
"Sebenarnya apa yang membuat Gus begitu kepikiran?" tanya Haikal hati-hati.
Sudah dua jam dia mengamati wajah Gus Ali yang kusut. Persis sarung yang lupa tidak disetrika buru-buru diambil dari jemuran karena stok sarungnya habis.
"Ngene lo, Kal." Gus Ali kembali berpikir untuk meluapkan keresahannya, tapi mengingat Haikal masih dibawah umur, Gus Ali mengurungkan niatnya.
"Nggak jadi, Kal." Gus Ali kembali mundur. Melihat wajah kecewa Haikal, Gus Ali ingin tertawa. Tapi terpaksa ia tahan. Takut jika kang ndalem sekaligus muridnya di kelas itu tersinggung.
Sedangkan Haikal hanya bisa berdecak. Dia terlanjur serius akan mendengarkan keluh kesah Gus-nya.
"Kamu belum cukup umur, Kal. Aku nggak mau tanggungjawab kalau pendidikanmu amburadul karena ceritaku."
Mendengar penjelasan itu Haikal hanya bisa menghela napas. Tapi antusiasnya memang tidak menggebu seperti tadi. Tidak masalah kalau Gus Ali tidak bercerita padanya.
"Ya kalau gitu coba cerita sama Pak Kyai, Gus. Barangkali beliau punya jawaban atas kegundahan hati Gus Ali," terang Haikal sembari menuang lagi kopi ke gelasnya.
Sayangnya kopi satu ceret itu sudah habis. Tinggal letheknya saja. Haikal menepuk ceretnya kecewa. Tapi ia juga menyadari kalau sudah hampir dinihari menikmati gelapnya langit malam bersama Gus-nya sekaligus ustaznya itu.
Haikal pura-pura menguap. Tak berani berterus terang jika sebenarnya ia sudah mengantuk. Toh besok jam pertama adalah pelajaran Gus Ali. Haikal sedikit lega setelah mengingat itu.
"Ndak usah pura-pura ngantuk, biasanya juga nggak tidur," ejek Gus Ali tak memedulikan waktu yang banyak terbuang.
Haikal terpaksa menghentikan akting ngantuknya. Jika hapal tabiat Gus-nya yang satu itu, Haikal hanya berdecak saja.
"Kok seneng begadang sih, Gus?" Haikal meraih kopyah lalu menggaruk kepalanya yang sedikit gatal. Sudah tiga hari ini belum dapat ghosob sampo.
"Begadang sambil ngopi itu hal penting dalam ngaji."
Haikal menggelengkan kepala. Jawaban Gus Ali masih sama setiap ditanya soal kebiasaan buruknya tidak tidur di malam hari itu.
"Yasudah, Gus. Saya temani begadang tapi saya tak sambil merem ya?" pinta Haikal melepas sarungnya lalu menutup tubuhnya dengan sarung itu.
"Yo jangan, Kal. Wes sekarang aku mau curhat." Gus Ali memandang langit malam. Bayangan wajah Fatimah mampir sebentar, langsung diusir dengan lafadz istighfar.
__ADS_1
Haikal tidak menjawab. Gus Ali berpikir kalau itu tanda persetujuan. Merasa tidak mampu memendam sendirian, akhirnya Gus Ali ingin mengatakan pada Haikal.
"Aslinya aku kepikiran sama tradisi yang sudah sejak lama ada di keluarga, Kal. Kalau nanti setelah ijab kabul aku melakukan tradisi itu, gimana perasaan Fatimah?" Gus Ali menerawang jauh.
Ia tak akan bisa lupa hari itu, empat tahun yang lalu saat Ning Faza, kakak perempuannya keluar dari kamar bersama Gus Badar dengan air mata menggenang di pelupuk. Dengan tangan gemetar Gus Badar menyerahkan sapu tangan dengan noda darah di sana. Sebagai bukti bahwa orang tua Ning Faza telah berhasil menjaga kesucian putrinya.
Saat itu Gus Ali yang mulai mengerti apa tradisi keluarganya itu hanya melongo. Ada rasa iba di hatinya melihat sang kakak menahan tangis dan terus menunduk.
"Kalau ingat wajah Ning Faza setelah menjalani tradisi itu, aku jadi takut menikah." Gus Ali menundukkan wajahnya.
Perasaannya kini campur aduk. Ia juga masih mengingat jelas raut lega di wajah Abahnya mengetahui putrinya masih suci hingga pernikahan dilakukan. Senyuman dan keharuan memancar jelas di wajah Pak Kyai saat itu.
Gus Ali tak meragukan pendidikan ustaz Adi dan umi Afin pada Fatimah. Tapi Gus Ali gamang dengan respon Fatimah jika ia tahu harus menjalani tradisi itu.
"Kal, menurutmu gimana?"
Hening. Tak ada sahutan. Gus Ali akhirnya menoleh ke arah Haikal yang ternyata sudah tertidur dengan suara ngorok halus. Gus Ali hanya bisa kesal sendiri. Jadi sejak tadi Haikal tidak mendengarkan curhatan Gus Ali?
Gus Ali meraup wajahnya sendiri. Kadang ia sadar dengan kecemasannya yang terlalu liar menghuni kepala. Tapi di saat lain ia selalu dihantui dengan pemikiran itu. Mungkin syetan yang menghuni hatinya sudah pandai menghasut. Mengetahui kalau kelemahan Gus Ali adalah segala hal tentang Fatimah dan perjodohan mereka.
"Tadi cerita soal apa, Gus?" tanya Haikal sembari segera bangun.
"Ora Ono, Kono pindah nang njero. Turu neng kamar." Gus Ali sembari berjalan ke ndalem.
Mungkin curahan hatinya ini memang tidak perlu sampai bocor keluar. Ini pertanda dia sendiri yang harus menemukan pemecahan masalah yang ia hadapi.
Gus Ali baru saja melangkah ke ruang tengah, begitu melihat Abahnya masih duduk di sana dengan kitab terbuka di tangannya.
Memerhatikan mata Abahnya yang terpejam, Gus Ali mengira Pak Kyai yang berusia hampir enam puluh lima tahun itu tertidur saat membaca kitab. Dengan pelan Gus Ali meraih kitab itu. Tertegun, mata Gus Ali melebar membaca sekilas bab yang kini ada di depannya. Bab tentang pernikahan lagi.
Hati Gus Ali seperti dibetot. Tapi ia segera menutup kitab itu. Tentu saja menandainya terlebih dahulu agar kalau Pak Kyai akan melanjutkan, tidak harus mengulang dari awal.
"Li?" panggil Pak Kyai, membuat Gus Ali hampir terlonjak.
__ADS_1
"Napo kitab e kok jupuk?" tanya Pak Kyai lagi. Sedangkan Gus Ali memperhatikan mata Abahnya yang terbuka.
"Saya kira Abah ketiduran."
"Yowes, Ndang turu Kono. Ojo lali persiapan ngelamar Fatimah," peringat Pak Kyai seraya bangkit dari kursi menuju ke kamarnya.
Melihat punggung Abahnya berjalan dengan kesusahan, hati kecil Gus Ali mendadak gerimis. Abahnya itu sudah berumur. Sejak kematian uminya setelah melahirkan adik bungsunya yang juga harus tiada, Pak Kyai selalu hidup dalam kesepian.
Apalagi setelah Ning Faza, kakak keempat Gus Ali akhirnya dinikahi Gus Badar dan diboyong ke pondoknya. Diam-diam tenggorokan Gus Ali terasa berat menahan tangisnya yang tak mungkin pecah di sini.
Buru-buru Gus Ali berjalan ke kamarnya. Setelah menutup pintu, barulah air mata itu mengalir seperti anak sungai. Tak peduli meski ia seorang lelaki, ia tetap tergugu melampiaskan seluruh sesak di dadanya.
Merasa tak bisa tidur dengan membawa perasaan berat ini, Gus Ali menyeka air mata dan segera bangkit menuju kamar mandi. Diambilnya wudhu dan segera duduk di sajadah. Membuka Alquran dan memilih surat yang akan membuat dirinya tenteram.
"Audzubillah himinnsyitonirrojim bismillahirrahmanirrahim."
"Arrahman."
(Allah) Yang Maha Pengasih
"Allamal Qur'an."
Yang telah mengajarkan Al-Qur'an
"Khalaqal insan."
Dia menciptakan manusia
"Allamahul bayan."
Yang mengajarkan pandai berbicara
"Assyamsu wal qomaru bihusban."
__ADS_1
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan Nya
Tak terasa air mata Gus Ali terus mengucur deras. Mentadabburi setiap kalimat yang menggetarkan hatinya. Malam ini ia tergetar dan menggetarkan malam dengan pedihnya. Semoga Allah selalu melindungiNya. Melindungi hati Gus Ali yang masih sangat ringkih.