Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Tentang Tradisi


__ADS_3

Saat terbangun dari pingsannya, umi Afin langsung bertanya kepada suaminya.


"Bah, Fatimah beneran dilamar bulan depan?"


Ustaz Adi hanya mengangguk, lalu umi Afin kembali pingsan.


"Lho pingsan lagi?"


"Tuh kan, Bah. Umi Afin tidak siap," kilah Gus Ali berbisik pada Pak Kyai. Sedangkan Pak Kyai hanya memasang wajah datar.


"Ora opo-opo, panggah lamaran."


Gus Ali menunduk. Ternyata usahanya gagal. Rupanya lamaran itu benar-benar akan terjadi bulan depan. Dan Gus Ali hanya memiliki waktu sedikit untuk memikirkan cara mengatakan kepada Fatimah kalau Gus Ali adalah calon suaminya.


Apalagi jika membayangkan tradisi yang akan mereka jalani setelah ijab, Gus Ali kepalanya terasa pening seketika. Fatimah pasti sangat tidak siap.


Setelah itu umi Afin sadar kembali. Mereka membahas tanggal yang bagus untuk lamaran. Setelah menemukan tanggal itu, ustaz Adi dan umi Afin berpamitan. Meski rasanya masih tidak percaya, kedua orang tua Fatimah itu terus maju saja.


****


Sesampai di rumah, wajah umi Afin masih terlihat bingung. Menerima banyak kejutan hari ini.


Layaknya orang tua yang lain saat mengetahui hari bahagia anaknya, umi Afin terharu sekaligus jengkel karena ustaz Adi merahasiakan perjodohan Fatimah dan Gus Ali selama bertahun-tahun.


"Bah, aku nesu."


"Kenapa sayangku?" Ustaz Adi berusaha merangkul istrinya.


"Jangan sayang-sayang, wong buktinya Abah merahasiakan perjodohan Fatimah selama ini."


Wajah marah umi Afin malah membuat suaminya tersenyum gemas.


"Wes, kita itu harusnya bersyukur bakal punya besan Pak Kyai. Sekarang kita harus benar-benar mendidik Fatimah untuk jadi Ning," balas ustaz Adi merayu istrinya.


"Lha tapi Abah keterlaluan, ...."


"Mi, mau tak ceritani nggak?"


"Apa, Bah?"


"Sun dulu kalo gitu."


"Halah, Abah mengambil kesempatan."


"Gak mau ya wis, ini menyangkut masa depan Fatimah."


"Apa sih, Bah?"

__ADS_1


"Sun dulu."


"Nggak mau."


"Ya wis, kopi ae wes."


Akhirnya umi Afin berdiri dan segera membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Setelah selesai dan membawa kopi itu pada suaminya, ia segera meminta ustaz Adi bercerita.


"Ada tradisi yang turun menurun di keluarga Pak Kyai Huda."


"Apa, Bah?"


"Jadi setelah pengantin itu ijab qobul, si pengantin laki-laki akan diberi sapu tangan."


"Sapu tangan buat apa, Bah?" Umi Afin terlihat sangat antusias dengan cerita suaminya.


"Ya buat itu."


"Buat apa to, Bah?"


"Lha pengantin baru ngapain?"


"Anu, Bah."


"Ya gitu."


Umi Afin mengangguk-angguk setelah mengerti kemana arah perbincangan suaminya.


"Lha Abah kan kutunggu jandamu."


Umi Afin memalingkan wajah manyunnya. Sebal karena ustaz Adi jawabannya tidak sesuai ekspektasinya. Bisa-bisanya ustaz Adi tidak romantis. Tapi jika diingat-ingat lagi, ustaz Adi memang bukan tipe orang yang romantis. Tapi di balik kekurangan itu, ustaz Adi punya banyak kelebihan yang disadari umi Afin.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."


Fatimah baru pulang dari Madrasah. Ia terlihat lelah sekali. Wajah yang biasanya pulang dengan riang itu tiba-tiba terlihat lusuh.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh, ada apa, Fat? Kok loyo?" tanya umi Afin sembari menghampiri putri mereka.


"Kesel banget, Mi," balas Fatimah dengan wajah masih tidak berubah.


"Kesal kenapa?"


"Itu ada anak ngaku-ngaku mau jadi istri Gus Ali."


Tersadar telah mengatakan kekesalannya karena mendengar Mega akan menjadi istri Gus Ali, Fatimah menutup mulutnya. Sedangkan kedua orang tuanya hanya saling berpandangan.


"Siapa, Fat?" tanya ustaz Adi pura-pura penasaran. Padahal mereka sebenarnya tidak tertarik sama sekali dengan roman picisan anak sekolahan.

__ADS_1


"Ada anak baru, katanya dia calon istri Gus Ali."


"Bagus, dong," timpal ustaz Adi iseng. Wajah Fatimah semakin merah padam.


"Kok bagus sih?"


"Lha terus gimana? Kalau dia memang calon istri Gus Ali kan kita harusnya ikut seneng Gus Ali akan segera menikah," pancing ustaz Adi membakar hati putrinya.


"Lagian kalau mereka menikah, apa ada masalahnya sama kamu, nduk?" tanya umi Afin akhirnya.


Fatimah berpikir sejenak lalu segera menggeleng. Memang tidak ada sangkut paut dengan dirinya, tapi mengapa Fatimah merasa sebal?


"Atau jangan-jangan kamu suka sama Gus Ali?" Umi Afin mendesak Fatimah.


"Tidak, kok. Fatim cuma sahabatan sama Gus Ali. Tapi Fatim kan nggak mau Gus Ali dapat istri yang kayak Mega," kilah Fatimah sambil memainkan ujung jilbabnya.


Lama-lama ia juga berpikir mengapa ia harus marah. Bukannya malah bagus kalau Gus Ali menikah? Jadi dia nggak dianggap punya hubungan spesial dengan Gus Ali.


"Lagian bulan depan ada yang mau ngelamar, ...." Belum selesai ucapan ustaz Adi, tapi umi Afin segera menutup mulut suaminya dengan tangan.


Mata Fatimah melotot. Mendengar kata lamar rasanya ia ingin kabur dari rumah.


"Udah nggak usah didengerin, sekarang cepat ke kamar dan bersih-bersih," perintah umi Afin.


Fatimah berjalan ke kamarnya. Setelah ia melewati tembok pemisah antara ruang tengah, ia sengaja menghentikan langkah. Ia ingin mendengar perbincangan kedua orang tuanya.


"Bah, jangan bilang dulu ke Fatim kalau dia udah dijodohin dari kecil. Dia kan masih ujian," bisik Umi Afin yang sayangnya dapat terdengar jelas di telinga Fatimah.


"Ya biarin, Mi. Semakin cepat semakin baik."


Setelah itu Fatimah memilih masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia terdiam di balik pintu sambil mengingat kembali kejadian-kejadian hari ini.


"Gus Ali itu calon suamiku, hari ini Papa dan Mama melamarnya," terang Mega sengaja dengan suara yang lantang agar sampai ke telinga Fatimah.


"Hei, anti kan masih sekolah, kok sudah mikir nikah?" tanya salah satu temannya Mega.


"Nikah muda itu bagus lhoh, jadi menghindarkan diri dari fitnah. Daripada sahabatan doang tapi nggak ada lanjutannya," sindir Mega.


Fatimah hanya meremas tangannya. Rasanya marah bercampur kecewa. Benar kata Mega, untuk apa sahabatan saja tapi tidak ada kelanjutannya? Sedangkan Mega langsung melamar Gus Ali.


Dada Fatimah memanas. Darahnya seakan mendidih sampai wajahnya terlihat merah. Apalagi tadi di madrasah ia tak bertemu Gus Ali.


Seharusnya sahabatnya itu ada di sana, jadi Fatimah bisa segera bertanya benar atau hoax kata-kata Mega itu.


Belum usai rasa sebalnya kepada Mega, Fatimah teringat kalimat Abahnya tadi. Bulan depan ada yang akan melamarnya?


Dia sudah dijodohkan dan Fatimah baru tahu tadi. Bagaimana hatinya tidak semakin meradang? Menolak perjodohan bukan hal yang mungkin ia lakukan.

__ADS_1


Fatimah selalu mengingat kisah uminya yang dulu dinikahi tanpa persetujuan. Karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Begitulah umi Afin mengatakan keyakinannya sehingga mau saja dinikahkan dengan laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui.


"Gimana kalau Fatim nggak bisa mencintai suami Fatim nanti?" gumamnya sendiri.


__ADS_2