Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Dendam Melebur Karena Cinta 3


__ADS_3

Paginya, Fatimah bangun dengan badan yang sehat. Setidaknya lebih baik daripada kemarin. Fatimah terkejut melihat Gus Ali tertidur di sampingnya memeluk lengannya.


"Mas?" panggil Fatimah. Ia mengelus rambut Gus Ali di sampingnya.


"Eh, sudah bangun, Tim?" Gus Ali mengucek matanya.


"Gimana keadaan anti?" Gus Ali menanyakan keadaan Fatimah. Tapi melihat istrinya itu sudah bisa tersenyum, hati Gus Ali sedikit lega.


"Alhamdulillah wasyukurillah, sudah lebih baik dari kemarin, Mas."


Fatimah menunjukkan senyum manisnya kepada sang suami. Setelah beristirahat dengan cukup, kepala Fatimah juga lebih baik. Kakinya juga semakin sembuh.


"Alhamdulillah. Mas senang dengernya." Gus Ali mengelus pipi istrinya dengan gemas. Sampai melupakan perban di kepala Fatimah.


"Aduh, Mas. Kepala ana masih sakit."


"Duh, maaf, Tim. Mas lupa."


Gus Ali menarik tubuhnya sedikit menjauh dari sang istri. Ia jadi teringat tentang luka di kepala istrinya itu bahkan ia tidak tahu penyebabnya.


"Apa penculik yang lukain anti, Tim?" tanya Gus Ali menelisik.


Fatimah menyentuh lukanya, lalu teringat kejadian kemarin yang membuatnya shock. Fatimah mengalungkan kedua tangannya ke leher Gus Ali. Ia tidak ingin mengingat apa yang sudah terjadi hari kemarin.


"Biar saja yang sudah terjadi, Mas. Ana ingin melupakannya." Fatimah menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Hal yang paling nyaman adalah di sana. Tempatnya bermanja dan merasa aman.


"Tapi, Tim. Mereka harus diberi pelajaran, ...."


"Kalau begitu Mas harus berangkat ke kampus biar bisa ngasih pelajaran."


Gus Ali terdiam. Ia ingat kalau ia sedang dalam masa hukuman. Dan Gus Ali tidak mungkin mengatakan itu. Bahkan di kondisi Fatimah seperti sekarang, Gus Ali semakin tidak tega mengatakannya.


"E, e, anu, anu. Mas nggak ngajar, ...."


"Kenapa Mas? Apa karena foto itu?"


Gus Ali terbelalak. Ternyata istrinya telah mengetahui masalah yang sedang heboh di kampus. Gus Ali jadi bingung untuk menjelaskannya.


"Maafkan ana ya Mas. Karena ana, Mas jadi kena masalah." Fatimah memeluk suaminya. Ia sangat menyesal.


"Makanya, Tim. Mas keberatan kalau kita menyembunyikan pernikahan. Soalnya akan menjadi fitnah. Untung saja Mas hanya di skors, tidak sampai dikeluarkan." Gus Ali keceplosan mengatakan semuanya.


"Jadi Mas diskors?"


Karena sudah terlanjur keceplosan, Gus Ali menceritakan semua. Juga tentang Tata yang kemarin datang ke sini untuk membuktikan kalau Gus Ali telah menikah. Sayangnya Fatimah tidak ada di rumah, sehingga terjadi kehebohan saat Tata menggodanya untuk melakukan maksiat hanya agar dinikahi Gus Ali.

__ADS_1


"Astaghfirullahalladzim. Jadi kemarin Mas berduaan dengan Bu Tata?" pekik Fatimah tidak percaya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Tim. Mas ini imannya kuat. Mas akan setia kepada istri sah Mas." Gus Ali berusaha menghapus kecurigaan Fatimah.


"Sekarang giliran Mas yang tanya, kemarin anti kemana? Apa penculik itu ke sini?" lanjut Gus Ali.


"Tidak, Mas. Kemarin Mega yang kemari, lalu ana terpeleset. Untungnya Mega membawa ana ke klinik."


"Jadi luka di kepala itu bukan karena penculik? Tapi kenapa penculik itu telepon dan ngancem Mas?" Kening Gus Ali kembali berkerut memikirkan segala kemungkinan.


"Tidak, Mas. Ana hanya ke klinik. Setelah itu ada Kak Dika di rumah sakit." Fatimah berusaha mengingat runtutan peristiwa kemarin.


"Jadi Dika yang culik anti?"


"Tidak, Kak Dika tidak culik Fatimah. Tapi mau ngantar pulang malah ke kampus. Jadi Fatimah menumpang mobil ibu-ibu untuk pulang."


Gus Ali tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Sekarang ia tahu mengapa suara penculik itu terdengar tidak asing. Rupanya Dika yang menerornya. Dan tidak salah lagi, Dika juga yang memasang foto itu di mading kampus.


"Tapi, ibu-ibu yang nganterin ana mirip banget sama Bulek." Fatimah mengungkapkan kejanggalan yang ia pikirkan sejak kemarin.


"Ya sudah, nanti kita beri pelajaran Dika dan Mega ya."


"Kok Mega juga?" tanya Fatimah terkejut.


"Teman anti itu juga terlibat."


"Mas kan nggak ada bukti?"


"Mas yakin sekali dia terlibat."


"Istighfar, Mas. Mungkin Mas hanya suudzon."


Gus Ali menunduk. Bibirnya berkali-kali bergerak beristighfar. Benar kata Fatimah, ia sedang terbawa emosi.


"Fatimah boleh minta sesuatu, Mas?" Fatimah menatap wajah suaminya dengan sendu. Hati kecilnya tidak ingin membuat masalah ini semakin panjang.


"Apa, Tim?"


"Fatimah minta, Mas janji nggak memperpanjang urusan ini."


"Tapi, Tim, ...."


"Fatimah mohon, Mas. Kita maafkan saja mereka. Insyaallah memaafkan akan membuat hidup kita tenang. Fatimah takut kalau berita ini sampai ke telinga umi dan abah atau orang dari Ngantang." Fatimah menggenggam tangan Gus Ali.


Gus Ali membenarkan kalimat istrinya. Ia juga berusaha menghilangkan perasaan tidak enak di hatinya. Tidak lagi memikirkan orang yang menzalimi mereka. Ikhlas dan sabar adalah hal yang harus mereka pelajari dalam hidup.

__ADS_1


"Ya sudah, Mas tidak akan memperpanjang masalah ini."


Gus Ali memeluk istrinya. Yang terpenting istrinya baik-baik saja. Dan mereka harus melanjutkan hidup dengan lebih baik lagi.


"Tapi biarkan Mas bertanya pada Dika apa tujuannya melakukan hal seperti ini, Tim."


"Kenapa?"


"Siapa tahu Dika melakukan hal ini karena rasa cintanya pada Tata yang begitu besar."


"Lalu kenapa? Mas cemburu?"


"Tidak, Tim. Maksud Mas siapa tahu jodoh yang dinanti Tata adalah Dika."


Keduanya saling berpandangan dengan pikiran masing-masing. Tentu saja Fatimah masih memikirkan wanita yang membantunya mirip dengan buleknya yang berada di Yaman. Lamat-lamat Fatimah mengingat wajah itu.


Ingin rasanya Fatimah menanyakan kepada Abahnya tentang hal ini. Siapa tahu memang Paklek dan Buleknya yang di Yaman telah pulang.


"Apa yang anti pikirkan, Tim?" tanya Gus Ali melihat istrinya terdiam.


Reflek Fatimah menyentuh perutnya. Alis Gus Ali bertaut. Ia mengira istrinya akan memberi kejutan untuknya.


"Lapar, Mas."


Senyum di wajah Gus Ali memudar. Ternyata Fatimah menyentuh perutnya karena ia merasa lapar. Padahal hati Gus Ali sudah berbunga-bunga membayangkan akan menimang bayi dari Fatimah.


"Kenapa wajah Mas berubah?" Rupanya Fatimah menyadari kalau Gus Ali tersenyum.


"Tidak, Tim. Mas kira anti megang perut karena di sana ada dedeknya." Gus Ali kembali tersenyum kepada Fatimah.


"Maksud Mas?" Entah pura-pura atau memang tidak tahu, Fatimah malah bertanya lebih jelas.


"Mas kira anti hamil."


"Apa, ha-mil?" Fatimah mengulang kalimat itu dengan perasaan yang tidak karuan.


"Iya, apalagi tujuan kita menikah kalau bukan untuk memperbanyak keturunan, Tim. Kan nanti para nabi saling berlomba jumlah kaumnya."


Senyuman Fatimah kini sedikit memudar. Tapi hatinya berusaha berkhusnuzon. Mungkin terlalu cepat Gus Ali menginginkan keturunan, sedangkan mereka saja baru satu bulan menikah. Pernikahan itupun baru akan digelar Minggu depan di Ngantang.


"Oh iya, Tim. Mega sudah tahu kan kalau kita sudah menikah?" tanya Gus Ali setelah lama terdiam.


Fatimah mengangguk pelan. Ia jadi rindu dengan sahabatnya itu. Walau Fatimah kepikiran kata-kata Gus Ali tentang Mega terlibat dalam usaha penculikannya.


"Jangan lupa undang Mega ya di resepsi kita."

__ADS_1


Sekali lagi Fatimah mengangguk.


__ADS_2