hikam dan Sirojut Tolibin. Walau Gus Ali tahu takziran Pak Kyai juga memberi manfaat untuknya, tetap saja Gus Ali menyimpan takut pada Abahnya.


"Sek ndablek telponan sama Fatimah?" tanya Pak Kyai dengan wajah yang masam.


"Ya, Bah. Jaman sekarang kan canggih cuma lewat telepon bisa berkomunikasi." Gus Ali menggaruk kepalanya.


Saat berada di depan Pak Kyai, ia tak akan mampu berbohong atau membuat alasan. Gus Ali mulai ancang-ancang mencari topik lain.


"Ndang rabi ae wes timbang Fatimah kok gombali ae."


Gus Ali mendelik. Jika pernikahan itu benar terjadi, ia akan senang tapi juga sekaligus tidak siap. Masih terpikir soal tradisi itu.


"Bah, lamaran dulu saja. Fatimah masih kecil," ujar Gus Ali. Ia juga tidak mau egois merenggut masa muda Fatimah.


"Lha ngono kok telpon ae?" Pak Kyai terlihat geram. Dalam hati ia beristighfar berkali-kali. Melihat watak Gus Ali yang ndablek, seolah membuatnya sangat bersalah. Dialah yang mendidik Gus Ali selama ini.


Dalam hati Pak Kyai ia mulai bersedih. Mulai berdialog dengan nuraninya sendiri. Barangkali dengan cara intens berkomunikasi dengan Fatimah sedikit mengobati kesepian Gus Ali tanpa kehadiran seorang ibu sejak kecilnya.


"Bah, wonten masalah." Gus Ali segera mengubah topik pembicaraan.


"Opo?"


Gus Ali tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan amplop cokelat yang berisi surat permintaan dari universitas untuk Gus Ali turut membantu sebagai dosen pengajar di Surabaya.


Pak Kyai terdiam. Selesai membaca keseluruhan isi surat itu, ia berpikir sejenak. Mungkin ini jawaban dari Allah untuk kegelisahannya atas kedekatan Gus Ali dengan Fatimah yang keterlaluan.


Barangkali kerikil jarak bisa membuat Gus Ali tersadar akan cintanya yang telah terkuasai nafsu. Hubungan jarak jauh akan mendidik hati Gus Ali untuk menahan rindu. Pak Kyai berharap.


"Enyangono. Tak restui."


Gus Ali ternganga. Secepat itu Pak Kyai mengijinkannya pergi? Apakah Abahnya itu tidak menyayanginya sampai-sampai dengan mudahnya mengusir jauh anaknya.


"Lha pripun lamaran kulo?" tanya Gus Ali sambil menunduk. Ketika ia berbicara dengan Abahnya dan menunduk itu menandai dirinya kurang setuju. Pak Kyai sudah hapal tabiat itu.


"Gampang, wong lamaran tog. Lek wes wayahe rabi mulih o."


Setelah berkata demikian Pak Kyai berjalan keluar dari kamarnya. Sebenarnya ada yang mengganjal di hati, tapi tidak mungkin ia selami di depan Gus Ali.


Perasaan seorang Abah sudah pasti khawatir jika anaknya berada jauh. Tapi jika dengan berjauhan itu mendidik, maka orang tua harus rela melepas anaknya. Karena jika tetap tinggal yang ada hanya kemerosotan dari ilmu yang tidak menemukan masalah. Ibarat sebuah pisau yang tak pernah bertemu asahannya.


Meratapi punggung Abahnya yang menghilang di balik pintu, Gus Ali terdiam. Ia tak mungkin menolak keinginan Abahnya itu. Beliau telah merestui yang berarti Gus Ali harus pergi.


Setelah memastikan Abahnya itu tidak di sana, Gus Ali segera menarik sesuatu di bawah dipannya. Gus Ali menghilangkan debu yang menempel di benda kesayangannya ini.


Setelah yakin gitar itu telah bersih, Gus Ali mencoba memetik gitarnya. Menyeting nada yang sedikit sumbang karena jarang sekali ia gunakan.


Ya Gus Ali memang jarang bermain gitar. Karena menurut pemahamannya bermain gitar hanya membawa mudharat baginya yang belum bisa fokus pada hakikat hidup.


Dulu benda itu sangat berharga bagi Gus Ali. Tentu saja pemberian dari orang istimewa yang tak boleh ia ingat karena sejak kecil ia telah memilih Fatimah.


Gus Ali mencoba memainkan satu lagu kesukaannya. Lagu yang entah mengapa cocok dengan perasaannya kali ini.


Tujhko... Main Rakh Loon Wahaan...


-Aku ingin menjagamu di tempat


Jahaan Pe Kahin... Hai Mera Yaqeen...


-Dimana keyakinanku tinggal


Main Jo... Tera Na Hua...


-Jika aku tidak menjadi milikmu


Kisi Ka Nahin... Kisi Ka Nahin...


-Maka aku takkan jadi milik yang lain


Le Jaaye Jaane Kahaan Hawayein, Hawayein

__ADS_1


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawa kita?


Le Jaaye Tujhe Kahaan Hawayein, Hawayein


-Tak ada yang tahu kemana angin ini akan membawamu?


Gus Ali menyipitkan matanya. Takut kalau Abahnya mendengar suara gitarnya. Jika nanti ia jadi pergi ke Surabaya dan tinggal di sana beberapa waktu, ia akan membawa gitar ini.


Di tempat lain, Fatimah sedang sibuk dengan pelajarannya. Ia benar-benar belajar dengan keras.


Sayup-sayup handphone memutar lagu di YouTube. Tak sengaja lagu itu random memutar sebuah lagu yang membuat Fatimah tertarik dan mengalihkan pandangan ke arah handphone.


Allah ya Salam


Allaaah yaa Salaaaam


Faaniik ahla kalam


Dimatamu Aku menemukan kata-kata yang paling indah


Arrab menni shwayya shwayya


Mendekatlah sedikit demi sedikit


Albi wa albak sawa yetla u


Jadi hatiku dan hatimu bisa menemukan satu sama lain


Eddon'ya enta malet'ha alayya


Kamu telah memenuhi duniaku


Dal hubbili mahadesh da u


Inilah Cinta yang tak seorang pun pernah rasakan


Fatimah terdiam. Entah mengapa seperti merasakan nyawa dari lagu yang berbahasa Arab ini. Ia segera mengambil handphonenya dan membaca judul lagu yang mengisahkan tentang pertemuan dua cinta itu.


Qorib minni. Sedetik saja Fatimah merasa tersanjung. Sudah wataknya perempuan itu suka baper. Gampang terbawa perasaan.


Mulanya biasa saja. Tapi lama-lama semakin didengar, Fatimah merasa kisah cintanya akan semanis yang ada di lagu itu. Semoga saja.


***


Di Madrasah, suasana jam istirahat seperti biasa sangat ramai. Sejak kejadian siang di dekat perpustakaan, Mega menjadi dekat dengan Fatimah.


Barulah saat keempat santri ini berjalan kembali ke kelas, Mega mulai membuka percakapan.


"Eh, tau nggak sih? Kabarnya Gus Ali akan dipindahtugaskan ke Surabaya."


Semua mulai antusias dengan bahasan yang dikatakan Mega. Tak terkecuali Fatimah yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas berita yang ia dengar. Benarkah begitu? Benarkah Gus Ali akan meninggalkannya?


Lantas mengapa Gus Ali tak mengatakan apapun tentang kepindahannya? Pikir Fatimah mulai marah.


Apa mungkin ia memang tidak berharga bagi sahabatnya itu sehingga kabar sebesar ini ia harus tahu dari orang lain? Ah iya, Fatimah teringat dia memang bukan siapa-siapanya Gus Ali.


"Yah, Fatimah patah hati dong?" sindir Zahra dengan maksud bercanda.


"Apasih? Lagian apa urusannya Gus Ali pindah dari sini sama aku?"


Ketiga temannya langsung kaget dengan perubahan air muka Fatimah. Di mata teman-temannya gadis itu belum pernah semarah ini menanggapi sebuah kabar.


"Selow, Tim. Selow. Sabar, sabar," timpal Mega.


Sebenarnya dalam hati Mega terkejut melihat respon Fatimah setelah ia mengatakan kabar yang ia dapat dari ustazah Maharani ini. Terkejut kalau Fatimah begitu marah dan kecewa. Atau mungkin Fatimah merasa sangat terluka jika Gus Ali pergi?


"Meg, anti serius?"


"Iya, ana gak sengaja dengar ustazah Maharani mengatakan ini pada Bu Ina." Mega menjelaskan sumber dari berita yang ia siarkan ini. Bu Ina adalah bagian sekretariat yang mengurus surat-menyurat.


Setelah mendengar bel masuk, mereka tidak bisa fokus dengan kepindahan Gus Ali. Semua terdiam saat tiba-tiba Gus Ali masuk ke dalam kelas. Padahal bukan jadwalnya.


Gus Ali mengucapkan salam dan menatap ke kelas yang juga dihuni Fatimah itu. Tatapan dan senyumannya juga dirasa aneh oleh seluruh warga kelas itu. Seperti ada kesedihan yang mendalam.


Semua santri di kelas hanya terdiam. Mereka juga merasakan kesedihan yang di alami Gus Ali.


'Tenanglah, Li. Hanya perpisahan yang sementara. Apalagi di dunia memang tempatnya berpisah.'


Tak lama kemudian ustazah Maharani masuk ke kelas itu. Ustazah berbadan subur itu sempat terpaku sesaat melihat Gus Ali duduk di tempat ustaz dan diam menatap santrinya.


'Ustaz Ali mungkin mau berpamitan,' ujar ustazah Maharani dalam hati. Ia menikmati beberapa saat pandangan sedih Gus Ali dan kebingungan santrinya.


"Afwan, ustaz, hari ini bukan jadwal ustaz."


Ketua kelas segera mengangkat tangannya. Ia bersuara meski hanya ditanggapi anggukan oleh Gus Ali.

__ADS_1


Detik itu juga Gus Ali menoleh dan menemukan ustazah Maharani di depan kelas. Gus Ali langsung bangkit dan berjalan keluar. Tak lupa ia mengucapkan salam sebelum berpamitan dalam diam.


Mungkin nanti ia akan bisa kembali lagi ke kelas ini. Meski dengan berjalannya waktu, santri yang ada di kelas ini akan berganti.


"Assalamualaikum, ustazah. Maaf saya tidak bermaksud untuk mengambil jam ustazah, ...."


"Tidak apa, ustaz. Saya paham ustaz ingin berpamitan sebelum berangkat ke Surabaya."


"Apa santri semua sudah diberi tahu?" tanya Gus Ali. Ditanggapi gelengan dari ustazah di depannya.


"Jadi ustaz tidak berpamitan dan tidak memberitahu mereka?" tanya balik ustazah Maharani.


Sedikit terkejut bahwa Gus Ali bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan kepada santri-santrinya.


"Tidak perlu, ustazah. Saya kan hanya ustaz tidak tetap, jadi tidak terlalu berpengaruh." Gus Ali memasang senyum ragu. Sebenarnya ia meragukan apa yang ia lakukan ini. Benar atau salah? Apakah santrinya akan merasa kehilangan saat ia tak ada? Atau biasa saja?


"Ana wallan, ustaz." Ustazah Maharani mengangguk lalu masuk ke kelasnya.


Gus Ali terdiam sesaat. Lalu beranjak berlalu dari sana. Entah mengapa ia tak mampu mengatakan kepergiannya. Meski ia juga tak bisa mengatakan kalau ia harus pergi.


Fatimah sedari tadi duduk gelisah di kelas. Kedatangan ustaz Ali yang tidak sesuai jadwal dan pandangannya yang sendu, mengganggu pikiran Fatimah. Seakan membenarkan perkataan Mega tempo hari.


"Ra, ana mau tanya langsung ke Gus Ali soal kepindahannya." Fatimah baru saja berdiri dan meminta ijin ke kamar mandi.


"Ustazah, saya izin ke kamar kecil." Fatimah mengangkat telunjuknya.


"Iya."


Setelah mendengar jawaban ustazah Maharani, Fatimah bergegas keluar dari kelas. Ia berharap sekali Gus Ali belum jauh dari kelasnya.


Fatimah salah, ternyata Gus Ali sudah tidak ada di sekitar kelasnya. Ia terpaksa berjalan mengelilingi setiap bangunan untuk menemukan ustaz muda itu. Dan akhirnya sosoknya ia temukan di ruang tata usaha.


"Apakah surat permintaan pindah ini bisa diterima ustazah?" tanya Gus Ali pada Bu Ina.


"Bisa ustaz, jadi sudah bulat untuk pindah? Wah, Fatimah kesepian dong nggak ada ustaznya?" canda Bu Ina membuat Fatimah yang mendengar di balik tembok tertegun.


Jadi benar Gus Ali akan pindah ke Surabaya? Dan ia juga mendengar sendiri bahwa di lingkungan ustazah namanya kerap dikaitkan dengan Gus Ali.


Entah mengapa ada rasa sakit yang menusuk dadanya. Ada rasa kecewa bahwa Gus Ali bahkan tidak berpamitan kepadanya. Ih iya, siapa dia? Apa pentingnya dia bagi Gus Ali?


Fatimah merasa sedih dirinya tak berharga untuk Gus Ali. Apa? Apa dia berharap menjadi seseorang yang berharga untuk Gus Ali? Fatimah berdebat dengan hatinya sendiri.


Melihat Gus Ali akan keluar dari tata usaha, Fatimah langsung berlari ke samping bangunan itu. Ia sudah kadung sedih. Mungkin tak perlu banyak drama. Ia akan kembali ke kelas. Biar saja Gus Ali pergi tanpa berpamitan dengannya. Toh bagi Gus Ali dia bukan siapa-siapa.


"Tunggu, Fatimah."


Fatimah hapal benar dengan suara itu. Sekarang Fatimah yakin Gus Ali melihatnya. Dengan wajah yang sedih, Fatimah tidak mungkin menatap Gus Ali. Fatimah tidak akan berbalik. Biar saja ia dianggap tidak sopan.


"Ada apa ustaz?" tanyanya tanpa membalikkan badan.


Gus Ali mengernyitkan keningnya. Herna dengan sikap Fatimah yang tidak sesuai ekspektasinya. Seharusnya Fatimah lebih tahu tata sopan santun. Tapi mengapa ia menjawab Gus Ali tanpa menghadap padanya?


"Bukankah sekarang jam pelajaran?" Gus Ali mencoba menenangkan dirinya. Mungkin Allah mengirim Fatimah ke sini untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi ke Surabaya.


"Naam ustaz, ana dari kamar kecil." Suara Fatimah bergetar. Sebenarnya mendung menggantung di matanya. Ia sedang menahan diri untuk tidak menangis.


"Kamar kecil? Kamar kecil ada di sana, tidak mungkin sampai di sini." Gus Ali berpikir sejenak. Apakah mungkin, ....


"Anti mengikuti saya?" lanjut Gus Ali.


"Ti, tidak, ustaz. Untuk apa saya mengikuti ustaz?"


"Jangan berbohong. Atau anti juga sudah tahu kalau saya akan pergi?"


Mendengar kata pergi, hati Fatimah semakin teriris. Air mata yang sedari tadi ditahannya, meluncur dengan cepat. Membasahi pipinya.


"Maaf ustaz, saya tidak sengaja mendengar."


"Ck. Kebiasaan burukmu nguping itu akan terbawa sampai kamu jadi, ... istriku." Gus Ali keceplosan. Tapi ia sadar, kata istriku ia sengaja dengan suara pelan. Agar hanya dirinya yang mendengar.


"Jadi apa, ustaz?"


"Jadi orang."


Fatimah mendengkus. Sebal tapi juga masih sedih. Lelaki di hadapannya ini tak juga berpamitan padanya.


"Ya sudah kembalilah ke kelas. Atau saya adukan ke ustazah Maharani?" ancam Gus Ali sedikit kecewa karena Fatimah semakin tidak disiplin.


"Naam, ustaz." Fatimah kembali berjalan. Ia semakin emosional.


"Sebentar, Fatimah."


Fatimah menghentikan langkahnya. Apakah kali ini Gus Ali akan berpamitan padanya?


"Saya titip ini untuk tugas Minggu depan. Nanti pelajaran saya akan diampu ustaz Musa."

__ADS_1


Fatimah menelan saliva. Ternyata Gus Ali tidak berpamitan padanya. Entah mengapa ia sangat berharap kalau Gus Ali mengatakan sendiri kepindahannya. Tapi harapan itu menguap begitu saja. Yang ada kini hanya rasa sebal.


__ADS_2