
Aku melihat sekeliling, wajah-wajah semringah para pengantin yang sedang menikmati kasih sayang Allah. Ustazah Sofia terlihat melirikku sesekali, lalu kembali pura-pura melihat hidangan di depannya. Aku menggigit bibir. Aku telah berburuk sangka padanya. Aku harus meminta maafnya.
Aku bergerak bangkit, akan berjalan ke tempat ustazah Sofia. Melihatku yang melangkah menujunya, ustazah berparas ayu itu semakin menunduk.
"Ustazah, Ana minta maaf. Afwan telah berprasangka buruk pada anti."
Aku menepuk halus punggung tangan ustazah Sofia. Wanita itu senyumannya mengambang. Terlihat butiran air mata yang menggantung di pelupuknya. Tak tahan, aku segera menghamburkan diri ke pelukannya.
Terkejut dengan suara isakan yang akhirnya terdengar dari bibir mungil ustazah Sofia. Aku melepas pelukanku. Ada rasa tak nyaman yang kini coba kutepis.
Setan segera menyusupi pikiranku dengan hal-hal buruk atas kesedihan ustazah Sofia yang menurutku janggal.
"Jangan nangis, Sofia. Lihat. Afin jadi mikir macam-macam," timpal Mas Adi yang duduk bersama Fahmi dan Rahman.
Aku mengerjap beberapa kali. Melihat keintiman cara menegur Mas Adi pada Sofia menumbuk dada. Pikiran buruk seakan sangat kuat. Tak bisa kutepis begitu saja.
"Kalau begitu, biarkan ana dan Rahman tinggal bersama kalian." Ustazah Sofia bersuara dengan tenang namun terasa mensomasi.
Raut wajah Mas Adi langsung berubah. Ia menatapku dalam seakan meminta persetujuan.
"Biarkan aja, Mas. Ana juga ingin mengundang ustazah Naf di rumah kita. Bolehkan?"
Tatapan Mas Adi beralih ke arah sepupunya yang juga baru menikah dengan Fahmi. Setelah kutatap ustazah Naf akhirnya mengangguk. Nantilah akan aku jelaskan perasaan curiga ini pada sahabatku itu.
"Boleh, " putus Mas Adi singkat. Aku tersenyum beberapa detik lalu menunduk menatap karpet.
Perasaanku sangat tidak enak. Kurasa ustazah Sofia hanya berdalih ingin tinggal di rumah untuk mendekati Mas Adi.
Huft. Padahal ia telah memiliki Rahman. Laki-laki yang wajahnya juga sama dengan Mas Adi.
Mungkin Mas Adi melihat gelagat anehku. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Saat aku melirik ke arahnya, ia malah menatapku tajam dan mempererat genggaman tangannya.
###
__ADS_1
Sesampai di rumah, Mas Adi segera menunjukkan kamar untuk Fahmi dan ustazah Naf, lalu juga untuk Sofia dan Rahman. Aku tidak tahu, ternyata rumah ini memang sudah di desain bisa untuk tinggal bersama.
Mungkin dulu saat membangun rumah ini, Mas Adi mempertimbangkan kedua kembarannya juga. Sehingga rumah ini sangat besar dan masih nyaman meski ditinggali tiga pasang suami istri.
Setelah membersihkan diri, aku bergerak ke dapur untuk setidaknya membuat teh untuk menyegarkan badan. Sekaligus untuk membuatkan kopi Mas Adi.
Sambil menunggu air mendidih, mataku melihat sekeliling. Tak sengaja pandanganku jatuh pada kaca yang memperlihatkan sepasang suami istri duduk dengan tidak nyaman di bangku teras.
Aku menilik lebih dekat. Tidak salah lagi, itu adalah Rahman dan istrinya. Hanya saja Rahman yang pendiam terus menunduk, di sampingnya Sofia malah memilin tangannya dengan wajah kurang senang.
"Assalamualaikum." Suara ustazah Naf mengejutkan. Aku hampir terlonjak. Untung saja aku segera mengendalikan diri sehingga tidak kehilangan keseimbangan.
Aku maju dan langsung membungkam mulut ustazah Naf dengan telapak tangan. Ia jadi terkejut.
"Ada apa sih, Fin?" tanyanya kesal sambil melepas tanganku.
Aku memberi tanda untuk melihat lewat kaca. Ustazah Naf segera mengerti dan memusatkan penglihatannya pada kaca.
Aku berdecak. Bagaimana bisa ustazah Naf pura-pura tidak mengerti?
Aku menarik bahunya untuk lebih mendekat. Karena ustazah Naf masih tak mengerti juga, aku segera berkata dengan pelan tapi jelas didengarkan wanita yang berjarak semeter dengan tubuhku itu.
Kami berdua tak sadar sama-sama menahan napas melihat Rahman dan Sofia yang duduk di bangku. Rahman terlihat terus menatap ke arah istrinya. Sedangkan Sofia masih sibuk dengan gadgetnya. Ah, tidak. Aku melihat kepura-puraan. Sofia pasti tidak sedang benar-benar sibuk dengan gawainya. Tapi seolah-olah sibuk.
"Kok Sofia seperti tidak nyaman di dekat suaminya?" tanya Ustazah Naf pelan, langsung kubalas dengan endikan bahu.
Mana aku tahu urusan mereka? Tapi memang jiwa kepo tak bisa terlepas begitu saja, aku menatap Ustazah Naf. Ingin rasanya terus mengomel tentang keburukan Sofia. Harusnya ia bahagia mendapat suami seperti Rahman.
"Sofia belum menerima Sofia," ujar ustazah Naf dilanjutkan dehaman menyayangkan sikap Sofia.
"Mau masak apa, Fin?" lanjut Ustazah Naf melongok ke arah lemari. Sepertinya tidak mau melanjutkan pembahasan Sofia dan Rahman.
"Belum, masak," jawabku malu.
__ADS_1
"Istri seperti apa yang nggak masak? Bukannya di pondok dulu anti paling rajin masak."
"Iya sepupu rese, ana akan masak untukmu dan lainnya."
Aku berlalu dan membuka lemari es yang berisi sayuran. Ustazah Naf masih melihatku. Aku mengambil pisau dan menempatkan sawi hijau di talenan. Aku sengaja memotong dengan sedikit tekanan untuk menunjukkan ketidaksukaanku dengan sikap ustazah Naf.
"Afwan deh, ukhti. Ana akan ganti baju dan bantu masak." Ustazah Naf berlalu. Aku jadi tidak enak setelah mendengar penyesalan di kalimat ustazah Naf.
Aku melanjutkan pekerjaan dengan lebih lembut. Ada rasa bersalah yang bersarang di dadaku. Mata ini tiba-tiba berkabut. Bagaimana bisa hatiku sekeras ini?
"Ada apa sayang? Sepertinya ada yang anti pikirkan?"
Aku terkesiap saat mendapati Mas Adi di sampingku. Sejak kapan dia ada di sana?
Karena masih tak menjawab, Mas Adi bergerak mendekat. Tangannya yang kekar menyentuh wajah. Tak bisa aku hindari rasa sedih ini. Air mataku menetes tanpa komando.
"Sikap ana telah menyakiti ustazah Naf."
Aku menunduk lagi. Malu dengan setiap noda yang terus kulakukan.
"La tahzan, innalaha maana." Mas Adi menatap mataku. Melihat mata jernihnya, otomatis dadaku sedikit tenang.
"Sabarlah sayang, ini adalah ujian yang akan selalu datang."
"Tapi kenapa?" Aku melihat langit-langit dapur untuk mencegah air mata terus menetes.
"Karena wanita memang mahkluk yang unik."
Mataku menajam sesaat. Makhluk yang unik? Mas Adi terlihat tidak terpengaruh dengan wajah cengoku.
Setelah diam beberapa saat, Mas Adi mendekat dan membisikkan sesuatu yang lumayan panjang. Mataku langsung melotot.
"Abu Hurairah ra, telah menceritakan dari nabi Saw. yang pernah bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan perlakukanlah kaum wanita dengan sikap yang baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang paling atasnya (yakni akal wanita), jika engkau paksa untuk meluruskannya, tentulah engkau akan mematahkannya, tetapi jika engkau biarkan akan tetap bengkok, oleh karena itu perlakukanlah kaum wanita dengan sikap yang baik." Hadist riwayat Bukhari dan Muslim, teks hadits menurut Bukhari.
__ADS_1