
"Astagfirullahaladzim. Maafkan aku Mas."
Aku bergerak menjauh darinya. Rasanya aku sangat malu. Sampai tidak bisa berpikir dengan sehat. Ya Rabb, apa yang baru saja aku lakukan?
Untunglah, beberapa menit kemudian terdengar suara adzan ashar yang menjadi alasanku untuk segera berlalu darinya. Laki-laki ini masih membeku di tempatnya.
Aku bergerak menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri dan bersiap menunaikan ibadah sholat ashar.
Saat air terasa menyentuh pori-pori kulit, aku sempat terdiam. Kembali terpikir apa yang terjadi padaku tadi.
Berkali-kali aku beristigfar untuk meredakan gejolak di dada. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan diriku sendiri. Atau jangan-jangan aku mulai mencintai suamiku?
"Dik, aku juga butuh ke kamar mandi." Suara Mas Adi membuyarkan lamunanku.
"I-iya, Mas." Balasku dari dalam kamar mandi. Aku kembali membenarkan niat wudhu lalu segera beranjak dari kamar mandi.
Aku berjalan sambil menunduk untuk menyembunyikan wajah. Rasa malu itu masih terasa penuh.
Mas Adi berjalan ke kamar mandi, aku hanya menatap punggung nya yang bergerak menjauh.
Dada ini masih bergejolak. Gejolak yang belum bisa aku mengerti. Aku membuang napas kasar. Ya Allah, mengapa hidupku jadi seperti ini?
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara pintu kamar mandi bergerak.
Aku segera berjalan dan mengambil mukena yang segera aku kenakan. Sebuah sajadah kubentangkan di lantai. Sambil menunggu Mas Adi yang bersiap mengenakan sarung dan kopiah nya, aku duduk bersimpuh dan memilih biji tasbih di tangan.
"Iqamatlah," perintah nya pelan. Aku mengangguk lalu melantunkan iqamat. Lalu kami melaksanakan sholat ashar berjamaah. Barulah, setelah sembahyang pikiran dan hati ku seperti terbuka kembali.
Rasa emosi dan peliknya perasaanku tadi lenyap.
Seusai sembahyang, Mas Adi mengajakku murojaah kitab tarqib. Kitab yang dulu aku pelajari saat menjadi mahasiswi Tarbiyah.
Kata Mas Adi, aku harus berusaha lebih keras lagi.
Seusai murojaah, terdengarlah adzan Maghrib dan kami kembali melaksanakan sholat. Dadaku bergemuruh tatkala Mas Adi membaca surat Ar-Rahman di rakaat pertama.
Rasanya jiwaku dibenamkan ke dalam. Ada rasa haru dan kesedihan yang menyeruak.
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku mengalir. Ternyata aku masih merindukan mendiang Syams.
Seusai sholat Maghrib, aku dan Mas Adi kembali murojaah. Namun kali ini hapalan Al-Qur'an yang kami ulangi. Aku dengan seksama mendengarkan kalimat per kalimat yang disampaikan Mas Adi.
Beliau ini memberiku wawasan tentang asbabun Nuzul. Tentang sebab sebuah surat diturunkan.
Aku terdiam sejenak, pipiku menghangat saat melihat wajah serius Mas Adi dalam menjelaskan asbabun Nuzul. Ada apa ini? Mengapa rasanya aneh sekali saat menatap wajahnya?
"Dik, kau mendengarkan atau tidak?" Tanyanya, aku yang tersadar menjawabnya dengan gagap.
"I-iya, Mas. Aku menyimak."
Mas Adi memandang ku sejenak, entah apa yang ada di pikiran nya tentang ku saat ini. Kurikulum jam dinding yang tergantung di sisi dinding kamar.
Sebentar lagi masuk waktu shalat isya. Aku segera mengingatkan Mas Adi. Kami baru menutup murojaah setelah adzan isya terdengar.
Setelah sholat isya, barulah aku menuju dapur. Rasanya lumayan lapar. Mengingat kami berdua berada di kamar sejak pulang dari Al-Amin.
Kubuka kulkas, menemukan beberapa sayuran yang bisa kuolah menjadi sajian makan malam nanti.
Tidak lupa juga, sambal tomat kesukaan Mas Adi. Ya, hidup bersama nya beberapa bulan ini sudah mengajarkan ku apa yang disukai dan tidak disukai suamiku.
Entah kenapa pipiku kembali menghangat. Untuk sesaat aku lupa bahwa ini jam makan malam. Ya Allah, apakah ini berarti aku telah mencintainya?
20 menit kemudian, hidangan sederhana telah aku siapkan di meja makan. Aku bergerak kembali menuju kamar untuk memanggil Mas Adi.
Aku tertegun beberapa menit, saat melihat lelaki itu tertidur masih di atas sajadah. Setelah berjalan mendekat, aku kembali terdiam saat ku perhatikan wajah lelaki yang ternyata teman masa kecil ku ini.
"Mas, ayo makan malam dulu." Kugerakkan tanganku di bahunya untuk membangunkannya.
Sekelebatan bayangan menyerang kepalaku. Dulu, ketika aku mengira Syams terlelap namun ternyata dia telah tiada. Tanpa sadar aku menambah tenagaku untuk membangunkannya.
"I-iya, dik." Mas Adi terbangun. Aku menghembuskan napas kasar. Sepertinya aku mengalami trauma karena kematian Syams dulu. Yang membuat aku was-was ketika membangunkannya.
Sejenak, kupandangi punggung Mas Adi yang mulai bergerak menjauh.
Rasanya aneh, ada sesuatu yang tidak bisa aku mengerti saat aku memandang nya. Seperti ada sesuatu yang tertahan di dalam hati. Sesuatu yang bahkan belum bisa aku pahami.
__ADS_1
"Dik, ayo kau juga harus makan." Suara itu terdengar dari ruang makan. Aku tersadar dari segala lamunan yang menyelinap dalam diam tadi. Aku menggeleng kuat sebelum akhirnya memilih berlalu. Tak ingin Mas Adi menunggu lebih lama.
Kulihat Mas Adi baru membuka piring saat langkahku sampai di meja makan. Laki-laki itu menatapku yang masih mematung di tepi meja.
Dengan isyarat tangannya Mas Adi memintaku duduk dan ikut makan malam. Kami terus diam dan menyantap makan malam. Seperti sabda Rasulullah, ketika kita makan tidak boleh sambil berbicara.
Baru setelah aku selesai merapikan piring, Mas Adi meraih tanganku dan menahanku untuk tetap duduk. Entah mengapa, perlahan kurasakan sebuah desiran aneh saat tidak sengaja mata kami bertemu.
"Dik, apa ada yang ingin kau katakan padaku? Sepertinya ada yang mengganjal di hatimu sedari tadi?" Aku mengerjap tidak percaya. Bagaimana mana bisa Mas Adi mengetahui apa yang aku pikirkan sedari tadi?
"E-e, aku tidak memikirkan apa pun, Mas." Aku pura-pura tidak memiliki beban. Mas Adi memandang ku lebih lekat lagi. Sepertinya aku memang tidak bisa berbohong kali ini. Sebuah embusan napas kasar kelepasan kan seraya menyiapkan kalimat selanjutnya.
"Baiklah Mas. Sepertinya aku memang tidak bisa berbohong. Memang ada sesuatu yang begitu mengganggu pikiranku." Aku menjeda kalimat yang aku ungkapkan. Ketika aku mengingat kejadian itu, aku selalu diliputi rasa gelisah.
Jujur saja, aku sangat menginginkan jawaban yang akan mengobati rasa penasaran ku.
"Katakanlah Dik. Sudah tugasku menjadi tempatmu berkeluh-kesah." Aku menoleh ke arah nya.
"Apakah Mas Adi menyesal menikah dengan diriku?"
Hening. Mas Adi terlihat berpikir sejenak.
"Mas Adi selalu menangis di kamar mandi. Dan itu membuat aku merasa Mas Adi terbebani dengan pernikahan ini." Akhirnya, ku ungkapkan sudah apa yang selama ini bersemayam di relung hati.
"Tidak. Aku tidak menyesal sama sekali menikah dengan mu. Dik." Jawaban itu tidak memuaskan sama sekali. Aku kembali bersiap mengatakan sesuatu. Sampai Mas Adi melangkah mendekati ku dan mengambil punggung tangan ku di atas meja.
"Atau mungkin Mas Adi lupa? Bahwa kamar mandi adalah tempat yang tidak tepat untuk berlama-lama di dalamnya? Itulah sebabnya kita dianjurkan melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu ketika masuk kamar mandi. Jikapun Mas Adi ingin bermasalah, alangkah lebih baiknua dilakukan di atas sajadah." Kelasku tegas.
Bukankah kita harus berdakwah dengan suara lantang?
Kedua sudut bibirnya mengembang. Sebuah senyum yang manis kini menghiasi wajahnya. Aku tertegun. Detak jantung ku terasa berdebar-debar. Mas Adi kembali mengarahkan pandangan tajamnya ke arah ku.
"Aku mencintaimu karena Allah, Dik." Aku tersentak. Apa aku tidak salah dengar?
"Aku juga mencintaimu, Mas." Tanpa sadar aku menimpali ucapan nya. Entah kata itu berasal dari hati atau dari mana.
Aku hanya bisa berharap hubungan kami dapat segera membaik.
__ADS_1