
Setelah menjemput Fatimah, Gus Ali dan Dika berangkat ke kostnya Mega. Sepanjang perjalanan Gus Ali menasehati Dika tentang banyak hal. Tentunya menyangkut niat pernikahan mereka.
"Nikah itu nggak cuma sehari dua hari, Dik. Dan nikah itu berarti kita sebagai laki-laki wajib menafkahinya secara lahir dan juga batin," ujar Gus Ali serius. Sedangkan Dika yang menyetir mobilnya hanya mengangguk sekenanya.
"Ingat, yang antum nikahi bukan bidadari, bukan manusia yang sempurna. Pun antum bukan nabi Muhammad Saw, jadi di sepanjang pernikahan akan banyak ujian, entah masalah watak yang membuat resah, keuangan yang sulit, atau perasaan yang seleweng." Gus Ali melanjutkan nasehatnya. Sebenarnya ia juga sedang menasehati dirinya sendiri.
"Iya, Gus. Terimakasih banyak nasehatnya. Doakan ana dan Mega selalu rukun ya, Gus, Tim," balas Dika tersenyum kecil.
"Iya, Dik. Ana titip Mega ya, kalau dia keras kepala antum yang ngalah." Fatimah berkata dengan lirih, hatinya terasa haru mendengar permintaan doa dari Dika.
"Kalau ana yang keras kepala gimana?" tanya balik Dika. Membuat Gus Ali dan Fatimah saling berpandangan.
"Ya antum yang harus mengobati penyakit antum itu. Apalagi kalau sampai merugikan banyak orang," sindir halus oleh Gus Ali.
"Iya, Gus, Tim. Ana akan berubah."
"Berubah jadi apaan? Power Rangers Pink?" ledek Fatimah lalu memecahkan tawa antara mereka bertiga.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kost Mega. Fatimah yang sejak tadi sudah berkomunikasi dengan Mega lewat handphone, melongok ke pintu kamar kost tempat tinggal Mega.
Dika yang tidak sabaran berinisiatif membunyikan klakson mobil. Benar saja, tak lama kemudian Mega muncul dan menutup pintu kamar kost. Ia langsung menghampiri mereka.
"Udah lama ya nunggu?" tanya Dika tidak bisa menyembunyikan kerinduannya. Wajahnya yang putih tetiba memerah. Ini adalah pertemuan pertama sejak Dika mendapat jawaban dari Mega tentang lamarannya.
"Enggak, kok, Kak."
Dika langsung membukakan pintu depan, namun Gus Ali segera keluar dari mobil dan menyerobot masuk lewat depan. Mega hanya menatapnya sedikit heran. Selanjutnya ia mengerti harus bagaimana, mungkin memang sebaiknya ia duduk di belakang bersama Fatimah.
Melihat itu, Dika mendengus kesal. Wajahnya tidak suka karena tadinya ia ingin duduk berdua dengan Mega. Tapi malah kini Gus Ali yang ada di sampingnya.
"Wajah antum kesel banget?" tanya Gus Ali pura-pura tidak tahu kalau Dika kesal padanya.
"Enggak, kok, Gus. Aman terkendali." Dika mengacungkan dua jarinya membentuk simbol oke. Tapi setelahnya laju mobil tidak terkendali. Sangat mengebut.
Fatimah dan Mega spontan beristighfar ketakutan. Gus Ali juga panik. Tapi dia membiarkan saja Dika melakukan hal yang membahayakan seperti ini. Menasehati di saat emosi, tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi Gus Ali menunggu Dika mampu menguasai dirinya.
"Kak Dika, jangan ngebut." Akhirnya Mega angkat bicara.
__ADS_1
"Iya, Meg. Maaf ya." Jawaban Dika sangat singkat, tapi ia menghiraukan kata-kata itu. Laju mobil langsung sedikit pelan dan seperti biasa.
Gus Ali berdecak. Menyadari jika sopir mobil yang ia tumpangi sedang jatuh cinta dan hanya akan mendengarkan ucapan dari orang yang ia cintai.
Gus Ali menggeleng pelan. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Sesampai di Mall besar di Surabaya, mobil diparkirkan dan keempat orang itu masuk untuk belanja.
Gus Ali dan Fatimah hanya mengekor di belakang Dika dan Mega yang memilih baju, kerudung, dan keperluan lain. Mereka tidak akan membiarkan Mega memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Dika.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Paklek Rahman dan Bulek Sofia," sapa Fatimah melihat suami istri itu juga sedang berada di toko baju bagian baju bayi.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Wah bisa kebetulan ketemu di sini?" Bulek Sofia mendekat.
Mata Fatimah otomatis melihat baju bayi yang ada di tangan Buleknya. Entah mengapa hatinya terasa nyeri.
"Bulek kok beli baju bayi?" tanya Fatimah heran.
"Em, iya, Tim. Ini Bulek lagi hamil lhoh, sudah hampir dekat waktunya lahiran. Baru sempat sekarang belanja keperluan." Bulek Sofia menunjukkan perutnya yang memang besar.
Dika, Mega, Gus Ali dan Fatimah sangat terkejut. Tidak menyangka jika Bulek Sofia sedang mengandung. Atau memang mereka tidak pernah memperhatikan secara detail.
"Wah, selamat ya Bulek. Fatim nggak ngeh kalau Bulek sedang hamil besar." Fatimah berusaha terlihat biasa saja. Padahal dalam hati ia mati-matian untuk tidak terbawa perasaan sakitnya.
"Em, i, iya, Bulek. Mohon doanya," balas Fatimah. Wajahnya kini mulai terlihat berubah. Dan hanya Gus Ali yang menyadari jika istrinya itu terlihat terbebani.
Setelah itu mereka berpamitan melanjutkan urusan masing-masing. Tidak lupa mereka mendoakan persalinan Bulek Sofia berjalan lancar dan sehat ibu serta anaknya.
Hal berbeda terjadi setelahnya. Fatimah terlihat banyak diam. Wajahnya juga seperti terbebani. Gus Ali sadar jika istrinya pasti terpengaruh oleh kehamilan Bulek Sofia tadi. Sudah wajar jika setelah menikah, yang diharapkan adalah adanya keturunan.
Mega dan Dika yang sedang antusias menyongsong hari bahagia mereka, tidak terlalu memperhatikan perubahan mood dan juga wajah Fatimah. Mereka asyik memilih sepatu dan tas untuk seserahan.
***
Di tempat lain, Tata baru pulang dari kampus. Ia segera menyegarkan dirinya lalu berganti baju santai. Rasa haus tenggorokannya, membuat Tata segera berjalan di dapur. Tidak sengaja uminya lewat dan mendapati putrinya di dapur.
"Ta, anti dicari Abi."
Kedua alis Tata tertaut heran. Apalagi wajah sang ibu terlihat berbahagia. Tata penasaran dibuatnya. Setelah meminum air putih di gelas, Tata merespon ucapan uminya.
__ADS_1
"Ada apa, mi?"
"Ada yang ngelamar anti lagi."
Mendengar jawaban itu, wajah Tata berubah masam. Ia merasa malas menemui abinya jika tentang lamaran. Ia menduga pasti dari laki-laki yang tidak ia kenal. Karena selama ini tidak ada yang terlihat mendekatinya.
"Udah, sana temuin Abi. Kalau umi sih setuju sama yang ini. Tapi semua tergantung sama anti. Kan anti yang nantinya menjalani." Umi Tata mengelus pundak putrinya. Sorot matanya terlihat sangat berharap kali ini perjodohan anaknya bisa lancar.
Memang usia Tata terbilang masih produktif, tapi bagi seorang perempuan, yang lebih membahagiakan itu menjalani perannya sebagai seorang istri. Tidak hanya mengejar karir yang tidak akan ada puasnya.
Tata berjalan malas ke ruang kerja abinya. Seperti yang ia duga, abinya itu di sana dengan kotak perhiasan di tangannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh, Abi."
"Waalaikumsalam warohmatullahi wa barokatuh. Masuk, Ta."
Tata masuk ke ruangan itu dengan wajah ditekuk. Ia masih malas berurusan dengan lamaran yang datang padanya. Ia sendiri belum siap untuk menikah dengan orang yang belum ia cintai.
"Lihat, Ta. Cincin ini sederhana. Terlihat sangat simpel." Abinya membuka kotak cincin itu dan mempersilakan Tata melihatnya.
Memang cincin itu terlihat sederhana. Sangat berbeda jika ia bandingkan dengan cincin yang dibawa Dika tempo lalu untuk melamarnya.
"Iya, Bi. Cincinnya sederhana dan maaf, terlihat murah." Tata mengomentari singkat.
"Tapi jangan salah, Abi melihat kesederhanaan itu sebagai wataknya yang apa adanya."
Tata sedikit kaget melihat abinya menyanjung orang yang melamarnya. Abinya memang bukan orang yang sombong atas semua pencapaiannya, hanya saja Tata merasa abinya ingin Tata mendapat jodoh orang yang sekufu.
"Darinya, Abi sadar kalau yang Abi cari mantu selama ini salah, Ta. Sekufu tidak harus sama-sama sarjana. Tidak harus sama-sama berumah megah. Dari dia, Abi banyak mendapat pelajaran."
Kisah abinya kini benar-benar menyita perhatian Tata. Siapa orang yang dimaksud abinya.
"Namanya Haikal," ujar sang Abi.
Bagai disambar petir di siang hari. Tata mematung di tempatnya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan abinya.
'Haikal yang mana? Apakah Haikal yang selama ini ia kenal atau bukan?' Tata bergelut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Abi berharap kali ini anti bisa berjodoh dengannya. Anti juga berhak bahagia setelah begitu banyak kejadian."
Alih-alih menjawab, Tata masih terdiam dengan kepalanya yang terasa berat. Hatinya juga bimbang. Tidak bisa dipungkiri di sisi lain ia bahagia, tapi ia juga masih sangat terkejut.