
Fatimah bertumbuh menjadi bocah yang kritis. Afin dan aku kadang kualahan menjawab pertanyaannya yang tiada henti. Tak peduli siang atau malam. Jika ia ingin tahu, ia akan segera menanyakannya.
"Umi, ini apa?"
"Kitab."
"Kitab itu apa?"
"Kitab itu buku."
"Buku itu apa?"
"Buku isinya tulisan."
"Tulisan itu apa?"
Aku menahan tawa mendengar Afin mulai lelah dengan pertanyaan Fatim. Aku kagum pada keingintahuannya, tapi aku juga tidak bisa sabar menghadapinya. Untung setelah itu Afin terlihat menenangkan Fatim agar tak lagi bertanya-tanya.
Setelah itu Fatim berlari ke luar rumah. Mungkin ingin bermain dengan neneknya. Sedangkan Afin masih membereskan rumah.
"Fatim anak yang cerdas ya?"
"Amiin." Afin menjawab singkat.
Raut wajahnya yang lelah nampak berusaha tetap tersenyum. Refleks aku meraih piring di tangannya dan membantunya mencuci piring. Jika aku ingat-ingat, sudah lama sekali aku tidak membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mas, kok bantuin Afin sih? Mas kan baru pulang ngajar."
Afin menatapku. Sejenak aku juga menatapnya, istriku yang cantik dan sangat aku sayangi. Semoga Allah selalu menjagamu, dan melipatgandakan pahala dari keikhlasanmu mengabdi.
"Enggak apa-apa, Mas kan udah lama banget nggak bantu kamu," belaku.
Kami berdua kembali bersitatap. Menikmati wajah pasangan sedekat ini sangat menyenangkan. Itulah mengapa Allah berfirman bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang menikah.
Dengan menikah kita menundukkan syahwat. Dengan menikah dan memiliki keturunan kita akan tentram walau kehidupan menghimpit, tetap saja ada banyak hal yang patut disyukuri.
Aku tersenyum melihat wajah Afin sedikit merona. Persis ketika ia mengatakan sesuatu yang diinginkannya.
Tanpa ancang-ancang aku menyentuh dagunya.
"Mas, kan kotor tangannya," protesnya.
Jujur aku lupa kalau tanganku masih penuh sabun. Aku hanya tertawa kecil melihatnya cemberut sebentar.
Afin adalah istri dan ibu yang baik. Meski rumah tangga selalu ada pertengkaran kecil, tapi Afin tak pernah marah terlalu lama. Aku pun kadang kelepasan dan tidak sabar. Tapi kembali aku teringat tujuanku menikah.
"Mas, sudah biar Afin yang beres-beres. Mas Adi istirahat saja."
Aku menurut. Setelah membilas tangan, muncul ide usil. Bukannya meraih serbet untuk mengeringkan tangan, aku malah menyentuh kedua pipi Afin.
Dia protes, tapi tidak menjauhkan tanganku dari wajahnya.
"Mas Adi!" pekiknya, aku segera berlari menjauh sebelum Afin membalas perlakuan jahilku.
__ADS_1
Setelah berganti baju, aku duduk di ruang tengah. Tak sadar kalau Fatim yang kini berusia lima tahun ada di belakang.
"Dor!"
Aku terlonjak dan berdiri karena kaget. Sedangkan Fatim malah terkikik melihat Abahnya tertawa.
"Anaknya Abah kok usil, sih?" tanyaku sambil memasang wajah manyun.
Pura-pura marah pada Fatim. Bocah itu masih menutup mulutnya dengan tangan karena tertawa terbahak.
"Itu ya sudah pasti turunan Abahnya, usil!"
Aku menoleh, ternyata Afin berada di ambang pintu. Melihatku yang pura-pura marah pada Fatim.
"Hehe." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Kalimat Afin benar-benar telak.
Sambil merasa bersalah, aku juga berpikir mengapa aku jadi usil. Dan apakah benar sifat itu menurun pada Fatim?
"Abah, kata nenek Abah itu kembar ya?" tanya Fatim yang kini duduk di sampingku.
Wajah penuh antusias Fatim sangat menggemaskan. Rasanya tak ingin lama jauh darinya.
"Iya, abah punya kembaran."
"Dimana Bah?"
Fatim celingak-celinguk mengedarkan pandangannya. Aku ingin tertawa, tapi waktunya tidak tepat.
"Ada di Yaman."
"Yaman itu nama negara."
"Negara itu apa?"
"Ya negara, jauh dari sini."
"Oh." Wajah Fatim mendadak berubah. Ia nampak sedang berpikir.
"Kalau ke sana harus naik pesawat."
"Pesawat?"
Mata kecil Fatim berbinar. Pasti dalam pikirannya telah membayangkan pesawat. Aku punya ide. Kuambil handphone dari saku lalu melakukan panggilan video dengan Rahman.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Saat wajah Rahman muncul di layar handphone, Fatim terkejut bahkan hampir meloncat.
"Lho, kok mirip?" Fatim memerhatikan gambar Rahman di layar handphone.
"Ini pasti Fatimah ya?" tanya Rahman yang terlihat juga sedang menggendong buah hatinya.
"Paman kok tahu namaku?" tanya Fatim polos.
__ADS_1
"Kan paman pesulap," goda Rahman.
Aku membiarkan Fatimah bertanya kepada Rahman. Menanyakan pesawat, menanyakan Yaman. Dan lain lainnya masih banyak lagi.
"Dimana istri paman?" tanya Fatim lagi.
Pasti ia bingung tidak melihat istri dari pamannya itu. Berbicara tentang Sofia, aku juga jadi merindukannya. Bukan rindu yang aneh-aneh, mengingat Sofia maka aku juga teringat masa kecilku diasuh ibu kandung Sofia hingga berbagi Asi dengannya.
"Bulik anti lagi masak."
"Anti?" Fatimah terlihat heran.
"Anti itu bahasa Arab, yang artinya kamu," bisikku.
"Wah, kalau ke Yaman harus bisa bahasa Arab?"
Alih-alih menjawab, aku hanya tersenyum. Barulah saat adzan Ashar terdengar dari musholla dekat rumah, Fatimah berhenti terus bertanya pada pamannya. Aku juga sedikit lega, karena baterai handphoneku sudah habis.
"Yasudah Paman, Fatim ke musholla dulu. Udah adzan. Assalamualaikum," pamit Fatim lalu melambaikan tangan pada Rahman.
Setelah Fatimah berlalu, aku melihat Rahman. Mencoba berbincang dengannya setelah sekian lama tidak saling mengabari.
"Siapa nama anak antum, Man?" tanyaku memperhatikan bocah laki-laki kecil di pangkuan Rahman.
"Fakhrul Razi, Bang."
Rahman melihat ke anaknya lalu tersenyum. Melihat senyum Razi aku seperti melihat wajah Sofia. Anak laki-laki itu sangat mirip dengan Sofia.
"Ya sudah, antum dan keluarga jaga kesehatan ya, Man. Kalau antum mau ke Indonesia kabar-kabar ya."
"Iya, Bang. Mungkin tahun depan baru bisa main ke Indonesia, Bang."
Aku mengangguk. Setelah berpamitan, panggilan terputus lalu aku berangkat ke musholla. Tak lupa aku juga mengajak Afin.
Meski banyak pekerjaan rumahnya, aku tetap mengajaknya sholat di musholla terdekat. Mengingat pahala yang berlipat, dan ikhtiar kami memuliakan rumah Allah.
Aku dan Afin berjalan bersama menuju musholla di dekat rumah. Mata kami menatap lurus dan menemukan hal yang mengejutkan.
"Mas, itu Fatim?" tanya Afin padaku yang tak kalah terkejut.
Aku memastikan penglihatan dan ya, memang Fatim yang berada di atas mimbar imam. Astaghfirullah. Apa yang dilakukan Fatim?
Aku dan Afin berjalan menuju musholla. Afin yang tidak sabar, segera meraih lengan Fatim dan menyeretnya menjauh dari mimbar.
"Kenapa kamu di situ, nak?"
"Aku mau ketemu Gus Ali," balasnya seakan tidak sadar.
"Gus Ali?" Aku seperti disihir.
Terkejut bahwa anakku mengenalnya. Dia adalah anak dari pengasuh pondok di sini. Anak dari Pak Kyai. Anehnya, aku belum pernah mengajak Afin atau Fatim bertemu keluarga ndalem, bagaimana bisa Fatim mengenal Gus Ali?
"Dimana kamu ketemu Gus Ali?"
__ADS_1
"Kata Mbak itu dia di sini."
Aku dan Afin saling berpandangan. Jari telunjuk Fatim mengarah ke tepi musholla. Tapi tidak ada orang di sana, siapa yang dimaksud Fatim sebagai Mbak?