Qobiltu Nikaha

Qobiltu Nikaha
Mega Mendung


__ADS_3

Madrasah hari ini terasa membosankan. Fatimah bahkan tidak bisa melupakan mimpinya semalam. Dan karena tidak cukup tidur, Fatimah merasa matanya sangat berat. Ia mengantuk di kelas.


"Fatimah? Daripada anti tidak mendengarkan ustazah, lebih baik keluar dari kelas!"


Kantuk Fatimah langsung sirna mendengar gertakan ustazah Maharani. Ustazah yang mengampu pelajaran matematika itu memang terkenal tegas. Mau tak mau untuk pertama kalinya Fatimah harus keluar dari kelas.


Fatimah berjalan keluar dari kelas dengan hati penuh penyesalan. Tapi ia sedikit lega, dengan begini ia bisa memejamkan mata sebentar untuk meredakan kantuknya.


Sesampai di ruang perpustakaan yang sepi, Fatimah mencari duduk di pojok. Bertujuan agar kalau dia tidur tidak langsung terlihat. Dan Fatimah cukup beruntung karena ia duduk di pojok dekat jendela.


Kepalanya sudah sangat berat. Saat menoleh ke sekitar memantau keadaan, Fatimah terkejut melihat seseorang di belakang perpustakaan. Mata Fatimah memicing untuk memastikan penglihatannya tidak salah.


"Mega? Ngapain di situ?" Fatimah bergumam sendiri.


Melihat Mega mengusap wajahnya sambil menunduk, Fatimah sangat penasaran. Alih-alih melanjutkan rencananya untuk memejamkan mata, Fatimah malah berjalan keluar dari perpustakaan.


Pelan sekali Fatimah menyentuh pundak Mega. Gadis itu terlonjak lalu segera membersihkan air mata dengan ujung jilbab abu-abunya.


"Anti kenapa menangis?" tanya Fatimah pelan.


Mega masih geming tak menjawab. Tapi duka di matanya belum juga usai. Tak bisa menahan air matanya, Mega menangis di pelukan Fatimah. Menumpahkan seluruh sesak di dadanya, setidaknya setelah ini agar lebih lega.


"Fat, ana habis dimarahi Mama sama Papa," keluh Mega sembari sesenggukan. Sangat memilukan. Fatimah jadi membayangkan dirinya sendiri jika bermasalah dengan kedua orang tuanya.


"Sabar, Ga. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."


Fatimah mengelus pundak Mega. Berusaha memberi efek menguatkan, meski ia sendiri jadi berpikir kemana-mana. Bagaimana jika nanti Fatimah menolak perjodohan itu. Lalu timbul masalah antara dirinya dengan keluarganya. Apalagi jika calon yang dipilihkan Abahnya juga merasa tersinggung. Yang lebih baik adalah ia menerima perjodohan itu. Pikir Fatimah. Tidak fokus dengan Mega yang masih menangis.


"Kalau anti merasa butuh cerita, ana siap mendengar. Tapi jika menurut anti tidak perlu bercerita, juga tidak apa," terang Fatimah. Bukan haknya untuk mengetahui masalah dalam keluarga Mega. Takutnya nanti gadis itu merasa Fatimah terlalu ikut campur. Mengingat hubungan antara Fatimah dan Mega tidak begitu baik.


"Ana malu kalau mau cerita sama anti."


Fatimah menyatukan alis. Bingung dengan maksud perkataan Mega. Jika ada masalah antara Mega dan orang tuanya, mengapa Mega malu bercerita padanya?

__ADS_1


"Ya sudah, ana temani saja ya."


Fatimah benar tidak memaksakan Mega untuk bercerita. Tapi melihat ketulusan di kata-kata Fatimah, membuat hati Mega tak enak pada gadis itu. Mega merasa perlu bercerita dan meminta maaf pada Fatimah.


"Jadi kemarin Mama Papa marahin aku."


Fatimah fokus mendengar kisah Mega. Berusaha mencarikan jalan keluar jika nanti Mega benar-benar bercerita padanya.


"Mama Papa nggak bisa nuruti kemauanku. Aku marah, tapi Mama sama Papa malah balik marah padaku." Mega menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sangat sedih dan terpukul karena pertengkaran dengan orang tuanya itu.


Sebagai pendengar yang baik, Fatimah hanya fokus mendengar. Tidak mau menyela. Hanya tangannya yang masih terus mengelus pundak Mega.


"Menurut anti apa salah sih kalau aku marah sama Mama Papa karena nggak bisa menuhin keinginanku?" tanya Mega menatap Fatimah dengan pilu.


"Kalau dibilang salah ya salah, Ga. Jangankan orang tua kita. Allah saja tidak selalu mengabulkan doa dari hambaNya. Tapi yang pasti, takdir Allah itu yang terbaik untuk kita," jelas Fatimah mencoba diplomatis. Tak mau terlalu menyalahkan Mega, karena itu akan menambah kesedihan Mega.


"Tapi sebagai orang tua kan harus membahagiakan anaknya."


"Membahagiakan anaknya, bukan tugas utama orang tua, Ga. Tapi tugas mereka adalah mendidik dan memberi bekal untuk kita sendiri mengarungi hidup yang tidak selalu mudah."


Mega terlihat sangat menyimak perkataan demi perkataan Fatimah. Rupanya hidayah Allah turun dari kata-kata sederhana Fatimah. Mega tiba-tiba merasa sangat buruk. Selama ini ia selalu menuntut orang tuanya memenuhi segala keinginan.


"Siapa tahu, yang kamu inginkan itu banyak membawa mudharat sehingga Allah menjauhkannya darimu." Fatimah menyentuh punggung tangan Mega. Menguatkan dan memberi pengertian.


"Masak menikah sama Gus Ali banyak mudharatnya?" tanya Mega heran. Dalam benaknya jika ia menikah dengan Gus Ali ia akan sangat bahagia.


"Hem? Menikah ... dengan Gus Ali? Ya mungkin Gus Ali kurang cocok untukmu, Ga. Lagian bayangin aja kalau jadi istrinya dia. Emang sih Gus Ali tampan. Tapi dia seorang Gus yang akan menerima tampu kepemimpinan pondok pesantren. Kewajibannya tidak hanya soal rumah tangga, tapi demi umat."


Sekelebat, Fatimah terbayang wajah Gus Ali dalam mimpinya. Tapi berusaha keras ia lupakan. Meski sekarang Fatimah tahu kalau ternyata Mega bukan calon Gus Ali, tapi Fatimah juga tidak mau menumbuhsuburkan harapan yang tak pasti itu. Yang pasti untuknya sudah berani melamarnya. Sedangkan Gus Ali hanya selalu ada di handphonenya. Pikir Fatimah.


"Iya, ya, Tim. Belum lagi Gus Ali kalau di madrasah jadi ustaz, sibuk banget kehidupannya." Pikiran Mega mulai terbuka. Ia bersyukur bertemu Fatimah dan akhirnya mendapat pencerahan.


"Nah gitu dong, Ga. Yang dari Allah itu yang terbaik. Kita hanya berikhtiar dan berdoa. Masalah hasilnya kita serahkan pada Allah."

__ADS_1


"Tapi anti jangan menikah dengan Gus Ali ya?"


Mendengar kalimat tanya dari Mega, Fatimah sontak menoleh pada gadis di sampingnya. Antara terkejut dan heran. Lagipula ia sudah dijodohkan dengan orang lain, kok. Fatimah tidak akan berharap pada lelaki lainnya. Ujar Fatimah dalam hati.


"Emangnya kenapa?" tanya Fatimah penasaran.


"Enggak apa-apa sih. Kalau Gus Ali menikah sama yang lain, aku nggak apa-apa. Tapi kalau menikah sama kamu, aku masih cemburu." Mega mengaku.


"Lagipula, Abah dan umi sudah menjodohkan aku dengan pria baik, kok, Ga. Jadi anti jangan kawatir kalau aku akan menikah dengan Gus Ali. Katanya syarat menikah kan harus sekufu. Kalau aku dan Gus Ali kan tidak sekufu," jelas Fatimah berusaha tersenyum meski hatinya sedikit merasa sedih.


"Eh, anti sudah dijodohkan? Wah, selamat ya." Mega mengurai senyum. Wajah gadis yang selalu cuek dan judes itu kini lebih manis ketimbang sebelumnya.


"Ups. Keceplosan deh. Jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku sudah dijodohkan." Fatimah jadi tidak enak. Hanya karena membahas Gus Ali, ia jadi keceplosan mengatakan perjodohannya.


Mega segera mengangguk. Diam-diam ia merasa harus menjadikan Fatimah sebagai sahabatnya. Fatimah sangat pandai memberi nasehat yang bisa diterima hatinya.


"Ciye nikah muda nih," olok Mega sambil menyenggol pundak Fatimah.


"Ssstt. Jangan keras-keras ya." Fatimah melihat ke sekitar. Takut kalau ada orang lain yang menguping. Kalau berita ini menyebar, ia tak punya muka lagi untuk bersekolah. Padahal ujian kelulusan masih Minggu depan. Mendadak Fatimah merasa perjodohannya sangat mendadak. Apakah ini akan berdampak pada segala rencana besarnya?


"Aku juga pengen dong nikah muda," ujar Mega mulai tersenyum.


"Aku doain segera ketemu jodohnya deh." Fatimah sedikit malu. Kadang ia merasa ini terlalu terburu. Bahkan ia belum mengecap bangku perkuliahan seperti yang ia impikan.


"Kalian ngapain di luar? Bukannya masih jam pelajaran?" tanya sebuah suara. Mega dan Fatimah segera menoleh ke arah asal suara.


"Assalamualaikum, ustaz. Maaf, kami sedang dihukum keluar dari kelas," terang Mega.


Ustaz Ali alias Gus Ali menyatukan alis. Terkejut mengetahui Fatimah dihukum keluar kelas. Apa yang sudah dilakukan calon istrinya itu sampai dihukum? Gus Ali berjanji akan mendidik Fatimah tentang kedisiplinan jika mereka sudah menikah.


"Ya sudah, kalau gitu bantu menyapu taman toga. Jangan ghibah."


Gus Ali berkata demikian sembari berlalu dari depan Mega dan Fatimah. Sejujurnya ia masih heran mengetahui Fatimah dihukum. Tapi apa boleh buat, ia sendiri sedang ada masalah. Ia tak bisa berlama-lama di sini. Barangkali nanti seusai sekolah ia akan bertanya pada Fatimah. Lewat whattsapp pastinya.

__ADS_1


__ADS_2