
Selain Gus Ali dan Fatimah yang menyambut tamu, keluarga besar Fatimah juga turut menyambut tamu yang berasal dari saudaranya. Ustaz Adi terlihat menahan air mata saat bertemu dengan Rahman, adiknya.
Keduanya berpelukan sangat lama. melepaskan rindu yang sedari lama mereka pendam saja. Begitupun Umi Afin dengan umi Sofia.
"Man, ana kangen banget sama antum." Ustaz Adi menghapus air matanya.
"Sama, Mas. Ana juga kangeeeeeen bangeeeet."
Ustaz Adi menepuk pundak adiknya itu. Rasanya adiknya itu semakin alay. Tidak cocok dengan kumis dan janggutnya yang tebal.
"Haha." Keduanya tertawa.
"Anak antum berapa, Man?" tanya ustaz Adi sambil mengedarkan pandangan.
Sebelum menjawab, Rahman mengangkat jemarinya. Empat.
"Weh, anak antum sudah empat orang?" Ustaz Adi tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Hebat."
"Mohon doanya, Mas. Biar mereka jadi anak sholeh dan Sholeha."
Ustaz Adi mengangguk. Lalu kembali mengingat kenangan mereka berbelas tahun yang lalu di Yaman. Ustaz Adi tidak berhenti tersenyum.
Sedangkan ustazah Sofia dan umi Afin saling menceritakan anak-anaknya. Sekilas, ustaz Adi melihat kedua wanita itu.
"Eh, siapa nama anak-anak antum?" tanya ustaz Adi pada adiknya.
"Salman, Salmah, Nahdan, dan Nada."
"Lho, kembar sepasang semua?" timpal umi Afin mendengar nama-nama indah itu.
"Naam, Mbak," balas Sofia.
Keempatnya lalu tertawa bahagia. Sayangnya keempat anak Rahman dan Sofia itu tidak ikut pulang ke Indonesia.
Selanjutnya, ketika umi Naf dan Abi Fahmi datang, suasana kembali hangat. Mereka saling menanyakan kabar dan kondisi. Setelah itu bercakap-cakap banyak sekali.
"Sebentar, Dika kemana ya?" tanya umi Naf mengedarkan pandangannya.
Gus Ali dan Fatimah memutuskan untuk turun dari pelaminan. Mereka berusaha mendekat kepada saudara keluarganya. Rahman yang melihat dosen muda dan masih memiliki keturunan darah biru pesantren itu menepuk pundak Gus Ali.
__ADS_1
"Ini mantunya Mas Adi ternyata Gus."
"Minta doanya, Paklek."
"Gus Ali, kalau antum dosennya Dika, lulusin dia dong. Masak kuliah bertahun-tahun nggak lulus." Paklek Fahmi yang mengetahui kalau Gus Ali adalah dosen Dika langsung mendekat padanya.
"Wah, berat, Paklek. Dikanya betah di kampus." Gus Ali menimpali.
"Gitu ya?"
"Iya, Paklek. Apalagi, ...."
"Ngadu terooooss." Dika tiba-tiba muncul di dekat mereka.
Gus Ali dan Paklek Fahmi tertawa melihat wajah Dika yang cemong karena bumbu sate, plus manyun.
"Astaghfirullah, Dik. Makan sate masak wajahnya ikut makan?" tanya Bulek Afin yang mendekat kepada keponakannya itu.
Ibu dari pengantin perempuan itu segera mengambil tisu dan mengusap kotoran di wajah keponakannya. Tentu saja hal manis yang tidak pernah dilakukan orang lain itu membuat hati Dika menghangat.
"Terimakasih banyak, Bulek." Dika mencium punggung tangan Buleknya.
"Lho, kata umimu antum anak yang bandel? Lha ini kok lembut banget?" tanya umi Afin terheran-heran.
"Jangan percaya, Fin. Itu tipu muslihat."
"Umi apa sih. Anaknya baik-baik gini kok dibilang bandel. Padahal perkataan adalah doa, bukannya mendoakan Dika yang baik-baik, malah doain Dika jadi anak bandel." Dika mendengus kepada ibu yang telah melahirkannya.
Saat pertemuan pertama dengan Buleknya ini, rasanya Dika ingin ganti ibu. Seandainya dia bisa memilih, dia akan memilih wanita yang berkata lembut seperti Buleknya.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya umi Nafisah melihat putranya itu melihat sahabatnya, Afin dengan senyum berbinar.
"Kenapa sih harus umi Naf yang jadi uminya Dika, kenapa nggak Bulek Afin aja?" rintih Dika memasang wajah memelas.
"Hush. Antum ini ada-ada saja. Kenapa kalau umimu umi Naf?"
"Cerewet banget, Bulek."
"Bulek Afin, angkatlah Dika jadi anakmu. Lepaskanlah penderitaan Dika selama ini." Dika berlutut di depan Buleknya.
Membuat mereka semua saling pandang karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Andika Syafi'i.
__ADS_1
"Oh gitu, mau jadi anaknya Bulek Afin aja? Nggak mau jadi anaknya umi?" tanya Umi Naf, hatinya mendadak teriris. Walau inginnya hanya bercanda, tapi rasa sedih di hatinya tidak bisa ditutupi.
Di saat yang lain tertawa melihat tingkah ibu dan anak itu, Afin malah ingin menangis. Tidak ada hati ibu yang tidak retak melihat anaknya lebih nyaman bersama orang lain.
Walau wajah umi Nafisah terlihat bercanda, sebenarnya Afin melihat sahabatnya itu menahan beban yang berat. Entah apa, tapi dari matanya terlihat bersedih dan berkaca-kaca.
"Becanda, umi." Setelah terdiam karena kikuk, Dika mengatakan itu dengan mudah. Ia tidak menyadari kalau ia telah menyakiti hati orang tua yang telah melahirkannya itu.
"Fin, apa anti masih cemburuan?" tanya Sofia tiba-tiba.
Jika diingat perjalanan dulu ketika di Yaman, Afin tidak akan lupa bagaimana ia berjuang menghilangkan bayang-bayang Sofia di hati suaminya.
Umi Afin terkejut, tapi berusaha menguasai diri. Hal yang tidak bisa ia lupakan adalah masa lalu rumah tangganya. Menikah dengan ustaz Adi sebagai pengganti suaminya yang meninggal.
Belum lagi saat itu ternyata ustaz Adi telah memiliki perasaan kepada sahabatnya. Melihat istrinya yang terdiam, ustaz Adi langsung menggenggam tangannya.
"Sudah, Sof. Apa yang sudah terjadi dulu, tidak usah dibahas. Lebih baik membicarakan rencana ke depannya," kata ustaz Adi membuat wajah Sofia kini memerah.
"Ah, iya, Mas. Maaf. Perempuan bawaannya mau nostalgia mulu." Sofia terlihat canggung. Setelah itu berpamitan untuk ke kamar mandi.
"Mas kenapa ngusir Sofia?" bisik umi Afin mendadak dadanya terbakar. Ia tidak mengerti maksud dari suaminya. Malah menganggap suaminya itu masih memiliki perasaan kepada Sofia.
"Siapa yang ngusir sih, Mi? Harusnya umi berterimakasih karena terselamatkan dari dosa."
"Dosa apa maksud Abah?"
"Mengingat-ingat masa lalu. Emangnya cuma umi yang cemburu kalau ingat Abah punya hubungan sama Sofia? Abah juga cemburu kalau umi mengingat suami umi sebelum Abah."
Perkataan ustaz Adi membuat istrinya tersentak. Itu terlihat dari bola mata istrinya yang melebar.
"Abah mencintai umi, dan bersyukur dengan apa yang sudah kita lewati. Tidak perlu diingat apa yang dulu membuat sakit hati."
Umi Afin terdiam. Tidak bisa berkata apapun, ia hanya bisa menitikkan air mata. Membenarkan kalimat suaminya.
Dia baru sadar jika bukan hanya hatinya yang perlu dijaga, tapi juga hati suaminya. Umi Afin mengembuskan napas panjang.
Ia berusaha melupakan apa yang sudah terjadi. Apa yang ada sekarang yang ia syukuri dan jaga. Saat melihat Gus Ali dan Fatimah, mata umi Afin terlihat berkaca-kaca. Semoga apa yang terjadi dulu padanya, tidak menimpa anaknya.
Semoga pernikahan ini menjadi awal kebahagiaan Fatimah. Semoga tidak ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Walau umi Afin juga tidak bisa menjamin cinta Fatimah dan Gus Ali akan terus bersemi.
Seperti kehidupan rumah tangganya sendiri yang kini hampir sembilan belas tahun, rasa cinta itu akan naik turun. Apalagi saat ada masalah.
__ADS_1
Semoga apapun masalah yang dihadapi Gus Ali dan Fatimah, mereka tetap berserah diri pada Allah.